Mr Matrix

Mr Matrix
Nona Muda Fia


__ADS_3

Ketika semua teman dari tuan putri Fia ini menangkap basah mata sang putri dari awal hingga akhir selalu menatap kearah Alex, mereka sengaja menggodanya.


"Hai hai hai,ternyata si jinak jinak merpati turut kesambet pemuda kayangan itu juga ya"kata salah satu temannya.


"Ah enggak,siapa juga yang kepengen dengan pemuda banci seperti itu"kilah sang putri Fia .


"Ah, masa,bukankah tadi sedari awal pemuda itu masuk hingga dia duduk disudut ruangan itu,mata mu selalu terarah kepadanya kan?" goda temannya yang lain.


"Ah kamu ngawur,mana ada aku naksir pemuda banci seperti itu,itukan selera kamu,tetapi bukan selera ku,kamu yang paling senang dengan pemuda banci kan?"putri Fia masih saja berusaha berkilah.


"Oke baiklah aku mengakuinya,aku memang naksir berat sama pemuda cantik itu,dan aku ingin dia menjadi suami ku"kata tamannya yang tadi.


"Ya udah,ambil saja sana pemuda banci itu"sang putri masih saja berusaha berkilah.


Akhirnya temannya yang memang berjiwa nekat itu bangkit berdiri, melangkah mendekati meja tempat Alex makan.


"Hai,nama ku Kwan meng,bolehkah aku ikut duduk di meja kalian?" tanya gadis bernama Kwan meng itu.


Alex mengangkat mukanya menatap gadis cantik itu sebentar,lalu berkata, "silahkan nona,kursi masih ada yang kosong,duduk sajalah"...


"Terima kasih tuan muda....bolehkah tahu nama nya siapa?"tanya gadis bernama Kwan meng itu.


Sekali lagi Alex tersenyum membuat dada gadis manis itu serasa mau meledak saja, "nama ku Liong, marga ku Chen"jawab Alex sengaja memperkenalkan dirinya sebagai Chen Liong,hal itu tidaklah salah,karena di dalam jiwanya memang ada bagian dari kehidupan Chen Liong di masa lalu.


Alex kembali memanggil pelayan rumah makan


tadi, lalu memesan makanan beberapa porsi lagi.


Melihat Kwan meng mendapatkan sambutan yang baik dari Alex, akhirnya teman temannya yang lain ikut bergabung juga.


"Hai,nama ku Yu Jing,boleh bergabung tidak" tanya seorang gadis yang mencoba berbuat nekat juga.


"Duduklah nona,ayo kita makan,aku yang akan bayar kali ini,makanlah seberapa kalian mau"kata Alex ramah tamah.


Melihat dua orang temannya asik berbincang dengan pemuda idola baru mereka itu,akhirnya seorang teman yang lain juga bangkit berdiri menghampiri meja Alex.


"Hai,nama ku Li Lian ,ikutan disini ya?"sapa ramah gadis cantik yang baru datang itu sambil duduk disebuah kursi kosong.


Alex kembali memesan beberapa makanan untuk teman teman baru nya itu.


"Hei,minggir,aku juga mau duduk di sini"tiba tiba seorang gadis cantik menghampiri mereka lalu duduk di kursi dekat Alex .


Alex menoleh kearah gadis itu,ternyata gadis jahil yang bikin ulah tadi rupanya .


"Hai nama ku Jiu Mei, boleh aku duduk disini?"katanya .


"Kan kamu memang sudah duduk nona,ayo kita makan sama sama,ayo paman, makanlah sekuat yang paman bisa"seru Alex kepada para gadis juga kepada tukang tarik becak itu.


Mungkin karena tidak pernah makan enak,atau mungkin karena masakannya yang memang enak,paman tukang tarik becak itu makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Hei,begitukah cara kalian berteman, meninggalkan teman demi orang lain?"tiba tiba gadis bernama Fia tadi datang dan mencak mencak pada kedua orang temannya yang pindah meja tadi,padahal dia juga yang bikin gara gara awalnya.


"Huuh pho pho,sabar dulu,nanti pho pho jadi tambah tua kalau marah melulu"kata Kwan meng.


"Apa apa miau (kucing)?, Kwan miau, kau panggil aku pho pho (nenek),aku masih belia miau,belum menjadi pho pho lagi, sekali lagi kau panggil aku pho pho,ku gunduli semua bulu alis mu"kata gadis bernama Fia itu sambil menggeser sebuah kursi,lalu mendudukinya.


"Huh,pengen gabung aja pakai alasan macam macam,dasar!"gadis jahil bernama Jiu Mei itu menggerutu.


"Apa kau bilang,aku mau gabung disini,satu meja dengan si banci itu?,tidak lah Yau,aku tidak suka seorang laki laki berwajah perempuan seperti dia"kata putri Fia sambil menunjuk kearah Alex.


Merasa tidak enak dengan kata kata dari Fia ini,dan kebetulan juga Alex serta paman penarik beca itu sudah selesai makan,maka Alex langsung bangkit berdiri menghampiri gadis pelayan rumah makan tadi untuk membayar harga makanan yang dia pesan tadi.


Setelah menyerahkan sejumlah keping emas serta memberikan tips untuk gadis pelayan rumah makan itu sebanyak dua keping emas,Alek melangkah keluar rumah makan itu.


Sesampainya diluar rumah makan itu,Alex meminta kepada paman penarik becak itu untuk mengantarkan dirinya ke penginapan.


Dengan senang hati paman penarik becak itu mengantarkan Alex kesebuah penginapan yang terkenal.


Sesampainya di penginapan itu,Alex memberikan sekantong keping emas kepada paman penarik becak itu.


Dengan mata berkaca kaca,paman penarik becak itu membungkukan badannya,berterimakasih kepada Alex .


Setelah mendapatkan kamar,Alex masuk kedalam kamar untuk mandi dan beristirahat sejenak.


Namun baru saja mata Alex mau di pejamkan, tiba tiba pintu diketuk dari luar beberapa kali.


Alex membuka pintu kamar,namun tidak ada siapapun disana,yang ada cuma secarik kertas bertuliskan "temui aku di taman kota,sekarang juga".


Setelah meminta ijin kepada penjaga penginapan itu untuk keluar sebentar,Alex segera meluncur menuju ke taman kota.


Alex mencari orang yang meminta ditemui di taman kota itu,tetapi dia tidak menemukan siapa pun juga,kecuali orang yang kebetulan berlalu lalang disana.


Ketika dia bermaksud kembali ke penginapan, sebuah suara pelan memanggil dirinya.


Alex berpaling menoleh kebelakang,ternyata putri Fia telah berdiri disana dengan gaun cantik, menambah aura kecantikannya.


"Kamu masih marah dengan kata kata ku tadi sore di rumah makan itu?" tanya gadis itu pelan dengan suara agak bergetar.


Alex menggelengkan kepalanya, "tidak,tidak ada yang perlu di ambil hati,seseorang bebas berpendapat apapun tentang orang lain, seseorang juga bebas menilai orang lain bagai manapun,itu hak diri mu, seseorang juga bebas suka ataupun tidak suka dengan siapapun,tidak ada paksaan untuk menyukai seseorang, jadi apa yang harus aku marahi?"...


"Tidak,tidak,kau berhak marah kepada ku,karena kata kata ku sangat keterlaluan sekali,aku menyadarinya,tetapi rasa egois dan harga diri berlebihan membuat ku menutupi kenyataan sebenarnya,aku minta maap atas sikap ku tadi sore"kata putri Fia sambil menundukkan kepalanya .


"Tidak apa apa nona,kau boleh berpendapat apapun tentang diriku,karena sebagian pendapatmu itu mungkin ada benarnya,aku tidak membuat diriku seperti ini, tidak juga menginginkan hal seperti sekarang ini nona,tetapi aku juga tidak akan menolak takdir apapun yang ter jadi kepada ku sekarang,aku tidak marah dengan mu nona,kita bisa berteman seperti dua teman yang saling membantu"kata Alex.


putri Fia mengangkat mukanya,matanya berbinar cahaya indah, "benarkah ?,benarkah kita bisa menjadi sahabat?"...


"Kenapa tidak nona,kita bisa bersahabat"kata Alex sambil tersenyum kepada putri Fia .


Tiba tiba putri Fia memeluk tubuh Alex erat erat, diletakkannya kepalanya di pundak Alex .

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau menerima aku sebagai teman dan sahabat mu, aku senang,aku bahagia hari ini, aku akan mengenang ini seumur hidup ku,akan ku ingat ini hingga ajal menjemput ku"kata putri Fia .


"Cup!".


"Cup!".


Dua kali kecupan di pipi kanan dan kiri Alex oleh putri Fia sebelum putri itu berbalik dan berlari pergi.


Alex menarik nafas dalam-dalam,satu lagi cerita kepedihan karena dirinya,tidak mungkin dia seperti ini terus,akan banyak hati yang tersakiti bila terus di biarkan seperti ini.


Dia lebih suka di hina dan di rendahkan bila itu membuat orang bahagia,dari pada disanjung dan dipuja, tetapi banyak hati yang merana karena nya.


Alex melangkah perlahan menyusuri jalan menuju ke penginapan nya.


Sesampainya di penginapan,dibaringkan nya tubuhnya di tempat tidur,namun pikirannya melayang kemana mana.


Kali ini Alex tidak bermaksud untuk cepat cepat pergi dari kota Rembulan,karena ada beberapa urusan yang harus di selesai kan disini,terutama dengan keluarga Gong,dan perguruan singa emas.


Pagi harinya,setelah mandi,Alex berjalan keluar dari penginapan itu untuk melihat lihat situasi kota Rembulan.


Baru saja Alex duduk di sebuah kursi kayu yang disediakan di taman kota itu,tiba tiba dia dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita yang meminta pertolongan.


Alex berjalan menghampiri suara minta tolong tadi, ternyata lima orang pemuda sedang berusaha melecehkan seorang gadis cantik.


Kelima orang pemuda ini tertawa tawa sambil berusaha melepaskan pakaian gadis cantik tadi.


Gadis cantik itu berteriak sambil meronta-ronta ingin melepaskan dirinya dari cengkraman kelima orang pemuda itu .


"Bug!".


"Prak!".


Bersamaan suara bergedebug,terdengar suara seperti sesuatu yang pecah,saat sang pemuda yang ingin melecehkan si gadis cantik tadi terjengkang kebelakang,dengan tengkorak kepala yang sudah rengkah,serta otaknya terhambur keluar.


Empat orang pemuda yang lain langsung melarikan diri.


"Bangkitlah nona,perbaiki pakaian mu,dan cepat cepat pergi dari sini, jangan sampai keluar selama tiga atau empat hari,cepatlah pergi nona" kata Alex kepada gadis yang masih menangis tersedu sedu itu.


Sambil bangkit berdiri dibantu oleh Alex,gadis itu menjura sesaat, "terimakasih tuan muda,atas pertolongan tuan muda,kalau tidak ada tuan muda,saya pasti sudah mereka perkosa"...


Gadis itu berlari kearah lorong kecil di samping taman,lalu menghilang diantara sela sela rumah penduduk .


Sekali lagi dia memandang tubuh pemuda yang terbaring di tanah dengan tengkorak kepala yang rengkah serta otak yang berhamburan keluar.


Ditariknya nafas dalam dalam,disetiap negeri dudukan,kejahatan selalu meraja lela.


Alex kembali berjalan meninggalkan jasad pemuda yang tergeletak di sudut taman kota itu, entah kenapa, jangankan untuk menguburkannya, memegang saja Alex merasa malas.


Ditepi sebuah danau yang cukup besar bernama danau Rembulan,karena nama kota ini diambil dari nama danau nya, Alex duduk di bawah sebatang pohon besar dan rindang sambil memandang danau.

__ADS_1


Alam pikirannya mengembara,teringat akan putri Giok Lin sang istri tercinta,yang sekarang hidup dalam penderitaan di tempat dia ditahan,hati Alex terasa perih.


...****************...


__ADS_2