
“Kamu…… mau apa kamu kesini” desis Daniel dengan suara dingin, matanya menatap tajam pada orang itu.
“Cup… cup…. cup…. kenapa kamu bertanya seperti itu Niel sayangku, bukankah kamu tahu hanya aku yang dapat menyembuhkan semua sakitmu, hmmmm, jangan menatapku seperti itu, kamu tahu tatapanmu akan membuat
imajinasiku semakin liar bukan” orang yang masuk ke dalam kamar Daniel melangkah dengan gemulai mendekati tempat tidur Daniel.
“Risty, keluar sekarang juga dari kamarku, sebelum aku memerintahkan orang menarikmu dengan paksa” desis Daniel pada orang yang tak lain dari Risty, mantan kekasihnya.
“Lakukanlah, apa yang kamu mau lakukan, Niel sayangku, dan kamu pasti tahu kalau aku juga akan melakukan apa yang aku mau lakukan” ucap Risty dengan manja. Wanita itu tidak
memperdulikan tatapan tajam Daniel, dia bahkan mendudukkan dirinya di tempat
tidur Daniel.
Risty bertindak seolah kehadirannya memang sudah seharusnya di kamar Daniel. Dia bahkan mulai melempar tasnya ke atas nakas dan perlahan mulai membuka jaket yang menutupi
bagian atas tubuhnya. “Niel sayangku, apa kamu akan membiarkan orang lain melihat tubuhku” rengeknya dengan manja seraya perlahan menyibak jaketnya.
Daniel hanya bisa mendengus kasar, dia menatap asisten Dika yang masih berdiri tegap di depan pintu kamar yang masih terbuka. “Keluarlah” desisnya dengan berat pada
asisten Dika, membuat laki-laki muda itu terkejut.
Asisten Dika menatap Daniel dengan tatapan penuh pertanyaan dan seakan tidak percaya mendengar perintah tuannya itu. Karena sepengetahuan asisten Dika, Daniel sangat membenci Risty, jangankan bertemu, mendengar namanya saja, sudah bisa membuat Daniel meradang. Namun, kali
ini, entah mengapa Daniel mau menuruti keinginan wanita itu.
Asisten Dika masih belum melangkah meninggalkan kamar itu, hingga dia melihat Daniel menganggukkan kepala kepadanya. Asisten Dika hanya bisa mendesah kasar, dia
sungguh tidak mengerti dengan dengan pemikiran Daniel, namun dia tidak bisa menolak perintah atasannya itu. Akhirnya, dengan berat hati, asisten Dika melangkah keluar dari kamar Daniel.
“Saya ada diluar, Tuan, kapanpun Tuan memerlukan saya, Tuan bisa memanggil saya” ucap asisten Dika sebelum dengan perlahan dia menutup pintu kamar Daniel. Walaupun asisten Dika tahu, bahwa dia tidak perlu mengatakan hal itu, karena Daniel pasti akan
memanggil dirinya jika ada yang diperlukannya. Namun, asisten Dika ingin agar Risty tidak bertindak berlebihan karena
asisten Dika bisa mendengarnya.
Risty tersenyum sinis penuh kemenangan menatap kepergian asisten Dika, “Ish, memang dikiranya aku akan perduli, dasar asisten nggak tahu diri, cuma orang miskin yang dikasihani saja berlagak sok hebat” desis Risty.
“Jangan berkata seperti itu tentang asisten Dika, sekalipun dia hanya anak yang dipungut, tapi dia memiliki dedikasi yang luar biasa
kepadaku, dan yang terpenting dia tidak pernah mengkhianati aku” ucap Daniel dengan menekankan pada kata mengkhianati pada Risty.
“Tapi buatmu, pasti aku jauh lebih berharga kan Niel sayang, buktinya kamu bisa mengusir asisten bodoh itu untuk melindungiku, hmmm” Risty melanjutkan membuka jaketnya dengan gaya sensual seraya memainkan matanya
melirik Daniel dengan tatapan nakal.
“Cukup, Risty, sekarang katakan saja apa yang kamu mau dan setelah itu segera tinggalkan tempat ini” desis Daniel. Laki-laki itu berusaha mengalihkan matanya dari pemandangan yang benar-benar membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Tidak bisa dipungkiri oleh Daniel, bahwa Risty adalah satu-satunya wanita yang mampu menaklukkan dirinya. Daniel sendiri tidak pernah mengerti mengapa pesona wanita itu begitu kuat pada dirinya sehingga dia tidak pernah merasa tertarik pada wanita manapun. Hingga dia bertemu dengan Qiandra, satu-satunya wanita yang mampu membuat jantungnya bergetar hebat. Wanita yang mampu membuatnya merasa bahagia walau hanya sekedar berada di dekatnya.
Teringat pada Qiandra, kembali membuat dada Daniel dipenuhi amarah, kecewa dan kesal, sehingga dia tidak lagi memperhatikan kondisi wanita di sampingnya yang sudah mengenakan pakaian sangat seksi. Daniel baru tersadar saat tangannya disentuh dengan lembut oleh Risty.
“Niel sayangku, apa yang kamu pikirkan, mengapa kamu mengabaikan aku, apa aku sudah terlihat tua sehingga kamu tidak tertarik lagi, hmmm, setidaknya pandanglah aku dan perhatikan dengan sungguh-sungguh” Risty
berbisik di telinga Daniel dengan suara sensual.
__ADS_1
Jemari lentik wanita cantik itu mulai menelusuri wajah Daniel dengan penuh kelembutan. Hembusan nafasnya bahkan menerpa wajah tampan sang presidir tampan itu. Aroma parfum yang begitu lembut namun
terkesan sangat seksi itu menerpa hidung Daniel membuat nafas laki-laki itu semakin memburu.
Sebagai laki-laki normal, Daniel tidak bisa mencegah gairahnya mulai terpancing, oleh setiap sentuhan yang dilakukan oleh wanita
itu. Sejak terakhir kali menyentuh Qiandra saat dua tahun yang lalu, Daniel tidak pernah sekalipun bersentuhan dengan wanita. Dan saat ini, Daniel harus berusaha mati-matian menolak setiap rangsangan yang diberikan oleh Risty.
Melihat reaksi tubuh Daniel, Risty mengulum senyum penuh kemenangan di bibirnya. Sebagai wanita yang sangat berpengalaman, Risty sangat tahu kalau Daniel sedang berusaha menolak gairahnya sendiri. Hal ini
membuat Risty semakin bersemangat untuk menggoda Daniel, tangannya semakin aktif menyentuh dan menelusuri tubuh kekar Daniel.
Daniel memejamkan matanya, masih terus berusaha menolak gairah yang semakin terbakar dalam dirinya. Sang presidir itu bahkan tidak mampu mengeluarkan kata-kata karena sedang bergelut dengan keinginan untuk menolak sentuhan Risty. Sayangnya, tubuh Daniel sama sekali tidak bisa diajak berkompromi dengan hatinya.
“Shtttt, ahhh, Risty, hentikan, jangan lakukan ini” desah Daniel masih berusaha menolak sentuhan Risty, namun tubuhnya justru menggeliat memberikan respon yang sebaliknya.
“Nikmatilah, Niel sayangku, jangan terus berusaha menolaknya, nikmatilah semuanya, aku akan memberikan pengalaman yang luar biasa dan tidak akan bisa kamu lupakan, nikmati saja, dan biarkan aku melayanimu dan
memberikan kamu kepuasan yang sudah lama kamu rindukan” desah Risty di telinga Daniel.
Daniel hanya bisa mendesah kasar, dia memejamkan matanya masih berusaha menolak gairah yang semakin menggila. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Daniel
malah semakin tenggelam dalam gairahnya. ******* yang berusaha ditahannya sejak tadi, sekarang lepas tanpa bisa ditahannya lagi. Daniel bahkan tidak lagi menolak saat jemari lentik Risty mulai membuka kancing piyama tidurnya, laki-laki itu dengan sukarela melepas piyama itu dari tubuhnya.
Senyum Risty semakin lebar saat melihat kepasrahan laki-laki itu, tubuh kekar Daniel membuat Risty menelan air liurnya sendiri. Tidak bisa dipungkiri, kalau tubuh presidir
tampan ini benar-benar sempurna, membuat Risty semakin bersemangat untuk menyentuh
seluruh bagian tubuh laki-laki itu.
meraih puncak kenikmatan tanpa memperdulikan apapun lagi.
Mereka berdua tidak lagi mengingat masa lalu yang sudah tercipta diantara keduanya. Semuanya seolah hilang sirna disapu oleh gairah membara yang bergelora dan terus
menuntut untuk dipuaskan. Bahkan saat
Daniel tak mampu lagi mengekang gairahnya, dia membalik posisi keduanya dan mengukung tubuh indah Risty dibawah tubuhnya.
Daniel menatap nanar tubuh seksi wanita yang terlihat sangat pasrah bahkan tersenyum menantang sambil menjilat bibir seksinya. Daniel yang benar-benar sudah terbakar
gairahnya dengan kasar menarik gaun tipis yang masih menutupi sebagian tubuh
Risty, membuat wanita itu menjerit kecil.
“Haish, Niel sayang, kamu ternyata masih seperti dulu, selalu tidak sabaran, kamu harus mengganti gaun mewahku tadi dengan
berkali-kali lipat” cicit Risty dengan manja.
Daniel hanya mendengus kasar, dia sudah tidak perduli pada apapun lagi, sentuhan Risty di dadanya membuat laki-laki itu semakin tenggelam dalam lautan gairah. Gairah yang sudah lama terpendam, dan saat ini tak bisa ditunda lagi untuk dipuaskan. Gairah yang dibalut dengan luka dan kepedihan membuat Daniel benar-benar bermain kasar.
Risty yang cukup terkejut dengan perlakuan Daniel, tak bisa lagi menahan keinginan laki-laki itu. “Niel, tak bisakah kamu lebih lembut padaku, kamu menyakitiku” seru Risty saat merasakan gigitan kasar Daniel di salah satu asset berharganya.
Namun, seruan Risty sama sekali tidak diperdulikan oleh laki-laki itu, dia terus mendominasi permainan yang semakin mengarah pada penyiksaan. Jeritan kesakitan Risty justru semakin memacu gairah Daniel, bukannya membuat laki-laki itu merasa iba
dan berbelas kasihan.
__ADS_1
“Niel, hentikan, kamu benar-benar telah menyakitiku” seru Risty sambil berusaha melepaskan diri dari kukungan laki-laki kekar itu. Risty berusaha ingin bangun dan menjauh dari tempat tidur itu, namun tangan Daniel sudah terlebih dulu menariknya dan kembali menghempaskannya ke tempat tidur dengan keras.
“Kamu tidak akan bisa lepas dariku kali ini, Baby, bukankah ini yang kamu inginkan, hah, ayo mana janjimu tadi, heh, kamu bilang kamu akan memberikan pengalaman yang tidak terlupakan bukan, ayo lakukan dan layani aku”
seru Daniel. Senyum iblis terpampang jelas di bibirnya membuat Risty tanpa sadar bergidik ketakutan.
“Niel sayangku, aku akan melakukan apapun untuk melayanimu, tapi kumohon jangan perlakukan aku seperti ini” desis Risty berusaha meluluhkan hati laki-laki itu. Air mata perlahan
mengalir dari kedua mata wanita itu, bukan karena sedih tapi karena menahan rasa sakit atas perlakuan kasar Daniel pada seluruh bagian tubuhnya.
“Nikmati saja, Baby, bukankah kamu yang menginginkan ini dan menyerahkan dirimu kepadaku, jadi jangan mengeluh, kamu yang memintaku untuk menikmatinya, nikmatilah, JA*ANG” desis Daniel dengan tanpa belas kasihan.
Kata terakhir yang diucapkan Daniel, benar-benar mengejutkan Risty. Wanita itu tidak menyangka kalau Daniel bisa menyebutnya seperti itu. Karena selama ini, Risty beranggapan kalau Daniel masih tergila-gila
padanya, dan tidak ada wanita manapun mampu menggeser posisinya di hati Daniel.
“Pantas saja istri Dean tidak menginginkanmu, jika kamu seperti ini memperlakukan wanita” seru Risty dalam keputus asaan. Tubuh wanita itu benar-benar sudah babak belur dan dia sudah tidak mampu melakukan perlawanan lagi. Risty berharap dengan menyebut nama Dean, maka Daniel akan marah melepaskannya dan mengusirnya seperti biasa saat dia
mendengar nama Dean disebut dihadapannya.
Namun, betapa terkejutnya wanita itu, karena harapannya ternyata sia-sia belaka. Kata-katanya memang menyebabkan darah Daniel mendidih dan kemarahan terpancar jelas di
matanya. Tapi, kemarahan itu tidak membuat Daniel melepaskan apalagi mengusir Risty.
Justru sebaliknya, kemarahan Daniel seakan menuntut pelampiasan dan saat ini, Ristylah yang menjadi sasarannya. “Dan kamu harus bertanggung jawab untuk hal itu, ja*ang” seru Daniel.
“Cukup, cukup, Niel, aku tak sanggup lagi, kamu bisa membunuhku” isak Risty dalam rasa sakit yang luar biasa.
“Jangan harap, sebelum aku merasa puas aku tidak akan melepaskanmu” seru Daniel.
“Ampun, ampun Niel, kumohon ampuni aku” isak Risty semakin menjadi-jadi saat merasakan Daniel semakin menyiksa dirinya. Namun, Daniel seolah tidak mendengar isak tangis wanita itu.
Daniel benar-benar seperti orang yang kerasukan, jiwa iblisnya seperti dibangkitkan. Dia sama sekali tidak perduli dengan keadaan Riaty saat ini. Bahkan keadaan Risty yang begitu mengenaskan justru membuat Daniel semakin ingin menyakiti wanita itu.
Rasa sakit dan dendam yang tersimpan selama bertahun-tahun dalam hati laki-laki itu, seakan ingin dibalaskannya semua pada saat ini. Rasa sakit saat Risty melakukan penkhianatan dulu juga penolakan yang dilakukan oleh wanita itu, benar-benar membuat Daniel tidak memberi rasa belas kasihan sedikitpun pada wanita itu.
Seruan dan teriakan Risty lama kelamaan semakin melemah, wanita itu benar-benar tidak mampu lagi berbicara apalagi melakukan
perlawanan. Sampai pada akhirnya, Risty
benar-benar tidak mampu lagi menahan rasa sakit luar biasa di tubuhnya, dan wanita
itu akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.
Daniel tidak menyadari kalau Risty sudah tidak sadarkan diri, dia terus saja melakukan aktifitasnya. Hingga pada akhirnya, dia bisa mencapai puncak kepuasannya, dan dia segera bangun meninggalkan Risty yang sudah tidak berdaya sama sekali. Daniel tidak perduli pada keadaan wanita itu, dia meninggalkannya seperti sebuah barang yang tidak berharga.
Daniel masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat dia keluar dia melihat kalau Risty sama sekali belum bergerak dari posisi saat dia ditinggalkan. Daniel segera
melangkah mendekati wanita itu lalu meraba denyut nadinya, “Hmm, ternyata hanya
tidak sadarkan diri, kukira sudah mati” desis Daniel dengan dingin.
Daniel segera memanggil asisten Dika yang memang tetap menunggu di luar kamarnya. "Dika, siapkan pakaian untuknya, juga cemilan, aku tak mau dia menggunakan kondisi lemahnya untuk memanfaatkan kita lagi" ucap Daniel. Dia melangkah dan duduk di kursi yang ada di depan jendela besar di kamar itu.
Asisten Dika melirik sekilas pada keadaan Risty, laly segera berbalik keluar meninggalkan kamar itu. "Haish, aku tidak menyangka Tuan Daniel bisa sekejam itu, hah, itulah akibat yang harus ditanggung Risty" bisik asisten Dika dalam hati saat melangkah meninggalkan kamar mewah itu.
__ADS_1