PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

“Hah, rasanya sudah sangat lama kita tidak melakukan ini, aku merasa sangat bersemangat sekali” seru dokter Albert yang berusaha mencairkan ketegangan di ruangan itu.  Namun kata kata dokter tampan itu disambut dengan lirika tajam dari Dean.


“Kita bukan pergi bersenang senang, Al” sarkas Dean dengan kesal.


Dokter Albert ingin membalas kata kata sahabatnya itu seperti biasa, namun sebelum dokter itu berbicara, asisten Vian sudah lebih dulu menengahi.  “Helikopter kita sudah siap diatas, sebaiknya kita berangkat sekarang.  Sedang empat tim sudah berangkat tadi, dan aku sudah mengirimkan koordinat lokasi mereka masing masing.  Kita hanya menunggu info dari mereka saat kita berada dalam perjalanan nanti.  Jadi, kita tidak akan ikut menyusuri ketiga pulau itu melainkan langsung menuju ke pulau mana yang memiliki villa dengan ciri ciri yang disampaikan oleh dokter Mira” ucap asisten Vian.


Kata kata asisten Vian langsung membuat Dean dan dokter Albert terdiam.  Mereka bertiga segera bergegas menuju ke lift yang membawa mereka ke atas, dimana sebuah helikopter sudah menunggu mereka di landasan.


Beberapa orang bodyguard yang sudah menunggu mereka segera membungkuk dan memberi hormat kepada ketiga pemuda tampan itu.  Ketiganya langsung masuk ke dalam helikopter itu, jika asisten Vian dan Dean cukup ringkas hanya membawa tubuh dengan semua senjata yang sudah melekat di pakaian mereka.  Sedang dokter Albert, terlihat lebih ribet dengan sebuah tas dokternya yang memang selalu dibawanya kemana pun.


Kehadiran kedua sahabatnya itu sedikit banyak membuat Dean merasa lega.  “Al, menurut dokter Mira, kemungkinan Qiqi sedang hamil” ucap Dean dengan sedikit berteriak pada dokter Albert.


“What !!!!” seru dokter Albert, “Astaga semoga Qiqi baik baik saja dimasa awal kehamilannya ini” desah dokter Albert.  Kekhawatirannya bertambah saat mendengar berita itu.  Dokter Albert sangat tahu dalam keadaan normal saja, Qiandra sangat lemah, apalagi jika dia hamil muda.


Dokter Albert segera memeriksa tas kerjanya, dan dia bernafas lega karena semua perlengkapan yang diperlukannya sudah ada.  “Bagaimana, Tuan, apa kita bisa berangkat sekarang” tanya pilot helikopter itu.


Dean dan asisten Vian masih memperhatikan Dokter Albert yang masih memeriksa tas kerjanya, “Al …” seru asisten Vian menyadarkan dokter Albert dari kesibukannya.


“Oke, semua siap” sahut dokter Albert seraya mengangkat tangannya dan membentuk kode oke.  Dokter Albert segera membereskan perlengkapannya menyimpan semuanya agar lebih rapi dan mudah di bawa.


Setelah mereka semua siap, maka helikopter itupun segera berangkat meninggalkan mansion mewah yang juga menjadi markas mereka beberapa hari terakhir ini.  Semua yang ada dalam helikopter itu duduk dengan perasaan tegang, rasa khawatir benar benar meliputi hati mereka.


“Vian, apa kira kira mereka mengetahui kedatangan kita” tanya Dean melalui headphone yang sudah terpasang di kepalanya.


“Bahkan sejak kita mulai melacak kepulauan mereka, mereka sudah tahu kalau kita sudah akan datang, Tuan” sahut asisten Vian membuat Dean seketika merasa semakin gelisah.


“Apa kamu yakin, Vian, mungkin saja itu hanya sistem otomatis yang bekerja tanpa pemantauan langsung” tanya dokter Albert dengan asal sekedar meredakan ketegangan di dalam helikopter itu.


“Benar, memang sistem seperti itu sudah dirancang secara otomatis, namun biasanya semua itu sudah dilengkapi dengan alarm.  Sehingga saat sistem itu bekerja bahkan melakukan penyerangan balik, otomatis alarm peringatan akan berbunyi” sahut asisten Vian memberi penjelasan.


Buk .....


Satu pukulan ringan di bahu asisten Vian membuat laki laki tampan itu terkejut, “Hei, apa kamu tidak bisa memberikan kata kata yang lebih enak di dengar di saat seperti ini, dasar robot” seru dokter Albert yang kesal karena asisten Vian tidak mengerti arah pembicaraannya.


Tanpa dijelaskan oleh asisten Vian pun sebenarnya dokter Albert sudah mengerti.  Dia hanya ingin asisten Vian sebenarnya mengatakan kemungkinan yang bisa sedikit menenangkan mereka semua.  Tapi, ternyata asisten tampan itu justru menjelaskan dengan lebih detil, yang tentu saja tidak membuat semua ketegangan bisa mereda.


“Saya lebih suka mengatakan kebenarannya dan kondisi terburuk yang harus dihadapi, daripada saya menyampaikan sesuatu yang hanya bisa memberi kelegaan sesaat tapi justru membuat kita berharap pada hal yang sebenarnya tidak mungkin” sahut asisten Vian dengan diplomatis membela dirinya.


“Haish, benar benar manusia yang satu ini” kesal dokter Albert menatap ke arah asisten Vian dengan menggelengkan kepala.


Sebagai seorang dokter, dokter Albert memang terbiasa untuk selalu memberikan harapan pada para pasien dan juga keluarga pasiennya.  Sekali pun pasien sudah berada dalam keadaan yang kritis, sebisa mungkin dokter Albert selalu berusaha memberikan ketenangan.  Walaupun dia harus mengatakan keadaan pasiennya dengan jujur, tapi dia selalu memberikan harapan dan juga jalan keluar walaupun kemungkinan berhasilnya sangat kecil.

__ADS_1


Berbeda dengan asisten Vian yang selalu bergelut dengan dunia bisnis setengah mafia.  Dalam melihat suatu keadaan, asisten Vian selalu memikirkan kemungkinan terburuk lebih dulu.  Hal itu bertujuan agar dia punya persiapan yang matang dalam menghadapi setiap masalahnya.  Kalaupun hal terburuk tidak terjadi, maka itu merupakan suatu keburuntungan untuknya.


Dengan memikirkan hal terburuk, asisten Vian selalu bisa memikirkan peluang peluang yang bisa di tempuh agar bisa menghindari kemungkinan buruk dalam pekerjaannya.  Tapi, setiap peluang itu tidak akan dikatakannya, hanya sebagai sebuah rencana yang siap dilaksanakan saja jika keadaan memaksa.  Dan bahkan setiap peluang itu pun sudah harus dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya.


Dean hanya menatap ke dua sahabatnya itu, dia sangat mengerti kalau keduanya berbeda pashion.  Hal itu tentu saja membuat mereka mempunyai cara yang berbeda dalam menyikapi suatu keadaan ataupun masalah.  Dokter Albert yang harus bersikap sabar dan tenang dengan langkah langkah yang sudah teratur dan sudah ditetapkan.  Sedangkan asisten Vian yang harus mempertimbangkan lebih dulu setiap langkah yang akan diambilnya.


“Terima kasih, kawan” ucap Dean yang terdengar seperti ******* di telinga dokter Albert dan asisten Vian.


“Whats, kamu bilang apa tadi” tanya dokter Albert, sementara asisten Vian hanya membisu.


“Terima kasih untuk semua yang sudah kalian lakukan untukku” seru Dean dengan suara sedikit keras.


“Kalau kamu berterima kasih pada kami, lalu kami harus mengucapkan apa padamu dan daddy.  Kalian yang sudah melakukan begitu banyak hal hingga aku dan Vian bisa berdiri seperti saat ini.  Jadi, jangan pernah berkata seperti itu jika kamu menganggap kami saudaramu, bukankah kamu dan daddy Walt selalu berkata begitu pada kami berdua” ucap dokter Albert.


Dean hanya tersenyum hambar, dia tidak akan lupa kalau kedua sahabatnya ini sudah berjanji akan mengabdikan hidup mereka pada keluarga Zacharias.  Walaupun Dean dan Daddy Walt selalu menolak sikap mereka itu, karena tidak ingin mereka mengganggap bantuan yang diberikan pada mereka sebagai utang budi.  Tapi, kedua sahabatnya itu tetap bersikeras pada keinginan mereka berdua.


Dean juga tahu kalau kedua sahabatnya itu juga telah berjanji untuk tidak menikah sebelum Dean menemukan kebahagiaannya.  Dean sebenarnya sangat tidak menyukai hal tersebut, karena dia merasa bersalah menyebabkan kedua sahabatnya itu tidak bisa segera berumah tangga.  Berulang kali Dean sudah menyuruh keduanya untuk melupakan janji yang menurutnya konyol itu, namun diabaikan oleh asisten Vian dan dokter Albert.


Sementara itu di villa tempat Daniel menyembunyikan Qiandra, suasana tenang dan damai tiba tiba dipecah dengan suara alarm seperti sirena yang berbunyi nyaring.  Daniel  yang sedang mendampingi Qiandra yang masih tertidur karena kondisinya yang lemah, sangat terkejut.  Segera di raihnya phonselnya dan menghubungi pimpinan bodyguardnya.


“Ada apa” tanya Daniel dengan suara dingin dan tajam.


“Tuan, sepertinya mereka sudah mulai melacak keberadaan kita” seru sang bodyguard dengan suara bergetar.


“Sepertinya dokter kemaren, Tuan” sahut kepala bodyguardnya lagi.


“Bagaimana bisa, Don, bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk menjaganya dengan ketat” seru Daniel dengan kemarahan yang berapi api.  Daniel bahkan segera keluar ke arah balkon dan menutup pintu menuju balkon agar Qiandra tidak mendengar pembicaraannya.


“Benar, Tuan, anak anak memang terus menjaganya, namun karena sudah berhari hari tidak ada pergerakan sepertinya mereka menjadi sedikit lengah” sahut sang kepala bodyguard yang bernama Don itu.


“Tapi kalau dia hanya menghubungi saja, mereka tidak akan secepat itu percaya bukan, bukankah aku sudah memerintahkan agar kalian menghubungi nomor itu berulang kali, agar mereka tidak mudah percaya pada setiap orang yang menghubungi mereka” tanya Daniel lagi.


“Kami sudah melakukannya seperti yang Anda perintahkan, Tuan” sahut Don yang merasa sangat yakin kalau anak buahnya yang tersebar di berbagai tempat telah berulang kali menghubungi nomor asisten Vian.


“Lalu, bagaimana bisa mereka menemukan kita secepat ini” seru Daniel lagi.


“Sepertinya dokter itu memberikan sesuatu yang bisa menjadi bukti bahwa info yang diberikannya benar, Tuan.  Karena anak anak tidak melihat dia menelepon, jadi kemungkinan dia hanya mengirimkan pesan” sahut Don lagi berusaha menjelaskan kepada bos besarnya itu.


“Bukti ? bukti yang bagaimana maksudmu” seru Daniel dengan kening mengernyit.


“Ma maafkan saya, Tuan, mu mungkin Nona sempat memberikan sesuatu entah informasi atau barang kepada dokter itu saat kemaren dia diperiksa, yang bisa membuktikan bahwa dokter itu menyampaikan berita yang benar” jawab Don dengan terbata bata.  Sebenarnya Don ragu menyampaikan hal itu, dia takut sang bos akan menganggap dia menyalahkan bos besarnya itu.

__ADS_1


“Tapi kalian sudah memeriksa barang bawaannya kan” tanya Daniel lagi dengan kening berkerut.


“Benar, Tuan, namun entahlah, saya juga tidak mengerti, Tuan” sahut Don dengan sedikit keresahan.


“Bodoh, segera amankan wanita itu” seru Daniel dalam kemarahannya.  Wajah laki laki itu menjadi merah padam, ada kemarahan yang begitu besar dalam dadanya akibat keteledoran anak buahnya.


“Baik, Tuan” sahut Don lagi.


“Lalu apakah sistem pengamanan berfungsi dengan baik”  tanya Daniel lagi.


“Semua berfungsi dengan baik, Tuan, bahkan sekarang sistem kita sedang melakukan serangan balik” sahut Don lagi.


“Ya, sekarang segera siagakan anak anak, pasang pelindung dan kacaukan pencarian mereka, aku yakin mereka akan segera mengirimkan tim pelacak” ucap Daniel lagi seraya mengakhiri panggilan teleponnya itu.


Daniel menghembuskan nafas berat berusahaa menenangkan hatinya.  Dia berbalik dan mengamati Qiandra yang masih terlelap dalam posisinya tadi.  “Qiandra, aku belum siap kehilangan kamu” desisnya dengan hati pedih.


Daniel teringat perkataan kepala bodyguardnya tadi tentang bukti yang ditunjukkan oleh Dokter untuk memastikan informasi yang diberikannya akurat.  Dengan tergesa Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan perlahan mendekati tempat Qiandra berbaring.  Daniel memperhatikan Qiandra dengan sungguh sungguh.


“Apa yang membuat mereka begitu cepat percaya pada dokter itu, apa kamu benar benar ada memberikan sesuatu pada mereka sehingga mereka bisa mempercayainya dengan cepat.  Tapi apa yang kamu berikan” desis Daniel dalam hati sambil terus memperhatikan Qiandra.


Tiba tiba tangan Qiandra bergerak dan keluar dari selimut yang membungkus tubuhnya.  Daniel cukup terkejut dengan pergerakan wanita itu, karena dia memang sedang bergelut dengan pikirannya saat itu.  Melihat tangan Qiandra yang keluar dari selimutnya, Daniel segera meraih tangan Qiandra dengan lembut.


Namun, tiba tiba tangannya terpaku pada jemari Qiandra.  Dengan perlahan dia menggenggam jemari wanita itu.  Daniel tersenyum sendu dan hambar saat melihat jari manis tangan kanan wanita itu sudah polos.  Daniel baru menyadari kalau wanita itu tidak memakai cincin kawinnya.


“Ternyata kamu lebih cerdik dari aku, Qiandra, sebegitu besar keinginanmu untuk kembali padanya hingga kamu nekat melakukan hal ini” desis Daniel dengan hati yang kembali terasa pedih.


Daniel kembali menatap wajah wanita itu dengan sendu, “Apakah memang sekarang saatnya aku harus melepaskan dirimu, Qiandra” desisnya dalam hati.


Daniel akhirnya kembali menutup tangan wanita itu dengan selimut, dan dengan lembut dikecupnya kening wanita itu.  Dalam dan lama kecupan itu melekat di kening Qiandra tanpa wanita itu menyadarinya.  Daniel baru melepas kecupannya di kening wanita itu saat dia merasa air matanya hampir tidak tertahankan lagi.  Sedih  dan sakit itu terasa begitu merejam hati dada presidir tampan itu.


Daniel merasakan phonselnya kembali bergetar, saat dia melihat ternyata Don, kepala bodyguardnya yang menghubungi dirinya.  Daniel segera berdiri dan melangkah menuju keluar ke arah balkon dan menutup pintu dibelakangnya.


“Ada apa, Don” tanya Daniel dengan suara yang tersendat karena sedang berusaha mengatasi kesedihan dalam dadanya.


“Tuan, ternyata memang benar dokter itu yang menyampaikan info kepada mereka dengan memberikan bukti foto cincin kawin milik Nona Qiandra” ucap Don memberikan laporan.


“Hem, ya sudah biarkan saja Don” ucap Daniel dengan suara lemah.


“Tuan, sebaiknya kita segera menyingkir  dan bersembunyi sebelum tim mereka tiba disini.  Karena dari informasi yang saya dapatkan, mereka sudah mengerahkan tim untuk melacak keberadaan kita” ucap Don lagi.


Daniel menarik nafas berat, dia berbalik dan menatap wajah Qiandra yang kebetulan sedang berbalik ke arahnya walau masih terpejam.  Wajah pucat wanita itu terlihat begitu menderita dan membuat hati Daniel kembali teriris dan nyeri.

__ADS_1


“Pergilah kalian semua, Don, kosongkan pulau dan tinggalkan kami berdua disini” ucap Daniel dengan suara lemah memberikan perintah pada kepala bodyguardnya itu.


“Tapi, Tuan ......” seru Don yang terkejut mendengar Daniel memintanya meninggalkan laki laki itu sendirian bersama dengan Qiandra di pulau itu.


__ADS_2