Mr Matrix

Mr Matrix
Negeri Jiang.


__ADS_3

Mendengar kata kata Alex tadi,tiba tiba Dewi Araya meraih tubuh Alex dan memeluknya erat erat, "kau juga jangan memanggil aku seperti tadi"...


"Lantas kau ingin ku panggil apa dong,adik atau Dewi?"tanya Alex .


"Tidak,aku mau kakak panggil meme saja, terasa enak di telinga "kata Dewi Araya sambil bergelayutan manja di tangan Alex .


"Iya iya deh,ayo kita jalan lagi"ajak Alex.


Tetapi sang Dewi tetap di tempatnya tanpa bergerak.


"Ada apa lagi sih ?,ayo "ajak Alex sambil menarik tangan Dewi araya


"Enggak mau,bilang dulu ayo meme sayang,ayo bilang"kata Dewi Araya.


"Iya iya,meme sayang" kata Alex menuruti perkataan Dewi Araya.


Setelah mendengar ucapan Alex ,barulah Dewi Araya bangkit sambil tertawa tawa mengejar Dewi Amarila dan Ratu Pramestiya.


Alex yang di tinggal di belakang cuma bisa geleng geleng kepala saja sambil turut tersenyum.


Mereka terus menerobos rimbunnya hutan,kadang berjalan biasa kadang kadang melompat dari pohon ke pohon.


Ketika hari hampir menjelang sore,mereka sampai disebuah sungai kecil yang penuh dengan batu batu,dan di kiri sungai, sebuah tebing batu yang tinggi menjulang terbentang sepanjang sisi kiri sungai.


Di tebing batu tidak jauh dari sungai kecil,terdapat sebuah goa yang lumayan tinggi dari dasar tanah namun mudah untuk mereka lompati.


Sedangkan di sungai kecil itu terdapat banyak ikan besar besar berenang di sela sela batu kali.


Dengan mempergunakan bilah kecil,Alex mencari ikan di kali kecil itu.


Sebentar saja beberapa ekor ikan besar besar sudah di dapatkan oleh Alex.


Sementara Alex mencari ikan,ketiga istrinya memasak nasi dan Pertapa sakti serta kakek Su Lung membersihkan ruangan goa untuk tempat mereka tidur malam ini.


Alex menyerahkan ikan ikan itu kepada istri istri nya dan dia sendiri pergi mencari kayu kering.


Tidak seberapa lama, bau harum ikan bakar pun menyebar di hutan itu,ditambah dengan harumnya bau daging bakar.


Malam itu mereka makan di dalam goa sambil bercengkerama dan bersenda gurau.


Tidur kali ini tidak seperti biasanya, Dewi Araya berbaring di sisi kanan Alex dan Dewi Amarila serta Ratu Pramestiya disisi kiri Alex.


Malam itu Alex menikmati kembali indahnya malam di tengah hutan rimba, bersama lolongan serigala terdengar bersahut sahutan, awalnya terdengar jauh sekali, tetapi lama kelamaan semakin mendekat.


Dari mulut goa di atas tebing, terlihat beberapa ekor serigala mencoba melompat kearah lobang goa,tetapi karena lobang goa terlalu tinggi, sehingga para serigala cuma bisa melompat lompat tempat kosong belaka.


Kawanan serigala itu sekitar sepuluh ekor atau lebih.


Ketika hari menjelang pagi,barulah kawanan serigala itu pergi semuanya.


Setelah selesai minum teh panas dan sarapan, mereka meneruskan perjalanan kembali mengikuti arahan dari Biksu Mata hati sebagai penunjuk jalan.


Namun baru saja beberapa saat mereka berjalan,di depan mereka terlihat sekawanan serigala tingkat empat sekitar dua puluh ekor banyaknya sedang menghadang jalan mereka.


Kawanan serigala coklat dan merah itu bertubuh sangat besar sekali, hampir sebesar sapi jantan.

__ADS_1


Sebagai pemimpinnya nampak seekor serigala merah tingkat lima berbadan lebih besar dari yang lainnya.


Melihat itu,pertapa sakti segera mengeluarkan cambuk saktinya dan di lecutkan beberapa kali ke arah kawanan serigala itu.


Tetapi nampaknya kawanan serigala itu sedikitpun tidak takut dengan ledakan suara cambuk sakti sang pertapa sakti,malahan mata mereka menjadi semakin memerah karena marah.


Seekor serigala yang paling berani segera menerjang kearah pertapa sakti.


"Ctar!".


"Ctar!".


Dua kali terdengar ledakan suara cambuk sang pertapa sakti,tepat menghantam muka serigala berbulu coklat itu.


Serigala itu menggelepar sesaat,lalu diam tidak bergerak,mati dengan kepalanya yang rengkah.


Kawanan serigala lainnya,melihat temannya mati,bukannya menjadi takut,tetapi malahan menjadi semakin mengganas.


Sang pimpinan serigala merah segera menerjang kearah pertapa sakti dengan kecepatan maksimalnya.


Melihat sang pimpinannya sudah turun tangan,anggota kelompok lainnya segera ikut menerjang kearah rombongan Alex .


Biksu mata hati dan kakek Su Lung segera turun tangan ikut bertempur melawan serigala tingkat empat itu.


Hantaman tangan kosong kakek Su Lung langsung menghempaskan tubuh seekor Serigala merah ketanah dengan kepala yang pecah remuk.


Sedangkan Biksu mata hati juga sudah menghempaskan se ekor serigala hitam besar dengan kepala yang juga pecah remuk.


Sementara itu, pertarungan antara pertapa sakti dan serigala merah tingkat lima sangat serunya.


Biksu mata hati kini melawan seekor serigala merah besar yang menyerang dengan ganasnya.


Adapun kakek Su Lung sekarang melawan serigala hitam yang besar.


Suatu ketika,hantaman tinju dari kakek Su Lung berhasil bersarang di muka serigala hitam itu.


Serigala hitam itu terlempar beberapa depa,dengan kepala yang pecah.


Di saat yang hampir bersamaan,pertapa sakti juga berhasil menendang rusuk serigala merah itu.


Seri gala merah itu juga terlempar dan jatuh ambruk tanpa sempat bersuara lagi.


Sementara itu, pertarungan antara pertapa sakti dan serigala merah tingkat lima semakin seru saja.


Melihat lima ekor anak buahnya sudah tumbang,sang pemimpin serigala merah tingkat lima itu menyerang semakin brutal saja.


Namun ledakan cambuk juga semakin terdengar mengganas dan semakin cepat saja.


Hingga satu ketika,dua kali lecutan cambuk berhasil menghantam kepala pemimpin kawanan serigala itu.


Serigala merah tingkat lima itupun tersungkur dengan nyawa yang telah melayang.


Melihat pemimpinnya tewas,kawanan lainnya yang masih hidup memilih lari menyelamatkan diri mereka sendiri sendiri.


Enam ekor serigala besar kini tewas di depan mereka.

__ADS_1


"Ambil kulit hewan ini dan keringkan untuk alas tidur ketika kita kemalaman dihutan"kata Alex .


Mereka segera menguliti binatang itu untuk diambil dan di keringkan kulitnya.


Setelah empat hari berjalan merambah hutan,akhirnya mereka tiba di sebuah desa kecil di lereng sebuah gunung di pinggiran hutan.


Desa ini cuma ada sekitar dua puluh buah rumah sederhana.


Ketika mereka tiba didesa itu,nampak para penduduk sedang mengelilingi sebuah rumah yang sudah habis ludes terbakar,dan dua buah kuburan terlihat di sisi puing puing rumah itu.


Terlihat pula beberapa wanita sedang menangis di sisi makam yang terlihat masih baru itu.


"Maap pak,apakah yang telah terjadi di desa ini pak ?"tanya Alex kepada salah seorang kakek tua di desa itu.


Kakek tua itu menatap kearah muka Alex sesaat,lalu berkata, "begini nak,kami baru saja kehilangan dua orang warga kami kemarin,yaitu nenek Gala dan kakek Lolo,mereka berdua dibunuh oleh orang orang suruhan pangeran Thio Seng Kuan putra dari Kaisar Thio Wen Zhuo,rumah nya dibakar habis dan cucu nenek Gala dan kakek Lolo yang bernama Dewi Suhitra juga di culik oleh orang suruhan sang pangeran itu"...


"Sungguh biadab sekali sang pangeran itu kek"kata Dewi Araya menanggapi cerita kakek itu.


"Sebenarnya Dewi Suhitra itu bukanlah cucu kandung dari kakek Lolo dan nenek Gala,dulu mereka pernah di berikan oleh Dewa seorang bayi kecil bernama Dewi Suhitra,dan kedua pasangan suami istri yang lanjut usia itu di suruh memelihara bayi itu sampai dewasa,dan kelak akan ada seorang Dewa yang akan menjemput nya,tetapi belum lagi Dewa itu datang,sang Dewi Suhitra sudah diculik oleh sang pangeran Seng Kuan"kata kakek tua itu bersedih karena kakek Lolo adalah kakaknya.


"Tenanglah kek,kami akan mencoba menolong Dewi Suhitra semampu kami,kami cuma mau menumpang menginap malam ini di desa ini kek bila di perbolehkan"kata Alex .


"Tentu saja boleh nak,ayo kerumah kakek aja,ayo ayo!"ajak kakek itu sambil berjalan menuju kesebuah rumah yang sederhana namun cukup besar dan rapi.


Kakek yang di panggil kakek Lola itu hidup cuma berduaan dengan istrinya,kedua orang putra nya bekerja di kota sebagai pedagang sayuran di pasar.


Ketiga istri Alex memasak di dapur bersama nenek Nela istri kakek Lola dengan daging rusa yang masih banyak tersisa.


Negeri ini bernama negeri Jiang dengan kota rajanya bernama kota raja King Si.


Dari kakek Lola dan nenek Nela mereka banyak tahu tentang Dewi Suhitra.


Dewi Suhitra ditemukan oleh kakek Lolo di tengah hutan enam belas tahun yang lalu,waktu itu Dewi Suhitra masih bayi merah,lalu di bawa pulang oleh kakek Lolo, Nenek Gala sangat senang mendapatkan bayi kecil yang cantik itu.


Malam harinya,kakek Lola dan nenek Gala di temui oleh seorang Dewa yang mengatakan bahwa bayi itu bernama Dewi Suhitra dan berpesan agar suami istri itu memelihara bayi cantik itu baik baik,apa bila mereka memelihara bayi itu baik baik,berkah dewa akan turun ke desa kecil itu,tetapi bila di sia siakan,maka bala bencana akan melanda desa kecil itu,karena bayi cantik itu calon jodoh seorang Dewa yang berwujud seorang pemuda tampan yang kelak akan datang kedesa kecil itu untuk menjemputnya.


Semenjak kedatangan bayi cantik itu,desa yang tadinya sangat miskin itu berangsur angsur membaik,pertanian menghasilkan tanaman yang berlimpah,hewan ternak banyak,serta bala penyakit tidak pernah lagi datang ke desa kecil itu.


Karena itulah Dewi Suhitra menjadi tumpuan kesayangan masyarakat kampung situ,karena di anggap membawa berkah dan rejeki.


Semua penduduk desa kecil itu sangat menyayangi Dewi Suhitra kecuali seorang gadis seumuran dengan Dewi Suhitra,bernama Sutari putri dari sang kepala desa Sukun,desa kecil nan terpencil itu.


Pada suatu ketika, Datanglah rombongan pangeran Thio Seng Kuan sang putra mahkota negeri Jiang yang di kawal oleh jendral Cen Thai Long melewati desa kecil itu menuju hutan di barat desa Sukun itu untuk ber buru binatang.


Karena seluruh penduduk negeri tahu sifat dari sang pangeran yang suka mempermainkan perempuan dan Gonta ganti pasangan serta mata keranjang itu, seluruh gadis kampung itu pun disembunyikan, termasuk Dewi Suhitra.


Tetapi entah karena apa,sehingga sang pangeran tahu kalau Dirumah nenek Gala dan kakek Lola ada gadis cantik jelita luar biasa.


Akhirnya sang pangeran mendatangi rumah nenek Gala dan kakek Lola.


Meskipun berusaha mempertahankan sang Dewi Suhitra,tetapi sepasang manusia umur yang usianya sudah sangat tua itu bisa apa.


Akhirnya sepasang suami istri tua renta itupun tewas di tangan putra mahkota,beserta prajurit nya,dan Dewi Suhitra pun di boyong dengan paksa ke istana.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2