
Kembali laki laki tua itu menyerang Alex dengan serangan yang lebih cepat dari pada tadi.
Tubuhnya yang menimbulkan nyala api berwarna kehijauan itu bergerak dengan kecepatan super cepat nya.
Segala daya dan energi diupayakan nya menyerang Alex agar cepat tewas terpanggang api dari tubuh nya.
Namun Alex sepertinya tidak terpengaruh sedikitpun juga dengan peningkatan dari serangan laki laki tua itu.
Sekali lagi laki laki tua itu melompat membumbung tinggi keudara dengan kaki dan tangannya y ang seperti kaki dan tangan seekor katak itu di rentangkan ke kanan dan ke kiri.
Lompatan itu dibarengi dengan energi yang sangat besar,maka membuat lompatan itu seperti kilat saja cepat nya.
Tepat saat tubuh laki laki tua berbadan katak itu tinggal sejengkal lagi akan menimpa tubuh Alex, tiba tiba tubuh Alex menghilang dari pandangan mata dan dalam waktu yang hampir bersamaan sudah muncul ditempat lain sambil berseru, "dua!, tinggal satu kesempatan lagi orang tua!"...
Orang tua itu berhenti melompat,tetapi kini sedang menerapkan satu ilmu pamungkasnya yaitu jurus katak beracun.
Jurus ini sangat jarang dipergunakannya kecuali jika sangat terdesak sekali, karena jurus ini jurus yang sangat beracun sekali,jurus ini cuma bisa dilakukan sekali dalam satu waktu,bila serangan itu gagal,maka tidak bisa diulang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu bersamaan,karena bila itu dilakukan,racun dari serangan ini akan menghantam di empunya jurus itu sendiri sangkin ganasnya racun serangan itu.
Tetapi sebagai mana kebiasaan nya,jurus ini tidak pernah diulang hingga dua kali dalam waktu yang hampir bersamaan,karena hanya dalam satu serangan saja,lawan yang diserang akan binasa.
Tubuh kakek tua itu kembali menungging seperti seekor katak dengan kedua kakinya dilipat dan dibuka kesamping,sementara itu kedua tangannya menapak tanah,persis seperti seekor katak yang akan melompat.
Dari sekujur tubuhnya kini keluar lendir berwarna hijau dengan bau amis seperti amisnya darah seekor ular kobra.
Lendir bertemu dengan hawa panas dari tubuh kakek katak itu, menimbulkan semacam uap yang sangat beracun ganas.
jangankan terhirup, tersentuh uap itu saja akan menyebabkan kematian,belum lagi percikan ludah dari lidah katak yang bisa memanjang itu.
kakek katak itu melompat kesekeliling Alex ,sehingga membuat udara di sekitar situ berkabut beracun.
Alex yang suda siap siaga dengan segala kemungkinan itu,telah memasang formasi tirai gaib belakang kura kura menutupi lingkungan mereka berdua bertarung agar tidak membahayakan orang lain disekitar situ.
Kakek tua yang tidak menyadarinya itu,terus saja berlompatan mengelilingi tubuh Alex sambil mengeluarkan hawa beracunnya hingga memenuhi kubah gaib itu.
Setelah selesai melompat mengelilingi tubuh Alex ,kemudian kakek katak itu melompat kearah Alex dengan kecepatan penuh sambil menggetarkan tubuh nya.
Ketika tubuhnya bergetar itulah,dari pori pori tubuhnya,keluar air beracun memercik kemana mana dan sangat mustahil ada seorang manusia pun yang bisa selamat dari serangan katak beracun itu.
Tiba tiba tubuh Alex berpijar cahaya berwarna putih.
Setiap percikan atau uap beracun itu akan hilang mengering setelah mendekat ketubuh Alex dalam beberapa jengkal karena panasnya cahaya tubuh Alex itu.
Sementara itu,tubuh kakek katak segera melemparkan tubuhnya kesamping kiri sambil bergulingan.
Karena seandainya dalam lompatannya tadi, tubuhnya menimpa tubuh Alex ,maka bisa dipastikan tubuhnya akan menjadi abu.
"Tiga!". terdengar suara Alex berseru.
"Kakek tua,aku sudah memberi mu lima jurus kesempatan,tetapi kau mengambil tiga jurus saja,ternyata dalam tiga jurus,kau tidak bisa berbuat apapun untuk menumbangkan aku,kini dua jurus tersisa adalah bagian ku!"kata Alex seraya mempercepat gerakannya.
__ADS_1
Semakin lama gerakan Alex semakin cepat berpindah pindah seolah olah tubuhnya kini memecah ada di mana mana.
"Satu!" terdengar suara Alex berseru dengan lantang dan nyaring.
Alex menyerang dari sebelah kanan kakek katak itu.
Melihat serangan Alex yang datang dari arah kanannya,kakek katak berkelit kesebelah kiri secara cepat menghindar serangan Alex itu .
"Bum!!".
Ketika kakek katak itu berkelit kesebelah kiri, tanpa disangka sangka Alex sudah berada disebelah kiri dan menyarangkan tinjunya ke rusuk kiri kakek katak.
Sebuah dentuman terdengar menggema di pagi itu,menggetarkan rumah rumah disekitarnya.
Tubuh kakek katak terlempar keudara dan menabrak dinding beton yang tidak terlihat mata, lalu mental kembali ketanah.
"Sekarang kakek tua bisa menilai,kata kata ku itu cuma omong kosong atau sebuah ancaman nyata,bualan atau kenyataan kek!"seru Alex.
Dari sela bibir kakek katak itu mengalir beberapa gumpal darah segar,pertanda dia sedang terluka dalam cukup parah.
"Anak muda,jangan bangga dulu,kau kira aku sudah kalah kah?,huh terlalu pagi kau bergembira bocah,jangan sesali bila kita sama sama binasa disini,aku akan mengadu jiwa dengan mu,siapa diantara kita yang bisa kembali dengan selamat dan siapa yang binasa di sini"kata kakek katak itu.
Kakek katak tadi kembali bersikap seperti seekor katak kembali,tetapi kali ini tubuhnya menyala api berwarna kehijauan,inilah jurus katak neraka.
Dari kepala katak itu tumbuh dua tanduk berwarna merah menyala, serta mata nya kini membesar dan mulut kakek katak juga semakin melebar.
"He he he he,kau mau menelan tubuh ku juga kakek tua,baiklah kukabulkan kehendak mu menelan tubuh ku"kata Alex,lalu tubuhnya bersinar putih kemilau dan melesat lebih cepat dari lesatan anak panah yang lepas dari busur nya masuk kedalam mulut kakek katak.
cuma suara itulah yang terdengar,sebuah lobang sebesar tubuh manusia menganga di belakang punggung kakek katak.
Lesatan tubuh Alex tadi yang masuk dari mulut kakek katak yang terbuka lebar,serta keluar menembus punggung nya.
Tanpa sempat berkata kata apapun,tubuh kakek katak guru dari si kaki katak tersungkur ketanah,diam tak bergerak lagi.
Alex segera menarik nafas dalam-dalam, menghisap udara beracun yang masih tersisa hingga bersih.
Setelah semua udara beracun habis,Alex segera membuka tirai tempurung kura kura gaibnya,dan berjalan kearah kuda nya berada.
Dengan sekali sentak, Alex naik ke punggung dewa Pegasus lalu Dewa Pegasus melesat kearah luar kota Tabla dengan kencang nya.
Orang orang yang melihat hal itu cuma bisa melongo bingung,tidak tahu apa yang harus di katakan.
Setelah melewati gerbang kota Tabla,kuda Dewa Pegasus melesat kearah timur mengikuti jalan raya menuju kota Marma.
Kota Marma ini berada diluar lingkungan Padang pasir api,tetapi masih satu wilayah dengan kota Tabla,yaitu di negeri Padang api.
Kota Marma ini juga berada di persimpangan dua sungai besar,yaitu sungai Mun kanan, yang melewati tiga negeri,yaitu dari negeri Padang api,ke negeri Marmoa,dan bermuara di negeri Nirwana.
Sungai Mun termasuk sungai terpanjang kedua di benua tanah Nirwana ini.
__ADS_1
Sedangkan sungai Mun kiri,bermuara di negeri Nirwana,terus ke negeri Padang api,lalu ke negeri Saramoa dan berakhir di pegunungan Penahang, negeri Penahang.
Sepanjang jalan yang dilalui,tidak tampak lagi Padang pasir,tetapi rumput rumput hijau sepanjang jalan sejauh mata memandang.
Setelah berhari hari berkuda,kini di kiri kanan jalan mulai terlihat pohon pohon tumbuh menjulang keangkasa, semakin lama semakin rapat dan padat,akhirnya kini dikiri kanan jalan, cuma hutan rimba yang terlihat sepanjang mata memandang.
Kini jalan tidak lagi semulus biasanya, kadang nampak seperti banyak simpangan nya tetapi kadang hilang sama sekali dan harus mencari beberapa saat.
Karena susahnya mencari arah,akhirnya Alex nyasar terlalu mengambil jalan kekanan dan sampai pada sebuah gunung mirip dua buah payung terbalik itu.
Di kaki gunung payung terbalik itu ada sebuah sungai yang cukup besar serta berair cukup dalam.
Alex dan Dewa Pegasus beristirahat sejenak di kaki gunung itu menghilangkan lelah sejenak serta melihat arah,kemana harus berjalan.
Sedang asik beristirahat,tiba tiba mata Alex melihat sebuah tangga dari batu berjejer dari pinggir sungai menuju ke atas gunung yang paling tinggi yang mirip payung terbalik itu.
"Pegasus! kau tunggulah disini,aku mau memeriksa ada apa lagi dengan tangga ini,siapa tahu aku menemukan sesuatu disini,,ya, tunggulah aku beberapa saat saja"kata Alex kepada dewa Pegasus.
Dewa Pegasus tidak menjawab,cuma membaringkan tubuhnya dibawah sebatang pohon besar dan mulai memejamkan matanya.
Sedangkan Alex mulai mendaki anak tangga dari batu itu untuk naik keatas.
Meski umur tangga ini diperkirakan sudah puluhan ribu tahun,tetapi yang aneh nya,tidak ada lumut sedikitpun yang tumbuh di atas batu tangga ini.
Tangga ini nampak bersih seperti dibersihkan setiap harinya.
Entah sudah berapa ribu anak tangga yang Alex lalui,yang pasti ujung dari tangga ini belum juga terlihat.
Hingga langkah Alex menembus bentangan awan putih abadi,ujung tangga itu belum juga terlihat.
Dikiri dan kanan Alex kini yang terlihat cuma hamparan awan putih yang tidak pernah berubah ubah posisinya, meskipun angin sekencang apapun meniupnya.
Tangga itu masih terus naik menyusuri punggung bukit,padahal dilihat dari bawah,bukit ini tidak terlalu tinggi, tetapi sekali di naiki, ternyata seperti tidak mempunyai ujung saja layaknya.
Awan putih itu kini sudah jauh dibawah,sedangkan diatas masih ada terlihat hamparan kabut yang menutupi pandangan mata.
Setelah lama berjalan menembus kabut abadi,akhirnya dikejauhan terlihat sebuah gerbang yang tinggi dan megah.
Alex melangkah memasuki gerbang megah itu,dan secara ajaib,setelah melewati gerbang itu,sebuah pemandangan menakjubkan terhampar didepan mata Alex .
Jalan yang lebar terbuat dari batu batu kecil berwarna warni yang disusun sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah karya seni yang sangat indah.
Di kiri kanan jalan,terlihat rumah berjejer rapi indah dan bagus bagus serta besar besar.
Orang orang berjalan berlalu lalang dengan kesibukan mereka masing masing.
Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Alex ,karena orang orang ini menggunakan bahasa yang tidak bisa di mengerti oleh Alex .
Dan ada satu hal lagi yang nampak aneh, ditempat ini tidak terlihat ada seorang tua pun.
__ADS_1
Usia orang yang ditemui oleh Alex yang tertua sekitar berusia dua puluh lima tahun,sedangkan yang remaja berusia sekitar enam belas tahun.
...****************...