
Malam itu kota Klauxia terasa dingin, maklum kota diatas pegunungan.
Meskipun kota ini kota terbesar kedua di Negara Naurania setelah kota Balagona yang merupakan kota raja, tetapi bila malam datang, kota ini terasa seperti kota mati saja layaknya, tidak terdapat orang yang berlalu lalang seperti kota lainnya.
Semenjak kota ini diduduki pasukan rambut api,kota ini nampak seperti kota yang sedang sekarat.
Malam itu,di markas prajurit rambut api di timur laut kota Klauxia, empat prajurit masih berjaga-jaga di pos jaga depan markas mereka.
wakil komandan Rodamon dan empatratus orang prajuritnya sedang asik dibuai alam mimpi mereka masing masing.
Prajurit jaga di depan markas terkantuk kantuk di pos jaga,sementara tiga orang temanya Du duk di kursi dibelakang meja di gardu jaga dengan kepala menempel ke meja,entah tidur atau tidak.
Entah kenapa,malam ini terasa kantuk yang luar biasa menghinggapi mata mereka,mungkin karena siang tadi terlalu banyak latihan pisik, sehingga malamnya mereka terlalu lelah.
Dari kegelapan malam tiba tiba, "sreet!".
Sebatang anak panah yang kecil meluncur secepat kilat menembus leher prajurit jaga yang berdiri di pos jaga itu.
Tanpa bisa berteriak, prajurit itu jatuh kelantai pos itu.
Bersamaan dengan jatuhnya tubuh prajurit jaga itu,tiga bayangan melesat kearah ketiga prajurit yang menelungkup diatas meja,entah tidur atau tidak itu.
"Crack!".
Tiga suara berbarengan terdengar dan kepala ketiga prajurit itu pun menggelinding diatas meja dengan tubuh yang jatuh tersandar kemeja.
Suara burung hantu menggema di kesunyian malam,lalu di susul oleh suara suara burung hantu lainnya disekitar markas prajurit itu bersahut sahutan.
Lima ratus bayangan prajurit tiba tiba merangsak maju memasuki semua barak para prajurit rambut api.
Para prajurit yang tidak menyangka akan datangnya serangan mendadak itu menjadi kalangkabut tidak karuan.
Belum lagi nyawa mereka terkumpul sempurna,sebuah tebasan pedang mampir di leher mereka,dalam keheranan,tiba tiba pandangan merekapun menjadi gelap,nyawa pun hengkang keneraka.
Sedangkan di sebelah barat laut dan barat daya kota Klauxia, prajurit jaga juga mengalami nasip yang sama,tumbang tanpa ada perlawanan.
Sedangkan seribu prajurit yang terbagi di beberapa barak prajurit,menjadi kalangkabut karena serangan mendadak itu.
Banyak diantara mereka yang menjadi korban senapan cahaya dari prajurit milik Alex.
Disebelah tenggara kota Klauxia,terjadi juga pertempuran seru,antara pasukan Lau me melawan pasukan rambut api yang di bantu Alex beserta ketiga istrinya.
Empat ratus prajurit Lau me melawan enamratus prajurit rambut api.
Meski beda hitungan, tetapi prajurit Lau me menang persenjataan, sehingga dalam waktu yang cukup singkat,enam ratus prajurit itu bisa mereka atasi.
Bagi Liong san dan Soa ning, mengatasi empatratus prajurit rambut api,dengan limaratus prajurit nya,tidaklah susah,cuma dalam tempo yang sangat singkat,semua prajurit rambut api, semuanya tewas hingga tidak menyisakan satupun lagi.
Setelah membersihkan markas prajurit rambut api,dan mengumpulkan benda yang bisa dimanfaatkan,markas itu dibakar Soa Ning dengan api Phoenix nya hingga tidak bersisa apa apa lagi.
Setelah semuanya selesai,mereka bergerak kearah barat lau dengan gerakan yang senyap tetapi cepat,membantu pasukan Gompala.
Begitupun dengan pasukan Lau me, melawan empatratus prajurit bukan hal yang terlalu menyulitkan mereka,apal lagi sekarang di bantu oleh Alex dan ketiga istrinya itu,
Bagaikan singa lapar, ketiga putri cantik jelita itu mengamuk dengan senapan cahaya mereka, membunuh atau meledakan apa saja yang mereka temui.
Cuma dalam beberapa saat saja,enamratus prajurit rambut api itu musnah semuanya.
Setelah merampas barang barang yang berguna,markas itu mereka bumihanguskan tanpa sisa satupun.
Selanjutnya mereka bergerak kesebelah barat daya kota Klauxia dengan gerakan sunyi tetapi cepat itu.
Saat mereka sampai di barat daya kota Klauxia, pertempuran antara prajurit Krixius melawan pasukan Sxarios masih berlangsung.
Seribu prajurit Sxarios bertempur melawan seratus prajurit Krixius.
__ADS_1
Tetapi seperti rencana semula,pasukan Krixius bertempur dengan menyebar ke berbagai sudut dengan jarak berjauhan,seolah olah ada pasukan besar sedang mengepung mereka.
Ketika pasukan Lau me datang membantu,kini gerakan mereka kian merapat mendesak musuh dari segala penjuru markas itu.
Pertempuran terus berlangsung,satu persatu prajurit rambut api bertumbangan,
Musuh di kegelapan sementara mereka di tempat terang membuat mereka kalah dalam posisi,di tambah lagi mereka tidak bisa mendekati musuh, membuat serangan mereka tidak banyak gunanya.
Menjelang Pajar tiba, markas prajurit rambut api yang di barat daya kota Klauxia berhasil dihancurkan total.
Setelah tidak ada lagi prajurit yang tersisa,serta barang berharganya semua di rampas,markas itupun dibumihanguskan oleh putri Giok lin.
Setelah semua selesai, mereka bergerak ke Utara bergabung dengan pasukan Liong san dan Soa Ning yang masih bertempur dengan sengit.
Ada beberapa prajurit dari Soa Ning dan Liong san yang tewas di tangan komandan Sxarios dan jendral Armadixon yang hebat.
Melihat prajurit nya gugur di tangan jendral Armadixon,Liong san langsung turun arena menghadapi jendral Armadixon,sementara itu Soa ning melompat kedepan komandan Sxarios dengan jurus api Phoenix milik nya.
Sedangkan Lau me dengan empatratus prajurit nya langsung turun membantu menghabisi prajurit rambut api yang masih berusaha bertahan.
Tepat saat matahari naik sepenggalah,perang antar prajurit itupun selesai dengan semua prajurit rambut api musnah binasa, sedangkan di pihak Alex, dua orang prajurit wanita dan dua orang prajurit laki laki gugur.
Sedangkan perkelahian antara Liong san melawan jendral Armadixon,dan Soa Ning dengan komandan Sxarios masih terus berlangsung seru.
Soa Ning yang sudah menerapkan jurus api Phoenix, sehingga tubuhnya kini bercahaya hijau kekuningan dengan hawa yang sangat panas.
Mungkin karena dua prajuritnya tewas,Soa Ning tidak lagi mengampuni musuhnya kini,dengan setengah bagian dari tenaga dalamnya yang di pukulan kearah Sxarios.
Komandan Sxarios menyambut hantaman dari Soa Ning dengan sepenuh tenaganya.
"BUM!!!".
Sebuah suara ledakan hebat terdengar membahana,hingga tanah berhamburan keudara.
Tubuh Soa Ning tidak bergeming dari tempatnya berdiri,tetapi tubuh komandan Sxarios terlempar jauh hingga lima puluh Depa dengan tubuh yang sudah hitam gosong seperti arang.
Pertarungan antara Liong san dan jendral Armadixon juga berlangsung sangat seru.
Dengan kemarahan yang meluap luap,Liong san memburu jendral Armadixon dengan jurus Salju abadi nya.
Suhu udara pagi itu menjadi sangat dingin sekali,hingga menusuk kedalam tulang.
Kemanapun jendral Armadixon menghindar, selalu Liong san sudah terlebih dahulu berada di depannya.
Hingga suatu saat,pukulan Liong san dari hadapan Jendral Armadixon tidak lagi bisa di hindari nya,terpaksa adu tenaga dia lakukan.
"BUM!!!"
Satu ledakan dahsyat terdengar lagi,pohon pohon di sekitarnya bergoyang,dan tanah pun berhamburan ke udara.
Tubuh Liong san terjajar tiga tindak kebelakang, sedangkan tubuh Jendral Armadixon terpelanting kebelakang sejauh enampuluh depa dengan tubuh kaku berwarna putih salju,lalu berderak retak dan pecah berantakan seperti kaca di timpuk dengan batu.
"Hore!".
"Hore!".
Terdengar sorak Sorai dari belakang mereka, ternyata disana sudah banyak masyarakat yang menonton pertarungan itu.
Setelah melihat sang jendral musuh sudah tewas,riuh rendah suara tepuk tangan dan sorak Sorai masyarakat yang bergembira sambil berjingkrak jingkrak kegirangan.
Bahkan ada juga masyarakat yang berkeliling kota sambil berseru, "pasukan rambut api kalah,kita menang, kota sudah dibebaskan"..
Selesai mengumpulkan semua mayat pasukan musuh di alun alun kota Klauxia,lalu dibakar hingga tidak tersisa lagi.
Alex menyuruh Liong san,Lau me dan Soa Ning membawa masing masing duaratus prajurit berkuda untuk menyusul kedesa terdekat memberi bantuan kepada pasukan jendral Meranus yang ditahan oleh seribu prajurit pimpinan komandan Kurisan dengan membawa kepala jendral Armadixon.
__ADS_1
Sementara itu komandan Kurisan dengan seribu prajuritnya bergerak perlahan menyusuri jalan raya menuju desa terdekat yang berjarak dua hari perjalanan dari kota Klauxia.
pasukan itu bermalam ditengah jalan selama satu malam dan berniat melanjutkan perjalanan ke desa terdekat untuk menjegal pasukan musuh di tengah jalan.
Tetapi baru saja perjalanan akan dimulai, seekor kuda di pacu sangat kencang dari arah kota Klauxia.
Setelah dekat,ternyata penunggangnya seorang prajurit rambut api yang memacu kudanya sangat kencang.
"Tuan,tunggu tuan,ada berita besar!"teriak prajurit penunggang kuda itu.
Komandan Kurisan memalingkan kudanya kearah prajurit itu.
"Ada apa prajurit?" tanya sang komandan Kurisan.
Sambil turun dari kudanya, prajurit itu berkata, "ampun komandan,terjadi prahara tuan,setelah tuan pergi,seluruh pasukan kita diserang,markas di timur laut dan di tenggara kota sudah musnah,sewaktu hamba kesini pertempuran masih terjadi di markas komandan Sxarios, komandan Sxarios dan jendral Armadixon sedang bertempur dengan musuh,tetapi yang sempat hamba lihat pasukannya juga tinggal sedikit,musuh mempergunakan senjata aneh,seperti panah tetapi tidak mempunyai busur, dan bisa melontarkan cahaya yang bisa meledakan apa saja tuan"...
Komandan pasukan merenung sejenak berpikir,akhirnya mengambil keputusan, "pasukan semua,markas dalam bahaya,ayo kita balik kanan,dan sesegera mungkin masuk kedalam kota untuk membantu jendral "...
Semua prajurit rambut api berbalik arah kembali ke kota Klauxia dengan berbagai macam perasaan berkecamuk didalam hati masing masing.
Namun baru setengah hari perjalanan,didepan mereka telah menanti enam ratus prajurit musuh dengan keadaan siaga tempur yang di pimpin oleh tiga orang komandan pasukan.
Yang paling tengah adalah Soa Ning dengan duaratus kurang dua orang prajurit wanitanya sedangkan disebelah kiri adalah Lau me dengan duaratus orang prajurit juniornya dan disebelah kanan ada Liong san dengan duaratus kurang dua orang prajurit seniornya.
"Kalian gerombolan pengacau dari mana hei,berani menghalangi jalan kami,apa sudah bosan hidup berani berurusan dengan pasukan Usafia yang perkasa?"tanya komandan Kurisan.
Lau me melemparkan sebuah bungkusan kepada komandan Kurisan.
Dengan sigap komandan Kurisan menerima bungkusan itu dengan tangan kirinya,sementara tangan kanannya memegang kendali kuda.
Matanya terbelalak saat melihat isi dari bungkusan itu,sebuah kepala yang sangat dia kenal, "je Jen dral,bagai mana mungkin bisa terjadi,kita sama sama berangkat dari tanah Usafia,biarlah kita sama sama berakhir di tanah asing ini"kata komandan Kurisan pilu,matanya berkaca kaca,jendral Armadixon sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri,kini tewas di negeri yang asing ini.
Di hunusnya pedang di pinggangnya,lalu diangkatnya tinggi tinggi, "kita adalah prajurit pemberani,selalu mengalami kemenangan, bila hari ini kita kalah, biarlah darah kita tumpah sebagai ksatria negeri Usafia yang perkasa, "SERBU!!!"...
Dipacunya kudanya ke tengah arena dengan pedang yang terhunus siap membabat siapa saja yang mendekat.
Doa Ning bergerak secepat kilat menghadang di depan komandan Kurisan,dia tidak mau prajuritnya menjadi ajang pembantaian oleh komandan yang sudah Kalaf itu.
Sementara Soa Ning dan komandan Kurisan bertarung, prajurit wanita melampiaskan kesedihan hati mereka dengan membantai semua prajurit rambut api yang berada didekat mereka.
Seakan tidak ingin kalah saingan, prajurit Liong san dan Lau me bergerak mengisolasi daerah itu dari kiri dan kanan sambil terus menembaki prajurit rambut api yang terdekat.
Sebenarnya enam ratus prajurit melawan seribu prajurit bukanlah jumlah yang seimbang seandainya persenjataan mereka seimbang.
Tetapi persenjataan sangat modern melawan senjata kuno,menjadikan pertempuran ini adalah ajang pembantaian bagi prajurit rambut api.
Seribu prajurit seakan tidak berguna menghadapi hujan peluru dari kiri kanan dan depan mereka.
Ketika mereka ingin berbalik lari kebelakang, ternyata di sebelah belakang mereka sudah menunggu Lau me dan Liong san yang juga turut menghajar mereka.
Cuma dengan waktu dua pembakaran dupa,seribu pasukan rambut api tewas semua nya,begitu juga dengan komandan Kurisan yang tewas dengan ksatria di tangan Soa ning.
Liong san dan Lau me tidak membakar jasad komandan Kurisan,tetapi menguburkannya di tepi jalan sebagai penghormatan terhadap seorang ksatria yang mati membela keyakinannya.
Sebuah batu diletakan diatas nya setelah di gores oleh Lau me dengan jari tangannya dengan tulisan,"disini terkubur jasad seorang ksatria tanah Usafia yang gagah,Kurisan"
Sedangkan jasad para prajurit yang lain dikumpulkan lalu dibakar hingga hangus jadi abu.
Baru saja mereka hendak beranjak dari tempat itu,dari arah desa,datang serombongan prajurit yang dipimpin oleh jendral Meranus bergabung dengan mereka menuju kota Klauxia.
*********
Author mohon dukungan kalian semua para pembaca novel ini.
juga terimakasih sebesar besarnya buat yang sudah ngasih kritik atau saran,semoga kedepannya author bisa meningkatkan kualitas novel author.
__ADS_1
juga jangan segan menegur author kalau author ada kekeliruan baik bahasa,maupun tatabahasanya.