Mr Matrix

Mr Matrix
Kerinduan seorang putri.


__ADS_3

Nenek tua setengah bongkok di depan Alex kembali tertawa cekikikan seperti kuntilanak.


Orang orang yang berlalu lalang memandang mereka dengan pandangan heran.


"Bagai manakah aku bisa pulang ke tempat kedua istri ku nek, kasihan mereka pasti mencari ku"Kata Alex kepada nenek tua itu.


"Aku tidak tahu anak muda,mungkin selamanya kamu tetap disini,terjebak di dunia ini seperti kami semua"kata nenek tua itu.


Alex mencoba menghubungi Mister Jo di dunia Matrix,tetapi jangankan untuk menghubungi Mister Jo, untuk mengaktifkan layar Matrix saja tidak bisa.


Kini Alex benar benar sendirian di dunia yang serba asing baginya.


Kembali Alex menepuk kedua pipinya,ternyata memang sakit,artinya dia tidak bermimpi.


Satu persatu wajah orang orang yang dia sayangi melintas di dalam pikirannya.


Wajah putri Giok lin,putri Kwan si,putri Annchi, Dewi muyimaeva,dan wajah putri Kayla bergantian melintas di alam pikirannya.


Nenek tua di depannya kembali tertawa cekikikan lirih,bahkan kini lebih mirip ringkikan kuda saja Alex dengar.


"Tidak!,aku tidak ingin tinggal ditempat ini selamanya,aku punya tanggungjawab terhadap istri istri ku dan juga anakku kelak,aku harus kembali kepada keluarga ku"kata Alex bergumam sendirian, "ya aku harus keluar dari dunia aneh ini, meskipun dengan itu aku harus menghancurkan seisi dunia ini,akan aku lakukan demi istri dan anakku"...


Tertawa cekikikan nenek tua aneh itu tiba tiba berhenti seketika mendengar perkataan Alex tadi.


"A pa yang kau katakan tadi anak muda?, menghancurkan dunia ini?,memang engkau mampu?"tanya nenek tua itu ragu ragu.



"Nenek tua dengarkan,jangankan cuma satu dunia semacam ini,sepuluh Duni semacam ini bisa ku hancurkan dalam sekali pukulan bila aku mau"kata Alex mulai geram dengan keadaan yang sedang menimpanya.


Kepala Alex tiba tiba berdenyut hebat,rasa sakit yang mendera hingga Alex sesaat terhuyung.


Mendengar suara keluhan kesakitan terdengar dari mulut Alex tadi,nenek tua di depan nya menoleh kearah Alex.


Tiba tiba matanya terbelalak menatap kearah Alex.


Bahkan orang banyak yang berlalu lalang pun banyak yang berhenti seketika.


Samar samar mereka melihat sebuah mahkota sangat cantik bertengger di atas kepala Alex dengan anggunnya.


Nenek tua itu mundur dengan tubuh yang gemetar melihat itu.


Beberapa kali dia menggosok matanya, namun yang dia lihat tetap sama,wajah seorang lelaki sangat agung dengan sebuah mahkota sangat cantik bertengger diatas kepalanya.


Namun sekilas kemudian mahkota itu pelan pelan mulai menghilang dari pandangan mata mereka.


Bersamaan dengan menghilangnya mahkota di kepala Alex dari pandangan mata orang banyak,perlahan tubuh nenek tua itupun mulai menampakan perubahannya pula.


Muka nenek tua yang semula kusut dengan pipi yang kempot,kini mulai terlihat mulai kencang dan berisi.


Setelah beberapa saat, kini tubuh nenek tua tadi sudah lenyap semuanya, kini digantikan tubuh seorang gadi cantik jelita yang berdiri didepannya.


Kini giliran Alex yang terkejut hingga mundur dua tindak, "nenek sebenarnya siapa?"...


"Enak saja nenek nenek,wajah begini cantik dibilang nenek nenek,emangnya mata mu sakit ya?" tanya gadis jelmaan nenek nenek tadi sambil mencak mencak marah.



"Lha iya lah,kan tadi memang nenek nenek, sekarang aja menjelma menjadi gadis cantik, kembalilah ke wajah aslinya nek,tidak usah mengganti dengan wajah cantik segala,aku tidak tertarik sama nenek nenek yang menyamar menjadi cantik"kata Alex.



"Pletok!"


Tiba tiba gadis itu malah menjitak jidat Alex dengan jari tangannya.


"Nenek,nenek,sekali lagi kau bilang nenek,gigi mu yang ku jitak biar ompong semua"kaya gadis itu.



"Sudahlah nek,jangan marah terus,nanti semakin tua,entar bisa cepat mati nek"kata Alex sambil berniat berlalu dari gadis itu.



"Apa apa apa?,kau masih memanggilku nenek,dasar pemuda tak tahu diri,aku masih muda tahu,belum menjadi nenek nenek"teriak gadis itu.


Orang yang berlalu lalang sejenak menatap kearah mereka berdua yang sedang bertengkar.


"Iya sekarang,tadi nenek nenek,kamu seorang nenek nenek tua yang merupa menjadi seorang gadis ya kan,ayo ngaku aja nek,ngaku"kata Alex bersikeras dengan pendapatnya.


__ADS_1


"Aku memang masih muda!,belum jadi nenek nenek !"bentak gadis itu sambil menghentakkan kedua kakinya bergantian seperti bocah lagi merajuk.



"Aku akan percaya kepadamu asal kau katakan bagai mana cara agar aku bisa kembali ke tempat kedua istri ku"kata Alex.



"Aku tidak tahu, kalaupun aku tahu,aku tidak akan mengatakan kepada mu, kau terlalu menyebalkan" kata gadis itu.



"Kau tidak bisa menyalahkan aku,aku tidak tahu mana yang benar,kau seorang nenek nenek yang merupa menjadi seorang gadis atau seorang gadis yang merupa menjadi seorang nenek nenek tua"kata Alex.



"Aku memang masih muda,usiaku baru enam belas tahun,aku sengaja merupa menjadi nenek nenek untuk menjahili mu" kata gadis tadi.



"Menjahili ku?,berarti keadaan ku sekarang adalah perbuatan mu, sekarang kembalikan aku sebelum aku berbuat tidak baik kepada mu"kata Alex


Gadis itu menutup mulutnya seperti orang keceplosan kata kata.


"A aku tidak bisa melakukannya,bukan aku yang menarik dirimu kesini"kata gadis itu kelabakan.



"Lalu siapa,dan ada muslihat apa sebenarnya yang kalian rencanakan?" tanya Alex mulai dengan nada tinggi.



"Satu satunya orang yang bisa melakukan nya adalah Marlen sang dukun istana"kata gadis itu.


Dimanakah dia,bisakah dia mengembalikan aku ketempat ku semula?" tanya Alex.


"Tentu saja bisa,cuma syaratnya kau harus memanggilku nona, bukan nenek"jawab gadis itu.



"Itu gampang nek,bisa di atur".



Alex cepat memegang tangan gadis itu, "Maap, tadi keceplosan,iya deh aku akan memanggil mu nona,tapi antarkan aku kepada dukun Marlen itu"...


"Tidak!,aku tidak mau sebelum kau berjanji tidak lagi memanggilku nenek"kata gadis itu sambil berlalu.



"Iya,iya aku janji tidak akan memanggil mu nenek"kata Alex sambil masih memegang tangan gadis itu.



"Iya, iya,tapi lepaskan dulu tangan ku,nanti dikira orang kita sepasang kekasih dan bisa bisa kita dinikahkan orang,aku tidak ingin punya suami seperti kamu"kata gadis itu sambil menarik tangannya.



"Huh,enak saja,siapa juga yang mau menikah dengan mu,ayo bawa aku kepada dukun itu"kata Alex sambil melepaskan tangan gadis itu.



"Ikuti aku!"kata gadis itu singkat,lalu segera berjalan didepan Alex sambil sesekali menoleh kebelakang.


Mereka berjalan menuju kearah pulau ditengah danau itu dengan melewati jembatan yang melintang tadi.


Ternyata diatas pulau ditengah danau itu ada sebuah istana yang sangat besar sekali, dengan dikelilingi tembok benteng yang kuat dan tinggi.


Setelah melewati penjaga gerbang benteng istana,mereka diperbolehkan masuk kedalam kompleks istana.


Istana itu ternyata sangat luar biasa megahnya, dengan ukiran yang sangat indah.


Beberapa prajurit nampak bersiaga mondar mandir di sekeliling istana itu.


Di dalam komplek istana,kembali mereka melewati sebuah gerbang yang menghubungkan halaman luar istana dan halaman utama istana.


Di gerbang itu mereka ditanya oleh prajurit penjaga gerbang kedua itu.


"Kami ingin menghadap dukun Marlen dan Kaisar,ada keperluan penting, katakan pada dukun istana bahwa aku ingin menghadap"kata gadis itu.


Prajurit jaga di gerbang kedua ini menjura sebentar, "baiklah Dewi,akan kami katakan,mohon Dewi untuk menunggu sebentar"...

__ADS_1


Penjaga pintu gerbang kedua ini berlalu masuk kedalam halaman utama istana.


Setelah beberapa saat berlalu,nampaklah prajurit jaga gerbang istana tadi keluar dari halaman utama istana.


"Dewi dipersilahkan masuk,dukun dan sang Kaisar menunggu kedatangan Dewi di ruang keluarga istana" kata prajurit jaga kepada gadis yang tiba bersama Alex tadi.


Alex berdiri mengikuti gadis itu berjalan menuju kedalam istana.


Didalam sebuah ruangan yang cukup besar,telah hadir beberapa orang laki laki.


Salah seorang diantaranya duduk disebuah kursi kebesaran yang indah didampingi oleh seorang perempuan cantik jelita,dan beberapa orang pemuda.


Sedangkan di depan mereka nampak beberapa orang lelaki seumuran sedang duduk bersimpuh menghadap kearah lelaki yang duduk diatas kursi kebesarannya itu.


Gadis cantik yang di ikuti oleh Alex tadi duduk bersimpuh dihadapan lelaki yang nampaknya seperti seorang Kaisar itu sambil berkata, "ampun Kaisar,tugas telah hamba laksanakan, inilah lelaki dalam ramalan yang tuan ku cari itu"...


"Dewi Marfiana,kau sudah melaksanakan tugas mu,terimakasih atas bantuan mu"kata sang Kaisar.


Selanjutnya pandangan mata Kaisar tertuju kepada Alex yang masih berdiri,cuma sekilas saja membungkukan badannya di depan sang Kaisar.


"Maapkan kami anak muda,kami terpaksa mengganggu perjalanan mu,seandainya tidak keadaan darurat dan dalam keterpaksaan, kami tidak akan mengganggu perjalanan mu anak muda"kata sang Kaisar lagi.


Alex menarik nafasnya dalam-dalam, sambil menatap semua yang hadir di ruangan itu.


"Tidak apa apa tuan,saya tidak mempermasalahkan tentang hal itu,asalkan saya bisa kembali lagi kedunia saya itu sudah cukup"kata Alex.



"Itu gampang anak muda,itu bisa diatur,cuma saja sekarang kami butuh bantuan dari mu anak muda"kata sang Kaisar lagi.



"Katakanlah apa yang bisa saya lakukan,bila saya bisa membantu, pasti akan saya bantu" kata Alex lagi.


Sang Kaisar bangkit berdiri di ikuti oleh perempuan cantik jelita itu dan beberapa pemuda lainnya.


"Ikutilah saya anak muda"kata sang Kaisar.


Alex menatap gadis bernama Marfiana tadi,dan gadis itu menganggukkan kepalanya.


Alex melangkah di belakang sang Kaisar memasuki sebuah kamar yang besar di tingkat dua istana itu.


Alex terperanjat setelah memasuki kamar istana itu,disekeliling dinding kamar,terpampang lukisan seorang pemuda yang sangat mirip dengan wajah Alex dengan berbagai posisi.


Diatas pembaringan, terbaring tubuh seorang gadis cantik jelita luar biasa sedang tidur.


Tubuh sang gadis itu kini nampak kurus ringkik seperti orang yang berpenyakitan.


"Dialah Dewi Sucitra putri semata wayang ku, usianya kini belum genap enam belas tahun,dia teman akrab Dewi Marfiana semenjak masih kecil,semuanya berawal setahun yang lalu, saat dia bermimpi didatangi oleh seorang pemuda,setelah itu secara rutin dia bermimpi bertemu pemuda itu, sangkin seringnya dia bermimpi, sehingga dia hapal dan bisa melukiskan wajah pemuda itu,kami mencari pemuda itu keseluruh negeri,tetapi tidak juga menemukan pemuda itu, hingga beberapa bulan yang lalu,putri tidak lagi mampu makan,kerjanya cuma melukis dan melukis tiap hari,sampai suatu ketika kami kedatangan seorang pertapa sakti dari timur, beliau mengatakan bahwa pemuda dalam lukisan itu berada di dunia lain,dan bila dalam beberapa purnama lagi tidak kami dapatkan, maka putri akan meninggal,tepat seperti ramalan sang pertapa itu,bahwa pada hari ini pemuda itu akan melintas di atas dunia dimensi ini,sehingga aku menyuruh dukun istana untuk menjemput mu ke dunia kami"kata sang Kaisar.



"Maap,apakah kau yakin wajah yang putri lukis itu adalah wajah ku,bagai mana bila itu bukan aku?"tanya Alex.


Sang permaisuri membuka sebuah lemari dan mengambil sebuah lukisan besar dengan bingkai dari emas itu dan menyerahkannya kepada sang Kaisar.


Sang Kaisar menerimanya,lalu menyerahkannya kepada Alex, "Bukalah agar kau bisa yakin siapa yang putriku maksudkan dalam lukisannya itu"...


Alex membuka lukisan berbingkai emas yang di bungkus kain sutra biru itu,dan tampaklah lukisan mirip dirinya yang sedang duduk di kursi kebesaran dengan mahkota bertengger diatas kepalanya.


Yang membuat Alex tidak bisa berkutik lagi adalah adanya gelang bermata lima biji batu permata di tangan kanannya itu.


Gelang yang sebenarnya sudah tertanam ke tubuhnya dan terhubung dengan Matrix itu.


"Lantas apa yang harus ku lakukan?"tanya Alex.


Sang Kaisar tidak menjawab,cuma menoleh kearah dukun istana.


"Anak muda,kau bisa melakukan apa saja untuk membangunkan sang putri dan membuatnya memiliki gairah hidup kembali,kau lebih mengerti dari pada kami"kata kata dukun istana adalah isyarat yang memang sedikit dimengerti oleh Alex.


Sekali lagi Alex menatap wajah sang gadis itu, meski kini tubuhnya kurus kering,tetapi itu tidak mampu mengurangi sedikitpun kecantikan wajahnya yang memang luar biasa itu.


Sang Kaisar saling tatap dengan sang dukun istana,kemudian dengan sang permaisurinya.


Mereka saling menganggukkan kepalanya kepada sang Kaisar.


Lalu sang Kaisar bangkit berdiri mengajak semua kerabatnya untuk keluar meninggalkan Alex sendirian di dalam kamar.


Kini kamar menjadi sepi,yang ada cuma dirinya dan sang putri yang sedang tertidur pulas dalam sakitnya.


********

__ADS_1


__ADS_2