
Asisten Dika kembali mendesah berat, entah mengapa bayangan wajah adik kecilnya yang bernama Felicia terus membayang. Bayangan itu terus silih berganti dengan bayangan wajah Qiandra yang seolah tergambar dan terlukis di antara awan awan putih di bawah pesawat itu. Tanpa sadar otak asisten Dika membayangkan senyum kedua wanita yang berbeda usia itu.
Felicia kecil yang saat itu baru berumur 2 tahun, gadis cilik yang begitu cantik dengan rambut ikal coklatnya. Mata coklat yang bersinar terang dengan wajah imutnya yang selalu membuat setiap orang memandang wajahnya akan tersenyum bahagia. Asisten Dika masih mengingat dengan jelas saat Felicia berseru memohon agar asisten Dika tidak meninggalkan dirinya.
"Kak kak Dika, jangan pergi, Kak, Feli takut sendirian" seru gadis kecil itu di dalam bilik lemari tempat mereka berdua bersembunyi.
"Diamlah, Feli, aku tidak akan lama, aku hanya akan memeriksa keadaan di luar sekaligus melihat apa mommy dan daddy sudah bisa mengatasi keadaan" sahut Dika kecil berusaha menenangkan adiknya.
"Tapi Kak, Feli takut, bagaimana kalau orang orang jahat itu datang ke sini saat kakak sedang pergi" desis Felicia dengan berlinang air mata dan tubuh bergetar karena ketakutan.
"Feli, asal kamu tetap tenang dan jangan mengeluarkan suara apapun maka kamu akan aman disini. Kamu ingat kan tidak ada satu orang pun pelayan bisa menemukan kalau kita berdua bersembunyi disini. Jika pelayan saja yang sudah terbiasa dengan mansion ini tidak bisa menemukan kita, apalagi orang orang jahat itu. Jadi, sekarang kamu tetaplah tenang, dan anggap saja semua penjahat itu hanyalah pelayan yang sedang berusaha menemukan kamu" Dika kecil masih berusaha membujuk Felicia.
Masih segar diingatan asisten Dika kejadian saat itu, saat itu malam sudah cukup larut dengan rintik hujan yang masih menyirami bumi. Asisten Dika yang sedang belajar dengan ayahnya, dikejutkan dengan suara teriakan dan bunyi beberapa tembakan. Sang ayah dengan sigap langsung mengangkat tubuh asisten Dika dan berlari ke kamar rahasia yang pernah ditunjukkannya pada asisten Dika.
"Dika, tetap diam disitu, daddy akan mengambil adikmu dan mommy" seru ayah Dika seraya berlari menuju kamar Felicia. Tidak lama berselang, sang ayah mengantar Felicia dengan tergesa masuk ke dalam kamar itu.
"Apa mommy sudah di dalam Dika" tanya ayahnya saat meletakkan Felicia di dekat Dika.
"No, Daddy, mommy belum kesini" sahut Dika dengan tubuh bergetar dan kebingungan.
"Dika, jaga adikmu, bersembunyilah dalam lemari itu, tidak ada yang akan menemukan kalian. Sebentar lagi daddy dan mommy akan menjemput kalian" ucap laki laki itu dengan tegas, "Ingat selalu, kami sangat menyayangi kalian, apapun yang terjadi" lanjut sang ayah lagi seraya menutup pintu kamar itu yang langsung terkunci secara otomatis.
"Tapi, Dad ...." seru Dika, namun suaranya hanya terpantul kembali oleh pintu tebal yang langsung mengunci dia dan adiknya.
"Kak, Kak Dika, ada apa ini, Feli takut Kak, Feli mau Mom and Daddy" isak perlahan terdengar dari gadis kecil yang menggoyang tangan Dika seolah menyadarkan anak laki laki berumur 10 tahun itu.
"Tenang Feli, Mommy dan Daddy sedang ada yang harus mereka selesaikan, sebentar lagi mereka akan datang ke sini dan menjemput kita, lalu kita akan melanjutkan dongeng kamaren, kamu mau kan" ucap Dika dengan suara lembut berusaha menenangkan adiknya.
Padahal, Dika sendiri merasa sangat cemas dan takut, dia sempat mendengar suara teriakan dan tembakan tadi. Dika sangat yakin pasti bukan suatu yang kebetulan ketika sang daddy segera membawa dan menyembunyikan dia dan adiknya di ruang rahasia ini. Dika sangat yakin telah terjadi sesuatu di luar sana, entah apa itu.
Mengikuti naluri dan pesan sang ayah, Dika segera menuntun adiknya untuk bersembunyi di dalam sebuah lemari pakaian yang ada di ruangan itu. Walaupun ruang rahasia, tetapi ruangan kecil itu dilengkapi dengan fasilitas seperti sebuah gudang. Hal ini ditujukan untuk menyamarkan keberadaan beberapa lemari rahasia yang ada dalam ruangan itu. Termasuk lemari pakaian yang dijadikan tempat bersembunyi Dika dan adiknya.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Dika berinisiatif untuk keluar dan melihat situasi. Namun, rengekan sang adik membuat niatnya terhenti dan harus kembali berusaha meyakinkan sang adik bahwa tidak ada hal yang perlu di takutkan.
__ADS_1
"Kak, aku tidak mau tinggal, kalau kakak pergi maka aku juga akan ikut kemanapun kakak pergi" isak Felicia.
Dika mendesah perlahan, bukan dia tdak mau membawa adiknya pergi, tapi Felicia masih terlalu kecil dan langkahnya juga kecil. Jadi, kalau harus berlari pasti adiknya tidak akan mampu. Belum lagi rengekan dan tangisannya yang pasti tidak akan mengerti pada situasi dan tempat yang berbahaya.
"Baiklah, Kakak tidak jadi pergi tapi Kakak mohon hentikan tangismu, kita akan tunggu sebentar lagi, tapi jika masih belum ada yang datang, Kakak akan pergi dan kamu harus tinggal disini" kata Dika pada adiknya.
"Tidak mau, pokoknya aku tetap ikut kemanapun Kakak pergi" seru Felicia masih dengan tangisannya.
"Feli Sayang, Kakak akan keluar untuk mengambil camilan untuk kita, Kakak lapar, apa kamu tidak lapar" tanya Dika dengan lembut pada Felicia.
"Aku lapar, Kak, kalau begitu aku temani Kakak ambil makanannya" seru gadis itu dengan senyum di bibir mungilnya.
"Tidak bisa, Feli sayang, Kakak akan mengambilnya dengan cepat, Kakak tidak bisa membawa makanan sambil menggendong kamu" ucap Dika masih dengan lembut.
"Tapi Feli kan tidak perlu digendong, Kak, Feli bisa jalan sendiri" sahut Felicia masih kokoh dengan keinginannya.
"Tidak bisa, Feli, Kakak harus cepat cepat, apa kamu ingat Daddy menyuruh kita menunggu disini. Kalau Kakak tidak cepat cepat dan saat Daddy datang dia tidak menemukan Kakak, maka Kakak akan dimarahi Daddy. Apa Feli mau kalau Kakak dimarahi oleh Daddy" tanya Dika lagi sambil berusaha membujuk adiknya.
"Tidak, tidak, Feli tidak mau Kakak dimarah, kalau begitu kita tunggu saja Daddy datang, Kakak jangan pergi" Felicia yang sangat menyayangi sang kakak memang tidak pernah mau kalau kakaknya disakiti apalagi dimarahi oleh ayahnya.
Bukan Dika memanfaatkan belas kasih sang adik, tapi dia benar benar sangat ingin mengetahui keadaan di luar ruang rahasia itu. Padahal Dika juga tahu kalau di ruangan itu di salah satu lemari sudah tersedia makanan dalam jumlah cukup untuk mereka untuk beberapa hari.
"Baiklah, Kak, Feli tidak mau Kakak sampai sakit karena lapar, pergilah, Kak, tapi berjanjilah Kakak akan segera kembali" akhirnya gadis kecil itu mengalah. Dia tidak sampai hati kalau sang kakak harus menderita hanya karena keinginannya.
Dika tersenyum puas, akhirnya adik kecilnya itu mau juga mengikuti keinginannya. "Kakak janji, Feli, kamu tahukan kalau Kakak sangat menyayangi dirimu. Kakak tidak mungkin meninggalkan dirimu terlalu lama. Kalau begitu sekarang Kakak pergi dulu ya, tetaplah di sini dan jangan keluar sebelum Kakak sendiri datang menjemputmu" ucap Dika seraya memeluk tubuh mungil sang adik dengan penuh kasih.
"Baik, Kak" sahut Felicia, sebenarnya dia sangat berat berpisah dengan sang kakak, tapi dia juga tidak ingin kakaknya sampai sakit karena dirinya. Dika melepaskan pelukannya pada adiknya dengan perlahan, lalu setelah memperhatikan memang tidak ada orang lain dalam ruangan itu dia segera keluar dari dalam lemari pakaian itu.
Dika mulai melangkah dengan hati hati mendekati pintu ruangan itu, dia tahu kalau pintu itu memang terkunci, hanya bisa dibuka dengan password jika dari luar. Tapi jika dari dalam, pintu yang terkunci itu bisa dibuka tanpa password. Dika membuka pintu itu dengan tengan gemetar, dan setelah terbuka dia mengintip melalui celah kecil terlebih dulu.
Dika melihat semuanya begitu tenang, lalu dia berusaha mendengarkan semua suara yang mencurigakan. Dan setelah dia merasa semuanya aman, Dika perlahan keluar dari kamar itu lalu kembali menutp kamar itu dari luar. Dika melangkah dengan mengendap ngendap sambil menajamkan semua indra penglihatan dan pendengarannya.
"Lepaskan, lepaskan kami, apa yang kalian mau" seruan seorang wanita terdengar begitu pilu di gendang telinga Dika kecil.
__ADS_1
"Mommy" desis Dika yang sangat mengenali suara ibunya. Dika segera berlari menuju ke arah sumber suara wanita yang diyakininya sebagai suara ibunya. Saat Dika tiba di lantai dasar, dia tersentak saat melihat sang ibu sudah bersimbah dengan darah, namun masih ditarik dengan keji dan dimasukkan ke dalam mobil.
Jarak dari tempat Dika berdiri cukup jauh dari posisi ibunya, namun dia bisa mengenali ibunya dengan jelas. Wajah laki laki kecil itu mengeras dengan air mata mengalir di pipinya saat melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Dia segera berlari mengejar mobil yang sudah mulai bergerak meninggalkan halaman mansion mereka.
Dika terus berlari mengejar mobil mobil itu tanpa menghiraukan perih di kakinya yang tidak menggunakan alas kaki sama sekali. Dika terus berlari dan melupakan bahwa sang adik masih ada di dalam mansion. Rasa sedihnya saat melihat keadaan ibunya membuat laki laki muda itu lupa pada segala sesuatunya.
Hingga akhirnya dia begitu kelelahan, dan tanpa sadar ambruk ke tanah dengan terus memanggil ibunya. "Mommy ....... mommy" seru Dika dengan suara lemah. Lalu kemudian dia merasakan semuanya menjadi gelap di sekelilingya, dan laki laki muda itu jatuh tidak sadarkan diri di pinggir jalan sepi.
Dika tidak tahu entah berapa lama dia terbaring di pinggir jalan. Matanya perlahan terbuka saat merasakan tubuhnya begitu kedinginan dan sangat kesakitan. "Mommy, Dika sakit" serunya dengan suara lemah.
Nampaknya, laki laki muda itu masih belum menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Setelah beberapa saat, akhirnya Dika berusaha membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat kegelapan yang menyelimuti sekitarnya. Hingga dia disentakkan dengan sebuah ledakan yang menimbulkan suara yang sangat nyaring dan seketika keadaan di sekitarnya menjadi sedikit terang.
Dika berusaha mengingat apa yang telah terjadi, dan saat dia memandang kobaran api yang begitu besar barulah dia tersadar.
"Felicia" serunya lalu berlari dengan tubuh lemahnya kembali ke arah mansion mewah mereka yang sekarang sedang dilalap si jago merah.
Langkah kecilnya yang tertatih membuatnya tiba dengan sangat terlambat di depan mansion yang sekarang sudah menjadi lautan api. Tidak ada seorang pun yang terlihat disana, hanya suara api yang masih terus berusaha menghanguskan apa pun yang masih tersisa dari puing puing mansion itu.
Dika kecil jatuh terduduk dengan tangisan penuh penyesalan, "Feli ..... Feli ..... maafkan Kakak, sayang, maafkan Kakak" isaknya dengan pedih. Rasa sakit di sekujur tubuhnya ditambah lagi rasa sakit dihatinya karena kehilangan adik satu satunya membuat Dika kecil kembali jatuh tidak sadarkan diri.
Tidak ada mobil pemadam kebakaran, tidak ada juga ambulan atau kendaraan lain yang datang ke lokasi mansion itu. Padahal suara ledakan cukup keras di tambah lagi kobaran api yang begitu besar, harusnya akan segera menarik perhatian. Namun, pada kenyataannya, tidak ada sama sekali yang datang ke tempat itu.
Dika kecil menggeliat saat merasakan titikan air hujan jatuh di wajahnya. Perlahan dia membuka matanya dan pandangan pertama yang dilihatnya adalah puing puing mansion mewah milik keluarganya yang sudah menjadi tumpukan arang hitam dengan menyisakan kepulan asap. Perlahan rintik hujan yang tadinya kecil berubah menjadi semakin lebat.
Dika kecil perlahan bangun dan menatap ke sekelilingnya, lalu dia menemukan sebuah gazebo di dekat taman yang sering menjadi tempatnya berlindung dengan Felicia. Dika segera mengayunkan langkah menuju ke arah gazebo itu untuk melindungi dirinya dari rintik hujan yang mulai semakin lebat.
Saat Dika tiba di gazebo kecil itu, dia langsung naik ke atas bale bale yang ada disana dan membungkus tubuhnya yang kedinginan dengan selimut tebal yang tersedia disitu. Dan hujan pun turun dengan sangat lebat, disertai petir dan angin kencang. Beruntung Dika sudah berlindung di gazebo kecil itu, dia segera menurunkan tirai bambu di sekeliling gazebo itu untuk menghindari angin dan rintik hujan masuk ke dalam gazebo itu.
Selimut hangat dan suasana dingin membuat tubuh laki laki muda itu merasa nyaman. Rasa lelah dan sedih yang mendera dirinya perlahan membuatnya memutuskan untuk terlelap dalam mimpi. Air mata masih terlihat mengalir di sudut matanya saat dia terlelap. Dika kecil berharap saat terbangun nanti semuanya hanya menjadi mimpi buruknya.
Sayangnya harapan Dika tidak menjadi kenyataan, karena saat dia membuka mata keesokan harinya, dia masih terbaring di atas bale bale gazebo. Rasa dingin yang begitu menusuk membuatnya kembali merapatkan selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun, dia tidak bisa terus berdiam diri, rasa lapar di perutnya membuat Dika dengan enggan membuka selimutnya.
__ADS_1
Dika perlahan membuka tirai bambu yang menutupi seluruh gazebo itu. Dan perlahan cahaya matahari nan lembut langsung menyapa mata laki laki muda itu. Dan pemandangan yang kembali dilihatnya hanyalah puing puing mansion mewahnya. Air mata kembali mengalir di pipi laki laki kecil itu, keheningan di sekelilingnya seolah mendukung suasana hatinya yang remuk redam.