PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

“Tuan, sebaiknya kita segera menyingkir  dan bersembunyi sebelum tim mereka tiba disini.  Karena dari informasi yang saya dapatkan, mereka sudah mengerahkan tim untuk melacak keberadaan kita” ucap Don lagi.


Daniel menarik nafas berat, dia berbalik dan menatap wajah Qiandra yang kebetulan sedang berbalik ke arahnya.  Wajah pucat wanita itu terlihat begitu menderita dan membuat hati Daniel kembali teriris dan nyeri.


“Pergilah kalian semua, Don, kosongkan pulau dan tinggalkan kami berdua disini” ucap Daniel dengan suara lemah memeberikan perintah pada kepala bodyguardnya itu.


“Tapi, Tuan ......” seru Don yang terkejut mendengar Daniel memintanya meninggalkan laki laki itu sendirian bersama dengan Qiandra di pulau itu.


“Pergilah, Don, bawa semua pelayan, jangan biarkan mereka terlibat dengan masalah ini. Biar aku sendiri yang mempertanggung jawabkan semuanya.  Aku tidak ingin kalian semua terseret dalam masalah ini” ucap Daniel masih dengan suara lemah.


“Tuan, .....” Don kembali ingin mengajukan protes.


“Pergi, Don ....” seru Daniel lagi lalu memutus pembicaraannya dengan kepala bodyguardnya itu.  Berulang kali Don berusaha kembali menghubungi, namun diabaikan oleh Daniel.  Hingga tidak berapa lama, Daniel mendengar pintu kamarnya diketuk saat Daniel masih berusaha menenangkan gemuruh di dalam hatinya.


Daniel tahu kalau itu pasti Don, namun dia tidak bisa mengabaikannya karena dia tidak ingin Qiandra terbangun.  Daniel segera melangkah mendekati pintu  dan membuka pintu itu.  Daniel terpaku saat dia berdiri di depan pintu, Daniel sungguh tidak menyangka melihat Don dan beberapa bodyguardnya sudah bersimpuh di hadapannya.


“Don, apa yang kamu lakukan” seru Daniel sedikit kesal.


“Maafkan saya Tuan, saya sudah mengungsikan semua pelayan ke tempat yang aman, mereka langsung saya beri pesangon dan boleh kembali ke keluarga masing masing.  Tapi para bodyguard tidak ada yang mau meninggalkan Anda, Tuan, kami akan tetap berada bersama dengan Anda hingga titik darah penghabisan” sahut Don.


Daniel mendesah tidak percaya pada kesetiaan anak buahnya itu.  “Don, aku sama sekali tidak berencana untuk melawan mereka, aku hanya ingin mengakhiri semua ini.  Jadi, pergilah, aku tidak mau kalian ikut mendekam bersama denganku di penjara” ucap Daniel.


“Mereka boleh mengambil Nona itu, tapi kami tidak akan membiarkan mereka merebut Anda, Tuan” sahut Don, “Kami tidak akan menyerahkan Anda begitu saja, Tuan” lanjutnya lagi.


“Don, pikirkan keluarga kalian, jika kalian tetap bertahan disini, sudah pasti kalian akan ditangkap dan akan ikut dipenjara, jadi pergilah, selagi ada kesempatan” ucap Daniel masih berusaha memberi pengertian pada Don.


“Sejak awal kami sudah berjanji akan setia pada Anda, Tuan, jangankan hanya masuk penjara, bahkan nyawa pun akan kami serahkan untuk Anda” ucap Don lagi dengan tanpa gentar.

__ADS_1


Daniel mendesah berat, “Baiklah, sekarang berdirilah kalian semua” ucapnya.  Saat semua bodyguardnya sudah berdiri, Daniel menatap mereka satu per satu.  “Sekarang aku, Daniel Putra Mahardika, membebaskan kalian semua dari sumpah dan janji kalian pada klan kita.  Semua yang sudah kalian terima dan kalian berikan untuk klan, aku anggap impas, sehingga tidak ada lagi utang piutang dan sangkut paut diantara kita.  Jadi, sekarang kalian boleh pergi kemana pun kalian mau, kalian tidak lagi punya tanggung jawab pada klan.  Jadi, sekarang kalian boleh pergi” ucap Daniel dengan tegas.


Walaupun ada sisi hati Daniel tidak rela melepas parabodyguard terbaiknya itu, namun dia juga tidak mau egois.  Dia sudah merasa sangat bangga dengan semua kesetiaan mereka selama bersama dengan dirinya dan menjaga dirinya.  Karena itulah Daniel memutuskan untuk membebaskan mereka dari semua sumpah mereka pada klan mafia yang di pimpinnya, dengan harapan mereka akan segera pergi dari tempat itu.


Namun, dugaan Daniel meleset.  Para bodyguarnya itu tetap tidak bergeming dari tempat mereka sama seperti ketua mereka.  “Terima kasih sudah membebaskan kami, Tuan” ucap Don.  Lalu dia berbalik menghadap anak buahnya, “Kalian sudah dengar apa kata Tuan Daniel, jadi jika ada yang mau mundur, silahkan mundur sekarang dan segera mengikuti tim evakuasi” ucapnya kepada anak buahnya.


Namun, sama seperti Don, tidak ada satu pun diantara mereka yang mau bergeming.  Dan tiba tiba tanpa di beri aba aba mereka semua bersimpuh dengan satu lutut menyentuh lantai.  “Kami tidak akan pergi” seru mereka serempak.


Don yang melihat sikap anak buahnya segera berbalik dan ikut bersimpuh di hadapan Daniel.  “Maafkan kami tidak mengikuti perintah, Anda, Tuan, karena seperti yang Anda katakan tadi, sekarang kami bebas dan kami boleh pergi kemana pun kami mau.  Dan sekarang kami mau tetap bersama dengan Anda, entah Anda mengijinkan atau pun tidak” ucap Don sambil menatap wajah Daniel.


Daniel mendesah berat, sungguh dia tidak ingin melibatkan anak buahnya dalam masalah ini.  Tapi, Daniel juga tahu para bodyguardnya itu juga pasti tidak akan mau menyerah dan meninggalkan dirinya.  “Baiklah, jika memang itu yang kalian inginkan, sekarang persiapkanlah diri kalian.  Tolong tahan mereka yang mengikuti Dean disini, dan biarkan Dean sendiri yang naik ke atas dan menemui aku.  Dan aku minta kalian hadapi mereka dengan tangan kosong, jangan menggunakan senjata apapun.  Aku tidak ingin ada korban jiwa yang akan membuat masalah kita bertambah banyak” ucap Daniel akhirnya pasrah.


“Baik, Tuan, akan kami laksanakan sesuai perintah Anda” sahut semua bodyguardnya serempak.  Setelah itu, semua


bodyguard Daniel meninggalkan laki laki itu, setelah mereka sebelumnya membungkuk memberi hormat pada Daniel.


Daniel hanya mengangguk kecil merespon para bodyguardnya, kemudian dia menarik nafas beberapa kali sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan tempat Qiandra masih berbaring dengan lelap.  Daniel kembali melangkah mendekati tempat tidur dimana Qiandra terbaring.  Keningnya sedikit berkerut saat melihat wanita itu masih terbaring dengan posisi yang sama.


Daniel meraih tangan Qiandra yang tersembunyi di bawah selimut, rasa hangat di tangan itu segera menjalar dan memberikan rasa hangat di hatri seorang Daniel Putra Mahardika.  Perlahan dikecupnya jemari wanita yang masih menutup matanya dengan rapat itu.  “Sebentar lagi, Qi, sebentar lagi aku akan kehilangan dirimu.  Entah bagaimana aku akan menjalani hari hariku tanpa sebuah pengharapan lagi.  Aku lebih suka saat kamu bersembunyi jauh dariku, sehingga aku masih bisa menyimpan pengharapan di hatiku bahwa suatu saat aku bisa bertemu denganmu dan menjadikanmu milikku.  Tapi sekarang, hah, aku benar benar harus merelakanmu hidup bersamanya” bisik Daniel dengan lembut.


Daniel tidak perduli apakah Qiandra akan mendengar atau tidak apa yang diucapkannya.  Baginya, dia benar benar ingin mengungkapkan isi hatinya saat itu pada wanita ini.  Daniel sadar dia tidak akan punya kesempatan lain lagi.  Karena Daniel sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi  saat Dean datang dan mengambil Qiandra.


Bukan, bukan Daniel tidak mampu menghadapi seorang Dean Walt Zacharias, apalagi itu ada di wilayah kekuasaannya.  Daniel sangat mampu melakukannya, apalagi melihat kesetiaan para bodyguard terlatih yang masih ada di pulau itu.  Daniel tahu, dia bisa mengalahkan Dean, juga pasukan yang di bawanya.


Namun, Daniel sungguh tidak mampu melihat wajah menderita wanita yang ada di hadapannya ini jika dia semakin lama menahan dan memisahkannya dari suaminya.  Daniel merasa tidak mampu lagi untuk terus menerus membuat wanita itu menderita, “Akan aku lakukan apa yang harus aku lakukan, Qiandra, akan aku buka semua yang terjadi di masa lalu.  Semoga setelah itu kamu masih mau memaafkan aku dan tidak membenciku, aku tidak berharap kamu akan mencintaiku, tapi setidaknya kamu tidak membenciku, kamu dan juga …… Dika” desis Daniel lagi.


“Aku tahu resiko yang akan aku tanggung, Qiandra, aku mungkin akan mendekam di penjara seumur hidupku.  Tapi jika itu bisa membuatmu memaafkan aku, maka aku akan menerimanya, aku siap mempertanggung jawabkan semua kesalahanku di masa lalu terhadap dirimu, Qiandra.  Semoga kamu memaafkan keegoisan cintaku ini, cinta yang begitu besar padamu, hingga aku sendiri tidak bisa lagi menguasai hati dan pikiranku” lanjut Daniel lagi.

__ADS_1


Kesedihan putra tunggal dari keluarga Mahardika itu, terlihat begitu menyedihkan.  Air mata laki laki tampan itu mengalir di pipinya tanpa ia sadari.  Matanya terus menatap sendu wajah wanita yang masih setia menutup mata itu, “Maafkan aku, maafkan aku, Qiandraku, maafkan aku yang terlalu mencintaimu, maafkan aku yang telah banyak membuatmu menderita karena cintaku.  Semoga di kehidupan yang akan datang kita bisa bersatu” isak Daniel begitu tenggelam dalam luka hatinya.


Sementara itu di helikopter Dean, asisten Vian dan dokter Albert masih tenggelam dalam pikiran dan ketegangan masing masing.  Hingga tiba tiba mereka mendengar laporan dari beerapa helikopter yang mendahului mereka.  “Tuan, dokter Mira tidak ditemukan, sepertinya mereka sudah membawanya” laporan dari anak buah asisten Vian.


“Cari dokter itu hingga dapat, lalu segera evakuasi dia” perintah Dean langsung kepada anak buah yang melapor tadi.


“Ba baik Tuan” sahut suara itu yang terdengarcukup terkejut saat mendengar bukan suara asisten Vian yang menjawabnya tapi langsung suara sang bos besar.


“Bagaimana dengan tim yang menuju ke tiga pulau, apa masih belum ada perkembangan sampai saat ini” tanya Dean pada asisten Vian.


“Akses dengan mereka terputus, Tuan, kita benar benar tidak bisa menghubungi mereka.  Kemungkinan besar daerah daerah yang mereka datangi itu benar benar sudah dikunci sinyalnya, sehingga mereka tidak bisa menghubungi orang luar dan kita pun tidak bisa menghubungi mereka” ucap asisten Vian.


“Ya sudah, kita ikut telusuri saja masing masing pulau itu.  Jika cara komonikasi tidak bisa melewati alat komonikasi canggih, aku yakin mereka bisa memeberikan kode jika kita melewati salah satu pulau yang dicurigai” sahut Dean.


Memang tidak ada pilihan lain lagi, asisten Vian pun mengakui kalau orang orang Daniel memang menguasai teknologi yang cukup mumpuni.  Sehingga seorang sekaliber asisten Vian saja harus berpikir dulu jika ingin mencoba menemus pertahanan mereka.  Karena jika mencoba menembus tanpa pertahanan yang matang maka bukannya bukannya berhasil, malah data sendiri yang akan habis terserang oleh mereka.  Dan asisten Vian baru saja mengalami hal itu, yang membuat jantungnya sempat ketar ketir.


Untungnya asisten Vian memiliki Tim IT yang juga cukup handal.  sehingga dengan bantuan dan backup dari timnya itu, asisten Vian berhasil mengamankan data base mereka dari serangan virus yang dikirimkan oleh Daniel.  Karena itulah, asisten Vian tidak berani menyarankan untuk kembali menembus pertahanan Daniel untuk sekedar membuka jalur komonikasi.  Karena asisten Vian tidak bisa turun tangan secara langsung, jika sistem milik Daniel itu kembali melakukan serangan balik.


Dean juga menyadari kondisi itu, dia sudah melihat bagaimana paniknya asisten Vian menyelamatkan data perusahaan sekaligus data kerajaan Zacharias tadi.  Jadi, dia juga tidak memerintahkan mereka untuk menghack lagi sistem milik Daniel.  Dean lebih memilih mencari langsung, tanpa didukung oleh alat komonikasi apapun.


Yah, walaupun hal itu berarti mereka memerlukan waktu yang lebih lama, tapi Dean tidak perduli.  Dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan saat memang ada petunjuk yang sangat jelas tentang keberadaan istrinya itu.  Setelah berhari hari dia benar benar tidak tahu kemana Daniel membawa Qiandra, dan sekaran saat ada sebuah titik terang, maka Dean tidak akan tergesa gesa.


Dean berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya hatinya sangat khawatir pada keadaan Qiandra.  Tapi sedikit banyak perkataan Dika mampu membuat laki laki itu bersikap lebih tenang.  Dean berusaha meyakini kalau Daniel tidak akan melukai Qiandra seperti kata Dika kepadanya beberapa hari yang lalu.


Dean juga berusaha untuk bisa mengerti posisi Daniel saat ini, walaupun itu sangat sulit.  Kemarahannya pada laki laki itu sangat besar, apalagi saat mendengar kemungkinan Qiandra sedang hamil.  “Aku harap tidak ada sesutu yang buruk terjadi pada Qiandra dan anakku, karena sampai terjadi hal yang tidak diinginkan maka aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup, Daniel” desis Dean.


Tidak lama sang pilot memberikan kode kepada mereka dan menujuk ke arah bawah.  Dean mengernyitkan keningnya, dia merasa heran kenapa sang pilot tidak berbicara saja.  Namun, Dean baru mengerti saat asisten Vian memberikan kode kalau akses komonikasi mereka ternyata telah diblok juga.  Dean akhirnya mengerti, dan melihat ke arah yang ditunjukkan oleh sang pilotnya kepada mereka.

__ADS_1


Dean bisa melihat di bawah sana, dua buah helikopter sudah mendarat di pantai dan dia juga melihat sebuah tanda nol besar di tulis di pasir pantai itu.  Dean melihat ke arah asisten Vian yang segera dijawab oleh asisten Vian dengan gelengan kepala.  Dean mengerti itu berarti Qiandra tidak berada di pulau itu, sehingga dia memberikan kode kepada sang pilot untuk melanjutkan pencarian ke pulau berikutnya.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di pulau kedua, dan sang pilot kembali memberikan kode seperti tadi.  Dan saat melihat ke bawah mereka semua tahu kalau di pulau itu juga tidak ada villa yang bisa menjadi tempat persembunyian Qiandra.  Walaupun Daniel bisa melihat pemukiman di pulau itu, namun dia yakin anak buahnya sudah menyisir pulau itu sehingga mereka bisa memberikan kode kalau pulau itu aman.


__ADS_2