
Dean keluar dari kamarnya dengan wajah yang terlihat lebih cerah membuat kedua sahabatnya sedikit mengernyitkan kening. “Apa ada informasi yang bisa kamu bagi untuk kami” tanya dokter Albert. Rasa
penasaran membuatnya tidak sabar menunggu Dean memberikan penjelasan.
“Qiqi baik baik saja, dia hanya meminta waktu padaku untuk bisa menyendiri, mungkin keinginan baby, dia berjanji akan segera pulang jika dia sudah merasa ingin pulang” sahut Dean dengan santai. Namun hal itu justru membuat kedua sahabatnya semakin merasa heran. Bagaimana tidak, Dean tidak akan bisa bersikap setenang itu jika berpisah dengan Qiandra, sekalipun itu atas keinginan Qiandra sendiri. Dean pasti akan melakukan segala cara untuk bisa menemui dan tinggal
bersama dengan wanita cantik itu.
“Bagaimana dengan Tuan Dika, apa benar Qiandra sekarang sedang bersama dengan Tuan Dika” tanya asisten Vian pula.
“Ya, Qiandra memang tinggal bersama Dika yang ternyata memang kakak kandungnya” sahut Dean.
“Astaga, bagaimana Qiqi bisa menghadapi hal itu, bukankah Dika adalah laki laki yang telah menjebak Qiqi sehingga ……” kata kata dokter
Albert seketika terhenti saat melihat tatapan horror dari Dean.
“Apapun yang terjadi di masa lalu, semua itu terjadi saat mereka berdua tidak saling mengetahui kalau mereka berdua bersaudara. Ah, sudahlah, sekarang kalian pergilah beristirahat dulu, setidaknya saat ini kita sudah tahu bahwa Qiqi baik baik saja” ucap Dean lagi.
“Apa Anda yakin, Tuan” tanya asisten Vian yang masih merasa ragu.
“Sangat, Vian, jangan ragukan kepercayaanku pada Qiqi, sekarang pergilah beristirahat atau lanjutkan pekerjaan di kantor. Aku juga ingin beristirahat dulu, saat ini aku baru merasa benar benar lelah” sahut Dean seraya menggerakkan lehernya dan mereganggkan badannya.
Asisten Vian dan dokter Albert tidak bisa mengajukan pertanyaan lagi, karena Dean sudah melangkah meninggalkan keduanya. Akhirnya, dokter Albert hanya bisa mengangkat kedua bahunya pasrah, “Kita ikuti saja permainannya, aku yakin ada yang
disembunyikan, tapi jika Dean memilih menyelesaikannya sendiri, maka biarkan
saja” ucapnya pada asisten Vian.
“Tapi aku mengkhawatirkan keselamatannya, kamu sendiri tahu kondisi saat ini sangat rawan” sahut asisten Vian.
“Percayalah, dia tahu apa yang dilakukannya” ucap dokter Albert seraya berdiri dan melangkah meninggalkan asisten Vian. Asisten Vian sejenak terpekur, namun pada
akhirnya dia memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah mematikan
__ADS_1
semua perangkat di dalam ruangan itu.
Dean yang ternyata masih ada didekat ruangan itu namun bersembunyi di balik tiang menatap kepergian kedua sahabatnya itu.
“"Maafkan aku, aku tidak tahu ada apa dengan Qiqi, tapi untuk saat ini aku tidak punya pilihan lain selain mempercayai istriku sendiri” desis Dean dalam hati lalu dia pun melangkah kembali menuju kamarnya.
Saat malam tiba, Dean benar benar telah mempersiapkan dirinya dengan sebuah tas ransel di punggungnya. Laki laki tampan itu menyelinap keluar dari mansion mewah itu tanpa diketahui oleh siapa pun. Dean melewati jalan pintas yang ada di belakang mansion yang membawanya menuju ke jalan raya besar. Disini dia berdiri sejenak dan memanggil taksi yang melintas di hadapannya.
Dean tidak meminta taksi berhenti di butik tempat dia akan bertemu Dika, melainkan di sebuah komplek pertokoan yang tidak jauh dari butik itu. Dean pergi ke toilet umum dan
segera mengganti penampilannya dengan perlengkapan yang sudah disediakannya
dalam tas ranselnya. Setelah merasa
penyamarannya cukup sempurna, Dean keluar dari toilet itu dan melangkah menuju ke arah butik X tempat dia akan menemui Dika.
Saat Dean tiba di halaman butik itu, dia melihat sebuah mobil yang ada di pojok butik itu di tempat yang sedikit tersembunyi. Dean melangkah perlahan menuju mobil itu dan
setelah memastikan plat mobil itu sama dengan yang disebutkan Qiandra, Dean
“Kamu pikir aku sopirmu, maka kamu duduk di belakang hah” sebuah suara yang cukup familiar menyambut Dean saat baru saja dia duduk dan bahkan belum sempat menutup pintu mobil. Sejenak Dean mengernyitkan keningnya, namun dia tanpa banyak berkata,
presidir tampan itu segera keluar dan membuka pintu di samping sopir.
Saat Dean sudah duduk di samping sopir yang tak lain dari Dika, Dean sedikit menundukkan kepalanya, “Maafkan kelancanganku, Kakak Ipar, aku tidak menyangka kalau kakak sendiri yang akan menjemputku” ucapnya dengan suara rendah.
“Heh, aku belum tentu menerimamu, pernikahan kalian bisa saja batal, jika aku menginginkannya” ucap Dika sambil mulai melajukan mobil kecil yang terlihat sedikit butut itu meninggalkan halaman butik.
“Semoga kakak tidak pernah memikirkan hal itu, setidaknya tolong pertimbangkan nasib anak kami yang saat ini dikandung oleh Qiqi” masih Dean berbicara dengan nada merendah. Dika yang mendengar ucapan Dean sedikit terkejut, karena sang presidir
itu benar benar tidak menunjukkan arogansinya sama sekali.
“Kamu pikir aku akan tertipu, jangan lupa aku sudah lama berhadapan denganmu dan aku sangat tahu bagaimana karakter dirimu. Jangan coba mengecohku dengan berpura pura bersikap merendahkan dirimu” ketus kata kata Dika yang berusaha untuk terus
__ADS_1
memancing amarah Dean.
Dean tersenyum mendengar kata kata Dika yang sama sekali tidak menghargai dirinya. Padahal biasanya, Dean lah yang selalu bersikap arogan sementara Dika selalu bersikap ramah dan sangat sopan. “Maafkanlah sikapku selama ini, Kak, namun aku rasa kakak sendiri tahu bagaimana kita harus bersikap menghadapi semua orang di luar sana. Semuanya akan sangat jauh berbeda saat kita berhadapan dengan keluarga, dan aku juga merasa kalau sikap kakak yang sekarang ini jauh berbeda dengan
keseharian kakak” sahutnya dengan tetap bersikap tenang.
Dika terdiam mendengar kata kata Dean, karena dia juga mengakui kalau apa yang dikatakan oleh Dean itu benar adanya. Sangat sulit untuk bersikap ramah dengan
semua orang di luar sana, apalagi dalam jabatan yang mereka pegang. Karena akan sangat banyak orang yang akan
memanfaatkan sikap tersebut.
“Aku harap kamu bisa bersikap bijak, terhadap apapun yang akan di sampaikan oleh Feli nanti” ucap Dika setelah mereka terdiam cukup lama.
“Feli?, maksud kakak Feli siapa?” tanya Dean yang kebingungan mendengar kata kata Dika.
“Ah, sepertinya Feli belum menyampaikan jati dirinya yang sebenarnya, Feli adalah Qiandra, kamu akan mendengar sendiri semuanya langsung dari istrimu itu. Dan ingat, jika kamu membuat keputusan yang akan menyakiti dirinya, jangan mengatakan langsung padanya, sayangi anak kalian, walau mungkin kamu tidak bisa menerima Feli”
jelas Dika.
“Apa maksud kakak? Seberat itukah masalahnya?” tanya Dean semakin merasa kebingungan. Dean merasa semakin penasaran, baru saja dia dikejutkan dengan nama lain istrinya, sekarang ada ancaman secara tidak langsung dari sang kakak ipar.
“Jika kamu memutuskan meninggalkan Feli, aku tidak akan memaksamu untuk bertahan, karena kamu tahu aku juga punya calon yang masih terus menantikan adikku hingga saat ini. Jadi, pikirkan baik baik semua keputusanmu, karena sekali kamu membuat
keputusan untuk meninggalkan Feli maka kamu tidak akan punya lagi kesempatan
untuk bertemu dengannya seumur hidupmu” kembali Dika memperingatkan Dean saat
mereka memasuki sebuah gerbang kusam.
“Aku tidak akan pernah meninggalkan Qiqi, apapun yang menjadi masalahnya” sahut Dean dengan tegas. Dean berusaha menahan amarahnya saat mendengar Dika merencanakan untuk mengganti dirinya dengan laki laki lain. Dean sangat tahu siapa orang yang dimaksud oleh Dika.
“Aku tidak berharap banyak padamu, Tuan Dean” sarkas Dika sesaat sebelum dia menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil itu.
__ADS_1
Sejenak Dean tertegun melihat mansion mewah dimana mereka berhenti, “Sampai kapanpun kami tidak bisa menemukan Qiqi jika dia disembunyikan dibalik gerbang kusam itu. Bagaimana bisa Dika memiliki tempat seperti ini” bisik hati Dean yang
sesaat terdiam karena kekagumannya pada mansion Dika.