Mr Matrix

Mr Matrix
Kuil ke Tujuh Belas.


__ADS_3

Setelah selesai memakai pakaiannya,Alex segera duduk bersemedi untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya.


Namun baru saja memulai bersemedi,tiba tiba.


"Pletok!".


Kepalanya di getok dari belakang.


"Aduh!".


Alex mengusap kepalanya yang kena getok dari belakang itu.


"Kenapa kau main getok saja heh?"tanya Alex kepada Dewi Araya yang nampak tersenyum bahagia melihat Alex gusar.


"Kamu memang pantas di getok,dari tadi di tolongin,eh diam kukira pingsan lagi,ternyata duduk santai"omelan dari mulut Dewi Araya terdengar menyerocos.


"Aku tidak santai nyonya, tetapi bersemedi memulihkan kesegaran tubuh ku yang terasa remuk redam ini nyonya" kata Alex jengkel.


"Pletok!".


"Aduh!".


Kembali Alex mengaduh ketika sebuah getok an mampir di kepala Alex lagi.


"Kenapa kau senang sekali menyiksa orang nyonya,apakah kau sudah lama tidak makan daging orang ?"tanya Alex sambil terus bersila mengumpulkan hawa murni untuk memulihkan kesegaran tubuhnya yang hilang.


Tiba tiba dia merasa jari jari kecil memijat mijat pundaknya.


"Nah ini baru benar nyonya,jangan galak galak,nanti kualat"kata Alex .


"Sebenarnya aku marah dengan keadaan ini,aku ingin membunuh mu,meracuni mu,biar mati,tetapi aku takut bila kau mati nanti aku menjadi janda sebelum disentuh oleh mu"kata Dewi Araya sambil terus mijat tengkuk dan pundak Alex.


Setelah agak segaran, Alex segera bangkit berdiri dan melangkah ke luar kuil Dewa angin itu.


""Hei,hei,kau mau kemana heh?"kata Dewi Araya sambil menarik baju Alex dari belakang.


"Saya mau pulang ke tempat saya nyonya, kemana lagi"kata Alex ketus juga.


"Hei,bawa aku pergi,kemanapun kau pergi,harus mengajak aku,ingat roh angin sialan itu sudah menikahkan kita,apakah kau lupa tuan hebat?"tanya Dewi Araya.


"Celaka ,ini namanya musibah!"kata Alex bergumam.


"Hah ?,musibah ?, jadi aku musibah bagimu ?"kata Dewi Araya sambil memegang tangan Alex .


"Bukan, bukan, kuping mu salah dengar bu" kata Alex menarik tangan Dewi Araya keluar dari tempat itu.


"Heh memang kau suami laknat ya,tadi bilang nyonya,sekarang bilang ibu,nanti bilang apa lagi heh"teriak Dewi Araya jengkel.


"Belum kepikiran Bu,nanti bilang apa lagi ya "kata Alex pura pura bingung berpikir.


"Tidak usah mikir dan jangan berpikiran macam macam,tambah jelek tahu"kata Dewi Araya mengomel tidak karuan.


Alex segera keluar dari dalam kuil itu di ikuti oleh Dewi Araya yang memegang tangannya dari belakang.


Mereka berdua turun dari puncak gunung How Ling sambil melayang diudara.


Setelah beberapa saat kemudian,merekapun akhirnya sampailah di kaki gunung How Ling tempat dia tadi meninggalkan kedua istrinya dan para pengawal nya.

__ADS_1


Setelah membuka tirai gaib yang menyelubungi mereka,Alex memperkenalkan Dewi Araya kepada kedua orang istrinya.


Belumlah lama mereka berbincang bincang di kaki gunung How Ling itu,tiba tiba bumi terasa berguncang hebat dan dari kejauhan terdengar suara dentuman dahsyat.


"Celaka,penghancuran sudah di mulai,ayo bersiap siap kita pergi dari sini " kata Alex sambil membuat portal dimensi ruang waktu menuju kuil kecil ke lima belas tadi.


Setelah portal ruang waktu terbuka,mereka segera masuk kedalam portal itu dan tidaklah terlalu lama keluar di dalam kuil ke lima belas.


Ternyata keadaan dalam kuil itu sudah berantakan seperti yang lainnya kemarin,penuh dengan serpihan serpihan batu batu kecil.


Alex memungut serpihan bebatuan itu dan melihat dengan teliti.


Dewi Araya mendekatkan wajahnya ke wajah Alex yang sedang serius meneliti serpihan batu itu, "ada emasnya kah tuan besar?"...


"Tidak ada,cuma ada wanita jejadian judes" jawab Alex.


"Pletok!".


"Aku bukan wanita jejadian,aku wanita asli tahu,kau senang bikin aku marah ya"kata Dewi Araya sambil memeluk pinggang Alex .


"Ternyata serpihan bebatuan itu berasal dari pilar portal yang hancur berserakan,tetapi entah karena apa "kata Alex menjelaskan.


"Bagai mana dengan dunia yang tadi?"tanya Ratu Pramestiya kepada Alex.


"Sekarang dalam proses penghancuran,karena sudah tidak ada lagi didapatkan aura kehidupan meskipun sekecil semut"kata Alex .


Ketika mereka keluar dari kuil kecil ke lima belas itu, yang berteriak takjub adalah Ratu Pramestiya.


Dia takjub melihat hamparan rumput hijau dan semak belukar serta pohon pohon tinggi, karena seumur hidupnya, baru melihat hal semacam itu.


Dengan mengikuti langkah kaki Biksu mata hati,mereka terus berjalan merambah hutan belukar dan semak semak.


Namun keadaan kuil ke enam belas juga tidak jauh berbeda dengan kuil kuil terdahulu,isinya hancur berantakan menyisakan serpihan serpihan batu kecil kecil.


"Kehancuran pilar ke enam belas ini tidak lama tuan ku,terjadinya baru baru saja,energinya masih sangat kuat "kata Biksu Mata hati.


"Aku tahu sekarang kak, rasanya aku bisa mengira ngira kenapa pilar ini hancur"kata Dewi Amarila tiba tiba.


Semua yang ada disitu menatap kearah Dewi Amarila meminta penjelasan.


"Setiap kuil ini memiliki dua pilar gerbang portal,dan setiap satu kuil menuju langsung ke arah salah satu permata illahi yang tersebar itu, dan ketika salah satu permata illahi itu di dapatkan,maka portal nyapun hancur berkeping keping,ini menunjukan bahwa adik Dewi Araya adalah bahagian dari untaian permata illahi yang kakak sebar dahulu, berarti tinggal lima permata illahi dan satu elemen dasar lagi yang harus kita cari"kata Dewi Amarila menerangkan.


Alex menatap kearah Dewi Araya, "benarkah ibu bagian dari untaian permata illahi itu Bu?" tanya Alex.


"Dasar suami laknat,senang bikin istrinya stress "kata Dewi Araya sambil mencubit pinggang Alex.


Karena hari sudah menjelang sore,Alex memutuskan untuk bermalam di kuil ke enam belas itu saja.


Sementara tiga orang wanita cantik jelita itu bahu membahu membersihkan ruangan dalam kuil itu, Alex dan pertapa sakti berkeliling mencari binatang buruan.


Beruntung mereka hari itu bisa menemukan seekor rusa jantan yang cukup besar sedang minum di dekat telaga.


Alex menyuruh Pertapa sakti membersihkan daging rusa itu, sementara dia sendiri mencari sayuran hutan, seperti jamur hutan dan pucuk pakis.


Setelah mendapatkan beberapa buah jamur payung yang besar besar serta beberapa pucuk pakis,Alex segera mencari kayu kayu kering beberapa ikatan.


Sesampainya di kuil, ternyata pertapa sakti juga sudah tiba disana,dan para wanita telah selesai membersihkan kuil itu.

__ADS_1


Alex segera membuat tungku untuk memasak nasi,serta memasak lauknya dari batu batu karang yang banyak tersebar disitu.


Sedangkan tiga orang wanita cantik itu segera menuju ke telaga untuk mandi.


Beberapa saat kemudian, tiga orang wanita itu telah selesai mandi,yang di susul oleh Biksu mata hati dan kakek Su Lung.


Setelah Biksu mata hati dan kakek Su Lung selesai mandi,barulah giliran Alex dan Pertapa sakti untuk mandi, sementara para wanita sibuk memasak lauk makan mereka.


Sore itu mereka makan bersama,dan untuk pertama kalinya Ratu Pramestiya merasakan nikmatnya masakan daging rusa dan nasi putih.


Malam itu mereka bercengkrama sambil diselingi candaan di dalam kuil kecil itu.


Pagi harinya,setelah menyeduh teh harum dan sarapan pagi,mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali untu mencari kuil ke tujuh belas itu.


Biksu mata hati menjadi penunjuk jalan berdasarkan energi yang ia rasakan.


Kuil ke tujuh belas, ternyata berada di punggung bukit dan menghadap ke arah laut lepas.


Seperti dugaan sebelumnya,ternyata benar,bahwa di kuil ini dua buah pilar portalnya masih utuh dan kuilnya agak bersih dari pada yang lainnya.


Alex segera mengaktifkan portal itu dengan energinya.


Karena energi Alex kini sangat besar luar biasa dan berlimpah ruah,maka cuma dengan sedikit energi saja,portal itu sudah bisa di aktifkan.


Setelah portal aktif,mereka segera melangkah memasuki nya dan menghilang dibalik kabut putih.


Mereka keluar di sebuah kuil kecil di tengah hutan rimba belantara.


"Biksu Mata hati,kira kira kira kearah mana ?"tanya Alex kepada Biksu Mata hati atau Biksu Tong Sam Tiong.


Biksu Mata hati berdiam sesaat,lalu berkata, "kita berjalan kearah mata hati terbit tuan ku,hamba merasakan ada tarikan energi yang sama dengan energi milik Dewi Amarila dari arah mata hati terbit itu tuan ku"...


"Baiklah,marilah kita berjalan ke arah mata hari terbit, semoga tidak terlalu lama,kita bisa bertemu permata ke tujuh belas itu"kata Alex .


"Huh,urusan perempuan aja tuan tidak sabaran, istri yang lama tidak di ingat!"gerutu Dewi Araya sambil berjalan.


Alex menghentikan langkah kakinya dan menatap kearah Dewi Araya, "nyonya,,saya melakukan ini justru karena saya ingat dengan istri istri saya yang sekarang dalam bahaya,tinggal sembilan purnama lagi,atau segalanya akan sia sia"...


Mendengar itu, Dewi Araya tiba tiba duduk di atas sebatang pohon yang tumbang melintang di depan mereka sambil mukanya menatap kearah lain.


Melihat itu Alex terpaksa berhenti berjalan dan berbalik mendekati Dewi Araya yang sedang ngambek itu.


"Ayolah Dewi,kita lanjutkan perjalanan kita, ada apa lagi kau malah diam duduk disitu?"tanya Alex sambil berjongkok di dekat sang Dewi.


"Lanjutkan lah kalian,aku tinggal disini sendirian, kalian bisa berjalan tanpa aku!"kata kata Dewi Araya terdengar kesal.


Alex memegang kedua pundak istri barunya itu, dia memang senang menggoda wanita itu.


Di tariknya kedua bahu wanita cantik itu kedalam dekapannya,dan di dekatnya erat erat tubuh wanita cantik itu.


Awalnya Dewi Araya di saja,tetapi lama kelamaan,dia balas memeluk tubuh pemuda yang ditakdirkan menjadi suaminya itu,bagai manapun bentuk dan rupanya,dia tetaplah suaminya.


"Kau selalu saja jahat kepada ku,kalau tidak nyonya lantas kau panggil aku ibu,kenapa tidak nenek saja sekalian, kau sebenarnya menganggap aku istri atau cuma teman seperjalanan saja?"tanya Dewi Araya.


Alex mencoba membujuk hati wanita itu dengan mencium dahi nya.


"Aku kira kau yang tidak menganggap aku suamimu, karena kau kan sering menggetok kepala ku,mana ada di dunia ini seorang istri yang main getok kepala suaminya" kata Alex.

__ADS_1


Mendengarkan itu,tiba tiba Dewi Araya menarik tubuh Alex dan memeluknya erat erat, "maap,maap ya,tetapi kau juga janji jangan panggil seperti tadi lagi"...


...****************...


__ADS_2