
Tanpa diketahui oleh Dean, Qiandra berusaha
mati-matian untuk terlihat tetap tenang dihadapan suaminya itu. Padahal dalam hatinya, Qiandra sendiri merasa khawatir dan takut terhadap bahaya yang akan mengincar dirinya dan sang suami. Namun, Qiandra tahu kalau dia harus meyakinkan Dean, agar presidir tampan itu mau mengikuti rencananya.
Dean kemudian berdiri dan kembali mengambil phonselnya untuk menghubungi asisten Vian. Dean memberikan beberapa perintah kepada
asisten Vian, dengan sandiwara seperti yang sudah direncanakan oleh Qiandra.
“Periksa semua bagian ruangan yang didatangi iblis itu, lalu lakukan pemerikasaan terhadap apa saja yang sudah diletakkannya disitu. Jangan sampai ada yang terlewat, kita mempertaruhkan keselamatan Qiandra disini” ucap Dean dengan tegas.
“Baik, Tuan, kami akan segera memusnahkan semua yang diletakkan olehnya” sahut asisten Vian.
“Tidak, jangan dimusnahkan, kita tidak akan mengetahui rencana mereka jika kita menghancurkan semua yang sudah disusunnya. Untuk sekarang, cukup periksa saja apa yang sudah diletakkannya disana, jangan mengganggunya. Dan ingat lakukan tanpa menarik perhatiannya” ucap Dean lagi.
Sejenak asisten Vian terdiam, “Tapi Tuan, kalau kita membiarkannya…..” kata-kata asisten Vian
langsung diputus oleh Dean.
“Aku tahu, Vian, aku tahu, dan akupun sudah membicarakan ini dengan Qiqi, kamu sendiri tahu bagaimana besarnya kekhawatiranku saat ini. Tapi Qiqi tetap teguh pada pendiriannya dan rencananya, jadi kita ikuti saja. Tapi penjagaan harus benar-benar diperketat, jangan sampai ada celah sedikitpun” ucap Dean.
“Tuan, jika begini kita benar-benar menantang bahaya dan membiarkannya menyentuh Nyonya Muda, tolong pertimbangkan lagi” ucap asisten Vian masih dalam rasa tidak habis pikir
dengan keputusan Dean dan Qiandra.
“Hah, sudahlah, Vian, jangan mendebatku lagi, lakukan saja semua yang sudah aku perintahkan. Semakin kamu mendebatku, maka akan semakin sulit bagiku untuk menyetujui rencana ini, aku sungguh-sungguh mencemaskan Qiqi, tapi dia tetap teguh ingin menyelesaikan masalah ini, entah bagaimana dan apa yang akan terjadi nanti. Semoga saja
semuanya bisa berjalan sesuai rencana Qiqi” ucap Dean sambil berulang kali menghela nafas panjang.
“Baik Tuan, apa ada hal lain lagi” tanya asisten Vian pada akhirnya. Laki-laki tampan itu berusaha untuk memahami semua rencana yang sudah disusun oleh tuannya itu.
“Segera laporkan apapun yang kalian temukan padaku, agar kita bisa segera memutuskan apa yang harus kita lakukan” ucap Dean lagi.
“Baik, Tuan” sahut
asisten Vian.
“Dan satu hal lagi, Vian, hubungi Al, suruh dia juga bersiap-siap” ucap Dean dengan suara berat.
“Tuan…..” asisten Vian tidak mampu melanjutkan kata-katanya, dia tahu ini pasti keputusan yang sangat sulit untuk Dean. Asisten Vian sangat tahu kalau Dean begitu ingin melindungi Qiandra dan tidak akan membiarkan satu hal buruk pun menimpa wanita itu.
Namun kali ini, sepertinya Dean tidak berdaya menghadapi kekerasan tekad Qiandra, sehingga asisten Vian pun tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menarik nafas berat, “Baik, Tuan” sahut asisten Vian pada akhirnya.
Dean mengakhiri pembicaraannya dengan asisten Vian, lalu kembali memasukkan phonselnya ke dalam saku celananya. Presidir tampan itu menatap jauh ke luar jendela kamar mereka, terlihat dia beberapa kali menarik
nafas berat.
Sementara itu, Qiandra yang mendengar suaminya sedang berbicara dengan asisten Vian, perlahan meninggalkan laki-laki itu. Qiandra melangkah menuju balkon kamar mewah mereka dan duduk di salah satu kursi yang ada di situ.
“Kak Charles, ku mohon beri aku kekuatan, aku hanya ingin menjalani hidup dan kebahagiaanku tanpa rasa khawatir lagi. Kamu tahu bagaimana aku sudah menjalani hidupku yang selalu berteman dengan kekhawatiran dan ketakutan. Aku lelah, Kak, sungguh aku
Lelah. Jika memang aku layak untuk merasakan kebahagiaan maka kumohon tolong aku untuk menyelesaikan masalah ini. Namun jika memang hidupku ini hanya menjadi pembawa sial, maka biarlah aku menyusulmu dan anak kita” bisik Qiandra dalam hatinya.
Yah, Qiandra sebenarnya juga merasa sangat khawatir menghadapi rencana licik Risty. Namun, wanita ini juga tak ingin terus
menerus hidup dalam kekhawatiran terhadap semua rencna licik Risty. Karena Qiandra sangat yakin, kalau wanita itu tidak akan berhenti berusaha mencelakai dirinya sebelum dia berhasil memisahkan Qiandra dan Dean.
Belum lagi masalah Daniel, yang tampaknya sekarang sudah bersekongkol dengan Risty. Qiandra sangat tahu bagaimana sikap seorang
Daniel saat menghadapi orang-orang yang tidak disukainya. Qiandra sudah sering melihat bahwa saat Daniel tidak menyukai seseorang dan begitu marah atau membenci orang itu, maka sejak saat itulah orang itu akan menghilang.
Qiandra tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan orang-orang itu. Pernah dia mencoba bertanya pada asisten Dika, namun tidak dijawab oleh asisten Dika. Pada akhirnya malah dia harus berhadapan dengan Daniel yang memintanya jangan lagi bertanya tentang hal seperti itu, karena itu bukan urusannya.
Dulu Qiandra memang tidak perduli, karena dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Dia hanya berpikir positif kalau Daniel sudah
__ADS_1
memutuskan hubungan dengan orang itu, sehingga orang-orang itu pergi.
Tapi saat ini, Qiandra baru menyadari kalau dia benar-benar tidak pernah lagi bertemu dengan semua orang yang pernah bermasalah dengan Daniel. Dan tiba-tiba Qiandra merasa sangat khawatir, dia sangat khawatir pada keselamatan Dean. Karena Qiandra tahu,
Daniel teramat sangat membenci Dean.
“Hah, aku tidak akan membiarkannya mencelakai Dean, aku tidak akan sanggup menjalani hidupku jika harus kehilangan lagi. Jika harus ada yang berkorban, maka biarlah aku yang menjadi korbannya. Tidak ada yang harus aku perjuangkan di dunia ini, tapi Dean, dia punya tanggung jawab yang sangat besar terhadap keluarga besarnya. Jika aku harus menjadi tumbal demi menyelesaikan masalah besar dalam keluarga Dean, aku siap. Adalah suatu kebahagiaan bagiku jika aku bisa
berkorban untuk orang yang sangat aku cintai” lanjut Qiandra lagi dalam hatinya.
Dia merasa semakin yakin dengan keputusannya, saat dia mengingat bagaimana dulu dirinya juga di selamatkan oleh Charles. “Mungkin ini saatnya bagiku untuk membalas pengorbanan Kak Charles dulu. Jika dulu Kak Charles berkorban demi cintanya padaku, maka sekarang aku juga siap untuk berkorban demi rasa cintaku pada Dean. Apapun yang akan terjadi malam ini, keselamatan Dean adalah hal yang paling utama” masih Qiandra berdialog
dalam hatinya.
Qiandra begitu tenggelam dalam lamunannya, hingga dia tidak menyadari saat seorang laki-laki telah berdiri cukup lama memperhatikan dirinya. “Honey…, apa yang sedang kamu pikirkan” tiba-tiba Qiandra merasa bahunya
ditepuk dengan lembut, membuatnya tertarik dari alam khayalnya.
Qiandra menoleh dan menatap seraut wajah tampan yang terlihat jelas begitu diselimuti dangn rasa khawatir. Qiandra tersenyum dengan sangat manis, “Love, tidak ada yang aku pikurkan, aku hanya sedang menunggumu
berbicara dengan asisten Vian” sahut Qiandra dengan lembut.
“Jangan berbohong, Honey, kamu sangat tidak pandai melakukannya” desis Dean seraya duduk disamping istrinya.
Qiandra hanya tersenyum dan segera menyandarkan kepalanya di dada bidang presidir tampan itu. “Aku hanya sedang mensyukuri apa yang sudah aku dapatkan saat ini, Love. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dalam hidupku selain menjadi
istrimu dan memiliki dirimu. Ini seperti
sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan bagiku” ucap Qiandra.
Qiandra sengaja menyandarkan kepalanya di dada Dean, agar laki-laki itu tidak melihat
matanya. Karena jika Dean melihat matanya,
Dean perlahan mendorong tubuh istrinya dan memutar tubuh wanita itu agar berbalik dan
menghadap ke arahnya. Dean mengunci
manik mata hitam kecoklatan yang terlihat sangat indah itu. Dean berusaha mencari kebenaran dari bola mata indah itu.
“Qi, katakan sejujurnya, jangan coba menyembunyikan apapun dariku. Aku tahu bukan itu yang sedang kamu pikirkan tadi” desis Dean.
Qiandra terdiam, dia sadar dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari mata elang itu. Namun, Qiandra juga tidak bisa menyampaikan
sejujurnya apa yang sedang dipikirkannya. “Baiklah, baiklah, Love, kamu sudah seperti peramal saja” cicit Qiandra sambil berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
“Qi…..” desis Dean, kali ini dengan sedikit penekanan, yang berarti laki-laki itu sedang dalam mode serius, membuat Qiandra tercekat seketika.
Qiandra perlahan menarik nafas, lalu kemudian dia meraih tangan Dean yang sedang memegang kedua bahunya. Qiandra menggenggam erat tangan sang suami, “Love, apapun yang terjadi nanti malam, kumohon tetaplah percaya padaku. Aku harap kamu tidak lagi mengulangi apa yang pernah terjadi di masa lalu dengan meragukan aku” ucap
Qiandra.
Qiandra sengaja mengungkit masa lalu yang memang sangat disesali oleh Dean. Qiandra berusaha meyakinkan sekaligus mengalihkan pembicaraan mereka. Dia benar-benar tidak ingin Dean terus menerus mengorek tentang apa yang jadi pikirannya.
“Honey, mengapa kamu mengungkit hal itu lagi, kamu tahu aku sangat, sangat menyesalinya” ucap Dean dengan bersungguh-sungguh.
Qiandra tersenyum sekaligus bernafas lega karena berhasil mengalihkan perhatian Dean. “Aku hanya mengingatkanmu, Love, kita tidak
tahu apa yang akan terjadi nanti malam. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku ingin kamu tetap percaya padaku, pada kesetiaanku. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, apapun yang ada di luar sana” sahut Qiandra.
Dean menggenggam erat tangan istrinya, “Honey, kata-katamu membuat aku semakin ragu untuk mengikuti semua rencanamu. Lebih baik aku membatalkan acara ini daripada aku harus menghadapi resiko yang akan
membahayakan dirimu” ucapnya dengan penuh rasa cemas.
__ADS_1
“Jangan macam-macam, Love, kalau kamu membatalkan dan menunda acara ini, aku yakin wanita itu akan semakin senang, karena itu artinya kamu memang tidak ada niat untuk
memperkenalkan aku secara resmi sebagai istrimu. Dan aku juga jadi bertanya-tanya apa maksudmu sebenarnya” ucap Qiandra dengan sedikit ancaman.
“Honey, kamu tahu bukan seperti itu keadaannya. Aku hanya tidak ingin meletakkan dirimu dalam bahaya” sahut Dean dengan sedikit panik. Dean tidak ingin Qiandra sampai
salah sangka terhadap kekhawatirannya.
“Ya sudah, kalau begitu jalani semuanya seperti rencana awal. Karena sampai kapan pun kamu menunda acara ini, hal seperti ini cepat atau lambat pasti akan tetap kita hadapi. Kapan pun kamu akan melaksanakan acara ini, maka Risty akan tetap mencari celah untuk menghancurkannya. Jadi percuma saja kamu menundanya, kecuali kalau kamu memang tidak berniat memperkenalkan aku sebagai istrimu” rungut Qiandra dengan sedikit
cemberut.
“Honey, honey, jangan pernah meracuni pikiranmu dengan hal itu. Baiklah, baiklah, aku akan mengikuti rencanamu, tapi kumohon jangan pernah menyembunyikan apapun rencanamu dariku. Kita hadapi semuanya bersama-sama, jangan pernah melakukannya sendiri” ucap Dean dengan sedikit panik.
Qiandra tersenyum lembut pada suaminnya itu, “Baiklah, Love, aku akan selalu mengatakan padamu apapun rencanaku, sekarang ijinkan aku untuk pergi bersiap-siap dulu. Dan tolong ceritakan padaku apapun situasi dan kondisi terbaru di lokasi pesta, agar aku bisa berpikir untuk menentukan langkah kita” ucap Qiandra.
Wanita itu langsung berdiri, setelah mengecup kening sang suami, Qiandra segera berlalu dari
hadapan laki-laki itu. Sementara Dean masih termangu setelah istrinya meninggalkannya sendiri.
“Aku yakin dia sedang menyembunyikan apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya. Hah, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk
malam ini, Qiqi benar-benar tidak bisa digoyahkan lagi. Entahlah bagaimana nantinya, aku hanya bisa berdoa agar apapun yang direncanakan Qiqi dapat berjalan dengan baik dan semua masalah ini bisa diakhiri. Karena
sesungguhnya, aku pun sudah sangat Lelah menghadapi iblis betina ini. Tapi aku tidak bisa mengusirnya begitu saja dari kehidupan keluarga Zacharias” bisik hati Dean.
Dean sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sebenarnya sang istri sedang bersiap untuk mengorbankan dirinya demi membebaskan keluarga Dean dari seorang Risty. Dean hanya berpikir bahwa Qiandra benar-benar telah mempersiapkan suatu rencana untuk menghadapi Risty.
Seandainya saja Dean tahu apa rencana istri cantiknya itu, niscaya laki-laki ini tidak akan
membiarkan pesta ini berlangsung. Karena
Dean memang sangat mencintai Qiandra, dan dia tidak akan ragu untuk melepaskan
apapun, hanya untuk bisa hidup bersama dengan Qiandra.
Dean perlahan menghembuskan nafas dengan berat berusaha membuang rasa cemas dan rasa khawatir yang ada dalam hatinya. Laki-laki itu menatap jauh ke cakrawala dan beberapa kali menarik nafas dengan Panjang,
sebelum akhirnya dia mengikuti sang istri kembali masuk ke dalam kamar mewah mereka.
Dean mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan namun dia tidak melihat keberadaan Qiandra. Tapi, lamat-lamat Dean mendengar bunyi gemericik air dalam kamar mandi yang menunjukkan kalau adaseseorang sedang
beraktifitas disana. Dean bernafas lega,
karena dia tahu itu pasti Qiandra.
Phonsel Dean tiba-tiba bergetar, Dean tahu kalau itu pasti asisten Vian, maka dia segera
mengangkatnya. “Ada apa, Vian” tanya
Dean.
“Tuan, benar dugaan Nyonya Muda, ternyata wanita itu meletakkan beberapa kamera mini di berbagai sudut ruangan” sahut asisten Vian.
“Dasar iblis, aku sudah menduga, sangat tidak mungkin dia punya rencana yang baik. Lalu apa kalian sudah bisa meretas kamera mini itu, temukan di mana pusatnya, agar kita bisa melacak siapa yang bersekutu dengannya” sahut Dean.
“Yah, kami sudah menemukan pusatnya, Tuan dan itu ada di phonsel wanita itu. hanya dia yang bisa mengakses semua kamera mini ini dan tidak ada orang lain” sahut asisten Vian.
“What’s, apa kamu sudah memerikasanya, tidak mungkin tidak terhubung dengan yang lain, coba periksa sekali lagi” seru Dean. Dean
tidak percaya kalau Risty akan melakukan semuanya sendirian, Dean sangat yakin kalau wanita itu pasti bekerja sama dengan orang lain.
“Love…..” Qiandra menatap suaminya yang terlihat sedang gusar.
__ADS_1