
Di tempat lain, Dean yang baru bangun tidur merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia berusaha mengingat semua yang telah terjadi, dan saat dia mengingat Qiandra, hatinya kembali terasa pedih.
“Kamu hanya sesaat hadir dihidupku, Qiqi, tapi pesonamu mengakar begitu kuat dalam jantungku, kehilanganmu terasa jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan ja*ang itu. Aku sadar, aku masih tidak berhak apa-apa atasmu, tapi melihat kenyataan sifatmu seperti itu benar-benar melukai hatiku” gumam Dean.
Tanpa disadarinya, air mata mengalir di sudut mata laki-laki tampan itu. Dean mendesah berat, dia memejamkan matanya dan mengacak rambutnya dengan frustasi. Pintu kamar Dean terbuka, dan dia melihat kedua sahabatnya masuk membawa makanan untuknya.
“Bagaimana keadaanmu, Dean” tanya dokter Albert seraya menghampiri Dean, dia meraba kening sahabtnya itu. Dokter Albert menyadari kalau Dean baru saja menangis, dia bisa melihat jejak airmata di sudut mata laki-laki itu.
“Buruk” desis Dean seraya kembali menutup matanya.
“Sebaiknya kamu membersihkan diri dulu, ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu” ucap dokter Albert.
“Al, aku sedang tidak ingin membicarakan apapun” sahut Dean dengan lemah, dia malah menarik selimutnya dan menutup kepalanya.
“Termasuk tentang Qiandra” tanya dokter Albert, membuat Dean segera membuka selimutnya.
“Maksudmu, apa” tanya Dean yang terkejut mendengar nama wanita yang sangat dirindukannya itu.
“Pergilah membersihkan dirimu dulu, kamu tidak akan bisa berpikir jernih dalam keadaan seperti ini” sahut dokter Albert.
Dean segera keluar dari selimutnya, “Awas saja jika kamu membohongiku” serunya seraya melangkah menuju kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, Dean segera mendekati kedua sahabatnya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga.
“Katakan, ada apa dengan Qiandra” ucap Dean saat dia sudah bergabung dengan kedua sahabatnya itu.
“Kita sarapan dulu” sahut dokter Albert.
Dean mendengus kesal, dia tahu sahabatnya itu tidak akan mau mengalah kalau sudah menyangkut masalah kesehatan. Akhirnya mereka bertiga menikmati sarapan pagi itu dalam diam.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya, Dean kembali bertanya pada dokter Albert, “Sekarang katakan, ada apa dengan Qiandra, jangan mengulur waktu lagi” serunya dengan tidak sabar.
“Sebelumnya, aku dan Vian minta maaf, kami semalam terpaksa melihat isi phonselmu dan video itu” ucap dokter Albert.
“Sudahlah, tak perlu basa-basi, katakan saja intinya” seru Dean.
__ADS_1
“Hmm, baiklah, aku sudah melihat video itu, dan aku memperhatikannya dengan teliti. Berdasarkan pengamatanku, besar kemungkinan Nona Qiandra dijebak” ucap dokter Albert dengan yakin.
“Maksudmu?” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Kemungkinan Nona Qiandra diberi obat perangsang, dan saat obat itu sudah bereaksi membuat dia kehilangan kontrol dirinya, barulah Daniel masuk seolah-olah dia tidak tahu apa-apa. Kamu bisa pikirkan sendiri, untuk apa Daniel membawa Qiandra ke villa itu kalau bukan dengan sebuah rencana licik. Aku yakin, Daniel sudah mengetahui kedekatan kamu dan Nona Qiandra, dan hal itu membuatnya panik sehingga nekat melakukan hal seperti itu” ucap dokter Albert panjang lebar.
Dean terkejut mendengar penjelasan dokter Albert, “Tapi di video itu, jelas terdengar kalau Daniel menolak dan mengingatkan Qiandra” ucapnya pelan.
“Heh, tentu saja dia bisa berpura-pura seperti itu karena dia memang ingin mengirimkan video ini untukmu, sementara Qiandra, dia sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukannya, semuanya berada di luar kendalinya” sahut dokter Albert.
Dean kembali termenung dan berpikir selama beberapa detik, hingga tiba-tiba dia berdiri dan segera berlari keluar dari kamarnya, “Cepat, kita harus ke mansion” serunya pada kedua sahabatnya.
Dokter Albert dan Asisten Vian segera bergegas menyusul Dean yang sudah keluar dari apartemen mewah itu. Untungnya mereka sempat menahan lift yang akan membawa mereka turun ke basemen. “Biar aku yang membawa mobilnya” seru asisten Vian, seraya masuk kedalam mobil mewah Dean.
Mobil itu langsung melesat dengan cepat meninggalkan apartemen mewah itu, dokter Aklbert membuka percakapan mereka, “Sebenarnya ada apa Dean, mengapa kamu terlihat begitu panik” tanyanya pada Dean.
“Aku terlalu emosi tadi malam, sehingga aku mengirim pesan bahkan rekaman suara dengan kata-kata kasar dan memaki Qiandra, aku benar-benar lepas kontrol” ucap Dean dengan jujur pada kedua sahabatnya. Mereka bertiga memang selalu terbuka tentang segala hal, sehingga persahabatan mereka terjalin bahkan lebih dari ikatan persaudaraan.
“Astaga, ini akan sulit, Dean” seru dokter Albert.
“Jika dugaanku benar, Nona Qiandra dijebak oleh Daniel, maka dia akan sangat terpukul saat menyadari semuanya, yah, walaupun dia tidak kehilangan kehormatannya seperti seorang gadis, tapi bagi seorang wanita yang begitu menjunjung tinggi sebuah kehormatan, kejadian ini pasti menjadi pukulan berat baginya. Dan saat seperti itu, seorang wanita pasti mengharapkan tempat untuk bersandar” ucap dokter Albert, kemudian dia menarik nafas berat.
“Dan saat dia ingi bersandar padaku, aku malah……” Dean menutup matanya seraya mengacak rambutnya dengan frustasi, “Kur*ng aj*r kamu Daniel, sampai hati kamu melakukan ini pada wanita terhormat seperti Qiandra. Dan, astaga mengapa aku begitu bodoh dan begitu mudah percaya pada video jaha*am itu” sarkasnya lagi dengan penuh penyesalan.
“Tapi, apa dia sudah membuka pesanmu itu” tanya asisten Vian membuat Dean segera meraih phonselnya. Dan saat dia membukanya, dia kembali tertunduk lesu, karena ternyata pesannya tidak hanya sudah dibaca oleh Qiandra, pesan itu bahkan dibalas Qiandra dengan sebuah ucapan terima kasih.
Dokter Albert yang melihat juga pesan itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Haish, ini tidak akan mudah, Dean, aku tak yakin Nona Qiandra masih ada di mansionmu sekarang” ucapnya.
Dean hanya bisa memejamkan matanya, dalam hati dia terus berdoa, berharap masih sempat bertemu dengan Qiandra. Walaupun, Dean mengakui kalau apa yang dikatakan oleh dokter Albert itu benar adanya.
Dean kembali meraih phonselnya dan berusaha menghubungi Qiandra, namun nomor Qiandra selalu tidak aktif. Dean tidak putus asa, dia mengirimkan puluhan pesan permohonan maaf dan keinginannya untuk bertemu dengan Qiandra. Namun, semua pesan itu sama sekali tidak dibuka oleh Qiandra.
Saat mobil mewah itu tiba di mansion Dean yang ada di tepi pantai, Dean segera meloncat keluar dan berlari menuju ke kamar utama tempat Qiandra berada. Di kamar itu, Dean tidak menemukan apa-apa, sama sekali tidak ada jejak Qiandra.
__ADS_1
Dean kembali berlari kelantai bawah, dia mencari Bik Sum dan Mang Ijal, namun dia kembali tidak menemukan kedua orang itu. Saat itu, penjaga gerbang mansion itu masuk kedalam dan menyerahkan sebuah paket untuk Dean.
“Apa ini” tanya Dean.
“Entahlah, Tuan tapi alamatnya ditujukan pada Anda” sahut penjaga itu.
“Hei, dimana Bik Sum dan Mang Ijal” tanya Dean pada penjaga itu,
“Saya hanya melihat mereka bertiga keluar tadi malam, Tuan, tak lama setelah Nona Qiandra diantar oleh sebuah mobil mewah. Mereka bertiga pergi dengan sebuah taksi, saat malam sudah sangat larut, dan mereka hanya membawa sebuah tas berkas saja” sahut penjaga itu menceritakan keadaan semalam.
“Apa mereka tidak mengatakan apapun” tanya Dean lagi.
“Tidak, Tuan, tapi sepertinya Nona Qiandra sedang dalam masalah berat” sahut penjaga itu lagi.
“Apa maksudmu” kali ini dokter Albert yang bertanya.
“Saat turun dari mobil mewah yang mengantarnya, saya melihat Nona Qiandra berjalan seperti robot, Nona Qiandra bahkan tidak memperdulikan saya dan Mang Ijal yang sedang duduk di pos jaga. Mang Ijal yang melihat hal itu, segera menemui Bik Sum, setelah itu Mang Ijal kembali bergabung dengan saya di pos jaga. Tak berselang lama, Bik Sum datang dan menyuruh Mang Ijal mencari taksi, dan baru saja taksinya datang, Nona Qiandra keluar dan langsung masuk kedalam taksi itu diikuti oleh Bik Sum dan Mang Ijal” penjaga itu menjelaskan dengan panjang lebar.
Dean yang mendengar penjelasan penjaga itu, langsung duduk dengan lemas, ternyata semua dugaan dokter Albert benar adanya. Qiandra tetap pulang ke mansion dengan harapan bisa bersandar dan berbagi dengan Dean. Namun sayangnya, yang Qiandra dapatkan justru cacian dan makian dari Dean.
Namun, sejurus kemudian, Dean segera berdiri, “Aku akan mencari Qiandra di kantornya” serunya.
Asisten Vian berlari mengejar Dean dan menahan langkahnya, “Jangan lakukan itu, Dean, kamu akan semakin memperkeruh keadaan. Apa kamu lupa, Qiandra bekerja pada laki-laki yang telah menjebaknya itu, aku rasa laki-laki itu tidak akan melepaskan Qiandra, dia pasti akan terus membujuk Qiandra untuk memaafkannya” ucap asisten Vian.
“Vian benar, Dean, kalau kamu kesana, kamu pasti akan bertemu Daniel, dan aku tak yakin kalian berdua bisa mengontrol emosi kalian. Dan jika sampai terjadi keributan, tidak hanya kalian berdua yang akan menanggung imbasnya, tapi Nona Qiandra yang akan paling banyak dihujat” dokter Albert membenarkan pendapat asisten Vian.
“Jadi, apa aku harus berdiam diri saja” sarkas Dean.
“Tenanglah dulu, Dean, kita mencoba mencari celah untuk bisa menemui Nona Qiandra, tapi bukan di kantornya” sahut dokter Albert, dia menuntun Dean kembali masuk ke dalam mansion.
“Saya akan memerintahkan beberapa orang untuk mengamati PT. Mahardika dan mengawasi Nona Qiandra, Tuan” ucap asisten Vian.
“Hmmm, baiklah, aku tunggu laporanmu, Vian” desah Dean dengan suara lemah. Kemudian Dean meraih paket yang tadi diantar oleh penjaga gerbang mansionnya. Dan betapa terkejutnya Dean saat melihat isi paket itu ternyata gaun yang dipakai Qiandra kemaren, bahkan lengkap dengan pakaian dalam, yang semuanya memang disediakan oleh Dean.
__ADS_1
Dean memeluk gaun itu, “Semoga kamu masih mau memaafkan aku, Qi” desah Dean dengan penuh penyesalan. Asisten Vian dan dokter Albert hanya bisa saling menatap dan menggedikkan bahu mereka.