
Dean mengerjapkan matanya beberapa saat berusaha mengembalikan kesadarannya. Berulang kali presidir tampan itu menggelengkan kepalanya mengusir pening yang terasa masih melekat disana. Saat kesadarannya sudah benar benar pulih, Dean tiba tiba tersentak seperti baru menyadari sesuatu. Laki laki itu segera bangun dari tempat tidur mewah itu, dia bahkan tidak sempat memikirkan dimana dirinya berada saat ini.
Dean keluar dari kamar mewah itu dengan langkah tergesa, seluruh tubuhnya masih terasa lemas. Namun, hal itu tidak diperdulikannya. Saat berada di luar kamar itu dia melihat beberapa orang bodyguard berdiri di luar ruangan itu, "Dimana Vian" serunya dengan suara berat dan serak khas bangun tidur.
"Aku disini, Tuan" sahut asisten Vian yang ternyata sudah berdiri di belakang Dean.
"Mengapa aku bisa sampai tertidur, apa yang sudah kamu berikan padaku" tanya Dean dengan sedikit kesal pada asisten Vian.
"Sebaiknya Anda membersihkan diri dulu, Tuan, makanan akan segera diantar ke kamar Anda" sahut asisten Vian tanpa memperdulikan pertanyaan Dean.
"Aku tidak perlu semua itu, sekarang laporkan padaku perkembangan pencarian Qiqi" seru Dean dengan tidak sabaran.
"Saya tidak akan membicarakan apapun, sebelum Tuan membersihkan diri dan makan siang dulu" sahut asisten Vian yang tetap kokoh pada pendiriannya.
"Siang?, astaga, seberapa lama aku tertidur Vian, bagaimana bisa kamu membiarkan aku ......" belum sempat Dean menyelesaikan kata katanya, asisten Vian sudah terlebih dulu membuka pintu kamar di belakang Dean.
"Silahkan, Tuan, pakaian ganti Anda juga sudah disiapkan" ucap asisten Vian benar benar mengabaikan semua ucapan Dean.
Walaupun dengan mendelik marah dan kesal, mau tidak mau Dean mengikuti keinginan asisten Vian. Dia segera masuk kembali ke dalam kamar yang tadi sempat menjadi tempatnya terlelap. Dean melangkah dengan tergesa dan setengah gusar langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dean sangat tahu jika Vian bersikap seperti ini, maka dia tidak akan goyah sebelum Dean melaksanakan keinginannya.
Dean membersihkan diri dengan cepat, walaupun godaan segarnya air yang membasuh tubuhnya begitu besar. Dean bahkan keluar masih dalam keadaan tubuh belum kering sempurna, laki laki tampan itu langsung menyambar pakaian yang sudah disiapkan untuknya. Saat dia sudah selesai berpakaian, Dean mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Masuk" seru Dean, dan tak lama berselang sebuah troly yang didorong oleh seorang pelayan masuk ke dalam kamar itu. Dibelakang pelayan itu, tampak asisten Vian dan dokter Albert yang melangkah juga memasuki kamar itu.
Sang pelayan langsung menata semua makanan diatas meja dan mempersiapkan makan untuk ketiga pemuda itu. Setelah selesai, pelayan itu segera keluar dari ruangan itu. "Astaga, baru kali ini aku melihat makanan yang begitu menggiurkan" seru dokter Albert dengan santainya segera mengambil piring dan mulai mengambil beberapa makanan.
"Hei, mengapa kamu meninggalkan rumah sakit, apa disana tidak ada yang menyediakan makanan untukmu" seru Dean yang semakin kesal karena dokter Albert meninggalkan rumah sakit yang berarti juga meninggalkan sang daddy di sana.
"Memangnya kamu pernah menyukai makanan rumah sakit, seenak apapun itu tidak akan pernah bisa mengalahkan makanan istana kan" ucap dokter Albert dengan acuhnya seraya mulai menikmati makanan yang sudah mengisi piringnya.
Dean hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah kesal, dia sungguh sedang malas berdebat dengan sahabatnya yang satu ini. Karena Dean sangat tahu kalau dokter Albert tidak akan bisa mengalah dengan mudah. Oleh sebab itu, Dean lebih memilih berdiam diri dan tidak membalas parkataan dokter Albert.
"Vian, bagaimana ......." belum selesai Dean mengajukan pertanyaan asisten Vian sudah menyerahkan piring pada Dean.
"Silahkan dinikmati hidangan yang sudah disiapkan, Tuan" ucap asisten Vian membuat Dean kembali mendesah berat.
__ADS_1
"Aku yang menyuruh Vian melakukan semuanya, kamu tidak akan bisa berpikir jernih jika dalam kondisi lelah jiwa dan raga. Setidaknya dengan istirahat yang cukup, mandi dan menambah energi dengan makan, akan bisa membantumu untuk berpikir lebih jernih dan lebih fokus" ucap dokter Albert dengan santai.
Dean hanya berdecih mendengar penjelasan dokter Albert, dia sudah bisa menduga mereka berdua yang merencanakan semua ini. Karena Dean pasti tidak akan bisa memejamkan matanya jika dalam keadaan tidak di bawah pengaruh obat tidur. Otaknya pasti akan terus berputar untuk memikirkan segala sesuatunya.
Namun, Dean juga tidak menampik kalau sekarang dia memang merasa jauh lebih segar. Tapi dia masih merasa kesal karena perbuatan kedua sahabatnya itu, dia kehilangan banyak waktu untuk menyelamatkan Qiandra. Bahkan sampai saat ini dia belum mendapatkan info apapun tentang sejauh mana sudah pencarian wanita yang sangat dicintainya itu.
Dean akhirnya mengalah dan mulai mengambil beberapa makanan yang terhidang di atas mejanya. Walaupun dia sama sekali tidak ada selera, tapi Dean tahu kedua sahabatnya tidak akan mau memberikan info apapun padanya jika dia tidak makan. Jadi dengan terpaksa presidir tampan itu memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya hanya untuk membuat kedua sahabatnya itu tenang.
Padahal, Dean bisa saja memerintahkan anak buahnya yang lain untuk melaporkan keadaan tersebut langsung padanya. Namun, Dean tidak melakukan hal itu, karena itu berarti sama saja dengan dia tidak menghargai kedua sahabatnya itu. Sementara Dean juga melihat kalau keduanya pasti juga tidak memiliki waktu untuk beristirahat dengan baik. Terbukti dari kantung mata yang terlihat menghitam di bawah mata mereka, demikian pula dengan penampilan mereka yang sudah tidak rapi lagi.
Hal itu pula yang membuat Dean tidak berusaha membantah perintah kedua sahabatnya itu. Dean sangat tahu kalau semua itu mereka lakukan untuk kebaikan dirinya. Dan Dean sangat menghargai hal itu, tidak perduli bagaimana pun masalah yang dihadapinya.
Setelah Dean mulai menikmati makanannya, barulah asisten Vian juga ikut mengambil makanannya. Akhirnya ketiga orang laki laki tampan itu menikmati makan siang dalam diam. Mereka semua berusaha menikmati aneka hidangan lezat yang tersedia, walau sama sama tahu kalau mereka sulit untuk menelan makanan itu akibat beban pikiran masing masing.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang bahkan sudah menjelang siang itu, barulah ketiga orang pemuda itu duduk bersama untuk mulai membahas masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Bagaimana perkembangan pencarian Qiqi" tanya Dean membuka pembicaran dengan tidak sabar.
"Sampai saat ini belum ada perkembangan yang berarti, mereka seperti hilang di telan bumi. Tapi kita tahu kalau mereka memang menuju ke arah kepulauan yang ada di luar wilayah kita. Namun, jika harus menyusuri semua pulau itu, akan memakan waktu yang sangat panjang, karena di sana ada puluhan pulau kecil dan kebanyakan merupakan pulau pribadi" sahut asisten Vian.
"Telusuri saja dengan helicopter, bahkan minta bantuan pihak otoritas udara dan laut untuk mempercepat penyisiran" sahut Dean dengan tegas.
"Bagaimana dengan PT.Mahardika, apa kamu sudah mencoba menelusuri kesana" tanya dokter Albert yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan Dean dan asisten Vian. Pertanyaan dokter Albert seketika membuat Dean dan sisten Vian mengernyitkan kening dan menatap ke arah laki laki itu.
Dokter Albert menyalakan televisi besar yang ada di ruangan itu, dia mencari beberapa chanel dan kemudian memilih salah satu chanel televisi yang sedang menayangkan siaran ulang sebuah wawancara ekslusif. Terlihat disana asisten Dika yang ternyata telah diangkat menjadi presidir PT.Mahardika menggantikan Daniel.
"Hmmm, kamu benar, Al, kita sampai lupa kalau laki laki baji*gan itu mempunyai asisten dan juga sahabat dekat. Aku yakin Dika pasti mengetahui sesuatu tentang keberadaan baji*gan itu" seru Dean, tanpa memperdulikan apa yang disampaikan oleh Dika dalam wawancara itu.
"Aku juga menduga demikian, walaupun pihak mereka sudah melakukan klarifikasi kalau mereka sama sekali tidak tahu apa apa. Tapi aku yakin hal itu dilakukan hanya untuk mengembalikan kepercayaan public terhadap perusahaan mereka, karena ku dengar sepertinya beberapa investor sudah mengancam akan menarik diri dari perusahaan mereka sahut" dokter Albert.
"Hmmm, jika begitu tekan PT.Mahardika dan buat mereka kelimpungan, kemudian kirimi Dika pesan untuk bertemu langsung denganku" ucap Dean dengan suara dingin.
"Apa kita akan menghancurkan PT.Mahardika, Tuan" tanya asisten Vian.
"Memang peluangnya bagaimana, Vian" tanya Dean pada asistennya itu.
__ADS_1
"Kita punya peluang besar, Tuan, bahkan mungkin ini kesempatan yang sangat baik untuk menghancurkan perusahaan itu. Karena sebagian besar investor memang sedang berancang ancang untuk menarik investasi dari perusahaan itu. Bahkan, sepengetahuan saya, beberapa diantara mereka telah melayangkan surat teguran dan permintaan klarifikasi atas kasus yang dibuat oleh presidir mereka. Selain itu, jika memang Daniel tidak menghubungi asisten Dika, berarti perusahaan sekarang sepenuhnya dalam kendali Dika yang saya kira tidak akan mampu seperti Daniel" sahut asisten Vian panjang lebar.
Dean terpekur mendengar penuturan asisten Vian, secara memang selama ini perusahaannya selalu bersaing dalam berbagai hal dengan Daniel. Dan, Dean juga mengakui kalau analisa asisten Vian itu benar adanya. PT.Mahardika sekarang sudah pasti dalam posisi yang sangat lemah dan sangat mudah untuk dihancurkan. Ketidak beradaan Daniel sudah pasti membuat perusahaan itu lemah, ditambah lagi dengan kasus yang sekarang sudah diketahu orang banyak.
"Tidak, aku tidak akan menghancurkan PT.Mahardika, kalian tahu mengapa aku begitu ambisi bersaing dengan perusahaan itu selama ini. Dan kalian juga tahu aku tidak suka menghancurkan perusahaan lain dengan memanfaatkan masalah yang memang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan" sahut Dean.
Selama ini memang persaingan sebenarnya adalah antara dirinya dan Daniel saja. Namun, karena kebetulan mereka berdua sama sama presidir dua perusahaan besar maka secara tidak langsung mereka pun bersaing menggunakan perusahaannya masing masing. Namun, sekarang saat Daniel tidak lagi menjadi pimpinan di perusahaan itu, sehingga otomatis Dean tidak merasa perlu lagi bersaing dengan PT.Mahardika.
"Jadi, apa kamu akan melepaskan PT. Mahardika begitu saja" tanya dokter Albert lagi pada Dean.
Dean mendesah sesaat lalu perlahan berdiri dan mendekati jendela kaca yang ada di ruangan itu. Matanya menatap ke arah taman yang ada di luar Kamar itu, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. "Ketakutan dan kekhawatiran dari Dika dan PT.Mahardika saja yang akan aku manfaatkan" desis Dean yang membuat kening asisten Vian dan dokter Albert mengernyit.
"Maksud Anda, Tuan" tanya asisten Vian kebingungan.
"Tekan mereka dan manfaatkan ketakutan mereka agar Dika mau memberikan informasi tentang keberadaan Daniel. Aku yakin dia mengetahui dimana Daniel berada, secara dia adalah tangan kanan Daniel dan selalu mengurus semua kepentingan baji*gan itu" sahut Dean memperjelas keinginannya pada kedua sahabatnya itu.
"Baiklah, saya mengerti, Tuan" sahut asisten Vian, "Kalau begitu saya permisi, Tuan, saya akan mengatur semuanya, dan nanti saya akan menghubungi Anda jika sudah ada kesepakatan pertemuan dengan Dika" lanjutnya lagi.
Dean tidak berkata apa apa, dia hanya mengangguk sebagai bentuk jawabannya menyetujui keinginan asisten Vian. Mata tajam laki laki itu terus menatap ke arah taman yang terbentang di hadapannya.
"Qi, dimana kamu, Sayang, semoga kamu baik baik saja, aku akan tetap percaya padamu, dan aku akan tetap yakin kamu bisa menjaga diri dan cinta kita" desah Dean dalam hati.
"Dean, aku juga pergi dulu untuk kembali ke rumah sakit, aku ingin melihat kondiri Daddy, tolong khabari aku jika ada berita terbaru tentang keberadaan Qiqi" ucap Dokter Albert yang segera menyadarkan Dean dari lamunannya.
"Tolong selamatkan Daddy, Al, hanya kamu harapanku satu satunya. Aku minta kamu fokus saja dengan kesehatan Daddy, untuk Qiqi, biar aku dan Vian yang akan menanganinya" ucap Dean akhirnya.
"Baiklah, aku akan berusaha dengan sebaik mungkin. Tapi aku juga ingin tahu perkembangan pencarian Qiqi, karena aku sangat mengkhawatirkan kondisinya" sahut dokter Albert.
"Hmmmm ........." hanya itu sahutan dari Dean yang membuat dokter Albert menghembuskan nafas berat.
"Ya sudah, aku pegi dulu" ucap Dokter Albert lalu melangkah meninggalkan Dean dan keluar dari ruangan itu tanpa menunggu balasan dari Dean.
Dean hanya melirik ke arah punggung dokter Albert yang menghilang di balik pintu. Kemudian sang presidir tampan ini kembali memandang hamparan taman indah yang ada di depan kamarnya itu. Dean begitu terlarut dalam lamunannya hingga dia tidak menyadari waktu yang terus berlalu. Dean baru tersentak saat mendengar suara asisten Vian yang ternyata sudah berada di belakangnya.
"Maaf, Tuan, Dika bersedia bertemu dengan Anda saat ini juga, bahkan sebelum saya melancarkan perintah Anda untuk menekan PT.Mahardika" ucap asisten Vian yang membuat Dean segera berbalik dan menghadap ke arah asisten Vian.
__ADS_1
"Benarkah?, sebegitu takutnya kah Dika pada kita sehingga belum kita menyerang dia sudah bergegas memenuhi keinginan kita" tanya Dean dengan kening sedikit mengernyit. Karena Dean tahu kalau Dika sebenarnya cukup tangguh dan bukanlah seorang yang mudah menyerah.
"Sepertinya begitu, Tuan, dan saat ini Dika sudah dalam perjalanan menuju ke sini" sahut asisten Vian yang membuat Dean semakin merasa heran.