
Dewi Tara menyambut kitab tipis dari kulit kijang putih itu dari tangan Alex serta membacanya, "hikayat awal mulanya ada"
"Bermula ADA adalah ketiadaan, ISI adalah kehampaan,terang dan gelap pun belumlah ada"...
Kemudian Dewi perawan suci juga membaca goresan di dinding kuil itu, "ber mula yang ADA adalah ketiadaan semata mata.ISI adalah cuma sebuah kehampaan belaka,gelap dan terang belumlah nyata",,,"iya iya benar maksudnya benar benar sama"...
Dewi Tara kemudian meneruskan bacaannya, "lalu sang kehendak suci berkenan menciptakan yang tidak ada menjadi ada.
Adanya yang pertama dan awal segala yang ada adalah cahaya Agung yang di ciptakan dari cahaya ke Agungkannya sendiri.
Dari cahaya Agung itulah di ciptakan segala yang di adakan.
Yang pertama kali di ciptakan adalah air suci kehidupan,dan air pun bergolak sehingga menimbulkan gelombang,dan dari gelombang menjadi ombak,dan dari ombak terbitlah buih,dari buih menjadi tanah.
Tanah inilah elemen dasar kedua yang di adakan.
Tanah kemudian melayang diatas air, percampuran air dan tanah menjadi uap,dan uap ini menjadi angin.
Maka angin adalah elemen dasar ketiga dari yang akan diadakan.
Lalu angin berhembus di tanah kering,sehingga menimbulkan api.
Api inilah elemen dasar keempat dari yang akan di adakan.
Dari keempat elemen dasar ini,api lah yang paling sombong dan angkuh.
Apa bila api bersatu dengan tanah,maka tanah akan mengeras sehingga tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya,begitupun bila api bersatu dengan angin,maka se isi dunia akah di lahapnya,
Hanya air yang bisa mengatasi kesombongan dan keangkuhan sang api ini.
Sepanjang waktu, keempat elemen dasar penciptaan ini bertengkar satu sama lainnya,saling hasut dan saling serang,bahkan sang air sendiri ketika bersatu dengan angin, menghasilkan satu kerusakan yang luar biasa besar nya.
Karena murkanya,sang kehendak suci mengurung roh keempat elemen suci ini di dalam empat cawan berlian dan di pisah di empat sudut semesta,hingga datang seseorang yang bisa mengatasi sifat arogansi dari keempat elemen suci ini,barulah keempat elemen suci ini bisa bebas kembali, tetapi orang itu harus memiliki elemen asal,yaitu elemen cahaya,karena keempat elemen itu akan tunduk cuma kepada cahaya saja"Dewi Tara mengakhiri bacaannya.
Mereka semuanya saling pandang,dan akhirnya pandangan mereka berakhir kepada Alex .
"Takdir sudah ditentukan, perjalanan nasip sudah di mulai, melangkah lah tuan Agung muda, apapun yang terjadi,kami akan tetap berdiri di belakang tuan muda!" kata Biksu Mata hati sambil menjura tiga kali di hadapan Alex.
"Benar kakak,melangkah lah,karena catatan nasip sudah di mulai,dan takdir sudah di tentukan,maka tetap melangkah adalah sebuah keharusan, apapun yang terjadi kami semua bersaudara ini akan terus melangkah di belakang kakak, mendukung kakak,ayo kita cari saudari kami yang lainnya dan kita tundukan keempat elemen sombong itu"kata Dewi perawan suci sembari memegang tangan Alex .
"Ya kak,adik ke empat belas benar,ayo kita teruskan langkah kita lagi" kata putri Sucitra yang di iyakan oleh yang lainnya.
Mereka serentak bergerak mencari kalau kalau ada pintu yang mengarah keruangan bawah kuil ini seperti yang lainnya.
Namun setelah berkeliling beberapa kali di seluruh ruangan itu,tidak di ketemukan satupun petunjuk yang mengarah kepada dimana letak pintu ke ruangan bawah kuil itu.
"Tuan!,menurut penglihatan batin hamba, pintu itu terhubung dengan meja altar yang ada di situ,cobalah tuanku cari tahu,apa hubungan pintu dengan meja altar itu tuan"kata Biksu Mata hati tiba tiba setelah berdiam diri beberapa saat lamanya.
__ADS_1
Beberapa kali Alex mengitari meja altar itu, memeriksa hingga ke bagian bawahnya.
Nampak sekali meja altar itu diletakan di atas lantai, "apa mungkin pintu masuk nya tertutup meja altar ini"pikir Alex .
Karena meja altar itu menempel di dinding bagian timur,jadi cuma ada dua kemungkinan, meja itu bergeser ke Utara atau bergeser keselatan,karena untuk menggeser kearah barat,posisi untuk menggeser yang sudah tidak ada lagi,karena meja altar itu menempel didinding timur.
Alex mula mula mendorong meja altar batu besar itu keselatan, tetapi tidak bergerak,
Alex memang tidak mengerahkan kekuatan, karena takut mekanis pintu rahasia itu malah patah dan tidak bisa di buka sama sekali.
Jadi dia cuma mengerahkan tenaga secukupnya saja.
Barulah ketika meja altar itu di dorong ke Utara, meja besar itupun akhirnya bergeser juga.
Tetapi begitu meja altar bergeser,tidak ada pintu apapun di bekas tempat meja altar itu berada, kecuali guratan guratan seperti bekas meja altar itu bergesekan dengan lantai.
Beberapa saat diam tidak ada sesuatu apapun yang terjadi,hingga,
"Krieeeet!".
"Kretak!,krek!,krek!,krek!" terdengar suara berderak nyaring dan kuil pun terasa bergetar,ketika dinding kuil sebelah Utara yang menyatu dengan perut gunung bergerak kebelakang,lalu bergeser kearah barat.
sebuah pintu yang lumayan besar terbuka,menampakan sebuah lorong gelap didepan mata mereka.
Alex segera melangkah memasuki lorong gelap itu di ikuti oleh semua istrinya serta pengawalnya.
Lorong itu tiba di sebuah ruangan persegi empat sekitar tiga depa kali tiga depa.
Alex mencoba menggeser kekiri dan ke kanan,tetapi meja altar itu tidak bergerak sama sekali,barulah setelah di dorong keutara,kearah dinding,meja altar itu pun akhirnya bergerak masuk kedalam dinding secara perlahan.
Sebuah lorong tangga menuju arah bawah Ter buka perlahan lahan.
Alex segera menuruni tangga itu di ikuti semua istrinya serta pengawalnya.
Mereka terus saja menuruni anak tangga yang seperti tidak ada ujungnya itu,kadang kadang berbalik arah dari Utara ke selatan lalu setelah sekian lama berjalan kembali berbalik dari selatan keutara.
Sehingga akhirnya karena terlalu sering. ya berbalik arah,mereka semuanya tidak ingat lagi,mana Utara dan mana selatan.
Akhirnya setelah sekian lamanya berjalan menurun,kini jalan yang mereka hadapi mendatar sepanjang beberapa ratus langkah.
Sebuah ruangan seukuran enam kali enam depa terlihat didepan mata mereka.
Di tengah tengah ruangan itu terdapat sebuah meja batu giok seukuran setengah depa persegi dengan tinggi sepinggang.
Diatas meja itu terdapat pula sebuah cawan bertutup yang kesemuanya terbuat dari berlian dan memancarkan cahaya biru terang.
"Kak !,apakah ini roh dari tanah suci kehidupan itu?" tanya Dewi Tara.
__ADS_1
"Entahlah,bisa jadi benar ini adalah roh tanah suci kehidupan yang di kurung itu!"kata Alex sambil melangkah mendekati kearah meja altar itu.
Tiba tiba Alex merasa ada semacam dua energi yang saling serang serta tarik menarik di dalam tubuhnya.
Dengan menguatkan hati sarta tubuhnya,Alex terus melangkah dan membuka tutup cawan berlian itu.
Seberkas cahaya biru melesat dari dalam cawan dan masuk kedalam tubuh Alex dan seperti bergumul dengan energi air suci kehidupan yang terlebih dahulu masuk kedalam tubuhnya.
Untuk beberapa saat, tubuh Alex bergetar hebat, ada dua energi besar didalam tubuhnya saling serang dan saling ingin menguasai satu sama lainnya.
Tubuh Alex kini benar benar sangat menderita, mata nya kini telah berwarna merah seperti berdarah,sedangkan dari hidung nya mulai pula keluar tetesan tetesan darah segar.
Di saat saat seluruh urat di tubuh Alex sudah menegang sedemikian rupa,dan hampir meledak, tiba tiba dari dasar jiwa Alex yang paling dalam,muncul sebuah energi lain yang justru jauh lebih besar dari kedua energi tadi.
Bersamaan dengan itu,tubuh Alex mulai berubah bercahaya putih terang benderang dan seolah ******* kedua energi yang saling serang dan saling menguasai tadi.
Bersamaan dengan luluhnya kedua energi besar tadi di dalam energi cahaya milik Alex, tiba tiba di dalam tubuh Alex terjadi beberapa ledakan teredam, pertanda dantian Dewa samudra nya kembali membesar menyesuaikan dengan energi yang dia tampung.
Sudah tidak ada lagi tingkat kultipasi yang bisa diukur,karena belum pernah ada satupun mahluk yang berhasil mencapai nya.
Bahkan petir kesengsaraan pun tidak berani lagi membaptisnya, karena sudah tidak ada tingkat kultipasi yang bisa mengukurnya.
Setelah beberapa saat berlalu,pelan pelan energi air dan bumi melebur dalam energi cahaya milik Alex dan menyatu di dalam segenap urat, otot dan persendian Alex .
Pelan pelan pula,cahaya putih kemilau itu mulai memudar dan tubuh Alex pun kembali seperti sedia kala,tanpa luka apapun.
Setelah duduk bersemedi sebentar untuk menormalkan jalan darah di tubuh nya,Alex bangkit berdiri dan menyimpan cawan berlian itu kedalam gelang penyimpanannya.
"Ayolah kita kembali, sudah dua elemen yang kudapat, tinggal tujuh permata dan dua elemen lagi,semoga bisa memenuhi target sebelum sepuluh purnama !"kata Alex.
Merekapun kembali ke atas dengan menyusuri lorong bertangga yang tadi mereka lewati.
Ternyata mata hari pagi telah naik sepenggalah, entah berapa waktu mereka di dalam perut gunung.
"Untuk sementara tugas kita telah selesai, sebaiknya kita kembali ke istana lewat portal saja,karena sangat banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan "kata Alex kepada semua istrinya.
Alex segera membuat portal dimensi ruang waktu menuju ke istana Fangkea.
Di hutan timur dekat istana Fangkea,tiba tiba sebuah portal lubang ruang waktu terbuka,dan dari dalam lobang ruang waktu itu keluar Alex dan para istrinya serta pengawalnya.
Mereka segera berjalan menuju kearah istana di sebelah barat hutan itu.
Melihat sang Kaisar nya datang dengan berjalan kaki, prajurit penjaga gerbang luar istana segera membukakan pintu gerbang luar yaitu gerbang di pinggir danau,sedangkan gerbang dalam adalah gerbang di pulau di tengah danau itu.
Dewi perawan suci terkagum kagum menyaksikan pemandangan pulau dan istana Fangkea yang megah itu.
Pulau di tengah Danau itu memang sangat luas,di tambah lagi pulau itu Alex sambung dengan alam dimensi,menjadikan pulau itu seluas sebuah daratan besar tetapi tetap kecil bila dilihat dari luar pulau atau di lihat dari danau.
__ADS_1
...****************...
mohon jangan di hubungkan dengan keyakinan apapun isi bab ini,karena murni hasil halu nya author saja.