
Jika Dean dan asisten Vian berada dalam kepanikan dan kekhawatiran yang parah saat ini, berbeda jauh dengan kondisi di mansion Dika. Saat ini, Dika terlihat begitu tenang saat menatap wajah Qiandra yang masih setia menutup matanya.
Di ruangan mewah dengan nuansa biru itu juga terlihat ada dokter Fredy dan Chris beserta seluruh keluarganya. “Dok, apa benar benar tidak masalah jika Felicia mengetahui hal ini sekarang. Mengingat keadaannya saat ini yang sedang hamil muda” Bu Sum membuka percakapan memecah keheningan diantara mereka.
Dokter Fredy menghela nafasnya sesaat, “Sebenarnya hal ini cukup rentan, tapi apa kita punya pilihan lain. Jika melihat kondisi Felicia setelah mendengar pembicaraan kalian, saya menduga dia sudah mulai mengingat kejadian itu. Jadi, justru akan menjadi masalah jika kita terus menutupi kenyataan itu darinya, karena dia akan semakin bertanya tanya dan bahkan mungkin kenyataan itu menjadi bayang bayang menakutkan dalam alam bawah sadarnya” sahut dokter Fredy.
Bu Sum membelai rambut Qiandra dengan penuh kasih, bulir air bening masih terus mengalir di sudut matanya. “Kak, tolong Feli, jangan biarkan dia menderita lagi, aku tidak bisa membayangkan jika dia harus merasakan kehilangan lagi” desis Bu Sum atau Clayandra yang masih terdengar jelas oleh Dika.
Dika juga duduk di samping Qiandra, tangannya menggenggam lembut tangan wanita itu. “Buka matamu, Dek, lihatlah, aku menepati janjiku padamu, aku akan kembali menjemput dirimu. Maafkan kakak yang sudah begitu lama membiarkan kamu sendiri dan bahkan mencelakai dirimu. Kamu boleh memarahi kakak, memukul kakak atau membunuh kakak sekali pun, tapi kakak mohon buka matamu, dan tataplah kakak sebagai kakakmu” ucap Dika.
Zaneta dan Delicia sudah benar benar tak mampu menahan air mata mereka berdua. Bahkan suara isak kecil mulai terdengar dari keduanya. Chris menatap kedua putrinya itu dan memberikan kode agar mereka meninggalkan ruangan itu.
Zaneta yang melihat kode dari ayahnya, segera mengajak Delicia untuk meninggalkan ruangan itu. Sebuah Kamar mewah dengan nuansa biru dan putih yang begitu dominan, yang memang sudah dibuat khusus sesuai dengan warna favorite Felicia. Dika benar benar berhasil membuat setiap detil seperti yang berhasil diingatnya tentang mansion keluarganya dulu.
Dika membuat semua itu, bukan dengan harapan akan menemukan keluarganya lagi. Dulu dia membuat itu untuk mengenang masa masa indah yang pernah dilaluinya bersama dengan keluarganya di masa kecilnya dulu. Dika sungguh tidak ingin semua kenangan itu hilang begitu saja.
Tiba tiba mereka dikejutkan dengan desis kecil dari mulut Qiandra, “Kak, Kak, jangan tinggalin Feli, Feli takut, Kak …..” seru Qiandra dengan tangan seolah menggapai sesuatu.
Dika segera menangkap tangan wanita itu yang terlihat sangat lemah, “Kakak disini, Feli, kakak disini, kakak tidak akan meninggalkan Feli lagi, tidak akan pernah” bisik Dika. Saat mengatakan hal itu tanpa terasa air mata mengalir dari sudut mata laki laki tampan itu.
Hancur dan remuk redam rasa dalam hati Dika saat melihat ketakutan di wajah Qiandra saat itu. Rasa bersalah benar benar merejam hati Dika, dia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan seorang anak kecil seperti Felicia saat itu.
Dika terkejut saat merasakan genggamannya dibalas oleh tangan yang saat ini digenggamnya. Dika menatap wajah Qiandra yang saat ini perlahan mulai terbuka, “Kenapa kakak meninggalkan aku” desis Qiandra perlahan namun terdengar jelas oleh semuanya.
Dika segera bersimpuh di samping Qiandra, dia berulang kali mencium tangan Qiandra, “Maafkan kakak, maafkan kakak, Feli, kakak sungguh tidak ingin meninggalkan kamu, tapi, tapi …..”Dika tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
Dika juga sempat melihat dokter Fredy menggelengkan kepalanya seolah memberikan kode agar Dika tidak terlalu jauh berbicara dulu. “Jadi, kamu benar benar kakakku, kamu Andika Kenrich Hamilton kakak kandung Felicia Kenrich Hamilton” desis Qiandra lagi.
__ADS_1
Dika tidak sanggup membuka mulutnya lagi, semua kata katanya seolah tertahan di tenggorokannya. Dika hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang kali membenarkan kata kata Qiandra. Qiandra perlahan menutup matanya sesaat, dan saat dia kembali membuka matanya bulir air bening mengalir dari pelupuk matanya.
“Inikah takdir hidupku, Tante Clay, mengapa semua membohongiku selama ini. Orang orang yang sangat aku percayai dan sangat aku cintai, membohongi aku, dan orang yang aku benci ternyata adalah saudara kandungku sendiri. Ah, permainan hidup macam apa ini, takdir benar benar begitu senang mempermainkan hidupku dan hatiku” ucap Qiandra bahkan disertai isakan kecil.
Clayandra tidak bisa berkata apa apa, dia hanya bisa terisak sama seperti Dika di sisi Qiandra. Dokter Fredy memang sudah meminta mereka untuk tetap tenang menghadapi Qiandra jika wanita itu mulai mengingat dirinya lagi.
“Mengapa, mengapa, Kak, Tante, mengapa kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Kenyataan bahwa aku tidak sendiri, aku tidak sebatang kara dan aku masih memiliki keluarga, mengapa kalian menyembunyikan semua ini” isak Qiandra hingga bahunya terlihat terguncang.
“Jangan menyalahkan siapa pun, Nak, aku yang meminta mereka melakukan semua ini. Jika kamu ingin mengetahui alasannya, maka kamu harus menenangkan dirimu dulu. Ingatlah saat ini ada kehidupan dalam rahimmu, mentalmu yang tertekan akan berbahaya bagi bayimu” dokter Fredy yang berdiam diri sejak tadi mulai berbicara.
“Dok, Anda …..” Qiandra kembali menutup matanya saat merasakan sebuah ingatan menghantam dirinya.
“Tenangkan dirimu, Nak, terima semua ingatan itu dan jangan berusaha menolaknya, tapi jangan berusaha menggalinya. Biarkan itu semua mengalir dan masuk dalam ingatanmu, karena jika kamu melawan atau memaksakan diri, itu akan berbahaya untuk janinmu” ucap dokter Fredy lagi berusaha menenangkan Qiandra.
Qiandra berulang kali menghela nafas berat, keningnya mengernyit dalam saat berbagai ingatan kembali seperti sebuah kilas baik di kepalanya. Tangan Qiandra yang terbebas dari genggaman Dika menyentuh dan membelai perutnya dengan perlahan seolah berusaha mengingatkan dirinya tentang kehidupan yang bersemayam disana.
Sementara Dika, Clayandra dan Chris hanya berdiam diri dengan perasaan harap harap cemas. Dika masih setia menggenggam jemari Qiandra dengan penuh kelembutan. Mata setajam elang itu menatap wajah Qiandra dengan intens, tak jarang beberapa bulir air mata mengalir dari sudut matanya.
“Kamu bisa menceritakan pada kami apapun yang masuk ke dalam pikiranmu saat ini, Nak, setidaknya itu bisa melepas sebagian bebanmu” lagi dokter Fredy memberikan sugesti pada Qiandra.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, sehingga daddy tiba tiba menggendong aku dan membawa Kak Dika masuk ke ruang persembunyian. Aku hanya mendengar ada keributan di luar mansion, entah apa yang terjadi. Aku sangat ketakutan, sehingga aku terus menerus memeluk Kak Dika setelah Daddy meninggalkan kami. Aku benar benar tidak mendengar apapun dalam kamar persembunyian itu. Hingga beberapa saat kemudian, aku melihat Kak Dika mulai gelisah dan selalu melihat ke arah pintu. Aku kembali mengeratkan pelukanku, aku tahu Kak Dika pasti ingin pergi, yah, dia selalu begitu suka meninggalkan aku sendiri” Qiandra mulai bercerita dengan mata tertutup.
Dika tersenyum saat mengenang kembali masa kecil mereka berdua melalui cerita Qiandra. Dika memang senang menggoda Felicia karena adiknya itu sangat manja padanya. Bukan Dika tidak menyayangi Felicia, tapi justru Dika merasa bahagia saat melihat sang adik selalu bergantung padanya. Dika memang sangat menyayangi Felicia dan begitu memanjakan gadis kecil itu.
“Dan aku benar, Kak Dika mulai membujuk agar aku mau ditinggal sendiri di ruangan itu, dia bilang dia ingin mencari daddy dan mommy. Tapi aku tahu dia berbohong, dia selalu berkata begitu jika ingin meninggalkan aku, tapi sekarang aku benar benar tidak mau dibohongi lagi. Aku tidak mau melepaskan tangannya” ucap Qiandra masih dengan mata tertutup namun wajahnya terlihat merengut kesal seolah dia benar benar berada dalam keadaan itu.
Hati Dika benar benar terasa seperti ditusuk ribuan jarum saat mendengar cerita Qiandra. Rasa bersalah yang begitu besar membuat laki laki tampan itu tanpa sadar menggenggam tangan Qiandra dengan erat.
__ADS_1
“Tapi aku lapar, dan Kak Dika tahu itu kelemahanku. Aku akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan makanan kalau aku sudah merasa lapar. Dan Kak Dika menggunakan kesempatan itu untuk meninggalkan diriku. Aku menunggu Kak Dika beberapa saat, tapi dia tidak kunjung kembali, aku pikir Kak Dika pasti lagi lagi bersembunyi. Karena perutku semakin lapar akhirnya aku pergi keluar kamar itu untuk mencari makanan yang akan aku bawa kembali ke kamar itu juga” lanjut Qiandra lagi.
Clayandra perlahan menggelengkan kepalanya merasa hampir tidak mampu mendengar kelanjutan cerita Qiandra. Chris mendekatinya, “Apa kamu ingin menunggu di luar, Sayang” tanya Chris seraya bersimpuh di samping Clayandra.
Clayandra hanya tersenyum pada suaminya sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Tidak, Pah, aku tetap ingin tahu apa yang dilewati oleh gadis kecilku saat itu” gumam Clayandra. Chris menatap Clayandra dengan intens, dia tahu ini sangat berat untuk Clayandra.
Mendengar bibir Qiandra menceritakan kembali masa lalu yang mulai masuk kembali ke dalam ingatannya, tentu bukanlah hal yang mudah bagi Clayandra. Karena semua itu secara tidak langsung kembali membuka semua kenangan lama yang sudah tersimpan rapi dalam pikiran Clayandra. Kenangan pedih yang telah menorehkan luka sangat dalam di hati dan pikiran Clayandra.
“Aku melangkah perlahan meninggalkan kamar tempat kami disembunyikan oleh Daddy, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi aku tidak melihat ada siapa pun di sekitar kamar itu, aku heran, kemana para pelayan. Tapi aku tidak perduli, sebenarnya aku ingin berteriak, tapi aku takut Kak Dika mengetahui aku tidak menuruti perintanhnya, aku takut Kak Dika akan memarahiku. Kak Dika pernah marah padaku dengan mendiamkan aku selama satu hari penuh, dan itu membuatku sangat sedih” Qiandra melanjutkan ceritanya, masih dengan mata tertutup.
Dika yang mendengar penuturan Qiandra kembali tidak mampu menahan air matanya, “Maafkan Kakak, maafkan Kakak, Feli, kakak sangat bodoh saat itu” desis Dika yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.
“Aku melanjutkan langkahku menuju ke tangga, tujuanku hanya ke dapur dan mengambil makanan untuk mengganjal rasa lapar diperutku. Aku tahu pada jam seperti ini, Tante Clay pasti sudah menyiapkan susu hangat dan cemilan untukku di atas meja makan” lagi Qiandra melanjutkan ceritanya.
Clayandra yang mendengar hal tersebut kembali merasakan kesedihan yang begitu dalam. Apa yang diceritakan oleh Qiandra adalah hal yang memang biasa dilakukan oleh Clayandra. Bahkan saat itu, saat malam tragis itu, Clayandra memang sedang membuat segelas susu untuk Felicia. Bahkan Clayandra juga sudah menyiapkan cemilan untuk diberikannya pada gadis kecil itu.
Kegaduhan yang terjadi di luar mansion, membuat Clayandra menghentikan aktifitasnya dan memilih melangkah menuju ke luar mansion untuk melihat apa yang telah terjadi. “Dari atas tangga aku melihat kalau di atas meja makan sudah tersedia black forest dan gelas kosong, tapi sepertinya sudah diisi bubuk susu. Aku heran mengapa gelas gelas susuku masih kosong, aku pikir pasti Tante Clay ribut lagi dengan Paman Chris, mereka berdua sering seperti itu, aku heran kenapa Paman Chris senang sekali membuat Tante Clay marah, padahal aku sangat takut kalau sampai dimarahi, walaupun Tante Clay tidak pernah memarahi diriku” lagi Qiandra melanjutkan apa yang masuk dalam pikirannya.
Chris menggenggam tangan Clayandra dengan erat. Mata laki laki paruh baya itu menatap langsung ke manik mata Clayandra. Sebuah senyum sendu terukir di wajah Chris dan Clayandra, kenangan itu adalah salah satu kenangan manis yang akan selalu mereka ingat. Saat keduanya sama sama menyimpan rasa di hati dan menutupinya dengan cara yang sangat menggemaskan, bertengkar.
“Aku berusaha melihat ke bawah menelisik bagian yang bisa terlihat untuk menemukan keberadaan Tante Clay, aku harus mengingatkannya kalau susuku belum dibuat. Karena jika tidak diingatkan, Tante Clay dan Paman Chris suka berdebat untuk waktu yang panjang, mereka kadang sampai lupa kalau mereka mengabaikan keberadaanku” Qiandra kali ini mengulas senyum tipis walau matanya masih tertutup.
“Hal yang membuat aku semakin jatuh cinta padamu, Sayang” bisik Chris membuat wajah Clayandra yang dipenuhi air mata bersemu sesaat.
“Saat aku mulai melangkahkan kakiku menuruni anak tangga sambil terus mencari keberadaan Tante Clay, aku tiba tiba terkejut mendengar teriakan Kak Dika yang memanggil Mommy. Aku benar benar terkejut dan ingin segera menemui Kak Dika, tapi aku lupa kalau saat ini aku berada di atas tangga, dan aaaaaa …....” sampai disitu cerita Qiandra terhenti.
Dika, Clyandra, Chris bahkan dokter Fredy menahan nafas saat Qiandra sampai pada bagian akhir cerita yang menjadi bagian menyedihkan. Mereka semua tahu, saat itulah gadis kecil itu jatuh dan terguling ditangga hingga ditemukan oleh Clayandra dan Chris. Dan saat itulah mereka terpaksa harus memilih meninggalkan Dika untuk menyelamatkan nyawa Felicia.
__ADS_1
“Maafkan aku, maafkan aku” hanya itulah kata kata yang terus bergulir dari bibir Dika, rasa bersalah yang begitu besar kembali menekan hati laki laki tampan itu.