Mr Matrix

Mr Matrix
Kemurkaan Dewi Sumantari.


__ADS_3

Disebuah kota yang bernama kota Mique, yang terletak sangat jauh dari kota Seba,terdapat sebuah lembah bernama lembah belibis putih.


Lebah ini terletak disebelah barat kota Mique sekitar perjalanan seperempat hari.


Di lembah ini terdapat sebuah telaga yang berair bening ,dan di sisi telaga terdapat sebuah istana yang sangat indah, bernama istana belibis putih.


Di dalam istana ini dihuni oleh seorang laki laki setengah tua berusia sekitar empat puluh lima tahun dan istrinya yang juga berusia sepantaran dia,serta dua orang anak gadisnya.


Meski sudah berusia hampir setengah abad,tetapi sang istri ini masih nampak cantik jelita seperti seorang gadis remaja usia dua puluhan tahun.


Sedangkan anak tertuanya berusia delapan belas tahun, bernama Parawitha sedangkan sang adik berusia Enambelas tahun bernama Paraditha.


Kedua gadis remaja itu merupakan gadis yang sangat cantik jelita tiada bandingnya di seantero negeri itu.


Tentu saja banyak pemuda yang menaruh hati kepada kedua gadis ini,tetapi niat mereka semua kandas tatkala berhadapan dengan ayah dari kedua gadis itu.


Ayah kedua orang gadis cantik jelita itu biasa di panggil orang sebagai Dewa petir,dan istrinya bernama Dewi Sumantari.


Konon dahulu Dewi Sumantari adalah satu satunya kembang tercantik ditanah para Dewa ini,hingga tidak heran bila sekarang kecantikan sang putrinya bisa menggeser kedudukan Dewi Sumantari sebagai satu satunya kembang tanah para Dewa.


Sedangkan sang Ayah tidak sembarangan mencari menantu untuk kedua anak gadisnya.


Untuk menjadi menantu sang Dewa petir adalah orang itu harus lebih hebat dari pada Dewa petir sendiri.


Itulah persyaratan yang telah dibuat oleh Dewa petir untuk calon menantunya.


Siapa saja boleh mencalonkan diri menjadi menantunya, tetapi yang terpilih adalah yang mampu mengalahkan sang Dewa petir dalam satu adu ilmu.


Akhirnya Dewa petir mengumumkan bahwa siapa saja yang mampu mengalahkan dirinya dalam adu laga,tidak perduli dia tua atau muda,akan dijadikan menantu.


Tentu saja pengumuman itu sudah banyak dicoba oleh para laki laki baik yang sudah bergelar Dewa maupun yang masih belum memiliki gelar apapun.


Tetapi hingga sekarang, tidak ada satupun para pemuda maupun yang sudah tua,yang mampu mengalahkan sang Dewa petir.


Semakin lama semakin timbul kekhawatiran di dalam hati Dewi Sumantari,bagai mana bila kelak tidak ada satupun yang mampu mengalahkan sang suami,bisa bisa sang putri bakalan menjadi bujang lapuk selamanya.


Pada suatu pagi,disaat Dewa petir sedang berbincang bincang dengan istri dan kedua orang putrinya di taman belakang istana belibis putih,tiba tiba datang seekor burung Pipit siluman yang hinggap bertengger disalah satu bunga mawar.


Tiba tiba sang burung Pipit itu bicara seperti manusia, "tuan ku, tuanku,tuan Kaisar siluman buaya telah tewas dibunuh seorang pemuda bersama empat orang gadis cantik"...


Betapa terkejutnya sang Dewi Sumantari mendengar berita itu.


Terasa seperti ada petir yang menyambar kepalanya,tubuh Dewi Sumantari menjadi oleng sesaat.


"Hei Pipit merah,apa betul berita yang kau bawa ini?"tanya Dewa petir kepada sang burung Pipit.


"Benar tuanku,tuan Kaisar siluman buaya sudah tewas ditangan seorang pemuda bernama Alex bersama empat orang gadis cantik jelita"jawab burung Pipit itu lagi.


Mendengar berita itu, Dewi Sumantari menangis tersedu sedu.


Dia ingat masa masa kecilnya,walaupun ayahnya adalah seorang siluman haus darah, tetapi dia tetaplah seorang ayah yang sangat menyayangi anaknya.


Apalagi sejak kecil sang anak tidak mengenal ibunya yang meninggal saat melahirkan sang putri,kasih sayang sang Kaisar siluman buaya tercurah kepada putri satu satunya itu.


"Kep4r4t,akan ku balas kematian ayahmu Dewi, akan ku kuliti tubuh pemuda itu,dan kujadikan hiasan istana ku ini"kata sang Dewa petir sangat marah.

__ADS_1


"Ya,ayah memang harus membalaskan kematian kakekku,tubuh pemuda itu memang harus di cincang yah"kata Dewi Parawitha kepada ayahnya.


"Tapi kan kakek memang jahat kak,suka memakan daging manusia,bagai mana kita membela seseorang yang memang salah kak, apa kita tidak di kutuk para dewa nantinya?" tanya Dewi Paraditha kepada kakak ya.


"Kau memang tolol bocah kecil,bagai mana para Dewa mengutuk kita,bila para Dewa saja takut sama ayah,ayah adalah yang terhebat di tanah para dewa ini selain Kaisar Dewa cahaya"jawab Dewi Parawitha kepada sang adik.


"Ayah memang yang terhebat di tanah para Dewa selama ini,tetapi aku tahu di luar sana masih banyak orang orang yang lebih hebat dari pada ayah,cuma kebetulan ayah belum bertemu lawan yang seperti itu"kata Dewi Paraditha menyangkal kata kata sang kakak.


"Apakah kau menyangsikan kehebatan ayah mu sendiri?"tanya Dewa petir tidak senang mendengar perkataan anak bungsunya ini.


"Aku tidak menyangsikan kehebatan ayah,tetapi aku takut kalau satu ketika ayah dalam masalah karena terlalu merasa paling hebat dari siapapun"kata Dewi Paraditha menjelaskan.


"Kamu memang selalu meremehkan ayah,kamu tidak bangga dengan ayah yang sakti tanpa ada yang berani melawannya"kata Dewi Parawitha membentak adiknya.


Sang adik cuma terdiam mendengar tuduhan kakaknya,cuma air matanya yang mengalir.


Kalau soal kepandaian dan tingkat kultipasi, mereka berdua seimbang.


Mungkin karena itulah Dewi Parawitha tidak suka kepada adiknya, karena sedari awal,dia yang berstatus kakak, tidak pernah bisa mengalahkan sang adik.


Memang sang adik ini memiliki bakat seperti sang ayah,yang cepat dalam belajar,sedangkan sang kakak seperti ibu mereka yang sangat lambat dalam belajar.


Tetapi dari segi sifat, sang adik memiliki sifat yang halus,sedangkan sang kakak menurun dari sifat sang ayah yang kasar dan brangasan.


Namun kelebihan dari keduanya adalah kecantikannya yang luarbiasa cantik jelita.


"Aku akan mencari pemuda itu,akan kubuat dia membayar semua perbuatannya kepada kakek mu"kata Dewa petir berkeras hati.




"Kau tidak mengerti adik, ini sungguh menyinggung harga diri ku sebagai salah satu dewa tanpa tanding, bagai manapun, aku harus mencari pemuda itu dan memberikan pelajaran kepadanya,bila perlu,mencabut nyawanya sekalian"Sang Dewa petir tetap berkeras pada pendiriannya,dan tidak lagi mau mendengarkan pendapat anak bungsunya itu.



"Apa gunanya kau sebagai Dewa petir bila keluargamu saja tidak bisa kau bela,mana harga diri mu sebagai Dewa petir kakak,seluruh dunia tanah para Dewa ini akan menertawakan diri mu" kata kata Dewi Sumantari menambah berkibarnya rasa dendam dan kebencian dari dalam hati Dewa petir.


Memang salah satu kelemahan Dewa petir adalah sang istri,bila sang istri sudah bicara, tentu saja sang Dewa petir akan dengan setia mengiyakannya,


Perempuan cantik jelita ini tidak yakin bila di dunia ini masih ada yang mampu menandingi kesaktian suaminya.


"Aku masih belum bisa menerima kematian ayahku,kau sebagai suami ku dan sebagai menantunya harus menuntut balas atas semua ini,bunuh pemuda itu"kata Dewi Sumantari disela Isak tangisnya.


Dewa petir memeluk tubuh istrinya,dia selalu tidak sanggup bila melihat air mata istrinya itu jatuh berderai.


Dia akan sanggup melawan seribu pendekar,tetapi tidak akan sanggup melihat setetespun air mata sang istri mengalir keluar.


"Ayah memang harus menuntut balas,aku akan menemani ayah mencari pemuda itu"kata Dewi Parawitha pada ayahnya.



"Kalian memang harus mencari pemuda itu, untuk apa kalian ditakuti orang sebagai Dewa petir dan putri Dewa petir,bila dengan seorang pemuda saja kalian takut,lebih baik copot gelar kalian" kembali Dewi Sumantari berbicara disela sela Isak tangisnya.


Kini hati Dewa petir benar benar terhasut dalam kemarahan dendam dan harga diri.

__ADS_1


"Kalau ayah tidak menuntut balas,semua orang akan menertawai ayah sebagai Dewa petir yang takut dengan seorang pemuda ingusan yang baru keluar dari pelukan ibunya"Dewi Parawitha kembali mengompori hati sang ayah,karena baginya tidak mungkin ada satupun manusia di tanah para Dewa ini yang mampu menandingi kehebatan ayahnya.


Baginya sang ayah adalah satu satunya keajaiban di tanah para Dewa ini.


Ayahnya sudah mendapatkan gelar Dewa nya semenjak masih remaja sekali,dan itu merupakan gelar tertinggi yang belum pernah di capai siapapun juga.


Lain hal dengan Dewi Paraditha,mimpinya beberapa waktu yang lalu membuatnya selalu merenung dan was was.


Dalam mimpinya dia melihat seorang pemuda dalam bentuk cahaya yang mukanya tidak bisa dikenalinya karena memancarkan cahaya putih kemilau,sedang memegang cambuk dan mencambuk punggung ayahnya yang telah penuh dengan luka luka.


Selama tiga malam berturut turut Dewi Paraditha bermimpi yang sama.


Tetapi mengingat watak sang ayah yang tinggi hati,Dewi Paraditha memendam sendiri masalah mimpinya,kalau dia bercerita,ayahnya akan marah dan tersinggung karena memang selama ini tidak ada satupun orang yang berani kepada ayahnya itu.


Memang kekuatan, kekuasaan dan gelar sering membuat orang menjadi lupa diri,lupa bahwa di atas langit, masih ada langit,lupa bahwa ujung dari semua kekuatan,kekuasaan,dan jabatan adalah liang kubur.


Tidak ada satupun mahluk yang bisa menghindar dari kematian,meski dia setingkat Dewa cahaya suci sekalipun.


Sesukses apapun kehidupan di dunia ini,ujung terakhirnya adalah kuburan.


Alangkah ruginya hidup yang sangat sukses, tetapi hanya bisa dinikmati di dunia ini saja dan sekedar sementara masih bergelar manusia.


Tetapi bila sudah bergelar almarhum, kesuksesan sehebat apapun,jabatan setinggi apapun,dan kekayaan sebanyak apapun akan tetap di tinggalkan.


Begitu juga dengan Dewa petir,karena merasa apapun telah diraihnya, harta,tahta,nama,dan wanita,maka timbullah sifat arogan nya,sifat yang merasa dirinya yang paling hebat dan siapapun tidak boleh menyamainya,hingga merasa maut jauh dari dirinya,padahal tanpa dia sadari,sang Yamadipati selalu mengintai dirinya setiap saat,menanti waktu dan masanya tiba.


Setelah membulatkan tekad dan memantapkan hati,Dewa petir mempersiapkan bekal untuk mencari keberadaan Alex yang telah membunuh mertuanya,juga atas desakan sang istri tercintanya.


Ibarat sebuah pelayaran, suami adalah kapal, sedangkan sang istri adalah nakhoda yang akan mengarahkan kapal tersebut


Nakhoda yang baik akan mengarahkan perahunya kejalan yang baik,tetapi nakhoda yang buruk akan mengarahkan perahunya sesuai dengan kemauannya,dan ujung ujungnya,menabrak batu karang pasti tenggelam.


Sebenarnya Putri Paraditha ingin melarang ayah dan kakaknya pergi mencari pembunuh kakeknya,tetapi karena tidak mau mendengar amarah keduanya, terpaksa Dewi Paraditha diam menahan diri.


Sedangkan Dewi Sumantari,ketika sang suami dan putri sulungnya pergi,dia memanggil Dewa pedang dan Dewa tombak api ke istananya.


Dewi Sumantari melemparkan dua kantong keping emas masing masing sebanyak seratus ribu keping emas kepada kedua Dewa tangan kanan suaminya itu.


"Dewa pedang,Dewa tombak,kalian adalah Dewa tertinggi setelah suami ku,itu ada dua kantong emas masing masing seratus ribu keping emas,tugas kalian cari dan bunuh seorang pemuda bernama Alex yang sudah membunuh ayahku dan semua pengikutnya serta istananya,balaskan sakit hati ku" kata Dewi Sumantari kepada Dewa pedang dan Dewa tombak.



"Baiklah Dewi,akan kami cari dan kami bunuh pemuda itu,Dewi tidak usah khawatir, pemuda itu pasti akan mati di tangan kami"jawab Dewa pedang dan Dewa tombak.


Kedua pendekar bergelar Dewa ini memang bukan pendekar biasa, mereka memang sangat menguasai bidang senjata masing masing, bahkan tidak ada tandingannya.


Selama berpuluh puluh tahun malang melintang di tanah para Dewa ini, tidak ada satupun yang bisa menandingi mereka berdua dalam hal senjata pedang dan tombak,tidak juga Dewa petir.


Mereka cuma dikalahkan dalam adu ilmu Kanuragan dengan Dewa petir,sehingga semenjak itu mereka menjadi tangan kanan Dewa petir di istana belibis putih ini.


Di tanah para Dewa ini,semua pendekar yang mumpuni,tidak perduli dia putih atau hitam, semua di beti gelar Dewa,seperti Dewa pembunuh,Dewa pemabuk,Dewa penjudi,bahkan Dewa pemetik bunga,bahkan Dewa dan Dewi iblis.


Karena belum puas dengan menugaskan Dewa pedang dan Dewa tombak,Dewi Sumantari kembali memanggil Sepasang Dewa Dewi iblis untuk mencari dan membunuh pemuda bernama Alex itu.


Dewi Sumantari tidak perduli menghabiskan berapa juta keping emas untuk mengupah pembunuh bayaran, asalkan sang pembunuh ayahnya itu bisa dibunuh pula.

__ADS_1


*********


__ADS_2