
Qiandra kembali tenggelam dalam pekerjaannya, dia tidak memperdulikan sekitarnya, termasuk kehadiran Daniel yang menatapnya dengan intens. Sejak dari restoran tadi, Qiandra memang tidak membuka mulutnya sama sekali. Dia enggan mengucapkan apapun yang akan memperuncing masalahnya dengan Daniel.
Sejujurnya Qiandra sedikit takut kalau Daniel akan memecatnya, karena memang penghasilannya di perusahaan ini cukup besar, dibanding gaji sekertaris di perusahaan lain. Qiandra sangat memerlukan uang sekarang untuk modalnya memulai hidup baru.
Qiandra bisa saja mencari pekerjaan di perusahaan yang lain, tawaran seperti yang disampaikan Pak Bram tadi, sudah sangat sering Qiandra terima. Qiandra memang sekertaris idola, karena semua kelebihannya dan memang sampai saat ini, belum ada berita miring tentang kehidupan Qiandra, sekalipun ada banyak gossip terkait statusnya sebagai seorang janda.
Namun, Qiandra tidak ingin mencari pekerjaan di perusahaan lain, karena dia memang tidak ingin menetap di kota ini. Qiandra tidak ingin mengecewakan orang lain kalau dia hanya bekerja sebentar saja. Karena itulah, Qiandra memilih tetap bertahan di PT. Mahardika, hingga dia menerima gajinya dan hasil lemburnya.
“Qian, apa kamu benar-benar tidak mau menikah denganku” desis Daniel yang ternyata telah cukup lama memandang Qiandra. Qiandra sedikit terkejut mendengar suara Daniel, apalagi mendengar pertanyaan yag diajukan oleh Daniel.
Qiandra mengehela nafas berat, dia mengangkat kepalanya sesaat menatap ke arah Daniel. “Maaf, Tuan, saya sedang menyelesaikan pekerjaan saya, jika ada perintah Anda yang harus saya kerjakan, katakan saja” sahutnya pada Daniel.
“Aku perlu jawabanmu, Qian, katakan apa maumu” desis Daniel.
“Apa mauku, Tuan, kurasa Tuan sudah tahu, tapi apa Tuan perduli, namun jika Tuan memaksaku, akan kukatakan apa mauku, aku hanya ingin hidup sendiri, Tuan, karena hatiku, jiwaku dan cintaku semuanya telah mati saat suamiku meninggalkan aku” sahut Qiandra dengan lantang.
“Jangan membohongiku, Qiandra, bukankah kamu mau menerima laki-laki bajingan itu” seru Daniel.
Qiandra menatap Daniel sekilas, ada kilat kemarahan dan juga kesedihan memancar di matanya. Banyak hal yang ingin Qiandra ucapkan, namun dia kembali menyadari apa yang diinginkannya saat ini. Akhirnya, Qiandra menundukkan kepalanya, dan berusaha kembali fokus pada pekerjaannya.
“Qiandra…” sentak Daniel, dia memutar kursi tempat Qiandra duduk, agar wanita itu menghadap kearahnya. Daniel mengukung tubuh Qiandra di kursi tempat wanita itu duduk, “Jawab aku, bagaimana dengan Dean, bukankah kamu menerimanya” desis Daniel berusaha menahan amarahnya.
Qiandra hanya menatap bola mata Daniel dalam diam, dia sama sekali tidak membuka mulutnya. Qiandra terlalu lelah dengan semua perdebatan ini, Qiandra benar-benar ingin fokus pada pekerjaannya. Hanya itu yang saat ini ingin Qiandra lakukan, toh, berbagai jawabannya tidak akan bisa memuaskan Daniel.
Daniel menggeram dengan frustasi melihat wanita itu yang dengan berani menatap matanya, namun, tidak sepatah katapun keluar dari bibir seksinya. Dia melepaskan kursi Qiandra dan berdiri di hadapan wanita itu, namun kesempatan itu segera dipakai Qiandra untuk berbalik kembali menghadap mejanya.
Daniel akhirnya berbalik kembali masuk ke dalam ruangannya meninggalkan Qiandra yang sama sekali tidak memperdulikannya. Didalam ruangannya, Daniel sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Pikirannya hanya terisi dengan Qiandra dan Qiandra. Daniel benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghadapi Qiandra.
Asisten Dika masuk ke dalam ruangan Daniel setelah dia mengetuk pintu ruangan itu, “Maaf, Tuan sekarang waktunya untuk pulang” ucapnya dengan hati-hati. Asisten Dika tahu kalau suasana hati Daniel sedang tidak baik.
__ADS_1
“Apa dia sudah pulang, Dik” tanya Daniel.
“Belum, Tuan, sepertiya Nona Qiandra akan mengambil lembur” sahut asisten Dika.
“Lembur?, tapi untuk apa, apa dia kekurangan uang lagi” tanya Daniel.
“Entahlah, Tuan, saya pun tidak tahu” jawab asisten Dika.
Daniel segera berdiri dan keluar dari ruang kerjanya, dia langsung menghampiri meja kerja Qiandra yang memang terlihat penuh dengan berkas-berkas yang akan dikerjakannya. “Berapa banyak uang yang kamu perlukan, Qian” tanya Daniel.
Qiandra mengangkat kepalanya sebentar, “Selamat sore, Tuan, semoga perjalanan pulang Anda menyenangkan” ucapnya, lalu dia kembali menunduk memeriksa berkas tebal yang ada dihadapannya.
“Berapa banyak yang kamu perlukan, Qian, jawab aku, kamu tidak perlu melakukan semua ini” seru Daniel yang mulai frustasi menghadapi sikap Qiandra. Namun, wanita itu sama sekali tidak bergeming, dia terus tenggelam dalam pekerjaannya.
Daniel berjalan memutari meja kerja Qiandra, lalu dia meraih pergelangan tangan Qiandra dan menariknya untuk berjalan, sehingga berkas yang sedang dikerjakan oleh Qiandra berhamburan. Asisten Dika benar-benar terkejut melihat perlakuan Daniel pada Qiandra.
“Lepaskan, Tuan Daniel yang terhormat, tidak bisakah Anda menghargai saya, saya hanya ingin berusaha dengan tetes keringat saya sendiri, dengan keahlian dan kemampuan saya dalam bekerja, dan bukan dengan menjual
Plak
Tanpa sadar tangan Daniel menampar pipi Qiandra, membuat wanita itu terhuyung ke belakang dan terduduk di kursinya. Darah kental menetes di sudut bibir Qiandra, Qiandra begitu terkejut, dia memegang pipinya yang terasa sakit dan panas.
Daniel sendiri sangat terkejut dengan gerakannya, “Qian….Qian….maafkan aku, maafkan aku, aku lepas kontrol, aku….aku…” Daniel mendekati Qiandra ingin memeluk wanita itu.
Qiandra membuka laci mejanya dan mengeluarkan cutter dari dalam laci mejanya. Dia mengarahakan cutter itu ke lehernya, “Jika Tuan berani mendekat dan menyentuh saya lagi, maka lebih baik Tuan menyentuh mayat saya, agar Tuan bisa melakukan apapun yang Tuan inginkan” desis Qiandra.
Rasa sakit dipipinya sama sekali tidak dihiraukannya, Qiandra bahkan tidak meneteskan air mata lagi. Kemarahannya pada Daniel telah berubah menjadi sebuah kebencian yang sangat besar.
“Nona Qiandra….” seru asisten Dika yang terkejut melihat tindakan Qiandra.
__ADS_1
“Qian….Qian….kumohon, jangan lakukan itu, kumohon maafkan aku, maafkan aku” seru Daniel dengan panik.
“Jangan mendekat dan jangan lagi coba menyentuhku” seru Qiandra dengan mata tajam menatap kedua laki-laki itu, “Kalian tahu berapa kali aku ingin mati, bagiku kematian adalah kebahagiaan, jadi jangan pernah mengujiku, atau kalian memang menginginkan itu” lanjutnya lagi.
“Okey…okey…aku akan pergi Qian, kumohon jangan lakukan hal itu, akan kulakukan sesuai keinginanmu” seru Daniel yang benar-benar terkejut melihat ekspresi wajah Qiandra yang benar-benar mengerikan. Tidak pernah Daniel melihat Qiandra menampilkan wajah seperti itu, wajah yang dipenuhi dengan kemarahan, kebencian dan juga keputus asaan.
Daniel dan asisten Dika akhirnya berjalan mundur secara perlahan meninggalkan Qiandra menuju ke lift khusus presidir. Sebelum masuk ke dalam lift, Daniel kembali menatap Qiandra, namun tatapan tajam Qiandra membuatnya segera masuk ke dalam lift.
Daniel menghembuskan nafas kasar, dia menatap tangan kanannya yang sudah menampar pipi wanita yang sangat dicintainya itu. Tangan Daniel bergetar karena rasa penyesalan yang sangat dalam di hatinya. Laki-laki itu bahkan tidak mampu lagi menyangga tubuhnya, dia duduk di lantai lift dan menekuk kepalanya diantara kedua kakinya.
“Tuan…” ucap asisten Dika meyadarkan Daniel bahwa mereka sudah tiba di lobby kantor. Untunglah, jam pulang kantor sudah berlalu dan suasana lobby cukup lengang, sehingga tidak ada karyawan yang melihat Daniel dalam keadaan seperti itu.
Asisten Dika membantu Daniel untuk berdiri dan keduanya keluar dari lift itu menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka berdua sejak tadi. Sebelum masuk mobil, asisten Dika menghampiri security yang akan berjaga malam itu, “Tolong jaga Nona Qiandra, dia mengambil lembur malam ini” ucapnya pada security itu.
“Baik, Tuan” jawab security dengan membungkuk hormat.
Asisten Dika segera menyusul Daniel yang sudah menunggunya di dalam mobil mewah itu, “Saya sudah memerintahkan agar mereka menjaga Nona Qiandra, Tuan” ucap asisten Dika, berharap dapat memberi ketenangan pada Daniel. Daniel hanya diam saja, lalu mobil itu segera meninggalkan kantor pusat PT.Mahardika.
Tanpa mereka sadari, beberapa pasang mata memperhatikan mereka, “Sepertinya Nona Qiandra tidak pulang bersama dengan Daniel, Tuan” ucap asisten Vian yang saat itu sedang memantau keadaan kantor pusat PT.Mahardika, lebih tepatnya memperhatikan Qiandra.
“Tapi, bukannya dia belum keluar dari tadi” dokter Albert yang ikut serta terlihat kebingungan.
“Mungkin masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan Nona Qiandra” ucap asisten Vian.
“Dia pasti mengambil lembur, Qiandra tidak punya uang sama sekali, dia keluar dari rumahnya tanpa membawa apapun, karena itulah aku membawanya ke mansion. Dan sekarang setelah dia pergi dari mansion dengan tanpa membawa sehelai bajupun, aku yakin Qiandra mengambil lembur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya” sahut Dean dengan nada sendu.
“Aku akan memastikannya” ucap dokter Albert.
“Kamu tidak akan bisa masuk ke dalam kantor itu, Al, mereka tidak akan mengijinkan siapapun masuk setelah jam kantor selesai” ucap asisten Dika.
__ADS_1
“Hah, kamu meragukan kemampuanku” ucap dokter Albert, lalu dia keluar dari mobil mereka, dan menyeberang jalan menuju ke kantor pusat PT. Mahardika.