
Seorang laki-laki tampan berdiri dengan gelisah menatap keluar jendela ruang kerja mewah yang ditempatinya saat itu. Laki-laki itu adalah Daniel Putra Mahardika, Presidir PT.Mahardika, laki-laki tampan berusia 29 tahun ini termenung sendiri.
Sekali sekali matanya menatap ke ruangan yang ada diseberangnya, dia melihat phonselnya, lalu meraihnya kembali. Daniel mencoba menghubungi nomor yang sudah berulang kali dihubunginya sejak tadi. Bahkan beberapa pesan yang dikirimkannya ke nomor itu sama sekali belum dibuka.
“Ada apa dengannya, tidak biasanya dia tidak mengangkat telephone ku, apa terjadi sesuatu padanya, tapi dia tidak mengabarkan apa-apa padaku. Apa keluarga itu membuat masalah lagi dengannya, awas saja kalau mereka berani menyakitinya, kali ini aku tidak akan membiarkannya” desis hati laki-laki tampan itu.
Mata birunya yang tajam beberapa kali melirik ke arah ruangan diseberangnya, lalu dia melirik phonselnya. Namun, saat dia tidak menemukan apa yang diharapkannya, laki-laki itu kembali mendesah kasar. Dia kemudian berjalan dan duduk di kursi kebesarannya yang empuk dengan gelisah.
Beberapa berkas yang menumpuk diatas mejanya, tidak membuat Daniel tergerak untuk menyentuh semua berkas itu. Hingga pintu ruangannya diketuk, Daniel segera mendongakkan kepalanya, “Masuk” serunya.
Namun, Daniel kembali merasa kecewa saat melihat siapa yang berdiri dipintu ruagannya, itu adalah asisten pribadinya, asisten Dika, laki-laki yang tak kalah tampan berusia 26 tahun. “Maaf, Tuan, para peserta rapat sudah menunggu Anda di ruang rapat sejak lima belas menit yang lalu” ucap asisten Dika dengan sopan.
“Dik, mana dia, apa memang tidak ada khabar sama sekali” tanya Daniel tanpa menghiraukan apa yang disampaikan oleh asisten Dika.
“Maaf, Tuan, sampai saat ini masih belum ada informasi sama sekali, saya juga heran, tapi saya rasa dia pasti akan segera menghubungi Tuan nanti” sahut asisten Dika yang mengerti siapa yang sedang ditanyakan oleh tuannya itu.
“Apa kamu sudah menghubunginya, Dik” tanya Daniel lagi.
“Sudah, Tuan, tapi tidak diangkat, phonselnya juga aktif, dan semua pesan yang saya kirimkan sama sekali belum dibuka sampai sekarang” sahut asisten Dika.
“Astaga, kemana dia” desah Daniel dengan frustasi.
“Tuan, saya rasa nanti dia pasti akan menghubungi, mungkin sekarang ada hal yang harus diselesaikannya” asisten Dika berusaha menenangkan Daniel.
“Haish, ini tidak biasanya, Dik, dia tidak pernah tidak mengangkat teleponku” ucap Daniel dengan sedikit gusar.
“Ish, ternyata sudah menghubungi sendiri, ngapain juga nyuruh aku” desis asisten Dika dalam hati. “Lalu, bagaimana rapatnya, Tuan, para klien sudah menunggu Anda” ucap asisten Dika mengingatkan tujuan utamanya datang ke ruangan itu.
“Batalkan saja dan reschedule, aku tak bisa berpikir jernih dalam keadaan seperti ini” sahut Daniel dengan santai.
“Tapi, Tuan….” seru asisten Dika yang terkejut mendengar Daniel meminta pembatalan rapat sementara para klien dan peserta rapat sudah menunggu sejak tadi di ruang rapat.
__ADS_1
“Kamu beri saja alasan yang masuk akal, aku tidak akan kemana-mana sebelum ada khabar” sahut Daniel tanpa memperdulikan wajah bingung asisten Dika.
Asisten Dika hanya bisa mendesah pasrah, selalu saja begini jika sang sekertaris tidak hadir di kantor mereka. Sang presidir pasti tidak akan mengerjakan semua tugasnya, dan akan mengabaikan semua rapat yang dilaksanakan.
“Baiklah, saya permisi dulu, Tuan” sahut asisten Dika, dia melangkah keluar dari ruangan mewah tuan presidirnya itu. Entah alasan apa yang bisa asisten Dika berikan pada para klien dan peserta rapat yang sudah menunggu sejak tadi, “Haish, aku terpaksa bilang kalau Tuan itu sedang sakit, atau mendadak kena serangan jantung” ucap asisten Dika dalam hatinya dengan kesal.
Sementara didalam ruangan Daniel, laki-laki itu masih saja merasa gelisah, tangannya mengetuk ngetuk meja kerjanya dengan menggunakan pena. Pena yang seharusnya dia pakai untuk menandatangani tumpukan berkas dihadapannya, malah digunakan untuk mengetuk meja kerjanya.
“Dimana kamu” gumam Daniel dengan gelisah, “Apa aku harus mengerahkan orang untuk mencari tahu apa yang terjadi denganmu, ah, baiklah, aku tunggu hingga waktu makan siang, kalau memang tetap tidak ada khabar, aku
akan mengerahkan anggotaku untuk mencarimu” lanjutnya lagi.
Daniel memang memiliki kelompok mafia bawah tanah yag tidak diketahui oleh siapapun kecuali asisten Dika. Kelompok inilah yang sering dia gunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam perusahaan maupun diluar perusahaannya.
Saat Daniel sedang menimbang-nimbang, tiba-tiba phonselnya berbunyi, saat dia melihat siapa yang menghubunginya, Daniel hampir saja meloncat karena girang.
“……………..”
“……………..”
“Apa kamu sakit parah, Qiandra, apa perlu aku mengirimkan dokter untukmu” tanya Daniel yang terkejut sekaligus khawatir mendengar wanita yang ditunggunya sejak tadi, sedang dalam keadaan sakit.
“……………..”
“Aku akan mengunjungimu, Qiandra” Daniel merasa sangat cemas, dia tahu keadaan Qiandra yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali keluarga mertuanya yang selalu jahat padanya.
“……………..”
“Kalau begitu aku akan kesana sekarang, Qiandra, aku sendiri yang akan melihat keadaanmu dan memastikan apa kamu benar-benar baik-baik saja” ucap Daniel, dia berdiri dan mulai mempersiapkan diri untuk berangkat.
“……………..”
__ADS_1
“Tapi, Qiandra, hah, ya sudah, sekarang kamu beristirahat saja, segera khabari aku jika kamu memerlukan sesuatu” akhirnya Daniel kembali duduk dengan pasrah, dia sangat paham kalau Qiandra tidak pernah mengijinkan seorang pria pun untuk datang ke rumahnya.
“……………..”
Daniel melihat sambungan telepon itu sudah terputus, dia hanya mendesah kasar. Jika orang lain yang melakukan hal itu, memutuskan sambungan telepon dengannya lebih dulu, maka jangan harap Daniel mau menerima telepon dari orang itu lagi.
Tapi, jika berhubungan dengan Qiandra, maka segala sesuatunya akan selalu ditolerir oleh Daniel. Iseng-iseng Daniel membuka aplikasi di phonselnya untuk mengetahui posisi Qiandra saat ini. Dan dia mengerutkan keningya saat melihat posisi terakhir Qiandra ada di tepi pantai.
“Katanya sakit, kok malah ada di pantai, sebentar” Daniel memperjelas lokasi tempat Qiandra berada. “Mansion?, dia berada di mansion, tapi mansion siapa, setahuku Qiandra tidak punya teman atau keluarga yang cukup kaya sampai memiliki sebuah mansion. Apa Qiandra ada acara, ya, tapi mengapa dia mengatakan dia sedang sakit” berbagai pertanyaan bermunculan dalam benak Daniel.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut, “Aku harus mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Qiandra, kenapa hatiku terasa gelisah” bisik hati Daniel lagi. lalu dia kembali mengambil phonselnya dan menghubungi asisten Dika.
“Dik, ke ruanganku, sekarang” perintah Daniel pada asisten Dika.
Asisten Dika yang baru saja keluar dari ruang rapat untuk menjelaskan ketidak hadiran Daniel, mengernyitkan keningya saat mendengar Daniel menyuruhnya ke ruangan presidir, “Ada apa lagi ini” desis asisten Dika.
“Dik, segera retas CCTV di rumah Qiandra” seru Daniel pada asisten Dika saat asisten tampan itu masuk ke dalam ruangannya.
“Maksud Anda, Tuan” tanya asisten Dika yang heran, mengapa tiba-tiba Daniel ingin meretas CCTV rumah Qiandra.
“Qiandra mengatakan kalau dia sedang sakit, tapi saat aku menlihat lokasi tempat dia berada saat ini, ternyata dia ada di sebuah mansion yang ada ditepi pantai. Aku jadi penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi” sahut Daniel yang mengerti mengapa asisten Dika kebingungan dengan perintahnya.
Daniel memang tidak pernah mencampuri urusan Qiandra terlalu dalam, karena memang Qiandra tipe wanita yang sangat tertutup. Qiandra tidak suka jika ada orang yang berusaha mencampuri urusan pribadinya. Bagi Daniel, Qiandra adalah wanita tegar dan tabah, sekalipun telah menjadi janda, tapi wanita ini tetap mampu menjalani hidupnya.
Dan bahkan, Daniel juga tahu, kalau Qiandra bekerja membanting tulang hanya untuk membiayai kehidupan keluarga almarhum suaminya. Daniel tahu kalau rekening gaji Qiandra ada di tangan mertuanya, karena itu Daniel sering memberikan uang lembur untuk Qiandra.
“Apa aku harus melakukannya di markas, Tuan” tanya asisten Dika memecah lamunan Daniel.
“Tidak perlu, lakukan saja disini, toh, tidak ada orang yang akan melihatnya” sahut Daniel.
Asisten Dika segera mengotak atik laptop yang ada diatas meja Daniel, setelah beberapa saat, dia menghubungkan tampilan di layar laptop itu dengan monitor besar yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
“Coba cek rekaman dari pagi tadi” perintah Daniel pada asisten Dika. Asisten Dika mengikuti keinginan Daniel, dia membuka jejak rekaman CCTV dari kejadian sejak pagi di rumah Qiandra.