
“Jadi bagaimana” tanya Dika saat melihat
Qiandra keluar dari kamarnya.
“Dean bersedia, Kak, dia bahkan tidak berpikir
dua kali saat aku mengajukan permintaan itu. Dean mengatakan kalau malam ini dia kan menyelinap keluar dari mansion dengan menggunakan taksi menuju ke butik X. Dia akan menyamar di butik itu, aku sudah memberitahukan plat mobil kakak, jadi dia yang akan menghampiri kakak, karena dia mengatakan kalau dia juga tidak akan membawa phonselnya” sahut Qiandra.
“Hmmm, baguslah, setidaknya sampai saat ini kita bisa melihat kesungguhan laki laki itu” sahut Dika.
“Kakak!!!!” seru Qiandra saat mendengar
sebutan Dika untuk Dean.
“Apa ....., aku harus mendengar dulu bagaimana dia memanggilku, baru aku akan memberi dia nama panggilan. Jangan lupa aku ini kakak iparnya, sekalipun jabatannya tinggi dia tetap harus lebih dulu menghormati aku” sahut Dika dengan tenang dan senyum smirk di wajahnya.
“Ish, kakak ternyata gila hormat ya” sungut
Qiandra.
“Hei, aku bukan gila hormat, tapi memang sudah seharusnya laki laki itu menghormati aku sebagai kakak dari istrinya dan juga
wakil dari kedua mertuanya” seru Dika yang semakin senang menggoda Qiandra.
“Astaga, apa kalian tidak bisa berhenti
berdebat” seru Clayandra yang dalam hatinya merasa sangat bahagia melihat keakraban kedua saudara itu. Selama ini, Clayandra yang berperan sebagai Bu Sum untuk Qiandra, selalu melihat wanita tangguh yang penuh ketegasan.
Bahkan saat bersama dengan Jossie yang sudah dianggap sebagai saudaranya, Qiandra tidak pernah bersikap lepas seperti ini. Mungkin karena dia merasa harus menjadi seorang kakak untuk Jossie, sementara bersama dengan Dika, Qiandra terlihat sangat manja pada kakaknya itu. Clayandra benar benar seperti melihat Felicia kecil yang berubah menjadi seorang wanita yang cantik.
Saat Clayandra baru saja menyelesaikan kata
katanya dan Qiandra ingin menyahut, tiba tiba terdengar bunyi yang bersumber dari perut Qiandra. Suara yang terdengar cukup nyaring itu, membuat wajah Qiandra seketika merah padam karena malu. Rasa malu itu ditambah denga rasa kesal saat Qiandra melihat Dika memalingkan wajahnya namun dengan bahu yang terguncang menahan tawa.
Qiandra sangat ingin meneriaki kelakuan Dika, namun aroma harum makanan dari ruang makan membuatnya serta merta mengurungkan niatnya. Qiandra segera melangkah dengan sedikit tergesa menyusul Clayandra yang ternyata telah lebih dulu menuju ke ruang makan. Saat tiba disana, seketika kekesalan hati Qiandra menguap saat melihat aneka makanan favoritenya tersaji di atas meja makan.
“Kemarilah, Sayang, maafkan Tante yang
terlambat menyediakan makan siangmu sehingga membuatmu sempat merasa kelaparan” ucap Clayandra seraya menyiapkan makanan Qiandra.
“Tante, mana Zanet dan Deli” tanya Qiandra
__ADS_1
yang baru menyadari ketidak hadiran kedua sepupunya itu.
“Oh, maafkan kedua adikmu, Sayang, mereka
tidak ingin mengganggumu, mereka telah kembali kemaren ke restoran karena ada
beberapa masalah di sana” sahut Clayandra.
“Oh begitu ya, tidak mengapa tante, justru aku
yang harusnya minta maaf karena telah mengabaikan mereka” ucap Qiandra.
Clayandra tersenyum mendengar ucapan Qiandra, dia meletakkan piring di hadapan Qiandra dengan makanan di dalamnya. “Makanlah, Sayang” ucapnya dengan lembut pada Qiandra.
Qiandra meraih tangan Clayandra, “Tante, tante tidak perlu melakukan semua ini untukku, sudah cukup tante menempatkan diri sebagai pelayanku selama ini. Sekarang
berdirilah sebagai ibuku, seperti yang selama ini Tante lakukan dalam beberapa tahun terakhir” ucapnya dengan mata penuh permohonan pada Clayandra.
“Sayang, tahukah kamu kalau sejak dulu aku
tidak pernah merasa menjadi pelayanmu, aku hanya menempati posisi sebagai pelayanmu. Tapi dalam hatiku dan semua yang aku lakukan, aku selalu menempatkan diriku sebagai tantemu. Aku tulus melaksanakan amanah dari mommymu, keinginannya agar aku selalu merawatmu dan aku telah berjanji akan melakukannya” ucap Clayandra dengan senyum sendu.
dia tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar kata kata Clayandra.
“Janga khawatir, Sayang, aku akan berhenti
saat aku sudah melihat kamu bahagia, sebenarnya aku sudah memutuskan untuk
berhenti beberapa hari yang lalu. Namun,
saat melihat semua masalah ini, maka aku berpikir bahwa belum saatnya untuk aku
meninggalkan dirimu sendiri, walaupun saat ini sudah ada kakakmu di sampingmu” ucap Clayandra seraya menyebut keberadaan Dika karena dia melihat dari sudut matanya kehadiran laki laki itu di ruang makan.
Qiandra melirik ke arah kehadiran Dika, “Tapi
kami memang akan selalu memerlukan Tante dan paman sebagai pengganti Daddy dan
Mommy” ucap Dika seraya mengambil tempat duduk di posisi kursi utama.
“Kamu tahu kalau kami akan selalu ada untuk
__ADS_1
kalian, sama seperti kami juga selalu ada untuk Zanet, Deli dan Abel” ucap Chris
yang juga ikut bergabung dengan mereka.
“Terima kasih, Paman” ucap Qiandra dengan
tulus , sementara Dika hanya sedikit menganggukkan kepalanya. Clayandra sendiri segera melangkah menuju Chris dan mulai melayani sang suami dengan menyiapkan makanan Chris.
Qiandra tiba tiba terkekeh melihat adegan itu,
membuat semua mata menatap ke arahnya, “Ada apa” tanya Dika dengan tatapan matanya membuat Qiandra seketika menutup mulutnya.
“Oh, maaf, maafkan aku, aku hanya tiba tiba
tidak bisa membayangkan bagaimana sikap kalian berdua saat berada dalam posisi
terbalik seperti itu pada awalnya dulu” ucap Qiandra yang membuat keningsemua orang sedikit mengernyit. “Maksudku, seingatku dulu, Paman lah yang selalu melayani kita di meja makan, lalu sekarang, Tante melayani
Paman, maaf bukan maksudku menyinggung Paman” ucap Qiandra dengan sedikit ragu.
“Ha ha ha, jangan khawatir, Feli, aku sudah biasa mendengar orang berkata seperti itu, bahkan ketiga adikmu pun pernah menanyakan hal serupa. Jujur, aku tidak pernah meminta Clay melakukan semua ini, dan diawal pernikahan kami dulu semuanya benar benar terasa canggung, saat posisi kami terbalik seperti yang kamu katakan tadi. Tapi, lama kelamaan semuanya bisa berjalan seperti biasa, dan sekarang aku sudah sangat terbiasa menjalani semuanya seperti ini” ucap Chris dengan senyum bahagia di wajahnya.
“Ah, begitu rupanya, pasti kisah kalian sangat menarik, karena seingatku dulu kalian selalu
bertengkar” ucap Qiandra dengan senyum menghias wajahnya saat mengingat masa
lalu kedua orang paruh baya itu.
“Apa kamu benar benar sudah bisa mengingat semuanya, Sayang” tanya Clayandra yang lebih tertarik pada ingatan Qiandra dibandingkan apa yang diucapkan Wanita itu.
“Sedikit demi sedikit aku bisa Kembali mengingatnya, walaupun samar samar, Tante” ucap Qiandra.
“Wajar saja kamu tidak bisa mengingat semuanya, kamu masih kecil saat itu. Jangan memaksakan dirimu, mulai sekarang jika
ada yang ingin kamu ketahui tentang masa kecilmu dulu, kamu bisa bertanya
padauk” ucap Clayandra lagi.
“Terima kasih banyak, Tante” ucap Qiandra.
“Sudahlah, sekarang nikmati makan siangmu, Feli, jangan sampai cacing peliharaanmu itu mengamuk lagi” ucap Dika yang seketika membuat Qiandra menatapnya dengan horor. Namun, Qiandra tidak membalas ucapan sang kakak, karena perutnya benar benar sudah tidak sabar lagi minta diisi.
__ADS_1