
Dika kecil akhirnya meraih sepatunya yang ada di gazebo itu, pelayan memang selalu menyiapkan sepatu cadangan untuk mereka di situ. Semuanya dilakukan untuk berjaga jaga jika alas kaki yang mereka pakai basah saja. Setelah memasang sepatunya, barulah Dika melangkahkan kakinya menuju puing puing rumahnya.
Dika menatap puing puing rumahnya lalu melangkah diantara sisa reruntuhan yang masih ada disana. Perlahan dia mengais melihat mungkin ada sesuatu yang bisa diambilnya. Setelah beberapa lama, tiba tiba matanya melihat sebuah kotak besi yang tertutup oleh reruntuhan. Dika segera menghampiri peti besi itu, dengan berhati hati dia menyingkirkan sisa reruntuhan yang menutup peti besi itu.
Akhirnya Dika bisa mengambil peti besi itu, dia berusaha mengangkatnya dengan susah payah. Untunglah Dika selalu senang berolahraga khususnya angkat beban, sehingga walaupun berat, dia berhasil mengangkat kotak besi itu. Dika membawa kotak besi itu kembali ke gazebo dengan susah payah.
Setelah sampai di gazebo, laki laki muda ini terus memperhatikan kotak besi itu. Dia tidak tahu bagaimana caranya membuka kotak besi itu. Dan saat dia sedang asyik memperhatikan kotak itu, tiba tiba dia mendengar deru kendaraan di kejauhan.
mengikuti instingnya, Dika kecil segera mengangkat kotak besi itu dan berlari ke arah pepohonan.
Disana dia menemukan sebuah lubang tersembunyi yang biasa menjadi tempatnya dan Felicia menyembunyikan barang barang mereka. Dika segera menyembunyikan kotak besi itu, dan menutup lubang itu dengan rumput dan dedaunan kering.
Setelah itu, barulah dia mencari tempat bersembunyi yang strategis, agar dia bisa melihat siapa yang datang ke reruntuhan mansion keluarganya. Tiga buah mobil jeep berhenti di depan reruntuhan mansion keluarga Dika. Beberapa orang dengan wajah sangar turun dan langsung memeriksa keadaan sekitar.
Tubuh Dika menegang karena ketakutan, namun dia berusaha menguatkan hatinya. Lalu, mata anak laki laki itu tercengang saat melihat seorang laki laki turun dari salah satu jeep yang ada di tengah.
"Paman Lee" desis Dika dengan hati senang. Dia sudah akan keluar dari persembunyiannya, namun segera diurungkannya saat mendengar kata kata laki laki yang disebutnya Paman Lee itu.
"Periksa semuanya, pastikan tidak ada satupun yang tersisa, aku tidak mau ada keturunan Kenric dan Queensha yang selamat, juga seluruh barang mereka pastikan semuanya menjadi abu" seru Paman Lee dengan seringai kejam di wajahnya.
Dika yang sudah akan berlari ke arah pamannya, segera kembali menyembunyikan diri. Sungguh ini sangat sulit di percaya olehnya, jika saja bukan telinganya sendiri yang mendengarkan Paman Lee berbicara.
Selama ini yang dia tahu, Paman Lee, sebagai adik satu satunya dari ayahnya, adalah paman yang selalu melindungi keluarganya.
"Paman Lee, jadi dia pelakunya, ta .... tapi mengapa, bukannya dia selama ini sangat baik dan sangat setia pada ayah" desis Dika dalam hati.
"Tuan, sepertinya semuanya sudah habis terbakar, disana juga ada beberapa jenazah, termasuk satu jenazah anak laki laki dan anak perempuan. Apa perlu kita melakukan otopsi pada kedua jenazah" itu ucap salah satu anak buah Paman Lee.
"Tidak perlu, aku yakin itu pasti kedua setan kecil itu, karena tidak ada anak anak lain yang berada di rumah ini. Bakar semua jenazah yang ada, jangan sampai ada yang tersisa" seru Paman Lee lagi.
Dika yang mendengar semua itu, merasa amarah yang begitu besar dalam dirinya. Namun, untunglah laki laki muda itu masih bisa menguasai dirinya, dia sangat sadar dia tidak mungkin melawan sang paman saat ini. Dika hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat, dengan wajah memerah menahan amarah dalam dirinya.
"Lee, akan ku balas semua perbuatanmu, semua darah orang orang yang aku kasihi akan aku tuntut darimu suatu hari kelak" desis Dika bersumpah dalam hatinya. "Air mata ini adalah air mata terakhirku untuk semua duka ini, aku tidak akan meneteskan air mata sampai aku bisa membalas semua kejahatanmu" .lanjutnya lagi seraya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Dika menatap api pembakaran jenazah orang orang yang ada di mansionnya dengan mata nyalang. Amarah dan dendam dalam diri anak laki laki muda itu, membuat air matanya seakan kering. Luka dalam hatinya akibat kehilangan orang orang yang dikasihinya menumbuhkan dendam yang begitu besar.
__ADS_1
Tiba tiba phonsel Paman Lee berbunyi, laki laki itu segera mengangkatnya, "Apa, kalian sudah menemukan Kenrich, dia di rumah sakit?, bagaimana keadaannya" tanya Paman Lee.
Dika tidak bisa mendengar apa jawaban orang yang menelepon Paman Lee, tapi sahutan Paman Lee selanjutnya benar benar membuat seluruh tubuhnya bergetar.
"Jadi Kenrich sudah mati sebelum tiba di rumah sakit, ha ha ha, baguslah, tapi pastikan lagi dia memang tidak sempat berbicara dengan siapa pun" seru Paman Lee disertai dengan tawa puas membahana.
Rasa sedih begitu mendalam dalam hati Dika, bukanlah hal yang mudah saat mendengar ayah terkasihnya telah meninggalkan dunia ini untuk selama lamanya. Namun, air mata sama sekali tidak lagi menetes di mata anak laki laki itu. Matanya hanya memerah menahan segala rasa dalam hatinya, sedih, kecewa, terluka dan rasa kehilangan yang begitu besar semuanya tertutup sempurna dengan sebuah kemarahan yang diselimuti dendam.
Dika sama sekali tidak menyangka paman Lee yang selama ini terlihat begitu menyayangi dirinya dan selalu memenuhi semua keinginannya, bisa berbuat sekejam ini pada keluarganya. Dika kecil sungguh tidak mengerti apa yang telah terjadi, karena sepengetahuannya, paman Lee tidak pernah berselisih pendapat dengan ayahnya. Walaupun keduanya memang jarang bertegur sapa, Dika hanya menduga itu karena kesibukan keduanya saja.
Dika masih menatap pamannya dengan tatapan yang sukar dimengerti, rasa tidak percaya, amarah, benci dan dendam di bola matanya tergambar penuh arti. Betapa hati anak laki laki ini begitu sangat ingin berlari mendekati pamannya dan bertanya mengapa laki laki paruh baya itu tega melakukan semua ini pada keluarganya. Namun, dia masih bisa menahan dirinya, Dika sangat tahu jika dia mendekati pamannya saat ini sama saja dengan dia menyerahkan nyawanya.
"Aku akan dan harus tetap hidup, untuk membalas semua kekejian ini, Daddy, Mommy, Feli, tolong beri aku kekuatan agar aku bisa berdiri dan membalas semua kejahatan Lee. Sejak saat ini dia bukan lagi laki laki yang pantas ku panggil paman, dia adalah iblis yang akan kuhancurkan hingga ke akar akarnya" desis Dika dalam hatinya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Periksa seluruh area ini, dan pastikan benar benar tidak ada yang tersisa" seru Paman Lee kepada anak buahnya dan membuat Dika segera menyembunyikan tubuh kecilnya.
Dika kecil begitu gemetar saat melihat semua anak buah Paman Lee mulai berpencar mencari di semua tempat. Hingga sebuah suara membuat tubuh anak laki laki itu kembali menegang dengan hebat. "Tuan, sepertinya ada seseorang yang baru menggunakan gazebo ini, lihat jejaknya masih basah" seru salah satu anak buah Paman Lee yang tampaknya memeriksa gazebo.
"Apa!!!" seru paman Lee lalu bergegas menuju ke gazebo itu, "Periksa dengan teliti, apa ini benar masih baru atau bekas kemarin, jika memang masih ada yang hidup, langsung tembak di tempat" seru paman Lee lagi penuh kekejaman.
Dika yang mendengar hal itu, berpikir dengan cepat, dia menyadari disini bukanlah tempat yang aman lagi untuk dirinya. Dengan berusaha menguatkan hati, Dika merangkak dengan perlahan menjauhi tempat itu, dan saat dirasanya sudah cukup aman, barulah laki laki kecil ini berdiri dan berlari dengan cepat.
"Hei, yang disana, berhenti atau kutembak" seruan salah satu anak buah paman Lee yang sempat melihat sekelebat bayangan Dika terdengar menggelegar.
Dika terkejut bukan main, namun dia tidak mau menghentikan langkahnya, dia bahkan mempercepat larinya. Dika tahu dibalik bukit kecil yang ada di depannya adalah jalan raya, karena itulah dia berusaha untuk terus berlari agar bisa mencapai jalan raya. Dika berharap bisa meminta bantuan siapa saja yang melewati jalan raya itu nantinya.
Dor .. dor .. dor
Suara tembakan terdengar memekakkan telinga, membuat jantung Dika seakan berhenti berdetak. Tapi nalurinya memerintahkan dirinya untuk terus berlari dan berlari karena dia sudah berada di kaki bukit kecil itu. Sebentar lagi, Dika akan bertemu jalan raya yang ditujunya, namun dia bisa mendengar derap langkah dan seruan orang orang di belakangnya.
Dika kecil bahkan tidak berani menoleh ke belakang, dia hanya terus berlari dan berlari melewati semak dan pohon pohon kecil yang ada di bukit kecil itu. Setidaknya, Dika cukup bersyukur karena sang daddy membiarkan hutan di bukit kecil ini tetap terjaga, sehingga Dika bisa terus berlari tanpa bisa dilihat dengan mudah oleh para pengejarnya.
Dika terus berlari tanpa henti, melewati semak belukar tanpa rasa takut. Padahal, Dika tidak pernah berani mendekat ke semak belukar karena dia sangat takut akan ada ular yang bersembunyi di semak semak. Namun, sekarang Dika sama sekali tidak memikirkan hal itu, yang ada di otaknya hanyalah berlari dan terus berlari.
Dika terus berlari, hingga tanpa dia sadari dia sudah memasuki areal jalan raya dengan cepat. Dan pada saat itulah, sebuah mobil limousine melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Ciiiiitttttt ..
Rem mobil mewah itu berdecit dengan keras akibat sang sopir yang begitu terkejut karena tiba tiba ada anak kecil berlari di hadapannya. Sang sopir mengumpat dengan kasar, lalu segera turun dari mobil mewah itu.
"Ada apa, Bram" sebuah suara bariton bertanya pada sang sopir yang baru saja akan turun dari mobil mewah itu.
"Maafkan saya atas ketidaknyamanan Anda, Tuan, sepertinya ada seorang anak kecil tiba tiba berlari di depan mobil kita" ucap sang sopir yang bernama Bram.
"What, mana dia, apa kamu menabraknya, Bram" tanya laki laki paruh baya itu.
"Entahlah, Tuan saya akan memeriksanya dulu" sahut Bram, lalu dia segera turun dari mobilnya.
Bram segera melangkah ke depan mobil limousine itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang anak kecil sedang berusaha berdiri. "Hei, apa kamu gila, bagaimana bisa kamu berlari ke tengah jalan seperti tadi" seru Bram dengan kesal.
Bram berjalan mendekati anak kecil itu dengan kesal, lalu dia menarik anak itu agar berdiri. Bram memperhatikan kondisi Dika dengan tatapan penuh ketelitian. Dia melihat banyak sekali goresan luka di tubuh anak kecil itu, "Hei, anak kecil jangan katakan luka luka di tubuhmu ini adalah karena kamu tertabrak mobil ini" seru Bram.
Bram menyadari kalau mobilnya tidak menabrak anak itu, karena dia berhasil menginjak rem tepat pada waktunya. Hal itu terjadi karena memang Bram membawa mobil dengan kecepatan sedang, seandainya dia membawa dengan kecepatan tinggi, maka Bram tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anak itu.
Bram kembali menelisik keadaan Dika dengan seksama, keningnya sedikit berkerut saat melihat dan memperhatikan anak itu. Dika seorang anak dengan perawakan sehat, matanya bersinar walaupun penuh dengan ketakutan. Bram juga memperhatikan pakaian anak itu, walaupun terlihat lusuh, tapi Bram tahu itu pakaian bermerk dan punya harga fantastis bagi seorang sopir seperti Bram.
Sementara Dika yang merasa bersalah, masih berusaha menenangkan hatinya karena rasa terkejutnya saat hampir di tabrak mobil tadi. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan menatap Bram, "Maafkan saya, Om, saya tidak sengaja, saya hanya sedang melarikan diri dari orang orang jahat yang mengejar saya" ucapnya dengan suara tegas walaupun terdengar sedikit bergetar.
Kening Bram seketika mengernyit, dia sedang mempertimbangkan jawaban anak itu. "Bram, bagaimana keadaan anak itu" sebuah suara bariton berseru dari dalam mobil, membuat Bram segera berlari ke arah suara itu.
"Maaf, Tuan, anak itu tidak tertabrak mobil kita, tapi tubuhnya penuh dengan luka, katanya dia melarikan diri dari orang orang jahat yang mengejar dirinya" Bram melaporkan pada laki laki paruh baya yang ada dalam limousine itu.
"Ya, sudah, berikan saja dia uang untuk berobat dan mencari kendaraan umum, lalu lanjutkan perjalanan, tidak perlu melibatkan diri dengan hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kita" jawab laki laki itu.
Brak ......
Pintu sebelah limousine itu tertutup, membuat Bram dan laki laki paruh baya tadi tersentak. "Tuan Muda Daniel, . ...." seru Bram lalu bergegas mengejar anak laki laki yang baru keluar darui mobil itu.
Terlihat seorang anak laki laki berumur sekitar dua belas tahun melangkah dengan langkah tegap dan penuh kharisma. Dia mendekati Dika lalu memperhatikan keadaan anak itu dengan seksama, "Benarkah kamu dikejar orang jahat" tanyanya pada Dika dengan tatapan tajam penuh selidik.
"Benar, mereka di belakangku, ku rasa sebentar lagi mereka akan muncul di balik bukit itu" sahut Dika sambil menunjuk ke arah bukit yang baru saja di lewatinya tadi.
__ADS_1
Saat mereka menoleh ke arah bukit itu, maka terdengarlah teriakan para anak buah Paman Lee berseru kepada Dika, "Hei kamu tunggu disitu, jangan coba lari" seru mereka.
Sekilas saja anak laki laki tadi melihat dia sudah bisa mendapati kalau orang orang itu bersenjata. "Kamu, cepat masuk ke mobil, Bram, segera berangkat sekarang" ucap anak laki laki itu dengan suara tegas lalu berbalik.