
“Aaaaaaa……” teriakan dalam kamar mandi
mewah itu membuat Dean yang masih setengah mengantuk segera meloncat turun dari tempat tidur mewahnya.
“Honey… Honey…. ada apa” seru Dean dengan
panik, dia mengetuk bahkan menggedor pintu kamar mandi. Dean tahu kalau Qiandra sedang membersihkan diri di kamar mandi, karena itulah dia sangat terkejut saat mendengar teriakan wanita itu.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Qiandra keluar dari kamar mandi dan melangkah melewati suaminya tanpa
menghiraukan wajah khawatir suaminya. Dean segera mengikuti langkah Qiandra, masih dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Qiandra masuk ke dalam ruang ganti dan
menbongkar pakaiannya seperti sedang mencari sesuatu. Dan saat dia menemukannya, dia segera kembali
melangkah menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan Dean yang benar-benar
kebingungan.
Saat Qiandra akan menutup pintu kamar
mandi, Dean menghalanginya, “Honey, sebenarnya ada apa, mengapa kamu terlihat
sangat aneh” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Nanti aku jawab, sekarang tolong biarkan
aku dulu” sahut Qiandra, dia mendorong dada suaminya dengan perlahan lalu kembali menutup pintu kamar mandi. Dean hanya bisa menghembuskan nafas dengan kesal, bagaimana bisa wanita itu tetap tenang setelah tadi mengeluarkan teriakan yang begitu mengejutkan.
Tidak berapa lama, Qiandra kembali keluar dari kamar mandi, namun kini wajahnya terlihat sendu. Sisa air mata masih telihat jelas di sudut matanya, dia hanya menunduk saat melihat sorot mata elang suaminya.
Dean kembali tekejut melihat wajah istrinya
yang terlihat bersedih, “Honey, ada apa” tanyanya dengan lembut, dia menuntun
Qiandra untuk duduk di sofa mewah yang ada di kamar mereka.
“Love, aku, aku datang bulan” desis Qiandra
dengan suara yang hampir tidak terdengar, namun seperti petir yang menyambar telinga Dean. Laki-laki itu menatap Qianda dengan intens, sebenanya dia juga merasakan kesedihan istrinya, namun dia sadar, dia tidak boleh memperlihatkan hal itu pada Qiandra.
“Astaga, Honey, kukira ada apa tadi, kamu
benar-benar mengejutkan aku, ternyata cuma datang bulan” sahut Dean dengan santai berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
“Tapi, Love, bukankah Kak Al bilang kalau
ada kemungkinan aku sedang hamil, tapi sekarang….” Qiandra tidak mampu
melanjutkan kata-katanya.
“Ya ampun, Honey, bukankah aku sudah bilang
jangan terlalu percaya pada kata-kata dokter jadi-jadian itu, dia pasti salah prediksi” sahut Dean masih dengan santai berusaha meyakinkan Qiandra kalau dugaan dokter Albert itu tidak benar. Padahal dalam hatinya, Dean sangat tahu kemampuan sahabatnya itu, dan dia sangat yakin kalau prediksi dokter Albert tidak akan keliru.
“Tapi, Love….” Qiandra masih merasa ragu
dengan kata-kata suaminya.
“Sudahlah, Honey, jangan terlalu dipikirkan, kalaupun itu benar, berarti Yang Kuasa belum mengijinkan kita memilikinya, mungkin saja kita perlu waktu lebih banyak lagi untuk bersama dan membuatnya” sahut Dean dengan senyum smirk.
Qiandra hanya terdiam, dia sangat tahu kalau suaminya sedang berusaha menghiburnya. Qiandra yakin kalau Dean pasti kecewa karena gagal memiliki anak, tapi laki-laki itu berusaha menutupinya. Walaupun bersedih, Qiandra tetap berusaha tersenyum berusaha menghargai usaha suaminya yang ingin menghiburnya.
Dean bangkit berdiri lalu melangkah mendekati Qiandra, dia merengkuh bahu wanita itu, “Satu-satunya yang membuatku sedih saat ini adalah bahwa aku harus berpuasa selama beberapa hari kedepan, haish, kamu tahu kan Honey, seberapa beratnya hal itu bagiku” ucapnya sambil terkekeh.
Qiandra membulatkan matanya menatap suaminya, “Love…..astaga, masa hanya beberapa hari saja kamu sudah merasa berat” desisnya sambil menggeleng tak percaya Dean mengucapkan kata-kata itu.
“Tentu saja, Honey, karena itulah aku tidak
pernah mau jauh darimu, aku tak tahan jika tidak bisa….” Dean tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena sudah dipotong oleh Qiandra.
__ADS_1
“Love, apa kamu akan terus mengobrol,
bukankah Kak Vian bilang kamu ada rapat penting pagi ini” ucapnya seraya berdiri dan melangkah menjauhi dari Dean, “Mandilah, Love, pakaianmu sudah aku siapkan, dan aku menunggumu untuk sarapan di bawah” lanjutnya lagi sebelum meninggalkan kamar utama.
Dean menatap kepergian istrinya dengan
tersenyum, namun saat pintu tertutup, wajahnya seketika berubah menjadi muram. Beberapa kali Dean menghembuskan nafas berat, seakan berusaha membuang beban di hatinya. Setelah merasa sedikit tenang, presidir tampan itu segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dia
tidak ingin Qiandra merasa khawatir jika dia tidak segera turun untuk sarapan.
Setelah sarapan selesai, Qiandra segera
membersihkan meja makan, sementara Dean mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke kantor. “Honey, aku sugguh berharap kamu mau ikut bersamaku ke kantor, aku tidak merasa tenang jika harus meninggalkanmu sendiri disini” ucap Dean sambil memeluk Qiandra dari belakang tubuh wanita itu.
Qiandra segera berbalik, dia menggantungkan
tangannya di leher suaminya, “Love, aku baik-baik saja disini, aku sudah terbiasa dengan tempat ini, jadi jangan khawatirkan aku. Pergilah bekerja, jangan sampai kamu tidak
mampu menghidupi istrimu ini” ucapnya dengan lembut pada laki-laki yang tak
bisa menyembunyikan keresahan hatinya.
“Tapi, Honey…..” Dean tetap bersikeras pada
keinginannya untuk membawa Qiandra ke kantornya.
“Bagaimana kalau aku pergi ke butik saja,
aku bisa menyibukkan diri disana, dan disana juga ada banyak karyawan bukan, bolehkan, Love” tanya Qiandra memotong kata-kata Dean. Qiandra tahu kalau Dean tidak akan membiarkan dirinya tinggal sendirian di pentha house mewah itu. Tapi, Qiandra juga tidak ingin mengganggu pekerjaan Dean dengan megikuti laki-laki itu pergi bekerja.
“Hah, baiklah, kurasa itu jauh lebih baik,
daripada aku membiarkan kamu sendirian di sini. Kalau begitu pergilah bersiap-siap, aku akan menunggumu” Dean akhinya mengalah pada keinginan istrinya.
“Love….” Qiandra ingin menolak keinginan Dean untuk mengantarnya ke butik, Qiandra lebih suka pergi sendiri, atau naik taksi saja. Qiandra tidak ingin mengganggu perjalanan suaminya, disamping itu, dia juga ingin menikmati
kesendiriannya dengan berkeliling kota itu sebentar.
Qiandra hanya bisa menarik nafas berat, lalu dia melangkah menuju kamar utama meninggalkan sang suami yang sedang
menunggu dirinya. Qiandra segera mengganti gaun yang dipakainya, dan sedikit merapikan riasan di wajah dan rambutnya. Semua dilakukan oleh wanita cantik ini dengan cepat, dia tidak ingin suaminya menunggu lebih lama lagi.
Saat turun ke lantai bawah, Qiandra sempat
melihat asisten Vian yang keluar dari pentha house mereka. “Love, kemana kak Vian, itu kak Vian kan” tanya Qiandra saat sudah berada di dekat Dean.
“Iya, aku menyuruh Vian menyiapkan dua
mobil, dia akan mengikuti dibelakang kita, dari butik aku akan pergi bersama dengannya” sahut Dean sambil mengulukan tangannya pada Qiandra. Qiandra segera meraih tangan suaminya dan mengikuti langkah laki-laki itu.
“Jadi, kamu akan meninggalkan mobilmu di
butik, Love” tanya Qiandra, dia merasa senang kalau suaminya mau meninggalkan
mobil di butiknya. Qiandra mulai menyusun berbagai rencana dalam otaknya.
“Betul, Honey, tapi jangan berpikir aku akan membiarkanmu memegang kunci mobil, aku hanya tidak ingin satu mobil dengan orang lain saat aku bersamamu” sahut Dean. Dean sangat tahu kalau istrinya pasti berharap bisa membawa mobil sendiri, tapi untuk saat ini, Dean tidak akan membiarkan Qiandra bepergian sendiri tanpa dirinya.
“Love…..” Qiandra merengut manja pada
suaminya, lalu dia memeluk lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar itu. Dia berusaha merayu suaminya agar mengijinkannya membawa mobil sendiri.
“Bagaimana pun kamu meminta, aku tidak akan
mengijinkan, Honey” sahut Dean dengan tegas. Dean lebih baik membuat wanita cantik itu kecewa, daripada harus membiarkan Qiandra berada dalam bahaya. Dean masih khawatir pada masa lalu Qiandra, karena masih belum ada kejelasan siapa sebenarnya yang menjadi tujuan dari pembunuhan yang sudah merenggut nyawa Charles.
Disamping itu, Dean juga mengkhawatirkan
kemarahan Risty pada dirinya dan Qiandra. Jika Dean bisa melindungi dirinya sendiri, dia tidak yakin dengan Qiandra. Karena sepengetahuan Dean, istrinya itu adalah wanita yang lemah, dan tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
Mereka berdua tiba debasement apartemen mewah itu, dimana asisten Vian sudah menunggu mereka berdua. Asisten Vian segera membukakan pintu mobil untuk Qiandra, “Silahkan Nyonya” ucapnya sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
“Terima kasih, Kak Vian, maaf jadi membuatmu repot” ucap Qiandra.
“Tidak masalah, Nyonya, sudah kewajiban saya” sahut asisten Vian dengan masih membungkukkan badannya, lalu laki-laki muda itu menutup pintu mobil dengan perlahan saat
Qiandra sudah masuk dan duduk dalam mobil mewah itu.
Dean segera memacu mobilnya, setelah dia membantu memasang sabuk pengaman Qiandra. Dean membawa mobil mewah itu dengan kecepatan sedang, dia sama sekali tidak perduli pada waktu yang terus berjalan. “Love, mengapa kamu tidak mempercepat mobil ini, bukannya kamu sudah hampir terlambat” tanya Qiandra yang keheranan melihat suaminya membawa mobil dengan santai.
“Memangnya apa yang harus aku kejar, Honey, kebahagiaanku ada bersamaku saat ini, dan aku sangat menikmati setiap waktuku bersamamu” sahut Dean, sebelah tangannya
menggenggam erat tangan wanita cantik yang duduk dengan sedikit resah disampingnya.
Qiandra terdiam mendengar kata-kata suaminya, tiba-tiba ada rasa resah yang muncul dalam hatinya. Qiandra menatap jalan yag ada
di depannya, perasaan was was membuatnya sedikit tegang, sehingga tidak
memperhatikan kata-kata Dean.
“Honey….” Dean melirik pada Qiandra, laki-laki itu merasa heran saat tidak mendengar sahutan dari istrinya. Walau hanya sekilas, Dean bisa melihat ketegangan di wajah wanita itu. “Honey, ada apa” tanya Dean dengan lembut, sebelah tagannya yang
menggenggam tangan Qiandra perlahan meremas tangan wanita itu.
Qiandra cukup terkejut saat merasakan genggaman suaminya yang cukup erat, “Love, ada apa” tanya Qiandra berusaha menyembunyikan kegelisahan hatinya.
“Honey, justru aku yang bertanya ada apa, kamu sama sekali tidak merespon pembicaraanku sejak tadi” Dean balik bertanya pada wanita cantik yang memang terlihat sedikit
gelisah itu. Mobil mewah mereka perlahan
memasuki areal parkir butik yang diberikan Dean pada Qiandra.
Setelah mobil berhenti dan terparkir dengan sempurna, Dean menghadap ke arah Qiandra dan menatap wajah cantik wanita itu. “Kamu
terlihat gelisah, Honey, ada apa, apa ada yang mengganggu pikiranmu, atau kalau kamu merasa tidak nyaman, kita bisa kembali ke apartemen sekarang” ucap Dean dengan lembut.
“Tidak, tidak, tidak ada apa-apa, Love, aku hanya sedang memikirkan rancangan gaun yang ingin kubuat, aku ingin membuat sedikit kejutan tapi masih ragu apa akan diterima
masyarakat atau tidak” sahut Qiandra. Qiandra berusaha menutupi kegelisahannya, dia tidak ingin Dean kembali meninggalkan urusan perusahaannya hanya karena dirinya.
“Honey…..” Dean menggenggam tangan Qiandra dengan erat.
“Love, tidak ada yang perlu dicemaskan, aku disini bersama dengan orang-orangmu, pergilah, kasihan kak Vian sudah menunggu sejak tadi” ucap Qiandra, dia memegang wajah
tampan suaminya dan memberikan senyum terbaik untuk meyakinkan laki-laki itu.
“Hah, baiklah, tapi kamu harus menghubungiku secepatnya jika ada sesuatu yang tidak beres,
jangan menyembunyikan apapun dariku” desis Dean. Hatinya memang terasa berat meninggalkan wanita itu sendirian, tapi pekerjaan di perusahaan benar-benar sudah sangat darurat, sehingga Dean terpaksa harus meniggalkan wanita itu.
Mereka berdua keluar dai mobil mewah itu dan disambut oleh beberapa karyawan butik itu. “Selamat pagi, Tuan, Nyonya” sapa para
karyawan dengan ramah. Total ada sepuluh
orang karyawan yang bekerja di butik itu sebagian adalah perempuan yang menjadi
pekerja dalam butik dan sebagian lagi adalah petugas keamanan.
“Pagi…” sahut Qiandra dengan senyum ramahnya, “Oh ya, siapa diantara kalian yang akan membantuku di dalam” tanya Qiandra.
“Kami, Nyonya” dua orang wanita muda dan satu orang wanita paruh baya maju ke hadapan Qiandra dan Dean.
“Oh, baiklah, tolong siapkan ruanganku, dan tunggu aku disana ya” ucap Qiandra dengan ramah, ketiga wanita itu membungkuk sebentar lalu berlalu meninggalkan tempat itu.
“Terima kasih sudah mengantarku, Love, selamat bekerja ya” ucap Qiandra pada Dean yang dilihatnya masih belum ada niat untuk beranjak dari sisinya.
“Haish, dan sekarang kamu mengusirku, Honey, tapi baiklah, aku akan mengikuti kemauanmu,
tapi ingat aku akan menghukummu nanti" desis Dean saat mengecup kening istrinya dengan lembut. Qiandra hanya tersenyum mendengar kata-kata suaminya, dia melambaikan tangan saat Dean melangkah dan masuk dalam mobil yang dibawa asisten Vian.
“Vian, kirim beberapa oang untuk menjaga tempat ini, Qiandra sepertinya sedang gelisah,
entah apa yang ada dalam hatinya, tapi aku rasa dia tidak sedang baik-baik saja” ucap Dean saat mobil mereka telah meninggalkan butik Qiandra.
__ADS_1
“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, dia segera menghubungi orang-orangnya dan memerintahkan mereka untuk berjaga-jaga di butik Qiandra.