
Qiandra sedang asyik menyiapkan sarapan
pagi, ketika sepasang tangan kekar tiba-tiba
melingkar di pinggangnya. “Honey, please
jangan ganggu dulu, aku masih menyelesaikan ini” ucapnya tanpa menoleh ke belakang, Qiandra tahu pasti Dean yang memeluk tubuhnya dengan erat.
“Hmmmm, aku harus memberimu peringatan
keras karena kebiasaanmu meninggalkan suamimu sendirian di tempat tidur” desis Dean di telinga wanita itu. Tangan Dean terulur dan mematikan kompor listrik yang sedang dihadapi oleh Qiandra, lalu dia membalik tubuh wanita itu agar menghadap kearahnya.
“Love….” seru Qiandra protes terhadap kelakuan sang suami. Namun, tak dihiraukan oleh laki-laki itu, Dean malah langsung ******* bibir istrinya dengan lembut.
“Biasakan selalu memberi vitamin penyemangat untuk suamimu ini, Honey, tanpa itu aku pasti akan kehilangan semangat untuk memulai hari” desis Dean, dia menyatukan keningnya dengan kening Qiandra.
“Ish… mana bisa aku segera bangun kalau
harus memberimu vitamin dulu, aku yakin pasti akan banyak vitamin lainnya lagi” ucap Qiandra sambil menepuk pipi suaminya dengan lembut, dia menggesek hidungnya di hidung mancung
presidir tampan itu.
Dean tersenyum smirk mendengar kata-kata istrinya, “Bukankah kalau memberi harus lengkap, Honey, hmmm” desisnya, dia ingin kembali mencium bibir sang istri yang
membuatnya merasa candu, namun wanita itu berhasil meloloskan diri.
“Duduklah, Love, aku akan segera selesai,
kopimu sudah ada di atas meja” seru Qiandra sambil berlalu dengan cepat dari dekat suaminya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Dean tersenyum melihat tingkah istrinya itu, bahagia dalam hatinya benar-benar sempurna. Presidir tampan itu segera duduk di kursinya dan mulai menyeruput kopi yang telah disiapkan istrinya.
“Love, pukul berapa Kak Al dan temannya akan datang” tanya Qiandra di tengah aktifitasnya, membuat Dean hampir saja tersedak. Dean tidak menyangka kalau Qiandra menanyakan hal itu padanya, karena tadi malam Dean belum mendapatkan jawaban apakah Qiandra bersedia atau tidak.
“Honey, maksudmu kamu bersedia melakukan
pemeriksaan ini” tanya Dean memastikan jawaban Qiandra. Wanita itu membawa semangkuk bubur jagung ke hadapan suaminya dan meletakkannya dengan hati-hati.
“Love, mengapa juga aku harus menolaknya,
jika memang menurutmu itu bagus untukku, maka aku akan melakukannya. Apapun yang menurutmu baik untukku, aku percaya itu pasti benar-benar baik untukku, karena jika ku tidak percaya pada suamiku sendiri satu-satunya orang yang kumiliki saat ini, lalu kepada siapa lagi aku harus percaya” sahut Qiandra . Dia
mengambil tempat duduk di samping suaminya, lalu menyiapkan sarapan untuk Dean.
“Syukurlah, Honey, aku akan menghubungi Al”
Dean bernafas lega sekaligus merasa sangat bahagia mendengar jawaban Qiandra. Dia meraih phonselnya dan segera menghubungi
dokter Albert.
“Segera bawa temanmu itu kemari, Qiqi
bersedia menjalani pemeriksaan” ucap Dean saat sudah tersambung dengan dokter Albert.
“Baik, enam puluh menit lagi, kami akan tiba di sana” sahut dokter Albert.
Dean meletakkan phonselnya kembali ke atas
meja, dia menatap istrinya dengan rasa bahagia. “Terima kasih, Honey, kamu mau mempercayaiku” ucapnya, jemarinya meremas lembut jemari Qiandra.
“Kamu satu-satunya yang aku miliki saat
ini, Love, jika aku tidak mempercayaimu, lalu siapa lagi yang bisa menjagaku. Aku yang berterima kasih padamu karena telah mau bersusah payah dan perduli pada keadaanku” sahut Qiandra.
Dean tersenyum menatap istrinya, “Aku akan
selalu menjagamu, Honey, dengan nyawaku
dan semua yang aku miliki” ucap Dean.
“Terima kasih, Love” sahut Qiandra, airmata
menetes dari sudut matanya. Ada bahagia
yang merasuk dalam hatinya mendengar perhatian laki-laki itu.
“Hei hei, jangan lagi meneteskan air matamu, Honey, sekarang ayo kita makan, sebentar lagi mereka akan datang” ucap Dean sambil menggengam erat tangan Qiandra. Qiandra hanya mengangguk, lalu keduanya menikmati sarapan pagi mereka dengan bahagia.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama, Qiandra dan Dean duduk di ruang tamu menunggu kehadiran dokter Albert dan temannya yang akan memeriksa Qiandra. “Love…. aku takut” desis Qiandra sambil bersandar di dada suaminya.
“Apa yang kamu takutkan,Honey, hmmm” tanya Dean dengan lembut, tangannya membelai rambut panjang istrinya dengan penuh kasih. Qiandra mengangkat kepalanya, dan menatap suaminya dengan intens.
“Aku takut, jika kamu tidak bisa menerima
apapun yang akan kamu dengar nanti” ucap Qiandra, matanya berusaha mencari
jawaban di mata suaminya.
“Jangan merusak pikiranmu dengan hal-hal
yang tidak mungkin, Honey, tidak ada yang akan bisa mengubah perasaanku padamu,
kamu tahu itu” Dean tersenyum dan berusaha memberikan semangat untuk Qiandra.
“Tapi…..” belum sempat Qiandra menyelesaikan kata-katanya, bel pintu sudah berbunyi. Dean membuka pintu menggunakan remote control karena dia tidak ingin melepaskan pelukannya pada Qiandra. Dan tak lama kemudian mereka melihat dokter Albert, asisten Vian dan seorang laki-laki paruh baya lainnya masuk ke ruang tamu.
“Silahkan duduk, Tuan…” Dean mempersilahkan
laki-laki paruh baya itu untuk duduk.
“Saya dokter Tirta, Tuan Dean, terima kasih” sahut laki-laki paruh baya itu seraya memperkenalkan diri, lalu dia duduk di hadapan Dean dan Qiandra.
“Oh, iya, dan ini istriku, Qiandra, kurasa Al sudah menceritakan masalah yang dihadapi Qiandra padamu” sahut Dean dengan suara datar seperti kebiasaannya saat harus berurusan dengan orang-orang luar.
“Salam kenal, Nyonya” dokter Tirta menunddukkan kepalaanya sedikit pada Qiandra, “Benar Tuan Dean, dokter Albert sudah menceritakan kronologis masalah yang dihadapi oleh Nyonya” lanjutnya lagi.
“Baiklah, dan ingat semua yang kamu ketahui
nantinya, hanya untuk dirimu saja, kamu tahu kan taruhannya” ucap Dean kembali tapi kali ini
ada sedikit ancaman dalam suaranya.
“Saya tahu, Tuan, dokter Albert juga sudah
berulang kali menagaskan pada saya, suatu kehormatan bagi saya karena bisa mendapat kepercayaan untuk menangani Nyonya” sahut dokter Tirta dengan tegas.
“Baiklah, kalau begitu apa bisa kita mulai
sekarang, atau Anda memerlukan ruangan khusus” tanya Dean lagi.
melakukan dalam ruangan yang lebih sempit dengan sedikit property. Agar kita semua bisa lebih fokus dan lebih berkonsentrasi, dan mohon maaf untuk phonsel kalau bisa tidak ada yang menimbulkan suara yang dapat menganggu proses pemeriksaan” ucap dokter Tirta.
“Vian, siapkan tempat yang diperlukan dokter Tirta, silahkan dok, Anda bisa langsung melihat ruangannya, sampaikan saja pada Vian jika ada yang Anda perlukan lagi” ucap Dean. Asisten Vian segera berdiri dan mempersilahkan
dokter Tirta untuk mengikutinya menuju ke lantai dua.
Dean memberikan kode pada dokter Albert,
membuat laki-laki itu segera berdiri, “Aku akan ikut ke atas untuk mengetahui apa saja yang diperlukan oleh dokter Tirta” ucap dokter Albert.
“Love….” Qiandra tiba-tiba menggenggam
tangan suaminya dengan kuat, wajahnya seketika menjadi pias. Dean meraih tubuh Qiandra lalu memeluknya dengan erat seolah memberi kekuatan untuk wanita itu. Dean bisa melihat perubahan raut wajah istrinya dan dia merasakan tubuh wanita itu bergetar.
“Honey, jika kamu percaya padaku, maka aku
yakin kamu bisa menghadapi ini semua. Aku akan tetap ada disisimu, percayalah, tidak ada yang akan mengubah itu” bisik Dean dengan lembut. Beberapa saat kemudian, setelah dia merasa tubuh Qiandra sudah tidak bergetar lagi, Dean menuntun wanita itu untuk naik ke lantai atas dan menuju ke kamar dimana dokter
Tirta bersama dengan dokter Albert dan asisten Vian sudah menunggu mereka.
Saat Dean dan Qiandra masuk ke dalam ruangan itu, semua mata langsung menatap ke arah Qiandra yang harus dituntun oleh Dean untuk melangkah. “Hei, Vian, apa kamu mau matamu di cungkil oleh laki-laki posesif itu, buat apa kamu menatap istrinya sampai biji matamu hampir keluar” seru dokter Albert dengan tiba-tiba.
Dean tahu kalau sahabatnya itu ingin
menghilangkan ketakutan Qiandra, “Awas saja kalau kamu berani memikirkan Qiqiku, walau kamu asistenku aku tidak akan segan-segan memecatmu” seru Dean pada asisten Vian, membuat laki-laki muda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Astaga, Al, kamu tega sekali menuduh aku
seperti itu, bukankah kamu yang lebih dulu terpesona pada kecantikan Nyonya Muda” ucap asisten Vian dengan wajah serius membuat asisten Albert melemparnya dengan kertas yang dipegangnya.
“Haish, tak kusangka kalau kalian berdua punya niat terselubung pada istriku, awas saja kalian kalau berani menyentuh Qiqiku” desis Dean. Qiandra yang mendengar candaan para sahabat suaminya itu hanya tersenyum, dia tahu mereka ingin menghiburnya.
Namun, saat Qiandra diminta duduk dihadapan
__ADS_1
dokter Tirta, dia kembali merasa ketakutan, tubuhnya kembali gemetar, jemarinya menggenggam erat tangan Dean. Wajah wanita itu seketika menjadi pucat pasi, ketakutan terlihat jelas dimatanya. Dean merasa sangat khawatir melihat kondisi Qiandra seperti itu, namun dokter Tirta memberikan isyarat agar Dean tetap tenang.
“Ada apa Qiandra, mengapa kamu ketakutan”
dokter Tirta bertanya pada Qiandra dengan menyebutkan namanya langsung tanpa
embel-embel apapun. Suara dokter Tirta
terdengar pelan dan lembut namun cukup dalam sehingga mengejutkan Qiandra.
“Aku takut kehilangan lagi” sahut Qiandra dengan pelan.
“Kehilangan siapa, Qiandra” tanya dokter Tirta lagi, dia memberikan isyarat pada asisten Vian, dan asisten Vian segera menyalakan kamera juga mematikan sebagian lampu serta menutup tirai jendela. Sehingga pencahayaan didalam ruangan itu berkurang seketika, Qiandra cukup terkejut dengan suasana itu,
tangannya mencengkram tangan Dean dengan kuat.
“Kamu takut kehilangan apa, Qiandra” tanya
dokter Tirta lagi dengan suara pelan namun tegas.
“Aku takut kehilangan Dean, aku tidak mau
kehilangan dia seperti aku kehilangan Charles” desis Qiandra dengan mata menyiratkan ketakutan yang sangat besar.
“Tidak ada yang bisa menentang kehendak
Tuhan, Qiandra, Charles meninggal karena kecelakaan dan dia berusaha menyelamatkan kamu dan anaknya, bukan” ucap dokter Tirta lagi, dia memang sudah mempelajari tentang masa lalu Qiandra.
“Itu bukan kecelakaan” seru Qiandra dengan
tiba-tiba membuat semua orang terkejut, namun keadaan Qiandra yang semakin ketakutan membuat dokter Tirta mengambil sebuah alat khusus. Alat itu mengeluarkan suara yang beraturan dan menenangkan.
“Tenanglah, Qiandra, coba selaraskan dirimu
dengan irama ini” ucap dokter Tirta, dia juga mengetukkan polpennya pada meja mengikuti irama dari alat itu. Perlahan Qiandra mengikuti ketukan irama itu, dan perlahan-lahan nafasnya terlihat tenang. Qiandra menyandarkan tubuhnya di kursi tempatnya duduk, Dean sendiri tetap membiarkan tangannya di cengkram oleh Qiandra.
Untungnya, Dean sudah membalut lengannya
dengan perban, sehingga kuku runcing Qiandra tidak lagi membuatnya terluka. Hal ini memang sudah disarankan oleh dokter Albert, karena dokter Albert tahu kalau hanya Dean yang bisa memberi ketenangan pada Qiandra. Dan, dokter Albert tidak ingin Dean sampai
terluka lagi seperti hari sebelumnya.
“Mengapa kamu mengatakan itu bukan
kecelakaan, Qiandra, sementara semua orang menyebutkan bahwa itu kecelakaan tunggal” kembali dokter Tirta bertanya pada Qiandra. Qiandra hanya diam, namun kepalanya
menggeleng dengan kuat, mata wanita
itu menyiratkan ketakutan yang sangat besar.
“Jika demikan, sekarang saatnya kamu harus bercerita padaku tentang kejadian hari itu, Qiandra, ceritakanlah sesuai dengan apa yang
kamu alami, bukan yang kamu dengar” dokter Tirta memberikan perintah tegas pada
Qiandra.
Qiandra menatap dokter Tirta, namun, dengan
tatapan kosong, pikirannya seolah sedang terbang jauh kembali ke masa lalu, ke hari naas itu. Saat dimana Qiandra harus kehilangan segalanya, orang yang dicintainya bahkan calon anaknya yang ada dalam kandungannya.
Semua orang dalam ruangan itu hanya bisa
menahan nafas menunggu wanita itu memulai ceritanya. Tidak ada yang mengeluarkn suara, bahkan untuk bernafas saja mereka harus berhati-hati agar tidak mengganggu keadaan Qiandra saat ini. Dokter Tirta sendiri hanya berdiam diri dan mengunci manik mata Qiandra yang menatapnya dengan intens. Tapi dokter
Tirta sangat tahu kalau pikiran Qiandra sedang jauh melayang. Dokter Tirta memberi
kesempatan untuk Qiandra menggali kembali semua kenangan yang tersimpan di alam bawah sadarnya.
Dokter Tirta sudah berbicara panjang lebar
dengan dokter Albert tentang kasus Qiandra. Dari situlah, dokter Tirta bisa menyimpulkan kalau trauma Qiandra berawal pada kejadian saat dia kehilangan suami dan anaknya. Namun, menurut dokter Tirta yang juga
didukung oleh pendapat dokter Albert, rasanya sangat tidak mungkin Qiandra sampai mengalami trauma parah seperti saat ini jika kecelakaan itu hanyalah kecelakaan biasa.
Oleh sebab itu, Dokter Tirta meminta asisten Vian mempersiapkan seperangkat kamera untuk merekam semua yang terjadi dalam ruangan itu. Dan apapun yang akan disampaikan oleh Qiandra nantinya bisa mereka pelajari lagi, dan tidak ada yang terlewat dari semua cerita yang akan disampaikan oleh Qiandra. Hal ini dilakukan karena dokter Tirta dan dokter Albert mencurigai ada yang tidak beres dalam kecelakaan yang menimpa Qiandra dan suaminya pada saat itu.
__ADS_1
Mata keempat laki-laki dalam ruangan itu semuanya tertuju pada Qiandra, bahkan helaan nafas wanita itupun seolah dihitung oleh mereka. Setelah menunggu, akhirnya penantian dan kesabaran keempat laki-laki itu ternyata tidak sia-sia. Perlahan-lahan mulut Qiandra mulai terbuka dan mulai bercerita “Hari itu, aku dan Charles akan pergi memeriksakan
kandunganku…….”