Mr Matrix

Mr Matrix
Tiga Peti mati dari Batu Giok.


__ADS_3

Di kuil tua tidak jauh dari jalan raya itu,Dewi muyimaeva dan tiga orang saudaranya yang lain masih menunggu kedatangan sang suami,bersama dengan Dewi Paraditha dan Dewi Lunar Jena yang sedang mencari air ke lembah di belakang kuil itu.


Namun hingga hari hampir gelap,ketiga orang itu belum juga kembali dari lembah.


Dewi muyimaeva bangkit dari duduk nya, "aku akan ke lembah,terserah kalian mau ikut atau tinggal,aku mau menyusul kakak"...


"Kami ikut!"seru yang lainnya dengan bersamaan.


Akhirnya empat orang wanita cantik itu berjalan menuruni lembah yang tidak terlalu dalam itu.


Didepan. Dewi muyimaeva berjalan diikuti oleh putri Annchi yang berjalan sambil memegang batu inti bintang sebagai penerang jalan.


Beberapa saat berjalan dengan mengikuti jejak Alex bertiga,mereka akhirnya tiba di tepi sumur tua tempat Alex menimba air tadi.


Timba air dari kulit pohon itupun masih ada,dan bekas Alex serta kedua istrinya mandi pun masih basah,namun tidak ada sedikitpun ada tanda tanda sang suami ada disitu.


Pelan pelan rasa khawatir mulai merasuki hati semua istri Alex disitu.


"Kakak!".


Putri Kayla mulai berteriak memanggil sang suami.


Kesunyian malam menyahut dengan gema suaranya yang terpantul dari lereng lembah.


"Kakak,dimana kalian?"kali ini putri Helena yang memanggil sang suaminya,hatinya mulai panik.


"Tidak ada tanda tanda mereka pergi dari sini,karena semak semak disekitar sini semuanya utuh tidak roboh terinjak kaki,kemana mereka?"Dewi muyimaeva bergumam agak nyaring.


Mendengar itu,putri Annchi yang biasanya tenang kini mulai runtuh pertahanannya,air mata mulai meleleh di pipinya, Isak terdengar perlahan.


"Suamiku,dimana kamu, kenapa pergi tanpa Annchi,ada apa dengan mu"walau sangat pelan,tetapi kesunyian malam membuat gumaman itu terdengar nyaring.


Putri Kayla dan putri Helena mulai terbawa suasana kesedihan pula, air mata mulai menetes di pipi mereka walau sekuat tenaga mereka tahan,perasaan khawatir lah yang tidak bisa mereka sembunyikan.


Tiga orang wanita cantik jelita itu saling berpelukan menangis terisak Isak,kini perasaan mereka benar benar sangat khawatir.


Dewi muyimaeva mendekati saudara saudara nya itu,merangkulnya seraya menguatkan hati mereka.


"Kalau sampai mereka tidak ada,itu berarti sesuatu sudah terjadi dengan mereka,kakak tidak mungkin meninggal kan istri istrinya begitu saja,aku tahu itu,kakak sangat menyayangi semua istrinya, tenangkan hati kalian,aku akan mencoba bersemedi melacak keberadaan mereka,selama mereka masih berada di dunia ini,aku pasti bisa melacak mereka"kata Dewi muyimaeva sambil bersemedi diatas sebuah batu tidak jauh dari sumur tua itu.


Sementara mata putri Annchi menatap tiga buah bumbung ruas bambu yang sudah berisi air, "rupanya tadi kakak sudah selesai mengisi tempat airnya dan siap berangkat pulang,lalu kemana mereka menghilangnya,kenapa seperti masuk ke dunia lain saja?"...


Dewi muyimaeva tersentak dari semedinya,pandangannya di edarkan ke sekelilingnya.


"Disekitar sumur ini ada dimensi alam lain yang sangat padat, sepertinya Suami kita tersesat di dimensi alam lain itu"kata Dewi muyimaeva kepada ketiga saudaranya yang lain.


Yang anehnya,batu berisi tulisan yang dibaca Alex beserta kedua istrinya tadi sudah tidak tampak lagi,alias sirna entah kemana


"Bagai mana adik Dewi, apakah kakak beserta yang lainnya bisa kembali lagi kesini bersama kita?"tanya putri Annchi.


"Bisa iya bisa juga tidak, tergantung mereka sendiri,bila sang kehendak suci menunjukan jalan, mareka pasti bisa kembali kepada kita"kata Dewi muyimaeva.


"Apakah kita harus kembali ke kuil lalu besok pagi kesini lagi?"tanya putri Kayla.


"Bagi kalian yang ingin kembali ke kuil tua itu,kembalilah,aku akan tetap disini menunggu suami ku meskipun harus berdiam disini Beratus ratus tahun,aku tetap akan menantikan suami ku"kata Dewi muyimaeva.


"Tidak,aku cuma bertanya saja,aku tidak akan Kana mana,aku akan tetap disini menantikan mereka kembali,entah berapa lamanya?",kata putri Kayla sambil menyeka air matanya,suaranya serak dan agak bergetar.

__ADS_1


"Kita semua akan tetap disini menantikan suami kita walau harus melewati beribu tahun lagi"kata putri Annchi,air matanya berderai, "kakak Giok Lin,maapkan adikmu yang tidak berbakti ini,kami tidak bisa menolong mu,kakak Kwan si,jaga putra kita,semoga kita bisa bersatu lagi seperti dahulu kak"...


.............


Sementara itu didalam dimensi lain dari dunia ini.


Selesai membaca tulisan dengan hurup paling kuno itu, Dewi Lunar Jena menoleh kepada sang suami,menyerahkan pilihan kepada sang suaminya itu.


"Kakak,pintu hanya bisa di buka satu,kakak pilihlah salah satunya" kata Dewi Lunar Jena.


Alex menatap kedua orang istrinya bergantian, seolah minta pendapat mereka.


"Apakah tidak kita pilih pengetahuan saja,karena harta kalian sudah memilikinya berlimpah ruah"kata Alex memberikan usul kepada kedua istrinya itu.


"Kakak benar,bahkan kakak sendiri memiliki sangat banyak harta, sebaiknya memang kita pilih pengetahuan saja"kata Dewi Lunar Jena menyetujuinya.


Alex mendorong pintu berlambang petir itu perlahan.


Suara berderak terdengar seperti khas suara pintu yang sudah lama tidak dibuka.


Setelah pintu terbuka, dibalik pintu itu ada ruangan terbuka seperti taman di tengah rumah dengan berbagai bunga yang tumbuh subur, sedangkan di ujung taman ada sebuah kolam renang atau kolam pemandian yang terlihat asap mengepul di atas air nya.


Sebuah pancuran air berbentuk naga terdapat di sudut kulam dengan air yang keluar dari mulut naga itu juga mengepulkan asap tebal.


Sebuah batu putih dengan guratan tangan terdapat di pinggir kolam dengan tulisan,


"penyucian diri adalah menghilangkan segenap nafsu angkara murka, merendam diri adalah menghangatkan hati membuang segenap kebusukan hati" .


"Apakah maksudnya kita harus berendam di kolam pemandian ini kak?"tanya putri Paraditha.


"Ayolah kak,kita cuma bisa maju tanpa ada pilihan mundur,kalau kita mundur,berarti kita bakalan kekal di tempat ini"Dewi Lunar Jena memberikan pendapatnya.


"Ya lebih baik gagal karena mencoba dari pada gagal karena tidak berani mencoba"kata Alex langsung melepaskan pakaiannya dan turun ke air.


Ternyata air itu lumayan panas,sehingga Alex sedikit terkejut tidak mengira jika air itu cukup panas.


Tetapi lama kelamaan,air panas itu terasa nikmat di badan.


Melihat Alex yang terpejam menikmati air kolam pemandian itu,kedua istrinya pun ikut turun ke dalam kolam pemandian itu pula.


Awalnya keduanya merasa kepanasan tetapi lama kelamaan air kolam itupun terasa nikmat di badan mereka.


Alex melihat kulit kedua istrinya semakin putih bersih dan semakin halus serta yang pasti semakin cantik berkali kali lipat.


Begitu juga dengan Alex di mata kedua istrinya, kian bertambah tampan dan ganteng berkali kali lipat dari semula.


Setelah berendam untuk berapa lamanya,mereka sudah tidak mengetahuinya,karena mereka bertiga sempat tertidur sehingga lupa waktu.


Namun satu hal yang pasti,disitu waktu seperti tidak berjalan,walau di luar sudah malam,tetapi disitu tetap saja seperti itu.


Setelah selesai berendam,mereka naik dan mengenakan pakaian mereka kembali.


tetapi ada hal yang membuat mereka heran,tulisan diatas batu yang tadi kini sudah berubah kembali.


"Masuklah keruang semedi dan bersemedi lah agar mendapatkan kemujuran".


Alex dan kedua istrinya mencari ruangan semedi,setelah mencari kesana kemari,ruangan yang bisa di buka cuma itu,maka Alex dan kedua istrinya beranggapan bahwa itulah ruangan yang di maksudkan.

__ADS_1


Di dalam ruangan terdapat tiga buah batu giok putih seperti peti mati terhampar berbaris berdekatan.


Diatas meja utama di ruangan itu tertulis yang seperti di gurat dengan jari tangan itu berbunyi,


"Cuma manusia berhati ikhlas dan suci serta terbebas dari kehendak duniawi saja yang berani melakukannya,tepuk ujung tutup peti,maka peti terbuka,dan berbaringlah seperti mayat,maka ketika kau bangun,segala macam keberuntungan menyertai mu,tetapi tinggalkan hawa duniawi agar engkau bisa selamat dari peti giok surgawi ini"


Begitulah bunyi keterangan yang ada pada batu giok diatas meja utama itu.


Alex menepuk tutup peti itu tiga kali,dan secara ajaib tutup peti batu giok itu terbuka dengan sendirinya,terlihatlah didalamnya seperti sebuah peti mati yang terbuat dari batu giok.


"Kita cuma punya pilihan maju terus bila ingin berkumpul kembali,akan kulakukan apapun untuk bisa bersama kalian kembali,seandainya pun tidak,aku bahagia telah mengenal kalian, kalianlah penyempurna hidupku,aku menyayangi kalian semua"kata Alex sambil masuk dan berbaring didalam peti mati itu.


setelah Alex masuk kedalam peti mati itu, secara ajaib tutup peti itu menutup dengan sendirinya.


Melihat hal itu,kedua istri Alex juga melakukan hal yang sama,menepuk peti di samping kiri dan kanan peti yang di isi oleh Alex tadi.


Setelah peti itu terbuka,mereka secepatnya masuk dan berbaring di dalam peti itu.


Akhirnya tutup kedua peti itupun tertutup dengan sendirinya kembali.


Setelah mereka bertiga masuk kedalam peti giok itu masing masing, secara ajaib seberkas cahaya berwarna warni sangat indah memasuki ketiga peti itu bersamaan,hingga peti itu menjadi bercahaya cerah warna warni.


Entah berapa lamanya cahaya warna warni dari langit itu seperti mengalir deras kearah ketiga peti itu,tidak diketahui,karena hari tetap seperti itu itu saja.


Erangan,rintihan bahkan jeritan juga tidak ada yang mendengarkannya, bahkan keluar dari peti saja tidak ada suara apapun.


Sedangkan cahaya warna warni terus saja mengalir seperti air sungai yang mengalir dari hulu ke hilir sungai.


Cahaya yang mengalir itu berbagai macam bentuk,ada beberapa yang menyerupai buku dan ada pula yang menyerupai binatang bersayap.


Entah sudah berapa kali terjadi ledakan tenaga teredam di dalam peti itu,tidak lagi terhitung.


Tidak dapat dipastikan berapa hari mereka berada di dalam peti itu,entah satu hari ,dua hari atau boleh jadi setengah hari,tidak bisa dipastikan karena hari disitu tetap saja terang benderang.


Hingga akhirnya cahaya yang mengalir kedalam peti itu perlahan mulai menipis,makin menipis dan akhirnya menghilang sama sekali.


Beberapa saat setelah cahaya itu berhenti mengalir,tutup ketiga peti itu pun terbuka dan tampak tiga orang sedang terbaring didalamnya,entah pingsan entah tertidur.


Yang pertama membuka matanya adalah Alex,dia duduk didalam peti batu giok itu sebentar sambil melihat kekiri dan kekanan ya.


Setelah melihat tubuh Dewi Lunar Jena dan Dewi Paraditha yang masih tertidur didalam peti batu giok itu,Alex segera keluar dari lubang peti batu giok itu. langsung meraba nadi kedua istrinya itu.


Alex menarik nafas lega setelah merasakan bahwa kedua istrinya itu sehat sehat saja.


Lalu orang yang kedua bangun adalah Dewi Lunar Jena yang mengucak matanya sambil melirik kearah Dewi Paraditha.


Setelah Dewi Lunar Jena keluar dari dalam peti batu giok itu,ia sedikit terhuyung huyung berjalan.


"Tiba tiba tubuh ku terasa sangat ringan kak"kata Dewi Lunar Jena.


"Itu karena tenaga mu yang sudah bertambah berkali kali lipat dan kultipasi mu naik menerobos ke jenjang yang lebih tinggi lagi"kata Alex.


Sedang Alex kini sudah menerobos ke jenjang Dewa paripurna tingkat menengah.


Semenjak dia menerobos kejenjang dewa sempurna,petir kesengsaraan tidak berfungsi lagi untuknya,karena jenjang nya sudah diatas jenjang sang petir kesempurnaan itu sendiri.


*********

__ADS_1


__ADS_2