PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN PULUH SATU


__ADS_3

Bersiaplah, sekarang kamu akan memulai nikmatnya menjadi istri dari laki-laki yang harusnya menjadi milikku, jangan harap bahagia yang akan kamu rasakan, tapi bersiaplah untuk menikmati neraka saat senyum bahagia dibibir suamimu itu terukir hanya untukku desis Risty seraya menggenggam erat sebuah undangan elegan nan mewah yang ada di tangannya. Sebuah undangan pesta yang terlihat sangat mewah nan elegan dengan dua nama yang tercetak dengan tinta emas, membuat wanita dengan wajah cantik namun angkuh itu menggeram menahan kemarahannya. Namun, bersamaan dengan kemarahan itu, senyuman penuh rencana kejam terukir di bibir yang terbiasa mengeluarkan kata-kata tajam itu.


Risty memang marah saat melihat undangan yang diberikan kepadanya itu, namun, sebenarnya dia juga telah menanti undangan tersebut. Walaupun Risty tahu, pelaksanaan acara tersebut adalah tanggung jawabnya, tapi dia sangat sadar kalau Dean tidak akan pernah membiarkannya melaksanakan acara tersebut.


Oleh sebab itu, Risty tidak mau bersusah payah, dia hanya menanti, karena dia sangat tahu kalau Dean tidak akan mengabaikan tradisi keluarga. Jadi cepat atau lambat Dean pasti akan melaksanakan pesta perkenalan istrinya kepada keluarga besar Zacharias.


Dan Risty memang telah mempersiapkan sebuah rencana besar untuk acara tersebut, dia tidak perduli bagaimana pesta perkenalan itu dilaksanakan. Yang Risty pikirkan hanyalah bagaimana rencananya bisa berjalan dan dia bisa membuat Qiandra segera berlari meninggalkan pesta dan memutuskan untuk berpisah dengan Dean.


Risty mempersiapkan dirinya dengan berdandan secantik mungkin, setelah mematut dirinya di hadapan cermin besar yang ada di kamar mewahnya, Risty tersenyum sendiri "Kamu tetap cantik dan mempesona, bersiaplah, tidak lama lagi, tahta ini akan jatuh ke tanganmu. Bersiaplah untuk menjadi ratu di kerajaan ini, jangan biarkan satu orangpun menghalangi langkah besarmu" desis Risty dengan senyum smirk merekah di bibir seksinya.


"Apa Tuan Besar ada di ruangannya" seru Risty pada pelayan yang selalu bersedia di dalam kamarnya.


"Ya, Nyonya, Tuan Besar masih berada di kamarnya, apa Anda akan menemui beliau?" tanya pelayan itu masih dalam posisi membungkuk.


"Ya, aku akan menemuinya" sahut Risty dengan sinis.


"Baiklah, Nyonya, kami akan mengabarkan kepada beliau" ucap pelayan itu lagi masih dengan membungkuk dia perlahan ingin berbalik.


"Tidak perlu memberitahukan kepadanya, aku sendiri yang akan langsung ke sana" seru Risty masih sambil mematut dirinya di hadapan cermin besar.


"Tapi Nyonya,....." kata-kata pelayan itu terhenti saat sebuah bantal menghantam kepalanya.


"Jangan coba-coba membantah perkataanku, jika aku mau maka tidak ada yang boleh melarangku. Mengapa kamu tidak pernah ingat akan hal itu, hah" seru Risty dengan penuh kemarahan pada pelayan pribadinya itu.


"Ma.. maafkan saya, Nyonya, tapi aturan untuk bertemu dengan Tuan Besar...." kata-kata pelayan itu kembali terhenti saat mendengar seruan Risty yang membahana.


"Aku istrinya, aku Nyonya Besar di istana ini, apa kamu lupa, hah, aku tidak perlu tunduk pada aturan-aturan bodoh yang kalian buat. Bagaimana mungkin seorang istri harus meminta ijin hanya untuk bertemu dengan suaminya sendiri, hah, dasar bodoh" seru Risty.


Wajah Wanita itu sedikit memerah menahan kemarahannya pada pelayan pribadinya. Padahal pelayan ini hanya melakukan tugasnya sesuai dengan aturan yang ada. Memang apa yang dikatakan oleh Risty benar adanya, bagaimana bisa seorang istri harus meminta ijin untuk bertemu dengan suaminya dalam rumahnya sendiri.


Tapi Risty lupa, bahwa aturan itu berlaku khusus hanya untuk dirinya. Karena selama ini, tidak pernah ada suami istri apalagi raja dan ratu yang tinggal di kamar terpisah bahkan lantai terpisah di mansion megah itu. Hanya Risty dan Walt Zacharias yang tinggal di kamar terpisah, bahkan mereka hampir tidak pernah terlihat bersama, kecuali di acara-acara resmi keluarga.


Oleh sebab itu, Risty tidak dianggap sebagai istri dari Walt Zacharias, karena dia memang tidak pernah melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai istri dari Tuan Besar keluarga kerajaan itu. Semua pelayan sudah diperintahkan untuk memperlakukan Risty sama dengan anggota keluarga lainnya dalam hal bertemu dengan Walt Zacharias. Walaupun dalam hal lainnya Risty punya wewenang yang tak terbatas sesuai statusnya sebagai Nyonya Besar keluarga Zacharias.

__ADS_1


Pelayan pribadi Risty adalah salah satu yang punya tanggung jawab besar untuk memastikan aturan tersebut dilaksanakan. Namun, dia juga harus menanggung resiko seperti yang saat ini terjadi. Dia harus siap menerima perlakuan kasar dan kejam dari Risty yang memang tidak pernah perduli pada para pelayan di mansion itu.


Risty tidak pernah menghargai para pelayan yang ada di mansion mewah itu. Baginya, semua pelayan adalah budak hina dan tidak pantas dihargai. Pelayan hanyalah orang-orang rendahan yang harus melaksanakan tugas melayani tanpa boleh membantah. Risty akan sangat marah jika ada pelayan yang berani membantah dirinya, apalagi pelayan pribadinya.


Semua pelayan di mansion utama yang mewah itu sudah sangat hapal dengan sikap sang Nyonya Besar ini. Mereka semua tidak ada yang berani membantah, jangankan membantah, bahkan untuk mengangkat muka dan menatap wajah sang Nyonya Besar saja mereka tidak berani. Tetapi, bagi pelayan pribadinya, mau tidak mau dia terpaksa harus mengingatkan sang Nyonya Besar jika hal itu sudah menyangkut Tuan besar.


Dan karena pelayan itu tidak bisa mencegah Risty, maka dia terpaksa menekan sebuah tombol yang ada pada remote kecil di tangannya. Dengan tombol itu, maka kepala pelayan akan mengetahui bahwa ada hal urgent yang bertentangan dengan aturan yang akan dilakukan oleh sang Nyonya Besar dan tidak bisa dicegah oleh pelayan pribadinya.


Dan kepala pelayan juga sangat tahu kalau satu-satunya aturan yang pasti akan ditentang oleh Risty adalah aturan dalam hal menemui Tuan Besar. Karena memang aturan itu adalah aturan baru yang khusus diberlakukan untuk Risty saja. Oleh sebab itu, kepala pelayan segera bergegas menuju ke ruangan Tuan Besar untuk memberitahukan hal tersebut.


"Maafkan saya, Tuan Besar" kepala pelayan membungkuk hormat di hadapan Walt Zacharias yang sedang asyik membaca beberapa laporan di atas meja kerjanya.


Walt Zacharias segera mengangkat kepalanya, dia menatap kepala pelayan keluarga Zacharias itu dengan kening berkerut, "Ada apa Jhon, mengapa kamu terlihat panik" tanya Walt Zacharias dengan ramah kepada laki-laki paruh baya yang masih membungkuk dihadapannya.


"Maaf, Tuan, saya hanya ingin menyampaikan kalau Nyonya Besar ingin menemui Anda" ucap kepala pelayan yang bernama Jhon itu masih dengan membungkuk penuh hormat.


"Mengapa bukan pelayan pribadinya yang datang dan memberitahukan kesini" tanya Walt Zacharias.


"Hmmmm, sudahlah Jhon, jangan merasa bersalah, memang seperti itulah dia, biarkan saja dia datang kesini, aku memang tahu dia pasti ingin bertemu denganku setelah menerima undangan Dean dan Qiandra" sahut Walt Zacharias yang memang sudah menduga kalau Risty pasti akan menemui dirinya.


"Baiklah jika demikian, Tuan Besar, saya mohon undur diri dulu, sekali lagi maafkan ketidak mampuan kami" ucap Jhon. Kepala pelayan Jhon tetap merasa bertanggung jawab atas ketidakmampuan anak buahnya yakni pelayan pribadi Risty. Namun, dia sama sekali tidak melemparkan kesalahan kepada anak buahnya itu, dia tetap bertanggung jawab atas semua yang dilakukan oleh pelayan di mansion besar itu.


"Jangan terlalu dipikirkan, Jhon, dan terima kasih sudah memberitahukan hal ini untukku" ucap Walt Zacharias dengan ramah.


Kepala pelayan Jhon membungkuk dengan hormat lalu melangkah mundur meninggalkan ruang kerja Walt Zacharias. Saat dia baru saja menutup pintu besar ruangan itu, seorang wanita berseru dengan suara nyaring.


"Buka pintunya, aku mau masuk, dan jangan coba mengatakan kalau Tuan Besar tidak ada di tempat, karena aku tahu dia ada di dalam sana" seru wanita yang tak lain dari Risty itu dengan suara nyaring.


Kepala pelayan Jhon cukup terkejut mendengar seruan itu, karena memang tidak pernah ada orang yang berbicara sekeras dan sekasar itu padanya. Semua pelayan di mansion itu sangat menghormati dirinya, bahkan seluruh keluarga Zacharias yang tinggal baik di mansion utama maupun mansion kecil lainnya yang ada di belakang mansion utama juga segan kepadanya.


Kepala pelayan Jhon berbalik dengan perlahan, daan saat dia melihat siapaa yang berseru dengan keras kepadanya, laki-laki paruh baya itu langsung maklum. Kepala pelayan Jhon segera membungkukkan badannya ke arah wanita yang berseru kepadanya, "Baik, Nyonya Besar, silahkan masuk" ucapnya seraya membuka pintu besar nan mewah itu.


Wanita yang tak lain dari Risty itu melangkah dengan angkuh melewati kepala pelayan Jhon, jangankan ucapan terima kasih bahkan untuk sekedar menoleh untuk menyapa kepala pelayan Jhon saja dia tidak sudi. Kepala pelayan Jhon hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan melihat sikap arogan wanita itu, lalu kembali menutup pintu ruangan itu dengan perlahan.

__ADS_1


Selama menjadi kepala pelayan di mansion megah itu, menggantikan ayahnya, kepala pelayan Jhon tidak pernah bertemu dan melayani wanita seperti Risty. Apalagi jika wanita itu menyandang status sebagai Nyonya Besar yang dulunya dianggap sebagai ratu. Dari ibu Walt Zacharias sampai pada istri Walt Zacharias semuanya sangat ramah dan tidak sombong seperti Nyonya Besar yang sekarang ini.


Bagi kepala pelayan Jhon, juga seluruh pelayan yang ada di mansion utama, Risty adalah stu-satunya wanita angkuh yang tidak pernah menghargai mereka para pelayan. Tidak hanya angkuh, menurut mereka, Risty juga wanita yang arogan dan tidak punya etika. Oleh sebab itu, ketika Walt Zacharias memerintahkan mereka untuk membuat Risty seperti anggota keluarga biasa dalam hal menemui dirinya, semua pelayan sangat menyetujuinya.


"Sayang sekali, setelah bertahun-tahun menyandang status sebagai Nyonya Besar, sikapnya benar-benar tidak berubah sama sekali. Wanita berwajah seribu yang sangat pandai menipu banyak orang, tetapi pada kenyataannya tidak punya apapun yang bisa dibanggakan" bisik kepala pelayan Jhon dalam hatinya.


Kepala pelayan Jhon segera memanggil dua orang pelayan pribadi Walt Zacharias yang memang selalu ada di depan ruang kerja besar itu. "Besiagalah, kalian harus siap apapun yang terjadi, segera khabarkan padaku, jangan lengah, aku mengkhawatirkan kondisi kesehatan Tuan Besar" ucap kepala pelayan Jhon kepada kedua pelayan pribadi Walt Zacharias.


"Baik, Pak, akan kami laksanakan" sahut keduanya sambil menundukkan kepalanya sedikit kepada kepala pelayan Jhon.


Kepala pelayan Jhon hanya mengangguk sekilas lalu melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Walt Zaharias. "Semoga semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi hal-hal yang buruk pada Tuan Besar" bisiknya dalam hati.


Didalam ruang kerja Walt Zacharias, Risty melangkah dengan anggun dan gemulai ke rah meja kerja Walt Zacharias. Kemudian dia duduk dengan posisi yang begitu menggoda di hadapan Walt Zacharias. Namun, laki-laki paruh baya itu hanya melirik sekilas kepadanya lalu kembali menekuni laporan yang ada di hadapannya.


"Dad, mengapa kamu tidak menatapku, aku sudah berdandan dengan secantik mungkin hanya untuk bertemu denganmu. Apa kamu benar-benar tidak merindukan aku" ucap Risty dengan sedikit mendesah.


Walt Zacharias menatap Risty sambil menyipitkan matanya melihat penampilan wanita itu. "Apa kamu sadar akan posisimu saat ini, dan apa kamu tidak malu melangkah dalam mansion ini dengan pakaian yang hampir mengekspos seluruh tubuhmu" ucap Walt Zacharias dengan suara dalam namun tenang.


Risty hanya mendengus manja mendengar kata-kata laki-laki paruh baya yang tak lain dari suaminya itu. "Yah, mau bagaimana lagi, Dad, bertahun-tahun aku menantimu menghampiriku untuk sekedar menghabiskan malam denganku, atau memanggilku ke kamar pribadimu. Namun, kamu tidak pernah melakukannya, kamu selalu asyik dengan duniamu" ucap Risty dengan manja.


Risty lalu berdiri dan melangkah mendekati meja kerja Walt Zacharias, kemudian dia mendorong laporan yang ada di hadapan laki-laki itu. Setelah itu, Risty duduk di atas meja tepat di hadapan Walt Zaharias, membuat laki-laki paruh baya itu sedikit terkejut dengan kelancangan wanita itu.


"Jaga batasan dan martabatmu dihadapanku, sekalipun aku tahu kamu selalu menjajakan tubuhmu tapi dihadapanku setidaknya kamu tahu sopan santun dan etika" desis Walt Zacharias seraya mendorong kursi kerjanya menjauh dari Risty.


Namun, belum sempat laki-laki paruh baya itu bergerak menjauh, Risty telah menarik dasinya sehingga Walt Zacharias tidak bisa bergerak lagi. "Kamu tahu kalau aku melakukan hal itu karena aku merindukan belaian yang tidak pernah kamu berikan kepadaku" desah Risty seraya memainkan dasi Walt Zacharias.


"Katakan saja apa yang kamu inginkan, caramu tidak akan mempan lagi padaku, aku bukan manusia bodoh yang mau jatuh untuk kedua kalinya dalam lubang yang sama" ucap Walt Zacharias tanpa ada niat sedikitpun melayani godaan Risty.


"Dad, tidakkah kamu merasa kasihan padaku, sebagai istrimu bukankah aku pantas mendapatkan sedikit perhatian darimu. Ayolah, Dad, jangan terlalu menjaga image, tidak ada siapapun disini bukan. Lagi pula aku istrimu, jadi tidak salah kan jika aku ingin merasakan kehangatan dari suamiku sendiri" desah Risty sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Walt Zacharias.


"Hentikan semua basa basimu, Risty, aku bukan Daniel yang bisa kamu pancing dengan kemolekan tubuhmu. Jika dulu aku jatuh, kamu sendiri tahu kalau itu karena jebakanmu dengan minuman laknat itu. Jika dalam keadaan sadar, kamu tahu, aku tidak pernah sekalipun tergoda pada semua kelakuan bejatmu" ucap Walt Zacharias masih dengan sikap tenang.


Walt Zacharias tidak menolak perlakuan Risty terhadap dirinya, karena dia memang tidak ingin melakukan kekerasan terhadap wanita itu. Dia membiarkan Risty melakukan apapun yang diinginkannya, namun sama sekali tidak memberikan respon seperti yang diharapkan Risty.

__ADS_1


__ADS_2