PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TUJUH BELAS


__ADS_3

Bik Sum yang mendengar kata-kata kasar dan umpatan serta cacian dari Dean terkejut bukan main.  Wanita tua itu sungguh tidak menyangka jika Dean yang terlihat begitu memuja Qiandra bisa memaki Qiandra dengan kata-kata sekejam itu, “Nyonya, sebenarnya apa yang telah terjadi” tanya Bik Sum.


“Daniel, dia menjebakku, Bik, dia memberi obat perangsang padaku, dan mengirim video itu pada Dean” sahut Qiandra lemah.  “Bik, minta Mang Ijal mencari taksi, sekarang juga kita harus keluar dari mansion ini, kita tidak mungkin terus bertahan disini” ucap Qiandra lagi.


Bik Sum hanya mengangguk, dia bergegas lari keluar mansion itu dan mencari Mang Ijal, lalu dia menyuruh Mang Ijal segera mencari taksi,  tanpa menjelaskan apapun.  Mang Ijal yang  mendengar hal itu, menyadari ada masalah besar yang sedang menimpa Qiandra, dia  segera bergegas mencari taksi.


Saat Qiandra keluar dari mansion itu, bertepatan dengan kedatangan sebuah taksi online yang dipesan oleh Mang Ijal.  Qiandra segera masuk ke dalam taksi itu, diikuti oleh Bik Sum dan Mang Ijal, “Kemana kita, Nyonya” tanya Mang Ijal.


“Bolehkah kita menginap di rumahmu dulu, Mang” tanya Qiandra.


“Kalau Anda tidak keberatan masuk kedalam gubuk kami, ya, tentu saja boleh Nyonya” sahut Mang Ijal.


“Kalau begitu, kita kerumahmu saja dulu, Mang, sementara aku harus berpikir langkah apa yang akan kuambil selanjutnya” ucap Qiandra dengan tenang.


Mang Ijal segera memberitahukan alamat rumahnya pada sopir taksi online itu, kemudian dia menelepon istrinya dan menyampaikan kedatangan mereka bertiga.  Enam puluh menit kemudian mereka tiba di sebuah komplek perumahan sederhana, taksi itu berhenti didepan sebuah rumah kecil yang terlihat asri.


Qiandra membayar ongkos taksi itu dan memberikan sedikit tambahan uang tips.  Mereka tiba di rumah Mang Ijal saat hari sudah menjelang subuh.  Istri Mang Ijal yang memang sudah menunggu mereka segera membuka rumah saat melihat ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.


“Silahkan, Nyonya, Anda bisa beristirahat di kamar ini” ucap istri Mang Ijal saat mengantar Qiandra ke sebuah kamar yang jauh lebih kecil dari kamar di mansion Dean.  “Maaf, hanya seadanya, Nyonya” ucap istri Mang Ijal merasa tak enak hati saat Qiandra termenung menatap kamar itu.


“Ah, tidak mengapa, Bu, aku yang minta maaf jadi merepotkan saat malam-malam begini” sahut Qiandra yang menyadari kalau semua orang disitu berusaha memberikan pelayanan yang terbaik untuknya.


“Mang, Bu, mulai saat ini jangan panggil aku Nyonya lagi ya, panggi saja namaku Qiqi, begitu juga denganmu, Bik, mulai malam ini kalian  adalah keluargaku.  Jadi, aku akan memanggil Mang Ijal dengan sebutan Paman dan Bibi, dan Bik Sum, maukah Bibik kupanggil ibu, hanya kalian yang aku miliki saat ini” ucap Qiandra sendu.


“Nyonya….” ketiga orang itu menatap Qiandra dengan penuh rasa iba.

__ADS_1


“Aku sangat lelah menjalani hidupku, tapi aku sadar meratap dan menangis tidak akan membuatku bisa menghadapi semuanya.  Mautpun seakan enggan menyentuhku, sehingga berapa kali pun aku ingin mati, selalu saja aku diselamatkan dengan cara-cara yang berakhir dengan menyakitkan bagiku.  Sekarang, aku akan memikirkan bagaimana cara untuk memulai semuanya dari nol, dan aku berharap kalian mau mendukungku dan membantuku” ucap Qiandra walaupun lemah namun cukup tegas.


“Nyonya…..” Bik Sum belum sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Aku anakmu, Ibu” tegas Qiandra dengan mata memohon.


“Nak, Ibu akan selalu mendukungmu dan akan selalu menemanimu, seberat apapun jalan yang akan kamu tempuh, apapun akan Ibu lakukan  untuk membantumu” ucap Bik Sum walau sedikit canggung menyebut Qiandra seperti itu.


“Kami pun begitu, Nyo….eh maksudku Qiandra, katakan saja apa yang bisa kami lakukan, semampu kami akan kami usahakan” sahut Mang Ijal.


“Baiklah, kalau begitu, kurasa sekarang kita harus beristirahat dulu, semoga besok sudah ada inspirasi untuk langkah ke depan” ucap Qiandra.  Mereka semua menyetujui perkataan Qiandra, lalu mereka semua masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan oleh istri Mang Ijal.


Pagi hari, Qiandra sudah bersiap, meski masih menggunakan pakaian kerjanya kemarin yang sudah sedikit lusuh, karena Qiandra memang tidak membawa sehelai bajupun dari mansion Dean.  Qiandra menemui Mang Ijal dan istrinya juga Bik Sum yang sudah berkumpul di meja makan.


“Pagi, Qiandra” sahut mereka semua bersamaan.


“Aku sudah membuat keputusan, kuharap kalian mau membantuku” ucap Qiandra mulai membuka pembicaraan mereka.  “Paman, bisakah Paman mencarikan aku pinjaman, sekitar lima juta, aku perlu uang untuk bertahan hingga waktu gajian, aku juga harus segera membuka rekening baru, agar gajiku bisa ku terima” Qiandra menatap Mang Ijal.


Sebelum Mang Ijal menjawab, istrinya sudah lebih dahulu berbicara, “Saya ada simpanan, Qiandra, kamu boleh memakainya, jangan berpikir itu dipinjamkan, pakailah sesuai keperluanmu, bukankah kita keluarga” ucap istri Mang Ijal, “Sebentar aku ambil dulu ya” lanjutnya.


Istri Mang Ijal masuk ke dalam kamar mereka, lalu kemudian dia keluar membawa sebuah amplop coklat, “Ini, Qi, pakailah, ini juga uang  pemberianmu kemaren, kebutulan kami masih belum ada keperluan, jadi, pakai saja” ucap istri Mang Ijal.


“Ah, baiklah, terima kasih, Bi, aku janji akan mengembalikan uang ini nanti, maaf jika aku seperti mengambil kembali uang yang sudah aku berikan” Qiandra berkata dengan sedikit sungkan.


“Jangan sungkan, kita ini keluarga, katakan saja apapun yang bisa kami bantu, Qiandra” sahut Mang Ijal.

__ADS_1


“Sebenarnya, apa rencanamu, Qi, apa kami boleh mengetahuinya” tanya Bik Sum.


“Tentu saja, kalian harus tahu, Bu, terutama Ibu, karena Ibu yang akan menjalani ini bersamaku, tentunya jika Ibu tidak keberatan” Sahut  Qiandra.  “Aku akan tetap bekerja di PT. Mahardika, masih ada waktu selama dua minggu lagi, jadi sambil aku menunggu waktu gajian, aku akan banyak mengambil lembur, nantinya.  Aku akan berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin dalam dua minggu ini, Bu, mungkin aku akan selalu tidak pulang, karena aku akan mengambil semua pekerjaan lembur yang bisa aku kerjakan.  Mudah-mudahan saat gajian nanti, aku sudah punya setidaknya seratus juta” ucap Qiandra.


“Lalu, akan kamu apakan uang itu, Nak” tanya Bik Sum lagi.


“Aku akan pergi dari kota ini, Bu, bersama Ibu, jika Ibu bersedia, aku akan mencari tempat yang sangat jauh dan akan memulai hidup  baru.  Karena itulah aku memerlukan uang yang cukup banyak” sahut Qiandra.  “Aku tak mampu lagi bertahan dikota ini, melihat wajah-wajah mereka benar-benar menorehkan luka yang sangat dalam di hatiku” desah Qiandra.


“Baiklah, Nak, Ibu setuju denganmu, memang sebaiknya jika kamu ingin memulai hidup baru, kamu harus menjauhi kota ini, Ibu akan selalu bersamamu, kemanapun itu” sahut Bik Sum.


“Terima kasih, Bu, dan Paman, Bibi, untuk sementara aku akan dan Ibu menumpang tinggal disini dulu, tolong Paman atur saja agar masyrakat disini tidak merasa heran” ucap Qiandra, “Dan untuk pekerjaanmu, Paman, apa kamu mau bekerja di kantor, aku bisa menghubungi beberapa temanku dan meminta mereka mempekerjakan Paman” tanya Qiandra.


“Bisa saja, Qiandra, kalau memang ada pekerjaan yang bisa Paman lakukan” sahut Mang Ijal yang memang sempat merasa khawatir karena telah kehilangan pekerjaannya.


“Baiklah, kalau begitu, mulai besok Paman pasti sudah bisa bekerja, aku akan berusaha mencari kantor yang dekat sini saja untuk Paman.  Nah, sekarang aku permisi dulu, aku mau ke kantor dan membeli beberapa pakaian untukku dan Ibu” ucap Qiandra.


“Jangan membeli untukku, Nak, Bibimu ini sudah memberiku banyak baju, gunakan saja uangmu untuk keperluanmu” sahut Bik Sum.


“Baiklah kalau begitu, Bu, semuanya, aku permisi dulu, taksinya sudah menunggu didepan” sahut Qiandra.  Dia melangkah keluar dari rumah mungil itu, dan masuk ke dalam taksi yang sudah dipanggilnya via online.


Qiandra terlebih dahulu mampir di sebuah toko pakaian pinggir jalan, dia menghemat uangnya dengan membeli beberapa potong pakaian  kerja yang terjangkau namun pas ditubuh indahnya.  Kemudian Qiandra berganti pakaian, bahkan semua dalaman yang digunakannya diganti oleh Qiandra, lalu dia mengantar  pakaian kotor itu ke sebuah jasa laundry dan meminta mereka mengantarnya ke mansion Dean, jika sudah selesai.


Qiandra tidak mau membawa atau menyimpan barang apapun dari laki-laki yang telah dengan begitu kejamnya mencaci maki dirinya.  Kemudian Qiandra membeli sebuah phonsel  murahan, yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan berkirim pesan saja.  Qiandra memindahkan beberapa kontak penting saja ke phonsel barunya, kemudian dia membuang semua data di phonsel lamanya.  Termasuk semua foto dirinya dan Charles, Qiandra benar-benar ingin melupakan masa lalunya.


Setelah itu, Qiandra melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor pusat PT. Mahardika, hanya dengan menggunakan taksi dan pakaian  sederhana.  Saat tiba di loby perusahaan itu, beberapa orang mulai melirik ke arah sekertaris cantik ini dengan tatapan sinis, melihat penampilan sederhana Qiandra juga karena Qiandra hanya turun dari sebuah taksi.

__ADS_1


__ADS_2