Mr Matrix

Mr Matrix
Kuil Dewa Bumi.


__ADS_3

Seluruh yang hadir di ruang depan rumah penginapan itu menjadi terbengong-bengong melihat kenyataan pemuda yang di lecehkan oleh gadis cantik tadi ternyata adalah penguasa tertinggi negeri Fangkea yang terkenal itu, menantu dua kaisar besar Song dan Yuan, serta atasan negeri Han.


Gadis yang tadi jual lagak, kini terdiam kaku,seakan tidak mampu lagi menggerak satu jari kelingking pun rasanya.


"Ah seharusnya aku berpikir sedari awal,tidak mungkin seorang Dewi bersuamikan orang biasa biasa saja, sial, sial ,sial"runtuk dalam hati Mei Ling.


"kalian sudah mendapatkan kamar kah?"tanya putra mahkota kepada adik iparnya itu.


"Sebenarnya sudah kak, tetapi kakek tua itu tidak kebagian kamar,terpaksa kami mengalah untuk beliau,jadi sekarang kalau boleh,kami mau nginap diatas saja bersama kakak dan rombongan kakak"kata Alex .


"Mengapa tidak,ayo, ayo, kebetulan banyak masalah yang perlu ku bicarakan dengan adik,ayo"ajak putra mahkota mengajak Alex naik ke atas.


Tetapi sebelum naik keatas,Alex kembali mendekati kakek tua yang tadi bicara dengannya , "kek!,kakek malam ini tempati kamar saya,sudah saya bayar, sedangkan saya akan keatas bersama kakak saya kek,tidak apa apa, saya ikhlas,jangan sungkan kek,di samping kamar kakek juga ada kamar dua orang pengawal saya kek,bila memerlukan sesuatu, tinggal bilang saja pada mereka, udah ya kek saya mau keatas dulu"kata Alex sambil melepaskan tangannya dari sang kakek.


Tetapi sang kakek malah memegang tangan Alex dengan erat sambil mengeluarkan sebuah cincin ruang dan meletakkannya di telapak tangan Alex , "terimalah ini nak,sebagai rasa terimakasih saya, jangan ditolak nak,terimalah ya"...


"Kek,jangan merusak keikhlasan saya menolong kakek,saya itu tulus tanpa mengharap sesuatu apapun dari kakek,simpanlah kembali kek"kata Alex menyodorkan kembali cincin ruang yang di berikan oleh kakek tua itu.


Tetapi tentu saja sang kakek tua tetap saja bersikeras menyuruh Alex menyimpan benda itu sebagai kenang kenangan saja katanya.


"Terimalah nak sebagai kenang kenangan dari kakek,suatu saat anak pasti memerlukannya, sedangkan kakek sudah tua,untuk apa juga,jangan di tolak nak simpan saja sebagai kenang kenangan dari kakek" kata kakek tua itu.


Akhirnya Alex terpaksa menerima dan menyimpan cincin ruang yang diberikan kakek tua itu.


Kakek tua itu langsung memasuki kamar yang sudah di sewa Alex tadi, sedangkan Alex dan semua istrinya naik ke lantai dua bergabung dengan putera mahkota di lantai dua.


Semalaman mereka berbincang masalah kenegaraan,mulai dari wilayah,keamanan,perdagangan,pertanian hingga pendidikan.


Tidak terasa,hingga ayam berkokok pun tidak sekejap jua mereka tertidur.


Sebenarnya banyak yang ingin mereka bicarakan, tetapi waktunya yang belum tepat,mereka cuma berjanji nanti bila waktunya sudah ada, akan dilanjutkan kembali pembicaraan mereka itu.


Ketika pagi menyapa, setelah selesai mandi, di saat makan pun sang putra mahkota sempat sempatnya membicarakan masalah rencana Alex yang ingin membuat jalan kapal di atas tanah (bahasa kita kereta api) yang di nilai oleh putra mahkota sangat aneh dan tidak masuk akal itu.


Tetapi bagi Alex yang kita tahu berasal dunia yang ribuan tahun lebih maju dari mereka,itu bukan hal mustahil,itu baru tahap awal saja,masih banyak yang tidak dapat dia ungkapkan karena tidak sesuai dengan nalar orang orang disitu.


Alex tidak ingin terlalu banyak rencana yang orang banyak nilai mustahil itu,bisa bisa dia di kira orang sudah gila.


Biarlah semua berjalan bagaikan di Bumi dahulu step by step,setapak demi setapak,hingga akhirnya logika orang orang disitu tidak lagi menganggap modern sebagai pikiran mengada Ngada saja.


Akhirnya mereka berpisah,sang putra mahkota meneruskan perjalanannya ke kota Nyin untuk meresmikan di mulainya turnamen kenegaraan setahun sekali itu.Sedangkan Alex meneruskan perjalanannya keselatan menuju pegunungan Kuan Lun,mencari keberadaan Kuil Dewa Bumi itu.


Sedangkan sang kakek tua,sedari pergi buta, tidak seorangpun yang melihat ataupun mengetahui keberadaan nya.


Tempat tidur saja masih utuh seperti tidak pernah di tiduri seorang pun.


Dan semua pekerja di rumah penginapan itu tidak ada satupun yang mengetahui tentang keberadaannya.

__ADS_1


Akhirnya setelah selesai mempersiapkan bekal secukupnya,Alex dan semua istrinya serta tiga orang pengawalnya segera berangkat menuju kearah selatan.


Tentu saja di situ tidak ada jalan raya,yang ada cuma jalan setapak bekas para pemburu yang lewat berburu ke hutan.


Ketika sore hari,mereka segera mencari sebuah tempat untuk sekedar bermalam, malam itu.


Untung lah mereka menemukan sebuah goa yang sering di gunakan oleh para pemburu bermalam,yang di buktikan dengan adanya bekas api unggun.


Tidak jauh dari goa itu terdapat sebuah telaga kecil yang airnya mengalir kesebuah sungai kecil pula.


Alex dan pertapa sakti segera berjalan menyusuri hutan di sekitar telaga itu,mencari keberadaan binatang buruan dan sayur sayuran hutan.


Akhirnya mereka menemukan seekor rusa jantan muda yang besar dan gemuk,sekantong cendawan payung dan umbut pucuk rotan muda.


Pertapa sakti segera membersihkan rusa itu,sementara Alex mencari beberapa ikat kayu bakar kering.


Ketika dia tiba di goa, terlihat para wanita sudah pada mandi dan sedang memasak nasi di atas tungku batu kali.


Tidak seberapa lama, pertapa sakti datang dengan membawa daging rusa yang sudah di bersihkan.


Sedangkan Alex turun ke telaga kecil untuk mandi membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi, Alex iseng iseng membuka cincin ruang yang di kasih oleh kakek tua kemarin yang belum sempat dia buka.


Ternyata isi nya sebuah batu giok biru tua, berbentuk seperti sebuah bunga dengan kelopak sembilan.


Kemudian sebuah lembaran kulit rusa bertuliskan, "Di timur ada sebuah pulau bernama pulau Naga,datanglah kesana dan cari sebuah kuil kecil,dan temukan keajaiban Dunia bawah tanah yang mempesona".


Alex segera melipat kulit rusa itu dan memasukannya kedalam cincin ruang kembali,dan menyimpannya.


Setelah kembali ke dalam goa,Alex melihat para istrinya sudah selesai memasak nasi, dan kini sedang bahu membahu memasak daging rusa dan jamur payung serta umbut pucuk rotan muda,karena sang Biksu yang tidak bisa makan daging itu.


Malam itu mereka makan di bawah penerangan api unggun yang mereka nyalakan.


Malam itu Alex ,Pertapa sakti, Biksu mata hati dan Dewi Teratai putih bergantian berjaga jaga.


Hingga pagi tiba,suara kokok ayam hutan di kejauhan bersahutan membangunkan seluruh penghuni hutan itu.


Pagi harinya,setelah selesai mandi,mereka menyiapkan sarapan,dan sekedar minuman teh harum kegemaran Alex .


Setelah selesai sarapan perjalanan pun mereka lanjutkan kembali menyusuri hutan belantara dengan ilmu meringan kan tubuh serta ilmu lari cepat mereka.


Setelah empat hari perjalanan,tibalah mereka di kaki pegunungan Kuan Lun bagian utara.


Mereka segera mencari kesana kemari,namun tidak juga menanyakan yang mereka cari.


Pegunungan Kuan Lun ada enam gunung utama,tiga gunung berjejer di Utara,dan tiga gunung berjejer di selatan,yang cuma di pisahkan oleh sebuah lembah saja.

__ADS_1


Setelah mengelilingi pegunungan Kuan Lun dalam beberapa hari,mereka tidak juga menemukan letak kuil Dewa Bumi itu,kini harapan satu satunya cuma di lembah celah antara dua jejer pegunungan itu.


Mereka memasuki lembah lewat celah barat,karena di sebelah timur juga ada jejeran pegunungan yang menutupi jalan masuk ke lembah,sehingga jalan satu satunya untuk memasuki lembah cuma dari celah barat saja.


Baru saja mereka memasuki lembah pegunungan Kuan Lun itu, sederet tangga batu sangat kuno terlihat sebagian,sedangkan sebagian yang lainnya hilang tertutup akar pohon ataupun batang pohon yang tumbuh melintang di jalan.


Tangga batu purba itu terus menurun kearah dasar lembah,melewati hutan hutan jarang yang tidak terlalu rapat.


Di dasar lembah itu ternyata terdapat sebuah telaga kecil kurang lebih lebar sepuluh depa dan panjang dua puluh depa.


Tepat di sebelah barat telaga ada sebuah Kuil kecil menghadap keselatan,yang separo badan kuil itu masuk ke perut gunung yang berada di belakang bangunan kuil,atau di sebelah Utara telaga.


Walaupun berada di lereng pegunungan,tetapi halaman kuil itu datar dengan sekeliling nya di susun batu batu sebagai pembatas,sehingga sisi selatan dari teras kuil ini,tepat berada di tepi telaga,dengan anak tangga di sebelah barat nya.


Di sekeliling teras kuil ini juga disusun batu batu sebagai pagar teras.


Di sisi timur teras,masih ada patung Dewa Bumi terbuat dari batu hitam menghadap ke undakan tangga dari tanah ke teras.


Ukuran kuil itu sendiri tidaklah terlalu besar, hanya sekitar empat depa an saja,tetapi separo badan kuil ini terlihat masuk kedalam perut gunung.


Sedangkan lantai teras terbuat dari batu kali yang hitam persegi empat yang di susun dengan sangat rapi sekali.


Alex membuka daun pintu yang terbuat dari batu besar dengan menggesernya ke samping kiri.


Di dalam ruangan kuil ini ternyata berbentuk persegi panjang,yang menjorok kedalam perut gunung.


Di sebelah timur,ada sebuah altar persembahan terbuat dari batu pualam putih dengan patung Dewa Bumi di kiri dan kanan altar itu.


Di dinding sebelah selatan ada tulisan hurup Monolik kuno serta diorama alam semesta.


Melihat tulisan di dinding kuil Dewa Bumi itu,Alex langsung teringat dengan bulu tipis terbuat dari kulit kijang putih pemberian dari kakek tua di kota Sam Ju beberapa hari yang lalu.


Alex mengeluarkan buku itu dari cincin ruang nya dan memperhatikan lembaran awalnya.


"Apakah kalian bisa membaca hurup Monolik kuno ?"tanya Alex kepada semua istrinya.


Tiga orang istrinya mengangguk,sedangkan dua lainnya menggelengkan kepalanya


Yang mengangguk adalah Dewi Tara, Dewi Suci dan Dewi perawan Suci,sementara yang menggelengkan kepala adalah putri Sucitra,dan putri Guan Hong.


Coba kalian lihat,tulisan di buku ini,sama persis dengan yang ada di dinding itu!"kata Alex sambil menyerahkan buku tipis itu kepada Dewi Tara.


"Hikayat awal mulanya ada"


"Bermula ADA adalah ketiadaan,ISI adalah kehampaan,terang dan gelap pun tidaklah ada"...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2