
“Bagaimana yang ini, Love” tanya Qiandra sambil memutar tubuhnya di hadapan cermin. Sementara Dean menatap sang istri dengan senyum bahagia yang tak pernah lekang dari wajah tampannya. Laki-laki itu berdiri lalu
melangkah mendekati wanita itu dan memeluknya dari belakang wanita itu.
Dean mencium bahu Qiandra yang terbuka dengan lembut, “Apapun yang kamu kenakan akan selalu terlihat indah, Honey, karena kecantikan dalam dirimu jauh lebih indah dibandingkan semua gaun-gaun ini. Dan kamu tentu sangat tahu kalau bagiku, kamu jauh lebih cantik tanpa menggunakan gaun manapun” desis Dean di telinga wanita itu.
“Love.....” cicit Qiandra dengan wajah merengut manja, “Jangan mulai lagi, kamu tahu seluruh tubuhku masih terasa pegal ini” lanjutnya lagi.
“Hei, aku rasa aku hanya melayani tantangan dari Nyonyaku tadi malam. Tapi kalau memang kamu merasa lelah, suamimu yang tampan ini dengan sukarela siap memijit seluruh tubuhmu
dari ujung kaki sampai ujung rambutmu” bisik Dean lagi.
Qiandra memukul lembut lengan sang suami yang melingkar di pinggang rampingnya, “Kalau aku membiarkanmu memijit tubuhku, aku yakin
bukannya jadi sehat, tubuhku malah akan semakin remuk” ucapnya.
“Wah, itu wajar, Honey, kamu tahu kan kalau suamimu ini tidak akan melewati kesempatan berharga yang tersaji di depan mataku” sahut
Dean, tangan laki-laki itu mulai menelusuri tubuh indah istrinya.
“Hentikan, Love, aku tidak akan selesai mencoba gaun-gaun ini jika kamu terus menerus menggodaku” seru Qiandra saat merasakan tangan sang suami mulai bergerak nakal.
“Baiklah, baiklah, Nyonya, as you want, aku mengalah kali ini” bisik Dean dengan lembut di telinga istrinya, dia tahu wanita itu memang
sedang memerlukan waktu untuk melihat ketiga gaun yang sudah disiapkan oleh
asisten Vian.
Dean melepaskan pelukannya di tubuh wanita itu dengan perlahan, disertai dengan beberapa kecupan hangat di bahu Qiandra yang terbuka. Qiandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya itu.
Qiandra masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti gaunnya, dia tidak ingin melakukannya di hadapan suaminya. Karena Qiandra sangat tahu kalau laki-laki itu tidak akan bisa menahan dirinya saat melihat tubuh istrinya itu.
Setelah mengganti gaun dengan model yang terakhir, Qiandra melangkah keluar dari walk in closet untuk kembali mematut dirinya di hadapan cermin. Qiandra tidak hanya melihat
kecocokan gaun-gaun itu dengan tubuhnya, tapi juga memikirkan aksesories yang akan dipakainya dan make up apa yang sesuai dengan gaun-gaun itu.
Saat keluar dari walk in closet, Qiandra melihat Dean sedang berbicara dengan seseorang melewati phonselnya. Qiandra diam saja karena menduga itu asisten Vian atau dokter Albert, karena hanya kedua orang itulah yang bisa menghubungi Dean jika dia sedang tidak
ke kantor. Namun Qiandra sedikit mengernyitkan kening saat melihat wajah suaminya itu tiba-tiba berubah mengeras.
Qiandra bisa melihat kalau laki-laki itu sedang menahan kemarahannya, namun tidak bisa mengeluarkannya. Qiandra perlahan berbalik dan menatap suaminya secara langsung, dan pada saat itu juga Dean mengakhiri pembicaraannya.
“Baik, Dad, terima kasih sudah memberitahukan hal ini kepadaku” ucap Dean lalu menutup pembicaraan itu. “Shit..... dasar iblis betina” desis Dean penuh kemarahan membuat Qiandra semakin merasa heran.
“Love, ada apa, apa ada masalah” tanya Qiandra dengan wajah cemas. Qiandra duduk di samping suaminya dan menatap laki-laki itu dengan penuh tanya.
Dean meraih tangan istrinya dan mengecupnya dengan lembut, wajahnya yang semula penuh
kemarahan seketika melembut. “Honey, hey, gaun ini cantik sekali, kurasa ini jauh lebih cocok untukmu” ucapnya sambil menatap istrinya dengan penuh cinta.
Qiandra mengernyitkan keningnya sesaat, matanya menatap Dean dengan intens, namun pada akhirnya dia mendesah perlahan. Qiandra
melepaskan tangan Dean dari bahunya, lalu berdiri ingin meninggalkan Dean, wanita itu cukup kecewa karena dia tahu suaminya tidak ingin memberitahukan apa-apa padanya.
Untunglah Dean sempat menangkap reaksi wajah wanita itu, sehingga sebelum Qiandra
__ADS_1
melangkah pergi, Dean sempat menarik tangannya. Qiandra cukup terkejut saat merasakan tangannya di tarik oleh suaminya,
membuatnya terpaksa kembali duduk di sisi laki-laki itu.
“Ada apa lagi, Love, aku mau melihat gaun ini, apa memang benar seperti katamu ini cocok
untukku” ucap Qiandra dengan intonasi yang sedikit kesal.
Dean meraih wajah wanita itu dan menghadapkannya ke arah dirinya, Dean menatap mata cantik itu dengan intens, “Jangan sembunyikan, Honey, katakan saja jika kamu tidak suka, jika kamu marah, kamu kesal, kamu sedih, kumohon katakan saja padaku” ucapnya dengan lembut.
Qiandra menarik nafas sejenak, “Mengapa aku harus mengatakan semuanya padamu, sementara kamu sendiri selalu menyembunyikan segalanya dariku. Atau apa memang seperti itu yang kamu inginkan dan sudah seharusnya seperti itu, Love, jika memang seperti itu baiklah, aku terima, aku akan ikuti aturanmu sampai batas mana aku mampu” sahut Qiandra tanpa jeda.
Mendengar kemarahan istrinya itu, bukannya marah Dean malah tersenyum menatap wanita itu dengan bahagia. “Love….” seru Qiandra
semakin kesal karena melihat suaminya malah tersenyum menanggapi kemarahannya. Tangannya bahkan terulur dan memukul bahu
suaminya dengan kesal.
Perbuatan Qiandra itu malah memancing gelak tawa Dean, laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Tangannya meraih tangan Qiandra dan menggenggamnya dengan lembut, bahkan diantara gelak tawanya, Dean mengecup lembut tangan sang istri. Wajah kesal Qiandra dengan mata membulat kesal terlihat sangat lucu di mata Dean, sehingga dia tidak bisa menahan tawanya lagi.
“Honey, ini kali pertama aku melihatmu mengomel, ini…. ini luar biasa sekali, dan aku
senang mendengarnya” ucap Dean diantara tawanya.
Qiandra semakin membulatkan matanya, bagaimana bisa suaminya ini malah merasa senang saat dia marah-marah dan mengomel. Jika suami lain akan merasa kesal saat istrinya marah-marah, berbeda dengan Dean yang malah merasa senang melihat istrinya seperti itu. Saking kesalnya Qiandra pada Dean yang malah semakin tertawa terbahak-bahak, tanpa sadar dia memukul-mukul tubuh laki-laki itu.
“Aw…. aw…. ampun Honey, ampun” seru Dean masih dengan gelak tawanya dia meraih tubuh
wanita itu dan membawanya masuk dalam pelukannya. Apa yang dilakukan oleh Dean membuat Qiandra terkejut, dia tidak bisa menghindar lagi karena memang posisinya tidak tepat juga gaun yang melekat di tubuhnya membuat Qiandra tidak bisa bergerak bebas.
itu dengan kuat. Sehingga wanita itu tidak bisa pergi lagi, namun karena masih kesal Qiandra tetap berusaha melepaskan diri dengan menggerak-gerakkan badannya.
“Honey, jika kamu terus bergerak, maka jangan salahkan jika aku mengangkat tubuhmu dan membawamu ke atas tempat tidur, hmmmm” seru Dean masih dengan sisa-sisa tawanya.
Mendengar kata-kata Dean, Qiandra segera berdiam diri, dia sangat paham apa maksud dari presidir tampan itu. “Good girl....” kekeh Dean saat melihat wanita itu langsung berdiam diri.
“Love....” seru Qiandra yang merasa dikerjai suaminya, dia kembali memukul dada laki-laki itu.
“Ha ha ha, ampun.... ampun Honey” seru Dean, dia malah memeluk wanita itu semakin erat.
“Ish.... kamu aneh Love, kalau orang lain akan marah kalau istrinya marah padanya, kamu malah senang, jangan-jangan kamu ada kelaianan jiwa” rungut Qiandra masih dengan wajah kesal.
“Aku memang punya kelainan jiwa jika bersama denganmu, Honey, semua yang aku tampilkan di luar akan hilang saat aku bersamamu. Di hadapan dirimu, inilah aku yang sebenarnya, hanya kamu yang tahu. Dan aku, aku bahagia bisa melihatmu marah dan kesal dihadapanku, karena itu berarti kamu juga sudah membuka dirimu dan tidak lagi menyembunyikan semua rasamu dariku” ucap Dean pada akhirnya.
Laki-laki itu menatap wajah istrinya dan membelai lembut wajah cantik itu, “Hari ini aku sungguh bahagia, Honey, bisa melihatmu bermanja, marengut kesal, marah bahkan mengomeli aku. Karena bagiku, itu berarti kamu sudah tidak lagi merasakan perbedaan
diantara kita berdua yang membuatmu selalu ragu untuk bersikap di hadapanku. Inilah aku, Honey, sama seperti laki-laki lain, seperti suami yang lain, yang sering kali tidak tahu apa yang diinginkan oleh istri kami. Dan saat kamu marah, kamu telah mengungkapkannya padaku, sehingga aku mengerti apa yang kamu inginkan. Dan semua itu, sungguh membuatku bahagia, aku sungguh merasa sekarang kamu sudah benar-benar menerima aku apa adanya diriku, apa aku salah, Honey” ucap Dean panjang lebar.
Qiandra menatap laki-laki itu tepat di bola matanya, Qiandra bisa melihat ketulusan dari setiap kata-kata Dean yang terpancar di matanya. Qiandra hampir meneteskan air mata mendengar pengakuan Dean, sebegitu tulusnya cinta laki-laki itu dan sebegitu besarnya
harapan Dean agar Qiandra bisa menerima dirinya.
Qiandra akhirnya menyadari, bahwa bukanlah Dean yang harus diragukan dalam hal menerima dirinya. Justru dirinyalah yang begitu sulit menerima Dean dalam hatinya, rasa
rendah diri, membuat Qiandra selalu berusaha membatasi dirinya.
__ADS_1
Namun, kata-kata Dean menyadarkan Qiandra, bahwa ketakutannya sama sekali tidak beralasan. “Love.....” desis wanita itu, seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
“Aku mencintaimu, Qi, sangat, jika karena statusku kamu begitu sulit menerima diriku, maka aku akan melepaskannya agar kamu bisa
menerima aku. Semua itu tidak ada artinya bagiku, tanpa ada dirimu disisiku, di hatiku dan di hidupku” ucap Dean lagi.
“Cukup, Love, cukup, jangan membuatku merasa semakin bersalah padamu, maafkan aku, maafkan kebodohanku dan kemunafikanku selama ini. Dan terima kasih untuk semua
cintamu yang begitu tulus dan besar untukku, tolong aku untuk bisa memiliki cinta seperti cinta yang kamu berikan untukku. Ajari aku agar aku juga bisa mencintai dirimu seperti kamu mencintai aku. Karena aku sangat bahagia dengan semua cintamu dan akupun ingin kamu bahagia dengan semua cintaku padamu” ucap Qiandra.
Dean tersenyum bahagia, “Tidak perlu menjadi apa dan bagaimana, Honey, cukuplah menjadi dirimu sendiri, cintai aku seperti sekarang
kamu mencintaiku, dan terima aku seperti saat ini kamu sudah menerima aku. Itu sudah sangat berarti dan sangat membahagiakan aku, karena aku mencintaimu apa adanya, jadi kuharap kamu tidak berubah tapi tetap menjadi dirimu sendiri” ucap laki-laki tampan itu.
“Terima kasih, Love” cicit Qiandra, wanita ini semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat sang suami.
Dean pun semakin mempererat pelukannya, “Hei, apa kamu sudah menentukan gaun mana yang akan kamu pakai, Nyonya, kamu harus menentukan gaun utama, kedua dan ketiga, sebagai cadangan untuk kamu kenakan pada saat acara nanti” ucap Dean sesaat setelah mereka berdua terdiam dalam kehangatan pelukan penuh kasih.
“Aku tidak akan mengatakannya kepadamu, Tuan, sebelum kamu menjelaskan apa yang membuatmu marah tadi” rungut Qiandra seraya turun dari atas pangkuan sang suami.
“Haish, kukira kamu sudah melupakannya, Honey” ucap Dean sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Qiandra menatap laki-laki itu dengan tatapan horor, “Love....” desisnya dengan penekanan.
“Baik, baik, ampun Nyonya” ucap Dean sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Katakan sekarang atau.....” kata-kata Qiandra langsung dipotong oleh Dean.
“Atau apa.....” ucap Dean dengan mata jenaka, kedua alis mata tebal laki-laki itu terangkat membuat kerampanannya semakin sempurna di mata Qiandra.
“Atau tidak ada jatah selama seminggu kedepan” ucap Qiandra dengan santai sambil mengambil posisi duduk yang begitu menggoda.
“Cih, kamu benar-benar tahu titik kelemahanku, Nyonya” desis Dean saat melihat sikap menggoda sang istri. “Baiklah kamu menang, kamu tahu aku tidak akan mampu jika tidak mendapat jatah sampai selama itu” lanjutnya lagi.
Qiandra tersenyum senang, dia segera memperbaiki posisi duduknya, karena dia tahu sang suami tidak akan bisa fokus jika melihatnya seperti itu. “Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi, ada berita apa tadi” tanya Qiandra lagi.
Dean menarik nafas sebentar, “Tadi Dad yang menghubungi aku, dan beliau menyampaikan kalau iblis betina itu sudah menyampaikan keinginannya untuk menjadi tuan rumah dalam acara pesta kita nanti, hal ini sebagai bentuk
tanggung jawabnya sebagai seorang istri” ucap Dean, gurat kemarahan kembali tergambar di wajahnya.
“Dan apa jawaban Daddy terhadap permintaan seperti itu” tanya Qiandra dengan tenang.
“Daddy telah menyetujuinya, karena memang sesuai aturan kerajaan sudah seharusnya iblis itu menjadi tuan rumah” sahut Dean tanpa bisa
menyembunyikan kekesalannya.
“Daddy memang bijaksana, jika memang seharusnya seperti itu kenapa harus menentangnya” ucap Qiandra masih dengan tenang.
“Honey, bagaimana kamu bisa tetap tenang?, tahukah kamu jika dia menjadi tuan rumah, maka dia punya wewenang untuk mengatur jalannya pesta. Dan dia juga harus hadir jauh sebelum pesta berlangsung sehingga dia punya kesempatan untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Dan aku sangat yakin
kalau iblis betina itu tidak akan punya niat yang baik, dia pasti akan membuat kekacauan lagi” seru Dean dengan nada sedikit tinggi.
Qiandra tersenyum lembut ke arah laki-laki itu, perlahan dia meraih jemari laki-laki itu dan menggenggamnya dengan erat. “Love, maukah kamu mendengar ceritaku, mungkin itu bisa sedikit memberimu pertimbangan” ucap Qiandra dengan lembut.
Dean mengernyitkan keningnya, laki-laki ini merasa heran, dia tidak mengerti kenapa sang istri tiba-tiba ingin bercerita pada saat seperti ini. Namun tak urung laki-laki ini menganggukkan kepalanya, karena dia ingat pesan dokter Albert, bahwa dia harus selalu siap mendengarkan saat Qiandra ingin bercerita. Disamping itu, Dean juga sangat penasaran cerita apa yang akan disampaikan oleh istrinya pada saat seperti ini.
__ADS_1