
Mobil mewah yang membawa Dean dan Qiandra masuk dalam area rumah sakit, mereka tidak melewati jalur biasa namun langsung masuk ke dalam area private yang dijaga ketat. Disana terlihat dokter Albert juga dokter Tirta bersama dengan beberapa orang dokter senior lainnya sudah berdiri menunggu kehadiran Dean dan Qiandra.
Pintu mobil dibuka langsung oleh dokter Albert, setelah mobil mewah itu berhenti dengan sempurna. Dean segera keluar dengan menggendong Qiandra yang masih belum sadarkan diri. Wajah wanita itu terlihat pucat dengan keringat membasahi keningnya. Dokter Albert segera memandu langkah Dean menuju ruang khusus yang sudah dipersiapkan. Dimana berbagai alat pemeriksaan modern tersedia dalam ruangan itu.
Dean membaringkan tubuh Qiandra dengan
perlahan di brankar yang ada di tengah ruangan itu. Dan para dokter yang ada di situ segera
memasang berbagai peralatan ditubuh Qiandra untuk memeriksa keadaannya secara
keseluruhan. Dean tetap duduk di samping
Qiandra, tangannya tidak pernah terlepas dan terus menggengam jemari wanita yang terkulai lemas itu.
Tidak ada yang berani meminta sang presidir tampan itu untuk beranjak dari sisi istrinya, termasuk dokter Albert. Mereka sangat tahu kalau Dean saat ini benar-benar sangat khawatir dengan kondisi Qiandra. Dokter Albert
yang biasanya bisa memberikan ketenangan dengan candaannya, kali ini terlihat sangat
serius. Setiap perintah yang keluar dari
mulutnya terdengar tegas dan segera dilaksanakan oleh semua dokter senior yang
ada di ruangan itu.
“Dean, apa Qiandra sedang datang bulan”
tanya dokter Albert, dia menyentuh pundak Dean dengan perlahan, seolah berusaha
mengembalikan kesadaran laki-laki itu dari lamunannya. Dokter Albert telah menerima hasil pemeriksaan sementara tentang kondisi Qiandra. Ditangan dokter Albert terlihat beberapa catatan yang merupakan hasil observasi para dokter terhadap Qiandra.
Dean tersentak dari lamunannya, dia menatap
ke arah dokter Albert dengan tatapan lemah. Dean tidak menjawab pertanyaan dokter Albert dengan kata-kata, dia hanya sedikit menganggukan kepalanya. Setelah itu, dia kembali fokus menatap wajah Qiandra yang masih belum sadarkan diri.
“Hah, inilah yang aku khawatirkan, ternyata
prediksiku benar. Maafkan aku, Bro, aku
belum sempat bertindak untuk menyelamatkan bayinya” ucap dokter Albert dengan penuh penyesalan. Dia merasa sangat bersalah karena tidak berhasil menolong Dean menyelamatkan janin Qiandra. Ini adalah kegagalan dokter Albert yang pertama dalam menolong Dean, dan dokter Albert merasa sangat bersalah.
Dean kembali mengalihkan pandangannya pada dokter Albert, sahabat dan yang juga sudah dianggap sebagai saudaranya itu. Dean tersenyum sendu, “Bukan salahmu, Bro,
kita semua baru mengetahui keadaan Qiqi, kita bahkan belum sempat bertindak apa-apa, kita masih berusaha mencari tahu. Jangan menyalahkan dirimu, aku hanya minta tolong kamu mengatakan pada Qiqi kalau kamu salah prediksi, aku melihat kekhawatirannya tadi pagi. Aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah atas kejadian ini. Tolong bereskan
segala sesuatunya, jangan sampai menambah beban pikirannya lagi” ucap Dean dengan suara lemah.
Dokter Albert cukup terkejut mendengar nada
suara presidir tampan itu, Dean terlihat serapuh dan selemah ini hanya pada saat kehilangan ibunya dan saat Qiandra pergi dulu. Dokter Albert menghembuskan nafas berat, “Baiklah, aku akan berusaha melakukan yang terbaik” sahutnya pada akhirnya.
Dalam hati dokter Albert, dia bertekad akan
__ADS_1
berusaha sekuat tenaga untuk menolong Qiandra keluar dari traumanya. Agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang. “Aku ingin memberikan dia suntikan pencegah kehamilan dulu, Bro, agar dia tidak mengalami hal seperti ini lagi, sampai kondisi mentalnya benar-benar pulih. Tapi, apakah kamu setuju dengan hal itu dan hal ini pun harus dirahasiakan darinya. Kita akan fokus pada pemulihan mentalnya dulu, dari hasil pemeriksaan sementara ini menurutku Qiqi wanita yang cukup subur, tidak akan ada masalah baginya jika kita nanti menunda kehamilannya dulu” ucap dokter Albert pada Dean.
Dokter Albert sebenarnya berat menyampaikan hal ini, karena dia sangat tahu kalau kedua orang ini sangat menantikan kehadiran buah hati mereka. Namun, dokter Albert tidak mau mengambil resiko yang nantinya tidak hanya
membahayakan janin Qiandra tapi juga bisa membahayakan nyawa wanita itu.
Dean tertegun mendengar kata-kata dokter Albert, dia tahu dokter Albert adalah dokter terbaik, jika dia sudah membuat suatu keputusan, pasti dia punya alasan yang sangat kuat. Dean menghela nafas berat, dia memang sangat merindukan kehadiran buah hati dalam biduk rumah tangga mereka. Dan Dean juga sangat tahu kalau Qiandra sangat merindukan hal yang sama, dan jika dia mengetahui kalau
mereka melakukan penundaan kehamilannya, Dean khawatir itu akan membuat Qiandra
bersedih.
Namun, di sisi lain, Dean juga membenarkan
apa yang dikatakan oleh dokter Albert. Dan Dean juga menyadari akan tidak baik dan akan membuat rahim Qiandra tidak sehat jika harus mengalami keguguran lagi. Dean mengernyitkan keningnya, dia berusaha membuat keputusan yang terbaik untuk Qiandra.
“Baiklah, tapi kamu harus bisa menjamin
kalau ini tidak akan diketahui oleh Qiandra, aku tidak ingin hal ini membuatnya merasa bersedih, lebih parah lagi membuatnya berpikir yang tidak-tidak” ucap Dean pada akhirnya setelah dia cukup lama berdiam diri.
Dokter Albert mengangguk, “Hanya kamu dan
aku yang mengetahuinya” desisnya dengan yakin. Dean hanya mengangguk sekilas, dalam hati dia berharap ini benar-benar keputusan terbaik untuk Qiandra. Dengan harapan, mereka bisa segera membantu Qiandra untuk memulihkan kesehatan mentalnya.
Dean kembali menatap wajah pias wanita yang masih setia memejamkan matanya itu. Dengan lembut Dean membelai wajah istrinya dan merapikan beberapa helai rambut yang jatuh di kening Qiandra. “Apakah kali ini juga karena traumanya, Al” tanya Dean tanpa mengalihkan pandangnnya dari wajah Qiandra.
“Hasil pemeriksaan dokter Tirta menyatakan kalau dia kembali tidak sadarkan diri kali ini tidak hanya karena trauma tapi memang kondisi fisiknya lemah. Qiandra mengalami keguguran, harusnya dia beristirahat saja, tapi kejadian hari ini mungkin membuatnya cukup shock. Aku telah menerima laporan dari Vian, kalau laki-laki itu menghajar semua karyawan yang berusaha menjaga Qiandra. Mungkin hal inilah yang membuat Qiandra shock dan kembali tidak sadarkan diri” sahut dokter Albert dengan panjang lebar.
“Lalu, apakah keadaannya parah” tanya Dean lagi tanpa menoleh ke arah dokter Albert.
sekarang dalam keadaan baik-baik saja, mungkin tidak lama lagi dia akan sadar” lanjut dokter Albert setelah sempat berdiam diri selama beberapa saat.
“Bajingan itu, aku tidak menyangka kalau dia sudah memasang mata-mata di sekitar Qiandra. Dia bahkan berani datang ke butik tanpa pengawalan, dia benar-benar meremehkan aku” gigi Dean bergemeletuk menahan amarahnya. Dokter Albert hanya bisa
berdiam diri, dia sangat tahu kalau saat ini kemarahan sang presidir itu akan sulit untuk diredam.
Pada saat itu, tiba-tiba jemari Qiandra yang digenggam Dean bergerak dengan lemah. Karena Dean menggenggam dengan erat, maka gerakan jari itu segera dirasakannya. Dean
terkejut, dia segera berdiri dan menepuk lembut pipi Qiandra.
“Honey....Honey....bukalah matamu, sayang” ucap Dean dengan lembut, semua kemarahannya menguap dalam sekejap mata. Dokter Albert yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat bagaimana amarah sang presidir itu lenyap seketika.
Qiandra perlahan membuka matanya, suara lembut Dean membuat wanita itu berusaha sekuat tenaga mengembalikan kesadarannya, “Love.....” desis Qiandra saat melihat wajah tampan suaminya menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Honey, ah syukurlah, akhirnya kamu sadar juga, bagaimana Honey, apa ada yang terasa sakit, hmm” tanya Dean dengan lembut.
Qiandra menggeleng dengan perlahan, dia bahagia karena melihat sang suami sudah ada disisinya. Qiandra menatap ruangan tempatnya berada saat ini, kening wanita itu mengernyit sesaat, “Love, dimana kita, apa yang terjadi” tanya Qiandra dengan rasa heran.
“Kita di rumah sakit, Honey, apa kamu lupa pada apa yang sudah terjadi tadi” tanya Dean dengan lembut.
Qiandra menatap Dean dengan intens, lalu tiba-tiba dia menggenggam tangan laki-laki itu dengan erat, “Love, mengapa tuan Daniel menemukan aku, astaga bagaimana keadaan para karyawan di butik, tuan Daniel benar-benar gila, mengapa dia sekejam itu menghajar mereka semua, aku...aku...” Qiandra terbata diantara kepanikannya.
__ADS_1
“Hei, hei tenang Honey, bajingan itu sudah tidak ada di dekatmu, dan tidak akan aku biarkan dia
mendekatimu apalagi menyentuhmu lagi. Jadi, tenanglah, kamu aman sekarang, semuanya sudah dibereskan” ucap Dean. Dia berusaha menenangkan Qiandra dari kepanikan wanita itu.
Qiandra menatap Dean dengan mata yang berusaha mencari kepastian dan kebenaran kata-kata laki-laki yang menjadi tempatnya berlindung kini. Dean mengangguk dengan yakin dan tersenyum, kemudian dia mengecup lembut kening Qiandra dan membawa wanita itu masuk dalam pelukannya.
“Ehmmmm, tuan dan nyonya, saya harap anda berdua tidak lupa kalau sekarang Anda sedang berada di rumah sakit” sebuah suara memecah keheningan kedua insan yang sedang larut dalam pikirannya masing-masing itu.
“Eh, Kak Al...” ucap Qiandra dengan wajah merona merah.
“Dasar dokter gadungan, kerjamu hanya merusak kebahagiaan orang saja” desis Dean yang kesal dengan kehadiran sahabatnya itu.
“Woiii, Tuan, aku yang seharusnya marah, karena Anda sudah mengganggu istirahat pasienku” kekeh dokter Albert melihat wajah kesal Dean.
“Tapi dia istriku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya” sahut Dean, dia tahu kalau sahabatnya itu hanya berusaha membuat Qiandra merasa tenang.
“Dia tetap pasienku, sekarang saya harap Anda bisa minggir Tuan, atau aku perlu mengisolasi pasienku ini agar terhindar dari gangguanmu” sahut dokter Albert masih terus menggoda
Dean, dokter Albert melangkah mendekati Qiandra dan berdiri disisi wanita itu.
“Coba saja kalau kamu berani, akan ku.....” belum sempat Dean menyelesaikan kata-katanya, dokter Albert sudah memotong ucapan laki-laki itu.
“Shttt, jangan suka marah-marah Tuan, tensi Anda bisa naik dan Anda bisa cepat tua, bisa Anda bayangkan kalau Anda tidak tampan lagi dengan istri secantik ini hmmmm” ucap dokter Albert sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Dean menonjok punggung sahabatnya itu karena merasa kesal dengan candaan dokter Albert. Namun hal itu malah membuat dokter tampan itu tertawa lepas. Qiandra yang melihat tingkah kedua orang laki-laki tampan itu hanya bisa tersenyum. Memang candaan dokter Albert selalu berhasil membuat Qiandra merasa lebih rileks, dan kedua pria itu pun cukup senang karena melihat senyum di wajah sendu Qiandra.
“Bagaimana perasaanmu, Qi, apa ada yang kamu keluhkan” tanya dokter Albert setelah tawanya reda.
“Aku baik-baik saja, Kak, oh iya Kak, bagaimana dengan kehmilanku” tanya Qiandra dengan suara sendu. Dia menatap dokter Albert dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Ah, tentang itu, aku minta maaf, Qi, aku sudah melakukan kesalahan, mungkin karena yang aku raba adalah nadi wanita yang sedang jatuh cinta jadi aku salah mendeteksi, sekali lagi aku minta maaf. Kuharap kamu tidak marah padaku, Qi, karena jika kamu marah maka singa itu akan mencabut lisensiku” ucap dokter Albert dengan wajah memelas.
Bughh...
Sebuah pukulan kembali mendarat di punggung dokter Albert membuat dokter Albert meringis. “Sudah kuperingatkan, kamu masih saja
berulah, awas saja besok lisensimu akan kupastikan .......” desis Dean.
“Love, sudahlah, setidaknya aku bersyukur karena aku tidak benar-benar hamil, artinya aku tidak lagi gagal mengandung” ucap Qiandra memotong kata-kata Dean. Walaupun sedih, namun Qiandra merasa sedikit tenang karena dia tidak mengalami keguguran lagi.
Dean mendorong tubuh dokter Albert dan menggenggam tangan Qiandra dengan erat, “Baiklah, Honey, jika kamu mengampuninya, tapi hanya kali ini” ucapnya dengan lembut lalu dia kembali mengecup kening Qiandra dengan penuh kasih.
“Aku kira aku sudah tidak dibutuhkan lagi disini, sekali lagi, maafkan aku Qi, dan terima kasih mau memaafkan aku, tidak seperti laki-laki itu” ucap dokter Albert yang merasa diabaikan oleh kedua sejoli itu.
“Pergilah, sebelum aku berubah pikiran” ucap Dean dengan suara kesal pada sahabatnya itu. Dokter Albert tertawa mendengar suara kesal
Dean, dia segera melangkah keluar dari ruang perawatan VVIP tempat Qiandra di rawat.
Saat sudah berada diluar ruangan, wajah ceria dokter Albert seketika menjadi sendu, dia menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya. Ada pedih di hatinya saat harus membohongi Qiandra, “Maafkan aku, Qi, semoga kamu bisa mengerti jika suatu saat kelak kamu mengetahuinya. Aku janji aku akan
berusaha menolongmu dengan segenap kemampuanku” ucap dokter Albert dalam hati.
__ADS_1
Dokter Albert menatap pintu kamar itu dengan hati gundah, beberapa kali dia menghembuskan nafas berat untuk membuang kegelisahan dalam hatinya. Setelah merasa sedikit tenang, barulah dokter Albert membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
“Bagaimana keadaan Nyonya Muda, Al” sebuah suara membuat dokter Albert segera menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang menyapa dirinya.