Mr Matrix

Mr Matrix
Makam Raja Sarwa Lokapala.


__ADS_3

Gadis mungil itu walaupun mungil,tetapi tenaganya mungkin melebihi laki laki yang besar.


"Katakanlah bahwa aku istri ke tujuh mu,baru kau aku lepaskan"kata gadis mungil itu.


"Sudah kukatakan itu tidak mungkin nona kecil,karena istri ku bukanya enam tetapi sembilan,dan Dirumah masih tiga orang"kata Alex di dalam kepitan ketiak gadis mungil itu.


"Pletak!".


Kembali satu jitakan bersarang di kepala Alex.


Entah sudah berapa banyak benjol kepalanya,Alex sudah tidak tahu lagi.


"Aduh kenapa lagi ini nona kecil,kenapa senang main jitak saja?" tanya Alex.


"Itu upah bagi laki laki senang kawin,doyan perempuan cantik,tetapi kau sungguh hebat bisa mengumpulkan begitu banyak gadis cantik dan seksi,kalau begitu kau harus mengatakan kalau aku istrimu yang kesepuluh,ayo"desak gadis itu.


"Memangnya kau sudah kepengen sekali kawin ya?,kok sampai segitu nya"tanya Alex.


"Iya iya iya,aku sudah kepengen sekali punya suami, disini yang ada cuma binatang,tidak ada manusia,ayo bilang aku istrimu yang kesepuluh" desak gadis mungil itu.


"Hentikan ulah mu Zena,kau sudah remaja, tetapi kelakuan mu masih saja seperti anak kecil!"suara seorang wanita terdengar membentak dengan suara lantang.


Dari balik pepohonan,keluar seorang wanita yang juga cantik menunggang seekor serigala putih,sedangkan di belakang nya terdapat seorang laki laki seumuran tiga puluh delapan tahunan yang juga menunggang seekor serigala hitam.


Gadis mungil tadi segera melepaskan jepitan ketiaknya pada Alex setelah mendengar suara wanita tadi mengomel kepadanya.


"Aah ibu,Zena cuma mau main main sebentar,Zena kesepian sendirian terus" kata gadis mungil yang dipanggil Zena tadi oleh ibunya.


"Iya Zena,tapi lihatlah pemuda itu,kepalanya basah kuyup oleh peluh ketek mu,apa kau tidak kasihan kepadanya?" tanya wanita cantik tadi lagi.


Alex menarik nafas lega setelah lepas dari jepitan ketiak gadis mungil itu.


Laki laki dibelakang wanita cantik tadi hanya menggelengkan kepalanya melihat kenakalan anak remajanya ini.


"Tapi dia benar benar tampan kan ayah,aku mau dia menjadi suamiku,aku mau jadi yang kesepuluh, pokoknya akulah nomor sepuluh,tidak boleh ada yang mengisi nomor sepuluh itu,itu nomor ku!" kata putri manja sang gadis mungil itu.


Maapkan putri saya tuan, dia memang manja dan agak usil,kalau boleh tahu,siapakah tuan,dari mana dan mau kemana?"tanya laki laki itu kepada Alex.


"Tidak apa apa tuan, nama saya Alexander dan mereka semua istri saya,kami dari negeri Fangkea di dunia Bulan biru,kami bermaksud ke negeri Nirwana"kata Alex.


Laki laki itu terkejut mendengar pernyataan dari Alex tadi.


"Kenegeri Nirwana?,apa tidak salah tuan?,dengan membawa istri secantik itu kesana,sama halnya tuan mendatangi masalah,saya saja terpaksa hidup ditengah rimba ini karena menghindari Kaisar zalim itu,padahal istri saya masih tidak secantik istri tuan,apalagi kalau secantik istri istri tuan,sudah pasti Kaisar tua yang zalim itu akan berusaha sekuat tenaga untuk merebut istri tuan dengan berbagai upaya"kata laki laki itu.


"Apapun yang terjadi, kami akan terus kesana, dia telah menawan salah satu istriku,dan dia harus membayarnya dengan sangat mahal"jawab Alex.


"Baiklah tuan,kami cuma bisa mendoakan semoga tuan bisa berkumpul kembali dengan semua istri tuan"kata laki laki itu lalu menghilang di kegelapan hutan.


"Zena!,ayo pulang!"seru wanita cantik tadi sambil menunggangi serigalanya masuk kedalam kerimbunan hutan di ikuti ratusan serigala yang mengurung rombongan Alex tadi.


Gadis mungil tadi melirik kearah putri Annchi sejenak lalu berkata, "hei ingat kakak,nomor sepuluh itu nomor ku,tidak boleh di isi siapapun,kelak aku akan mencari kalian,mencari suami ku,aku yang kesepuluh,jangan di isi oleh siapapun,ingat itu!"...


"Cup!"sebuah kecupan dipipi. Alex sebelum gadis mungil itu menghilang dibalik rimbunnya pepohonan.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita lagi" kata Alex sambil melompat kebelakang Pegasus.


Kembali tujuh ekor kuda itu berlari di atas jalan tanah berbatu itu dengan kencangnya.


Sebelum hari senja, mereka tiba disebuah kuil tua tidak jauh dari pinggir jalan itu.

__ADS_1


Alex turun ke lembah tidak jauh dari belakang kuil itu di ikuti oleh Dewi Lunar Jena dan Dewi Paraditha.


Mereka mencari mata air yang biasanya ada di sekitaran lembah.


Perkiraan mereka ternyata tidak sepenuhnya benar atau salah,karena di lembah itu ternyata tidak ada sungai maupun telaga kecil,karena yang ada cuma sebuah sumur tua tidak terlalu dalam dan berisi air yang hampir penuh.


Sebuah batu putih bertuliskan hurup kuno terpampang dibatu itu.


"sucikan hati,sucikan diri,maka kebenaran akan terlihat".


"Apa maksud tulisan itu kak,sucikan hati,sucikan diri,maka kebenaran akan terlihat,kebenaran apa?" tanya Dewi Lunar Jena bingung.


"Entahlah,kebenaran apa yang dimaksudkan,lebih baik kita mandi dulu di sumur tua ini,aku akan membuat timba dari kulit pohon"Kata Alex lalu mencari kulit pohon untuk dijadikan timba air Sera beberapa batang bambu untuk tempat air yang akan mereka bawa nanti.


Setelah timba selesai, Alex segera menimba air untuk mandi kedua istrinya itu.


dia menyiramkan air ketubuh kedua istrinya di atas batu pipih tidak jauh dari sumur tua itu.


Setelah kedua istrinya mandi,kini giliran Alex yang mandi.


Setelah selesai,barulah Alex mengisi tiga bumbung bambu nya untuk dibawa ke kuil tua diatas.


Tetapi alangkah terperanjatnya Alex melihat ke sekeliling yang semuanya sudah berubah.


Tidak ada lagi lembah yang tadi dia lihat dan dia turuni,kini dirinya ada di sebuah Padang rumput datar dengan pepohonan besar dan rindang disana sini.


Terlihat sebuah tembok sangat tinggi dari batu pualam putih terbentang di depan mereka.


"Kak kita nyasar kedunia dimensi milik orang, tempat yang tadi sudah hilang,kini digantikan tempat asing"kata Dewi Lunar Jena sambil memegang tangan Alex.


Begitu juga dengan Dewi Paraditha,dia erat memegang tangan Alex,dia tidak khawatir dengan mereka,tetapi mengkhawatirkan saudara saudaranya yang lain,yang akan gelisah kehilangan mereka bertiga.


Alex menatap kearah tulisan di pintu gerbang itu.


"Gerbang makam raja Sarwa lokapala dan keluarganya,yang beruntung akan memasukinya,dan yang serakah akan meninggalkannya, sebutkan namamu tiga kali,bila kami berkenan, maka gerbang akan terbuka,bila tidak,maka kalian akan berkelana di dunia dimensi untuk selama lamanya", bunyi tulisan itu sangat mengerikan.


Kedua istrinya memegang tangan Alex dengan erat.


"Kak,bagai mana ini,kita bisa tersesat selama lamanya di dunia dimensi ini,bagai mana kak?" tanya Dewi Paraditha cemas.


"Aku tidak mengapa bila harus tersesat selamanya di dunia dimensi ini asal bersama suamiku,tetapi aku resah dengan kakak kakak ku yang lain,mereka pasti sangat bersedih hati memikirkan kita"kata Dewi Lunar Jena.


"Sudahlah,jangan berkesimpulan yang tidak tidak terlebih dahulu,kita tidak memiliki jalan mundur selangkah pun,kita tetap harus maju terus"kata Alex kepada kedua istrinya.


Kedua istrinya itu memegang tangan Alex dengan erat.


Mereka maju selangkah di selangkah mendekati pintu gerbang makam itu.


"Alexander!".


"Alexander!".


"Alexander!".


Tiga kali Alex menyebutkan namanya, namun hingga beberapa saat,tidak juga ada tanda tanda pintu akan terbuka.


"Kak,bagai mana ini,tujuan kita tidak tercapai,malah tersesat di dunia asing ini kak, kasihan saudara saudara ku yang lain"kata Dewi Paraditha dengan mata mulai berkaca kaca .


"Mungkin sudah garis nasip kita harus berakhir disini,Eva,kakak kakak yang lain,maapkan aku yang tidak bisa berbuat apapun"Dewi Lunar Jena bicara dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Bergantian mereka menyebutkan namanya,tetapi tetap saja gerbang tidak terbuka.


Alex mencoba memprediksi dunia ini dimana dengan menghidupkan layar monitornya,tetapi sia sia saja,layar monitor seperti tidak merespon.


Bahkan Alex mencoba mengerahkan kekuatan nya,tetapi ternyata juga sia sia,seluruh kultipasinya seakan tidak berguna disini.


Begitu pula dengan kedua orang istrinya itu,seluruh kemampuan mereka hilang lenyap tidak bersisa sedikitpun juga.


Kini mereka bertiga menjadi manusia biasa di dunia yang serba asing.


Untunglah keterampilan Alex selagi di pasukan khusus tidaklah hilang, sehingga Alex masih bisa memanfaatkanya untuk bertahan hidup di dunia asing ini.


Cobalah kak sekali lagi,siapa tahu kali ini bisa"kata Dewi Paraditha meminta Alex untuk sekali lagi mencoba membuka pintu pintu gerbang makam Raja Sarwa lokapala.


"Alexander!".


"Alexander!".


"Alexander!".


Tetapi beberapa kali masih saja tidak ada tanda tanda kalau pintu gerbang itu akan terbuka.


Akhirnya kedua orang Dewi itu duduk berpelukan sambil menangis terisak Isak.


"Kakak,bagai mana ini, kasihan kakak kakakku yang lain,mereka pasti sedang resah mencari kita kesana kemari"Isak tangis Dewi Paraditha.


"Maapkan aku Eva,aku merasa bersalah,nasip kita terpisah seperti ini,belum lagi aku puas bersama mu,kini harus terpisah lagi yang entah kapan bisa bertemu kembali"Isak tangis Dewi Lunar Jena. Alex merangkul pundak kedua istrinya itu,membesarkan hatinya,agar jangan terlalu bersedih hati.


Berkali kali Alex mengulanginya,namun tetap saja tidak ada reaksi apa apa,jangankan terbuka,bergerak saja tidak.


Alex mencoba menghubungi Mister Jo di dunia Matrix,tetapi tidak ada respon apapun,begitu juga ketika menghubungi Dewi muyimaeva dan putri Annchi lewat telepati,tetapi semuanya tidak membuahkan hasil apapun.


Hingga akhirnya dengan rasa putus asa,Alex dengan jengkel menendang pintu batu itu sambil berseru, "hei,aku Alexander agung,tuan agungnya para Dewa ingin masuk,cepat buka pintunya!!".


"Krieeeet!!".


Tanpa diduga duga pintu ajaib itu terbuka dengan sendirinya,membuat Alex menjadi heran dan takjub.


Alex dan kedua istrinya segera memasuki komplek makam Raja Sarwa lokapala itu.


Alex memasuki komplek pemakaman Raja itu sambil memegang tangan kedua istrinya karena takut kalau kalau terpisah,karena mereka tidak tahu apa yang terdapat di dalam makam itu.


Setelah mereka memasuki komplek pemakaman Raja dan keluarganya itu,pintu yang tadi terbuka,tiba tiba tertutup dengan sendirinya.


Didalam komplek makam Raja Sarwa lokapala ini terdapat sebuah bangunan yang sangat besar mirip sebuah istana yang sangat megah,dengan taman yang sangat luas.


Didepan bangunan istana itu terdapat patung sepasang naga bersayap emas yang berdiri berhadapan.


Sedangkan di pintu istana patung seekor Garuda bersayap emas bertengger dengan gagahnya diatas pintu yang seba emas itu.


Alex mencoba memegang gagang pintu yang terbuat dari permata dan berlian itu dengan ukiran ular itu,namun tiba tiba pintu itu Ter buka dengan sendirinya.


Didalam istana itu,yang pertama mereka lihat adalah sebuah ruangan yang luas,kursi dan meja tamu dari emas,beberapa ukiran juga dari emas.


Didepan mereka terdapat dua pintu,yang kiri,diatas pintu bergambar mahkota dari emas sedangkan yang kanan bergambar petir.


Sedangkan dibawahnya terdapat tulisan, "pintu hanya bisa dibuka satu, bila salah satu dibuka, yang lain akan terkunci permanen dan tidak bisa di buka selamanya, pilihan bijak akan membawa keberuntungan besar, mahkota adalah harta dan kekuasaan, sedangkan petir adalah pengetahuan"...


Selesai membaca tulisan menggunakan hurup paling kuno itu,Dewi Lunar Jena menatap wajah suaminya, menyerahkan semua pilihan kepada sang suami.

__ADS_1


*********


__ADS_2