
Jossie melangkah meninggalkan kamar Bu Sum dengan wajah sendu, hatinya terasa tiba tiba menjadi kosong. Yah, Jossie sadar dia tidak memiliki hak untuk menuntut Bu Sum selalu berada di sisinya seperti wanita paruh baya itu berada di sisi Qiandra. Tapi, apa salah jika Jossie berharap, Jossie sudah terlanjur merasa nyaman dengan kasih sayang wanita paruh baya itu. Kasih sayang yang tulus seperti kasih sayang dari mendiang orang tuanya.
Tapi sekarang, saat saat yang Jossie khawatirkan akhirnya tiba. Setelah kepergian Qiandra bersama dengan sang suami, sekarang Jossie juga harus bisa merelakan Bu Sum yang ingin kembali pada keluarganya. Dan Jossie tahu, dia sama sekali tidak berhak dan tidak bisa berbuat apa apa untuk menahan wanita itu.
Jossie melangkah perlahan, jujur dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika tadi dia harus bimbang antara memilih menemani Qiandra atau kembali ke perusahaan. Sekarang, rasanya langkah Jossie semakin berat saja untuk kembali ke perusahaannya, dan berpisah dengan orang orang yang begitu dikasihinya di kota ini.
“Hallo Nona Manis, ada apa dengan wajah cantik ini, kenapa terlihat seperti kekurangan vitamin, apa perlu aku memberikan suplai vitamin saat ini” sebuah suara yang sangat familiar di telinga Jossie membuat wanita itu seketika memalingkan wajahnya.
Terlihat seorang laki laki muda nan tampan berdiri dan melangkah mendekati Jossie dengan senyum yang semakin menambah nilai ketampanannya. “Kak Immy, kenapa ada di sini, bukannya kakak mau balik hari ini” tanya Jossie menatap pria itu seakan tidak percaya.
“Hei, aku memang akan pulang, tapi apa kamu pikir aku bisa pergi tanpa berpamitan pada tunanganku sendiri, hmmm” ucap laki laki yang tak lain dari dokter Jimmy itu dengan senyum lembut yang selalu membuat jantung Jossie berdegup tak karuan.
“Nggak wajib juga kali, Kak, kakak kan bisa kirim pesan atau via telpon aja” sungut Jossie dengan wajah mengerucut. Jossie berbicara seperti itu, walaupun dalam hatinya dia merasa senang sekali dengan sikap dokter Jimmy yang begitu menghargai dirinya. Andai saja dokter tampan itu tidak ijin dan mendatangi Jossie langsung, sudah bisa dipastikan wanita itu akan sangat kesal. Nah, lho jadi maunya gimana?, wkwkwk wanita memang nggak bisa dilawan dan susah ditebak.
“Hmmm beneran nggak masalah kalau aku nggak datang langsung untuk pamitan” tanya dokter Jimmy menggoda sang kekasih hati.
“Ya, terserah lah” sahut Jossie asal. Tuh kan, kata TERSERAH adalah andalan kaum wanita yang selalu sukses membuat para lelaki kebingungan.
Tapi kali ini kata itu tidak mempan untuk dokter Jimmy, dokter tampan itu sangat tahu apa arti kata terserah yang keluar dari bibir manis tunangan cantiknya itu. Dokter Jimmy hanya tersenyum dan mengacak rambut gadis cantik itu dengan lembut, “Bagaimana mungkin aku bisa pergi tanpa mendapatkan vitamin terlebih dulu, hhmmm” ucapnya seraya mengecup lembut kening wanita yang begitu dicintainya itu.
Wajah Jossie seketika bersemu saat merasakan sentuhan bibir sang kekasih di keningnya. Ada kehangatan yang mengalir begitu syahdu dalam darahnya saat merasakan sentuhan laki laki itu. “Kakak, ih, jangan gitu donk, gimana kalau ada yang lihat” ucapnya berusaha menutupi mekarnya bunga bunga di hatinya.
“Hei memang kenapa kalau ada yang lihat, apa aku salah mengecup kening tunanganku sendiri, hmmm” ucap dokter Jimmy dengan setengah suara. Matanya menatap manik mata Jossie dengan tatapan menggoda.
“Kakak, ihhhh” sungut Jossie seraya memukul dada bidang dokter tampan itu. Jossie memang tak pernah bisa berhadapan dengan tatapan menggoda sang kekasih yang selalu membuat dadanya ketar ketir. Dan warna merah sudah pasti langsung menghiasi wajah cantik gadis itu.
“Jangan suka mengerucutkan bibirmu di hadapanku, Nona, atau jangan salahkan aku jika aku akan langsung mencuri ciuman pertamamu itu” ucap dokter Jimmy seraya meraih tubuh Jossie dan membawanya masuk dalam pelukannya.
Jossie tersentak, dia tidak bisa berkata apa apa, ingin menolak pelukan laki laki itu, tapi hatinya benar benar merasa sangat nyaman. Yah, saat ini Jossie memang membutuhkan tempat untuk bersandar, wanita ini memerlukan orang untuk menjadi tempat berbagi kasih.
__ADS_1
Dokter Jimmy sejenak mengernyitkan keningnya saat merasakan tidak ada penolakan dari wanita itu. Karena biasanya, Jossie akan selalu mendorong tubuhnya saat dia berusaha memeluk sang tunangan. Tapi kali ini, tidak hanya tidak menolak pelukan dokter Jimmy, Jossie bahkan membalas pelukan tersebut bahkan dengan lebih erat lagi.
Dokter Jimmy akhirnya mengerti bahwa ada masalah yang sedang di hadapi oleh Jossie, walaupun dokter Jimmy sama sekali tidak bisa menduga apa masalahnya. Dia hanya berdiam diri dan memeluk erat wanita itu, tangannya bahkan membelai lembut punggung Jossie seolah berusaha memberi ketenangan pada wanita itu.
Tapi Dokter Jimmy semakin terkejut saat merasakan kemeja yang digunakannya basah, dan mendapati bahu wanita yang sedang dipeluknya itu bergetar. Dokter Jimmy segera melonggarkan pelukannya dan berusaha ingin melihat wajah Jossie, “Biarkan seperti ini dulu, Kak, tolong ijinkan aku tetap ada di posisi ini sesaat saja” desis Jossie yang membuat dokter Jimmy mengurungkan niatnya dan kembali merengkuh erat tubuh wanita itu.
Dokter Jimmy tidak berbicara atau bereakasi, dia hanya diam dan membiarkan Jossie menenangkan dirinya dalam pelukan hangat sang kekasih. Dokter Jimmy hanya terus membelai punggung Jossie dan sesekali mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih.
Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya isak Jossie mulai mereda. Dengan perlahan wanita itu melepaskan pelukannya dari tubuh sang kekaksih. “Maafkan aku, Kak, aku membuat kemejamu jadi basah” ucapnya penuh rasa bersalah saat melihat kemeja yang dikenakan dokter Jimmy basah.
Dokter Jimmy hanya tersenyum, dia tidak mempperdulikan kata kata Jossie. Dokter Jimmy malah mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan menghapus jejak air mata di wajah sang kekasih. “Aku selalu ada disini, Sayang, jika itu bisa membuatmu merasa tenang” ucapnya dengan tulus.
“Terima kasih, Kak, tapi Kakak nggak mungkinkan berangkat dengan kemeja basah seperti ini” ucap Jossie seraya menyeka kemeja dokter Jimmy.
Dokter Jimmy menangkap tangan wanita itu, “Aku tidak akan berangkat hari ini, bukan karena kemeja ini, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu dengan air mata seperti ini. Sekarang, katakan apa kamu mau berbagi denganku, atau kamu ingin menyimpannya sendiri” tanya dokter Jimmy.
Yah, sampai saat ini, Jossie memang sangat jarang membicarakan persoalan hidupnya pada dokter Jimmy. Jossie tidak ingin membuat laki laki itu repot memikirkan dirinya dan persoalan hidupnya. Jossie selalu bersikap ceria dan tegar di hadapan dokter Jimmy, seolah tidak ada masalah sama sekali dalam hidupnya.
Namun, dokter Jimmy juga tidak ingin memaksa Jossie untuk terbuka padanya. Dia masih memberikan waktu untuk wanita itu mau membuka dirinya dan berbagi cerita dengannya. Dokter Jimmy sadar kalau Jossie memang sudah terbiasa hidup sendiri, beberapa tahun bersama Qiandra, dia juga tidak bisa berbagi dengan mudah karena Qiandra juga bosnya.
Jossie sendiri menatap dokter Jimmy dengan tatapan sendu, “Laki laki ini telah begitu lama bersabar menghadapi diriku, apa aku bisa terus mengabaikan keberadaannya” desis hati Jossie. “Terima kasih kalau Kakak mau menunda keberangkatan Kakak, terus terang aku benar benar memerlukan kakak saat ini” ucap Jossie pada akhirnya.
Setelah berpikir sejenak, Jossie akhirnya memutuskan, tidak ada salahnya mulai mencoba berbagi beban hidupnya dengan dokter Jimmy. Bukankah hanya dokter Jimmy yang menjadi harapannya saat ini, dan bukankah dokter tampan itu sudah resmi menjadi tunangannya. Tidak ada salahnya Jossie mencoba untuk sedikit terbuka dan perlahan berharap pada dokter Jimmy.
Walaupun sebenarnya Jossie masih sedikit khawatir pada dokter Jimmy, Bukan, bukan dia meragukan kesetiaan laki laki itu. Tapi latar belakang Jossie yang membuat Jossie masih takut, takut keluarga besar dokter Jimmy tidak bisa menerima dirinya. Walaupun kedua orang tua dokter Jimmy sudah menerimanya, tapi Jossie masih saja dihantui rasa rendah diri yang membuatnya belum berani sepenuhnya bersandar pada dokter Jimmy.
Dokter Jimmy membelai wajah Jossie dengan punggung tangannya, ada rasa bahagia menyeruak dalam hatinya saat mendengar ucapan jujur wanita itu. Baru kali ini dokter Jimmy mendengar kalau Jossie memerlukan dirinya, dan itu benar benar membuat dokter tampan itu merasa bahagia. “Apa kamu mau jalan jalan denganku sekarang” tanya dokter Jimmy.
Dokter Jimmy merasa kalau Jossie sedang ingin berbagi masalahnya dengan dokter Jimmy. Jadi, dokter Jimmy ingin membawa wanita itu keluar untuk mencari suasana yang tepat bagi keduanya. Dan seperti dugaan dokter Jimmy, Jossie menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan dokter Jimmy. "Tapi, ijinkan aku bersiap sebentar Kak, bolehkan” ucap Jossie.
__ADS_1
“Tentu saja, Sayang, apa yang tidak untuk wanita kesayanganku ini” sahut dokter Jimmy dengan mimik lucu seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, dasar gombal” sungut Jossie sambiil memukul lengan sang kekasih dengan pelan. Namun, tak urung hatinya kembali berbunga mendengar rayuan gombal dari dokter tampan itu. Jossie segera melangkah meninggalkan dokter Jimmy dan berlalu menuju kamarnya. Sementara dokter Jimmy hanya tersenyum menatap punggung sang kekasih yang berlalu dari hadapannya.
“Nak Jimmy” sebuah suara mengagetkan dokter Jimmy dan membuatnya seketika berpaling.
“Ibu, …" ucap dokter Jimmy seraya sedikit menundukkan kepalanya saat melihat Bu Sum sudah berdiri di belakangnya.
“Bisakah ibu minta waktu sebentar, Nak Jimmy” tanya Bu Sum dengan senyum lembut yang selalu menghias wajah keibuannya.
“Tentu saja, Bu” sahut Dokter Jimmy.
“Ayo, kita duduk di ruang tamu saja” ucap Bu Sum lalu melangkah menuju ke ruang tamu mewah yang tersedia di pentha house mewah milik Dean. Dokter Jimmy segera mengikuti langkah wanita itu dengan hati yang dipenuhi tanda tanya.
Bu Sum segera mengambil tempat duduk yang diikuti oleh dokter Jimmy. “Sebenarnya ada apa, Bu, apakah ada masalah” tanya dokter Jimmy saat dia sudah duduk di sofa mewah di ruang tamu.
“Tidak ada masalah, Nak, hanya saja ibu ingin menitipkan Jossie padamu, ibu mungkin tidak akan kembali bersama dengannya. Jadi, saat ini ibu hanya bisa mempercayakan dia padamu. Saran ibu, jika memang hati kalian telah mantap, lebih baik kalian berdua mempercepat peresmian hubungan kalian, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Selain itu juga, ibu tidak ingin ada pembicaraan miring yang menimpa kamu maupun Jossie” ucap Bu Sum.
Dokter Jimmy sedikit terkejut mendengar ucapan Bu Sum. Sedikit banyak akhirnya dia bisa mengerti arti air mata Jossie tadi setelah wanita itu meninggalkan kamar Bu Sum. “Ibu tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga Jossie. Dan untuk pernikahan, sejak awal aku memang sudah yakin ingin menikah dengan Jossie, hanya saja, Jossie sepertinya masih belum siap, Bu. Jadi, kalau memang Jossie sudah bersedia maka aku tidak akan menundanya lagi” jawab dokter Jimmy.
Memang demikianlah kenyataannya, dokter tampan itu sudah sejak awal merasa sangat yakin dengan hubungannya dan Jossie. Dan bahkan, dokter Jimmy sudah berulang kali mendesak Jossie untuk segera meresmikan hubungan keduanya melalui sebuah pernikahan. Sayangnya, Jossie selalu menolak karena merasa belum siap dan mengatakan kalau dia ingin menunggu sampai Qiandra bahagia dulu.
Disamping itu, Jossie juga belum mendapatkan restu baik dari Qandra dan Dean, termasuk juga dari Bu Sum yang telah dianggap Jossie sebagai keluarganya. Namun, saat ini karena Bu Sum sendiri yang meminta, maka dokter Jimmy berharap kalau Jossie bersedia mengubah keputusannya. Dokter Jimmy memang sudah sangat ingin menikahi Jossie bukan tanpa alasan.
Dokter Jimmy yang bertugas di kota yang terpisah dengan Jossie, sudah sering kali medengarkan pujian dari rekan rekannya tentang Jossie. Yah, dengan keberadaan Jossie yang sebatang kara, ternyata tidak menyurutkan pesona wanita muda itu. Setelah kepergian Qiandra yang selama ini seolah menutupi keberadaan seorang Jossie, saat ini Jossie benar benar bersinar terang.
Kalau dokter jimmy ke kantor jossie, tak jarang dia masih bisa menemukan buket bunga yang dikirimkan secara khusus untuk sang kekasih. Walaupun dokter Jimmy tahu kalau Jossie tidak pernah memperdulikan hal itu. Tapi tetap saja hati dokter tampan itu merasa was was, sehingga dia benar benar sulit berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Tawaran Qiandra agar dia bekerja sama dengan Jossie mengelola perusahaan mereka, bahkan tawaran Dean sendiri yang siap memberinya modal usaha, memang masih dipertimbangkan oleh dokter Jimmy. Tidak bisa dipungkiri jiwa pengusaha masih mengalir dalam darah sang dokter muda ini. Namun, dokter Jimmy memang lebih merasa cocok saat bertugas sebagai seorang dokter.
__ADS_1
“Baiklah, Nak, kalau begitu kamu bisa membicarakannya langsung dengan Jossie, ibu yakin dia tidak akan menolakmu kali ini” ucap Bu Sum dengan senyum kelegaan di wajahnya.
“Menolak apa, Bu?” sebuah suara membuat Bu Sum dan dokter Jimmy segera memalingkan wajah mereka. Dan disana mereka melihat Jossie melangkah menuju ke arah mereka dengan kening berkerut, “Memang apa yang ditolak, Bu dan siapa yang menolak” tanya Jossie bertubi tubi.