PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TIGA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

“Oh, begitu ya, baiklah, kalau memang kamu tidak mau, kita sarapan saja ya, atau apa ada sesuatu yang ingin kamu makan, biar aku minta pelayan menyiapkannya” ucap Daniel.


Daniel memilih mengalah pada keinginan Qiandra, walaupun sebenarnya dia sangat ingin menekan wanita itu agar mau jujur dengan keadaannya.


“Cukup roti dan telur setengah matang” seru Qiandra spontan kembali membuat kening Daniel berkerut.


“Roti tidak akan cukup untuk memulihkan energimu, aku sudah meminta pelayan menyiapkan makanan favoritmu, nasi goreng sea food” sahut Daniel.


“Tidak, tidak, aku tidak mau sea food” seru Qiandra dengan panik. Membayangkan saja makanan sea food sudah membuat perutnya bergolak.


“Kamu tidak suka sea food, kamu serius, Qiandra” tanya Daniel dengan suara penuh kebingungan.


Daniel sangat tahu kalau Qiandra adalah seorang penggemar sea food apalagi jika dibuat dengan rasa pedas. Jadi, sedikit mengherankan kalau wanita itu tiba tiba mengatakan dia tidak menyukai makanan tersebut.


“Eh, aku ….. aku ….., ehmmmm, mungkin karena kondisiku tidak terlalu fit sehingga seleraku jadi kacau, maaf ya, tidak usah dipikirkan lagi, aku makan roti saja” sahut Qiandra dengan gelagapan. Qiandra baru menyadari kalau Daniel sangat hapal dengan semua yang menjadi favorite dan yang tidak disukai olehnya.


Daniel menatap wajah Qiandra dengan intens, “Kamu tidak pernah seperti ini, Qi, kalau kamu sakit, kamu pasti akan memaksakan diri untuk menyantap apapun yang bisa membuatmu sehat. Lalu, megapa sekarang kamu seolah tidak ingin kesehatanmu pulih, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku tentang keadaan dirimu, Qi” tanya Daniel dengan suara lembut.


“Tidak, tidak, sama sekali tidak ada hal yang aku sembunyikan, aku baik baik saja, mungkin hanya masuk angin dan kurang tidur, juga karena aku akan datang bulan saja. Sudahlah, jangan berpikiran yang tidak tidak Daniel, tapi terima kasih kamu sudah mau mengkhawatirkan diriku” sahut Qiandra berusaha membuat suaranya setenang mungkin.


“Hah, baiklah, jika kamu tidak mau jujur padaku, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu, tapi jika kamu tidak mau terbuka, aku juga tidak bisa memaksamu. Aku hanya ingin kamu tetap sehat, jadi aku akan mencari pengobatan yang baik dan sesuai dengan keadaanmu dan penyebab sakitmu ini. Kalau hanya masalah datang bulan, aku yakin para pelayan disini siap membuat ramuan yang bisa memperlancar datang bulan sehingga kamu tidak akan menderita lagi” ucap Daniel bersikap seolah mengalah. Padahal sebenarnya dia sedang memancing respon Qiandra terhadap ucapannya.


“Tidak, jangan, jangan membuat ramuan macam macam, aku sunguh tidak memerlukannya, selain itu, itu juga akan sangat berbahaya untuk …..” Qiandra menghentikan kata katanya. “Astaga, hampir saja aku mengatakannya” desis Qiandra dalam hati.


“Berbahaya untuk apa, Qi, jangan khawatir, para pelayan yang menyiapkan makanan disini juga chef terbaik, mereka tidak akan membuat sesuatu yang bisa membahayakan keadaan dirimu. Bukankah kamu sendiri yang bilang masalahmu adalah kamu mau datang bulan, jadi bukankah kamu harus mengkonsumsi makanan dan minuman yang bisa memperlancar datang bulanmu” ucap Daniel terus mencecar Qiandra.


Entahlah, sekalipun dia mengetahui keadaan Qiandra yang sebenarnya, dan dia sudah sangat yakin karena melihat respon dari Qiandra. Tapi Daniel tetap ingin mendengar kejujuran dari mulut Qiandra sendiri.


Qiandra terdiam, dia berusaha memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Daniel agar laki laki itu mau mengerti keadaannya. Qiandra juga tidak bisa mengatakan keadaannya yang sebenarnya, karena dia masih merasa takut dan khawatir kalau Daniel tidak bisa menerima keadaannya.


“Kenapa kamu diam, Qi, apa kamu benar benar tidak ingin mengatakan keadaanmu yang sebenarnya padaku, apa kamu masih begitu takut padaku, Qi” tanya Daniel lagi dengan senyuman tulus menghias wajahnya.


Qiandra menghembuskan nafas berat, dia benar benar masih bimbang tentang apa yang harus disampaikannya pada Daniel. “Maafkan aku, Daniel, untuk saat ini aku sungguh sungguh tidak bisa mengatakan apa pun padamu. Bagiku ini adalah berita bahagia, tapi untukmu, hah, aku yakin ini adalah berita buruk. Dan aku sama sekali tidak bisa memprediksi apa yang akan kamu perbuat padaku dan bayi ini” bisik Qiandra dalam hati.

__ADS_1


“Qi, …..” Daniel mengembalikan kesadaran wanita yang saat ini sepertinya tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Qiandra tersentak mendengar teguran Daniel, “Maafkan aku, Daniel, tapi aku rasa aku hanya perlu beristirahat saja saat ini. Tidak perlu repot repot menyiapkan apapun untukku, karena aku sungguh sungguh sedang tidak ingin memakan apa pun. Tolong jangan mendesakku terus” sahut Qiandra pada akhirnya.


“Hah, baiklah, jika kamu tetap tidak mau jujur, Qi. Tapi aku akan tetap menunggu kejujuranmu, aku harap kamu mau terbuka padaku tentang keadaanmu, agar aku bisa membantumu untuk memulihkan kesehatanmu. Jangan khawatir, kamu tahu seberapa besar aku menyayangimu, aku tidak akan mungkin menyakiti dirimu, apapun yang terbaik untukmu pasti akan aku lakukan untukmu” ucap Daniel dengan tulus.


“Baiklah, terima kasih atas pengertianmu, Daniel” ucap Qiandra. Wanita itu bernafas lega karena Daniel tidak lagi mendesak dirinya. Karena Qiandra sungguh masih belum bisa mengatakan keadaan dirinya saat ini. Dia masih belum yakin kalau Daniel bisa menerima keadaan dirinya yang sedang berbadan dua saat ini.


“Apapun yang bisa membuatmu merasa nyaman, aku akan melakukannya” ucap Daniel. “Kalau begitu makanlah, apapun yang kamu ingin makan, katakan saja, jangan menyembunyikannya” ucap Daniel dengan lembut pada Qiandra.


Qiandra hanya mengangguk samar lalu mulai menyantap roti tanpa selai yang tersedia di hadapannya. Walaupun sebenarnya Qiandra sama sekali tidak ada selera makan, tapi dia juga sadar kalau dia harus mengkonsumsi sesuatu tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk janin yang ada dalam rahimnya.


Baru satu lembar roti yang masuk dalam perut Qiandra, dia kembali merasa perutnya bergolak. Qiandra berusaha mati matian untuk menahan rasa mualnya, dia tidak ingin Daniel semakin curiga padanya. Namun, apa daya, perut Qiandra benar benar bergolak, membuat Qiandra segera berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.


Daniel mengerutkan keningnya melihat Qiandra yang melangkah dengan tergesa menuju kamar mandi. “Qi, ada apa” tanya Daniel yang melihat sekilas wajah wanita itu seperti sedang menahan sesuatu. Namun, Qiandra tidak mengacuhkan panggilan Daniel, dia segera masuk ke kamar mandi dan langsung menyalakan semua kran air di sana.


Daniel mendesah saat kembali mendengar suara Qiandra muntah di dalam kamar mandi. “Hah, mengapa kamu masih menutupi hal ni, Qiandra. Tapi, seandainya kamu jujur, aku juga belum bisa memutuskan apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus mendukungmu dalam menjalani masa hamilmu, atau apa aku harus ……”pikiran Daniel yang sedang menerawang terhenti saat dia mendengar suara benturan yang cukup keras dari dalam kamar mandi.


Qiandra hanya membuka matanya sedikit dan menatap Daniel dengan tatapan sendu. Sungguh, Qiandra tidak ingin berada dalam keadaan ini, dia tidak ingin terlihat lemah dan semakin bergantung pada laki laki itu. Tapi apalah daya, tubuh Qiandra benar benar seperti tanpa tulang, sehingga jangankan untuk berjalan untuk tetap berdiri saja dia tidak mampu.


Daniel segera berlari dan tanpa banyak bicara langsung meraih tubuh Qiandra dan menggendongnya ala bridal style. Qiandra yang merasa tubuhnya sangat lemah hanya mampu mengangkat tangannya dan mengalungkannya di leher Daniel. Daniel menatap mata sendu itu sekilas dan hanya bisa menghembuskan nafas berat saat melihat bibir seksi itu mengucapkan kata “Maaf”.


Daniel segera membawa Qiandra keluar dari kamar mandi, untungnya pakaian wanita itu tidak basah, sehingga Daniel tidak harus kebingungan mengganti pakaian Qiandra. Perlahan Daniel meletakkan tubuh Qiandra diatas tempat tidur, lalu kemudian dia menaikkan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.


Qiandra tersenyum sendu menatap ke arah laki laki itu, “Maafkan aku selalu merepotkanmu, dan terima kasih atas perhatianmu” ucapnya dengan lemah.


Daniel menarik sebuah kursi lalu duduk di samping Qiandra, tangannya terulur merapikan beberapa helai rambut wanita itu yang menutupi wajah cantiknya.


“Jangan terlalu banyak berpikir, yah, walaupun aku masih berharap kamu mau jujur tentang keadaanmu, tapi untuk saat ini, istirahatlah” ucap Daniel dengan lembut.


Qiandra tersenyum dan mengangguk lemah, dia memang merasa kalau tubuhnya benar benar sangat lemah saat ini. Bahkan kepalanya terasa sangat pening, namun wanita itu tidak ingin mengatakannya pada Daniel.


Qiandra sungguh masih belum siap mengatakan apapun saat ini. Yang dia inginkan hanya menutup matanya dan berusaha mengembalikan tenaganya lagi.

__ADS_1


Jika bisa memilih, Qiandra sungguh tidak ingin bergantung pada Daniel, walaupun sebenarnya keadaannya saat ini sangat membutuhkan seseorang untuk menolong dan mendampingi dirinya.


Namun, Qiandra sadar kalau semakin dia bergantung pada Daniel, maka akan semakin sulit bagi laki laki itu untuk melepaskan dirinya. Karena itulah, sebisa mungkin Qiandra menghindari melakukan terlalu banyak interaksi dengan laki laki itu.


Daniel menatap sendu wajah Qiandra saat wanita itu menutup matanya. Ada sakit yang perlahan menjalar dalam hatinya Ketika menyadari kalau wanita itu semakin jauh darinya. Kehamilan Qiandra seolah menjadi penghalang yang akan semakin menjauhkan keduanya. Dan Daniel juga tidak bisa berbuat apa apa, karena jika sampai terjadi hal hal yang tidak diinginkan, maka otomatis dirinya akan disalahkan.


Perlahan Daniel berdiri dan melangkah menjauh dari Qiandra, saat rasa sakit dihatinya semakin menghujam. Saat Daniel sudah tiba di balkon kamar mewah itu, dia tidak mampu lagi menahan buliran bening yang mengalir di sudut matanya. Berulang kali Daniel menghembuskan nafas dengan berat, seolah ingin mengikis semua rasa sakit yang semakin mendera hatinya.


“Kenapa, Qiandra, kenapa aku harus bertemu denganmu, kenapa takdir tidak bisa membiarkan kamu menjadi milikku” desis Daniel dalam hati.


Laki laki itu mencengkram pagar pembatas balkon itu dengan erat, berusaha menyalurkan rasa sakit di hatinya. Namun, semakin dia berusaha membuang rasa sakit itu, justru semakin tajam terasa duri duri menusuk ke jantungnya. Hingga akhirnya, tubuh kekar itu perlahan merosot lemah dan terduduk di lantai bersandar pada dinding balkon.


“Qiandra, aku tidak bisa melihatmu terus menderita seperti ini, tapi aku juga tidak mungkin kembali merenggut kebahagiaanmu. Lalu apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku perbuat, Qiandra. Aku tahu kamu sangat ingin bertemu dengannya, tapi aku juga tidak bisa begitu saja merelakan dirimu” desis Daniel dengan hati remuk redam.


Daniel menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya, laki laki tampan itu terlihat benar benar terpuruk. Jika ada orang yang melihat keadaannya saat ini, maka orang tidak akan menduga kalau itu adalah Daniel Putra Mahardika. Seorang presidir tampan, mapan dan selalu angkuh dengan wajah dinginnya di berbagai keadaan.


“Apakah ini saatnya aku benar benar harus melepaskan dirimu, Qiandra, karena jika aku melepaskan dirimu saat ini, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagiku untuk bersama denganmu. Tapi aku masih belum sanggup, Qiandra, terasa begitu sulit dan terlalu berat bagiku untuk melihatmu bahagia bersama laki laki lain” kembali Daniel bergelut dengan hati dan pikirannya sendiri.


Daniel masih duduk termenung, matanya menatap Qiandra yang masih beristirahat di atas tempat tidur. Hatinya yang sakit terasa semakin resah saat melihat betapa pucatnya wajah wanita itu. “Qiandra, apa yang harus aku lakukan, tolong katakan padaku. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin berpisah denganmu. Tapi aku juga tidak sanggup melihatmu terus menderita saat bersamaku, karena aku sangat tahu dalam keadaanmu seperti ini pun kamu tetap tidak ingin bergantung padaku” Daniel terus berdialog dengan hatinya.


Entah berapa lama Daniel tenggelam dalam pikirannya, rasa sakit hati silih berganti hadir dengan rasa bersalah karena membuat Qiandra terus menderita. Daniel harus benar benar bergumul dengan egonya sendiri untuk tetap mempertahankan keberadaan Qiandra di sisinya. Namun melihat betapa menderitanya wanita itu, walaupun Daniel sudah berusaha melakukan semua yang terbaik untuk Qiandra.


Tiba tiba Daniel melihat Qiandra bergerak dengan gelisah, membuat Daniel segera bergerak mendekati wanita itu. Daniel ingin menyentuh Qiandra, namun tangannya tertahan saat mendengar wanita itu berdesis dalam tidurnya.


“Tidak, tidak, aku mohon jangan rebut anakku, jangan ......” desis Qiandra sambil bergerak dengan gelisah. Tubuhnya meringkuk sambil memeluk perutnya dan berusaha menyembunyikannya.


Daniel mengernyitkan keningnya mendengar igauan Qiandra, “Apa dia takut aku akan merebut anaknya, ataukah dia teringat akan saat itu ......” desis Daniel dalam hati.


“Kak Charles, tolong aku ....” seru Qiandra lagi dalam tidurnya dengan suara lemah namun seperti petir yang menyambar telinga Daniel.


“Charles ......, jadi Qiandra kembali memimpikan saat itu walaupun sudah lama berlalu” desis Daniel yang benar benar terkejut saat Qiandra menyebut nama mendiang suaminya. “A ..... apakah semua itu benar benar melekat di ingatanmu, apa kamu benar benar mengingat semuanya, apa kamu juga tahu apa yang sebenarnya terjadi dan oleh sebab itu kamu menolakku, atau kamu menyimpan trauma atas semua peristiwa itu” lanjut Daniel masih dalam hatinya.


Wajah Daniel tiba tiba menjadi pucat, dia menatap Qiandra sambil menggelengkan kepalanya lemah. “Tidak, tidak mungkin kamu mengetahui semuanya” desis Daniel lagi dengan bergetar.

__ADS_1


__ADS_2