
Menjelang sore hari dikota Rembulan, aktivitas siang hari mulai berkurang,berganti dengan aktivitas malam hari yang mulai menggeliat kembali.
Toko toko dan warung warung malam mulai dibuka.
Dari gerbang kota Rembulan,nampak memasuki kota Rembulan tiga ratus orang pasukan wanita di pimpin oleh seorang seorang kepala pasukan yang juga seorang wanita yang cantik jelita.
Dari seragam nya,terlihat bila mereka adalah prajurit wanita dari negeri Nirwana.
Ditengah tengah barisan nampak beberapa gerobak barang yang dijaga dengan ketat.
Mereka tidak singgah di penginapan,tetapi terus kerumah kediaman Chong Taijin.
Namun ketika mereka telah tiba di rumah kediaman Chong Taijin, alangkah terkejutnya sang pimpinan pasukan itu mengetahui bahwa chong Taijin telah tewas bersama Zhi Ciangkun dan seluruh prajurit nya, di bantai oleh seorang pemuda berwajah sangat cantik jelita mengalahkan kecantikan wanita wanita yang ada .
Gadis cantik jelita pimpinan pasukan wanita itu termenung sesaat,dia tahu siapa yang dimaksudkan oleh para teliksandi itu.
Terasa ada kepedihan didalam hatinya,dia ingat saat terakhir bertemu,pemuda itu berkata bahwa kelak mereka akan bertemu kembali,tetapi tidak sebagai teman,apalagi sahabat,karena mereka akan saling berhadapan membela keyakinan dan harga diri masing masing.
Pimpinan pasukan itu adalah putri Yue yang baru tiba dari perjalanannya.
Putri Yue segera masuk kedalam kamar tidur utama rumah kediaman Chong Taijin.
Dihempaskan nya tubuhnya di atas tempat tidur,air matanya mengalir membasahi bantal.
Terbayang dalam ingatannya kembali, ketika ayahandanya bangun dari tidurnya dengan marah marah tanpa sebab.
Di depan orang kepercayaannya,sang ayahandanya bercerita bahwa dia bermimpi seluruh istananya terbakar api hingga tidak tersisa apapun juga.
Ditengah kobaran api itu dia melihat seorang pemuda berwajah sangat cantik sedang menunggangi seekor kuda api yang memiliki dua sayap.
Beberapa tahun sebelumnya juga ada seorang pendeta mengingatkan ayahanda nya,bahwa kehancuran Negeri Nirwana akan terjadi,di tandai dengan munculnya seorang pemuda berwajah sangat cantik menunggangi kuda api bersayap.
Tetapi sayang,peringatan itu bukannya membuat sang ayahanda nya sadar dan memperbaiki diri, tetapi malah semakin menggila,sang pendeta itu di bunuh oleh ayahandanya sendiri, serta kemudian ayahandanya menyerang negeri lain dan menyandera sang Kaisar bersama keluarganya dan menahan mereka disebuah pulau dan dijaga oleh para monster ganas.
Tiba tiba putri Yue tersentak dan bangun dari tidurnya. "mungkinkah ramalan, mimpi ayahanda,dan kehadiran pemuda berwajah luar biasa cantik itu memang ada hubungan nya?"...
Hati putri Yue terasa sangat perih,dadanya terasa sesak,haruskah pada akhirnya mereka akan bertemu tetapi bukan untuk saling memeluk,tetapi untuk saling membunuh.
Dan mampukah dia melakukannya?,dan setegar apa dia menghadapi nya bila bertemu kelak?.
Sang putri Yue terisak sendiri,kepedihan dan kesedihan yang dia tanggung sendiri.
Sementara itu disebuah jalanan sepi, beberapa Li dari gerbang kota Rembulan, nampak seorang pemuda menunggang seekor kuda berbulu warna emas sedang berpacu diatas jalan tanah berbatu batu.
Di kiri dan kanan jalan masih terdapat hutan belantara yang lebat dan pepohonan yang menjulang tinggi.
Alex sengaja tidak menyuruh dewa Pegasus untuk terbang,tetapi berlari biasa saja,karena tidak ingin terlalu menarik perhatian orang lain,karena semenjak keluar dari kota rembulan, selalu ada saja orang yang berlalu lalang datang dan pergi dari kota rembulan.
Namun setelah melewati sebuah desa yang cukup ramai,tidak ada lagi orang orang yang berlalu lalang,karena setelah desa tadi,tidak ada lagi desa lainnya.
Setelah beristirahat untuk makan tengah hari,Alex bermaksut meneruskan perjalanannya kembali.
__ADS_1
Tetapi baru saja Alex naik diatas punggung Dewa Pegasus, serombongan anak muda yang berjumlah enam orang keluar dari hutan dan langsung mengurung Alex.
"Apa yang kalian kehendaki dari ku?"tanya Alex sambil menatap mereka satu persatu.
"He he he he,kami tidak ingin apa apa,hanya menginginkan kuda mu itu,serahkan kuda itu dan kau boleh meneruskan perjalanan dengan selamat"kata salah seorang dari mereka yang terlihat paling berpengaruh.
Alex tersenyum manis, "ooh kalian menginginkan kuda ini?, kalau dia bersedia ikut kalian,maka kalian boleh mengambilnya"kata Alex ramah.
Karena melihat kuda itu tidak pakai tali kekang, mereka menyangka kuda itu jinak.
Pemuda pertama yang terlihat sangat sok itu mendekati Dewa Pegasus dan membelai kepalanya.
Dewa Pegasus diam saja sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Namun tiba tiba kaki belakang Dewa Pegasus secepat kilat menendang dada pemuda itu.
"Prok!!".
Setelah terdengar suara seperti kerupuk patah, terlihat tubuh pemuda itu terpelanting beberapa tombak ke belakang dengan tulang rusuk yang patah serta dalam keadaan pingsan.
"Nah iya kan,itu berarti kuda ku tidak mau bersama kalian"kata Alex tertawa melihat kebodohan para pemuda itu.
"Awas saja,kau sudah melukai tuan muda Shang putra dari ketua begal api yang sangat terkenal,tunggu saja pembalasan dari tuan Quan Zhu pasti lebih kejam lagi"kata salah seorang dari pemuda itu sambil menggotong tubuh tuan muda Shang dan menghilang dibalik pepohonan hutan.
Akhirnya Alex meneruskan kembali perjalanannya setelah mendapatkan gangguan dari bandit kecil kecilan.
Namun belum lagi Alex meneruskan perjalanan, dari arah jalan setapak di sebelah kri jalan besar, berlari dua orang bocah kecil dengan tubuh penuh dengan guratan guratan duri dan ranting.
Ketika sampai didepan Alex,kedua bocah seusia enam tahun itu terjatuh kehabisan tenaga.
Alex segera memberikan kedua bocah itu dengan air putih.
Setelah agak tenang,barulah Alex bertanya.
"Kalian berdua siapa?"tanya Alex.
Kedua bocah itu sesaat menatap muka Alex,lalu salah satu dari mereka menjawab, "nama saya Shen Jiao dan teman saya ini namanya Pei Siang kak"...sedangkan bocah satunya lagi cuma menganggukkan kepalanya saja.
"Maap kak,apakah kakak laki laki atau perempuan ?"tanya salah satu yang tadi cuma mengangguk anggukan kepalanya saja.
"Tentu saja kakak laki laki Pei Siang,nama mu Pei Siang kan?"...
Bocah kecil itu menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa Pei Siang?"Alex balik bertanya.
"Ah tidak kak,wajah kakak seperti wajah gadis cantik"katanya jujur.
Alex menatap sekujur tubuh kedua orang bocah itu penuh luka guratan duri dan sejenisnya ketika mereka berdua lari tadi.
Dari bibir keduanya yang masih pucat,nampak kalau mereka sedang ketakutan sekali.
__ADS_1
"Memangnya ada apa hingga kalian berdua berlari sedemikian rupa?" tanya Alex lagi.
Sebelum bercerita,tiba tiba keduanya menangis terisak Isak, "mula nya ketika tadi saya dan Pei Siang sedang berjalan pulang dari kali setelah memancing ikan,tetapi ketika kami tiba di desa,kami melihat seluruh orang orang desa dibantai penjahat, termasuk orang tua kami, adik dan kakak kami kak"tangis Shen Jiao pecah,begitu juga dengan Pei Siang.
"Lalu bagai mana kalian bisa lari dan. selamat dari penjahat itu?"...
"saya yang menarik tangan Pei Siang kak,mengajaknya lari sebelum penjahat itu melihat kami"jawab Shen Jiao sambil terus menangis.
Alex mengeluarkan sisa bekalnya dan menyuruh kedua bocah itu untuk makan.
Setelah makan dan sudah agak tenang, Alex kembali bertanya kepada keduanya, "Desa kalian di mana?"...
Kedua bocah itu menunjuk jalan setapak di sebelah kiri mereka itu.
"Baiklah,ayo kita ke desa kalian,kakak mau melihat keadaan desa kalian,ayo" ajak Alex kepada kedua bocah itu.
Awalnya kedua bocah itu ragu ragu,dan menatap kearah muka Alex.
Alex tersenyum ramah, senyum ala Dewi muyimaeva yang bisa membuat siapapun yang melihat senyuman itu menjadi tentram dan senang.
"Baiklah kak,kami akan tunjukan desa tempat tinggal kami,tetapi tolong lindungi kami berdua kak"akhirnya kedua bocah itu mau mengantarkan Alex menuju ke desa mereka.
Alex menarik kedua bocah itu untuk duduk dibelakang Dewa Pegasus.
Kedua bocah kecil itu sesaat merasa gembira seakan melupakan kesedihan mereka berdua.
Setelah berkuda selama beberapa waktu,akhirnya mereka bertiga sampai disebuah desa kecil,ada sekitar dua ratus rumah yang berdiri di desa itu.
Sedari awal memasuki desa itu,terlihat mayat bergelimpangan di mana mana,tua muda,dewasa maupun anak anak,laki laki dan perempuan, semuanya tidak luput dari amukan para penjahat itu.
Di satu rumah yang berdiri berdekatan, terlihat dua jasad laki laki muda usia tiga puluhan tahun serta dua jasad wanita muda juga usia dua puluh Lima tahunan dan beberapa tubuh anak anak laki laki dan perempuan.
Kedua bocah itu melompat turun dari kuda dan memeluk jasad kedua orang tua mereka masing masing sambil menjerit memanggil manggil nama nya.
"Amak!,apak!,bangun amak,amaaak,bangun Jiao er tidak nakal amak,amaaak,huu huu huu!"tangis kedua bocah itu sambil memeluk tubuh sang ibunda masing masing dan terus saja menggoyang goyangkan nya,sambil berharap bisa melihat dan mendengar suara dari ibunda nya lagi.
Rupanya kedua bocah itu adalah saudara sepupu dengan ibu mereka bersaudara,jadi marga mereka berbeda.
Kini keduanya mendekati jasad seorang yang sudah tua,yang terbaring ditanah dengan darah yang sudah mulai mengering di dadanya.
"Akung!,akung!,bangun akung,huu huu huu, bangun akung,kenapa kalian semuanya meninggalkan kami berdua,bangun akung, bangun"jeritan kedua bocah itu kini sesegukan sambil meratap sedih.
Alex akhirnya menguburkan semua mayat orang orang desa itu satu persatu,hingga benar benar habis terkubur.
Setelah selesai menguburkan semua mayat di desa itu,Alex menghubungi Soa Ning di dunia dimensi nya untuk menjemput kedua orang bocah itu,karena Alex tidak mau mereka berdua dalam bahaya.
Setelah pintu portal kedunia dimensinya dibuka,seorang wanita cantik keluar dari pintu portal itu menjemput kedua orang bocah tadi.
"Kalian berdua ikutilah kakak itu,dan kalian akan aman,kakak akan mengadakan perhitungan dengan mereka yang telah merenggut semua orang orang yang kalian sayangi"kata Alex sambil membelai kepala kedua bocah itu.
Setelah menjura dihadapan alex dan berbincang sebentar, Soa Ning dan kedua bocah itupun akhirnya masuk kedalam dunia dimensi milik Alex.
__ADS_1
Dari jejak kudanya,Alex mengikuti para perampok itu dari belakang melewati dasar hutan.
...****************...