
Selamat menyongsong tahun baru
Tahun 2022 buat semua readers kesayangan
Semoga di tahun yang baru kita semua belah meraih harapan dan impian kita 🙏🙏
Tetap semangat, salam sehat dan jangan lupa terus dukung author ya dengan
Koment
Vote
Like
Dan terima kasih buat semua yang sudah mendukung author...
Happy New Year 2022🎉🎉🎉🎉
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=*******\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Penantian dan kesabaran keempat laki-laki itu ternyata tidak sia-sia. Perlahan-lahan mulut Qiandra mulai terbuka dan mulai bercerita "Hari itu, aku dan Charles akan pergi memeriksakan kandunganku.......
Flash back lima tahun yang lalu.
"Kak, pergi saja ke kantor jangan khawatirkan aku, aku bisa kok memeriksakan kandunganku sendirian" Qiandra bergelayut dengan manja di lengan Charles.
"Hey, Nyonya, lihatlah dirimu, bagaimana bisa kamu sudah mau punya bayi tapi masih seperti anak-anak saja, bagaimana aku bisa mempercayaimu pergi sendirian" kekeh Charles sambil mengacak rambut Qiandra dengan lembut.
"Ih, Kakak aja yang tidak pernah mau mempercayai aku, dulu kan aku selalu melakukan segala sesuatunya sendiri, aku bisa kok" Qiandra menyahut dengan wajah merengut manja.
"Itu dulu, Qi, tapi sekarang sudah berbeda, saat kamu sudah bersamaku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian, sekalipun nyawaku dicabut dari tubuhku, aku akan tetap bersama denganmu, hingga ada orang yang bisa menjagamu lagi" ucap Charles dengan memegang kedua bahu Qiandra, membuat wanita itu terkejut mendengar kata-kata suaminya itu.
"Kakak apaan sich, jangan bicara seperti itu, Kakak tahu, tidak ada yang bisa menggantikan posisi kakak di hatiku, sampai kapanpun" sahut Qiandra, entah mengapa tiba-tiba perasaannya mejadi gelisah mendengar kata-kata Charles.
"Qi, kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita di depan, yang bisa kita lakukan adalah menjalani dengan setulus hati dan jangan lupa untuk bersyukur selalu" Charles berkata dengan lemvut, jemarinya menggenggam tangan Qiandra dengan erat.
"Iya, iya, sudah ah, jangan membicarakan hal-hal yang membuat hati jadi khawatir dong Kak, baiklah kalau kakak memang mau mengantar aku, tunggu sebentar ya aku akan bersiap-siap dulu" Qiandra merasa semakin tidak enak saat mendengar kata-kata Charles.
Charles hanya tersenyum melihat istrinya itu, "Pergilah, aku akan menunggumu di depan" ucapnya seraya mendorong tubuh Qiandra dengan perlahan menuju ke arah kamar mereka. Qiandra segera melangkah menuju kamar mereka berdua untuk mempersiapkan dirinya.
Saat di kamar, Qiandra tiba-tiba merasakan kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa. Dadanya berdebar dengan kencang, bahkan keringat dingin perlahan keluar di pelipisnya. Qiandra segera melangkah dan duduk di tempat tidur besar yang ada di tengah kamar mereka, dia berusaha menenangkan perasaannya.
Hingga beberapa saat berlalu, Qiandra belum mampu menenangkan hatinya. Dia meraba perutnya dengan penuh kasih "Ada apa ini, mengapa perasaanku begitu gelisah, aku tidak pernah merasa seperti ini. Nak, apa kamu baik-baik saja, mamah mohon Nak, jangan membuat mamah khawatir" Qiandra berbisik dalam hatinya, dengan tangannya terus membelai perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Tanpa sadar Qiandra telah berdiam diri dalam kamar selama hampir tiga puluh menit, suara Charles yang masuk ke dalam kamar benar-benar mengejutkan Qiandra. "Qiqi, apa kamu baik-baik saja" tanya Charles dengan wajah khawatir dia mendekati istrinya yang terlihat masih duduk di tempat tidur mereka.
"Aku.....aku baik-baik saja, Kak" sahut Qiandra dengan gugup karena dia benar-benar terkejut. "Kak, bisakah kita membatalkan pemeriksaan hari ini" tanya Qiandra tiba-tiba membuat Charles mengernyitkan keningnya.
"Ada apa, hmmm, apa ada sesuatu yang kamu inginkan" tanya Charles dengan lembut, tangannya terulur membelai pipi istrinya dengan penuh kasih. Qiandra segera memeluk tubuh suaminya dan menenggelamkan wajahnya di dada Charles.
"Aku.....aku hanya ingin bersama dengan Kakak di kamar saja hari ini" ucap Qiandra berusaha menutupi kegelisahan hatinya. Charles tersenyum mendengar kata-kata Qiandra, perlahan dia mengangkat wajah cantik wanita yang sangat dicintainya itu.
"Qiqi, sayang, bukankah seharian kemarin kita sudah bersama, lagi pula, beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk, hari ini aku benar-benar sudah meminta untuk mengosongkan jadualku, agar aku bisa menemanimu. Nanti setelah dari klinik, aku janji akan selalu bersama denganmu" ucap Charles dengan lembut.
"Kakak, bagaimana kakak bisa selalu bersama denganku, bukannya kakak harus bekerja" tanya Qiandra yang kembali merasa kata-kata Charles sedikit aneh.
"Maksudku, hari ini aku tidak akan ke kantor lagi, aku akan menemanimu saja, tapi sekarang, kita harus segera ke klinik, bukankah kamu sudah membuat janji, hmm" tanya Charles lagi.
"Tapi, Kak" Qiandra semakin merasakan kegelisahan dalam hatinya.
"Ssssttt, ayo sekarang bersiaplah, atau perlu aku bantu untuk mempersiapkan dirimu" tanya Charles dengan mata mengerling nakal pada istrinya.
"Haish, Kakak.." seru Qiandra dengan wajah merona merah, dia merasa malu kalau sampai Charles membantunya mengganti pakaiannya.
"Ha ha ha, ya sudah, sekarang bersiaplah, supaya kita bisa segera berangkat" tawa renyah Charles membuat Qiandra sedikit merasa tenang.
Walaupun sangat berat, akhirnya Qiandra terpaksa mengikuti kemauan suaminya dan mempersiapkan dirinya untuk berangkat menuju ke klinik tempat Qiandra biasa memeriksakan kandungannya.
Qiandra keluar dari kamar mereka dan berpapasan dengan ibu mertuanya, "Mau kemana kamu" seru Mama Reni, mertua Qiandra.
"Dasar manja, kamu pikir Charles tidak punya pekerjaan, ya, sampai-sampai kamu harus memintanya mengantarmu ke klinik, memangnya kamu tidak bisa pergi sendiri" seru Mama Reni, dia menatap Qiandra dengan tatapan sinis.
"Aku sudah meminta Kak Charles untuk tidak mengantaku, Mah, tapi dia tidak mau dan tetap memaksa untuk mengantar aku" ucap Qiandra dengan pelan berusaha menjelaskan pada mertuanya, walaupun dia tahu itu hanya sia-sia saja.
"Alasan, memang kamu tidak becus, makanya Charles tidak mempercayaimu, jangan pikir itu karena dia menyayangimu, itu hanya karena dia memikirkan anaknya" seru Mama Reni masih dengan sinis dan tajam.
"Maaf, Mah, aku permisi dulu, Kak Charles sudah menungguku" ucap Qiandra dia segera berlalu dari hadapan ibu mertuanya itu.
Qiandra tidak ingin berdebat dengan mama Reni, karena dia tahu dia tidak akan pernah menang, dan pada akhirnya dia harus menahan hatinya mendengar penghinaan dari Mama Reni.
"Dasar menantu kur*ng a*ar, orang tua belum selesai bicara, dia malah sudah pergi begitu saja, awas saja nanti kalau anaknya sudah lahir, aku yakin Charles pasti akan mengusirnya" dengus Mama Reni dengan wajah kesal.
Qiandra masih bisa mendengar kata-kata Mama Reni saat dia melangkah menyusul Charles, ada perih dalam hatinya. "Hah, sampai kapan mereka bisa menerima aku seperti Kak Charles menerima aku, apa sebegitu hinanya kah aku di mata mereka" desahnya dalam hati.
"Hei.hei, Nyonya, apa yang kamu pikirkan, sampai hampir melewati suamimu sendiri" tiba-tiba Charles mengejutkan Qiandra yang melangkah sambil melamun.
"Ish, Kak Charles, membuat aku kaget dech" keluh Qiandra, Charles tersenyum, dia langsung menggandeng tangan istrinya.
__ADS_1
"Ada apa, hmmm, pasti mamah lagi ya, aku melihatnya masuk tadi" ucap Charles dengan lembut pada Qiandra.
"Ah, tidak, Kak, tidak apa-apa kok, Mamah tidak bicara macam-macam, aku hanya sedang memikirkan apa dokter di klinik tidak marah kalau kita terlambat" ucap Qiandra, dia memang tidak ingin suaminya bersedih memikirkan keadaan keluarganya yang masih belum bisa menerima Qiandra.
"Kamu tidak pandai berbohong, Qi, lihatlah matamu itu, mata yang selalu jujur padaku, tapi ya sudahlah. Aku harap kamu bisa bersabar menghadapi mereka, Qi, semoga saja suatu saat kelak mereka bisa menerima kamu" ucap Charles sambil merengkuh pinggang istrinya dan menuntunnya menuju mobil mewah yang sudah terparkir di depan mansion mereka.
Qiandra hanya mendesah sesaat, dia berharap, sangat berharap keluarga Charles bisa menerima dirinya. Qiandra sangat sadar siapa dirinya, dan sejak awal dia sudah mengingatkan Charles, tapi laki-laki itu tidak pernah perduli. Charles sangat mencintai Qiandra, dan dia tidak perduli akan masa lalu wanita itu, juga keluarganya yang menentang keinginannya untuk menikahi Qiandra.
"Hei, Qi, mau sampai kapan kita berdiri disini, ayo masuklah" ucap Charles sambil menyentuh lembut bahu Qiandra yang sedang tenggelam dalam lamunannya. Qiandra terkejut mendengar teguran Charles, lalu dia tersenyum pada suaminya.
"Maaf, Kak, ayo kita berangkat" ucap Qiandra, lalu dia masuk ke dalam mobil, sementara Charles menutup pintu mobil setelah Qiandra masuk, lalu berlari kecil dan duduk di kursi pengemudi. Charles memang tidak pernah menggunakan sopir, dia lebih suka membawa mobilnya sendiri.
Mobil itu keluar perlahan dari gerbang mansion mewah tempat Charles dan Qiandra tinggal. Mobil bergerak dengan kecepatan sedang memecah jalanan yang sedang lengang. Sepasang sejoli yang sedang berbahagia di dalam mobil mewah itu, terus berbicara dengan santai sambil menikmati perjalanan mereka.
"Kak, kalau boleh tahu, kakak mau punya anak laki-laki atau perempuan" tanya Qiandra sambil menatap wajah suaminya yang semakin hari terlihat semakin tampan di matanya.
"Sudah kubilang, buat aku tidak masalah, laki-laki atau perempuan, yang pasti aku akan selalu menjaganya dan akan selalu bersamanya" sahut Charles, sesekali matanya menatap wajah cantik istrinya, sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya.
"Mana bisa Kakak selalu bersamanya, kakak kan harus bekerja, aku lah yang akan selalu bersamanya, dan aku tidak mau memakai jasa pengasuh bayi, aku akan merawatnya sendiri" sahut Qiandra dengan wajah bahagia.
"Tentu saja kamu tidak memerlukan jasa pengasuh bayi, karena anakku pasti anak pintar dan dia pasti tidak akan mau membuat momynya kerepotan, aku yakin dia pasti akan selalu ingin bersamaku" Charles berbicara dengan senyum merekah dibibirnya.
Qiandra tersenyum mendengar kata-kata Charles, tapi entah mengapa tiba-tiba hatinya kembali gelisah. Dia merasa kata-kata Charles seolah bermakna lain, namun, wanita itu berusaha membuang pikiran buruknya. Qiandra bergerak dengan gelisah, berusaha menenangkan hatinya, bahkan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
"Ada apa, Qi, kenapa kamu berkeringat, apa pendinginnya masih kurang, aky akan menambahnya lagi" tanya Charles yang heran melihat sikap Qiandra.
Qiandra menggeleng lemah, dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada suaminya itu, "Tidak, tidak apa-apa, Kak, fokus saja ke depan, dan tetaplah berhati-hati" ucap Qiandra berusaha menutupi kegelisahaannya.
"Hei, pastilah aku berhati-hati, Qi, aku membawa dua harta terbesar dalam hidupku, bagiku, apapun yang terjadi lebih baik aku kehilangan nyawaku sendiri daripada aku harus merasakan kehilangan kalian berdua" ucap Charles, dia benar-benar merasa heran dengan sikap Qiandra.
"Sudah, Kak, jangan lagi membicarakan hal seperti itu" seru Qiandra dengan sedikit keras. Entah mengapa, hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit saat mendengar ucapan Charles. Tanpa sadar Qiandra berbicara dengan sedikit berteriak pada suaminya.
Sementara, Charles semakin terkejut karena mendengar suara Qiandra yang cukup keras.
"Oke, oke, aku janji tidak akan pernah membicarakan hal yang kamu tidak sukai lagi, Qi" Charles meraih tangan Qiandra dan menggenggamnya dengan erat, "Maafkan, aku ya" lanjutnya lagi. Dia sungguh tidak tega melihat wajah cemas dan gelisah Qiandra saat ini.
Qiandra hanya terdiam dan tidak menanggapi kata-kata Charles, dia menatap keluar jendela mobil dan berusaha mencari-cari sesuatu yang dia sendiripun tidak tahu. Dia hanya merasa ada sesuatu di luar sana yang mungkin saja menjadi penyebab semua kegelisahannya saat ini.
Genggaman tangan Charles yang biasanya mampu menenangkan dirinya, entah mengapa kali ini terasa justru menyakitkan hatinya, hingga tanpa sadar ada bulir air mata mengalir di pipinya. Sakit yang teramat dalam membuatnya bahkn tidak mampu menghentikan air matanya.
Walaupun Qiandra tahu, Charles sangat tidak suka melihatnya menangis. Charles telah berjanji akan selalu membuatnya tersenyum, tapi kali ini, Qiandra sungguh tak mampu membendung rasa sakit juga sedih yang tiba-tiba mendera hatinya.
"Qi....." Charles terkejut melihat Qiandra menyeka matanya, dia memperlambar laju mobil mewah itu dan berusaha mencari tempat untuk berhenti, "Kumohon, jangan menangis lagi, aku...." belum sempat Charles menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba..
__ADS_1
Dor.... dor..
"Kak, Kak Charles kenapa kepalamu berdarah, astaga, Kak awassssss.......aaaaaa" Qiandra berteriak histeris saat mobil yang mereka pakai menabrak sebuah mobil lainnya yang entah bagaimana sudah ada di depan mobil mereka.