
Terima kasih buat semua yang telah setia mengikuti PLMJ, maafkan author yang tidak bisa memenuhi ekspetasi kalian yah. Author akan berusaha menyelesaikan novel ini sebelum Ramadhan, biar bisa tenang juga. Tetap author mengharapkan vote, komen dan like readers kesayangan author, walaupun kalian pasti kecewa sama author🙏🙏🙏
...----------******----------...
“Aku yakin kamu cukup bijaksana untuk memisahkan antara kebencianmu dan kasus yang sedang kuhadapi ini. Aku memerlukan pendapatmu, Love, sebagai suamiku dan ayah dari anak anakku kelak. Karena apapun keputusan kita sekarang, pasti akan ada konsekuensi yang akan kita hadapi di masa yang akan datang” ucap Qiandra.
Tangan Dean yang sedang membelai lembut rambut panjang sang istri terhenti saat mendengar kata kata Qiandra. Laki laki tampan itu menatap wajah wanita cantik yang sangat dicintainya itu, sesaat Dean menghela nafas, kemudian kembali mengulas senyum teduh. “Kamu selalu bisa mengambil hatiku, Honey, dan hanya kamu yang bisa
melakukan itu. Sebenarnya, aku tidak perduli pada laki laki itu lagi, apakah dia hidup atau pun mati. Tapi, sepertinya aku tidak bisa begitu saja membuang semua masa lalu yang pernah ada. Kamu benar, bahwa apapun keputusan kita sekarang pasti akan ada
konsekuensi di masa yang akan datang. Dalam hal kasus ini, aku hanya bisa mengatakan padamu agar kamu mempertimbangkan siapa yang menjadi korban dalam kasus ini, sama seperti kasus
orang tua kita. Karena suda pasti bukan
hanya kamu yang menjadi korbannya, bukan” ucap Dean panjang lebar.
Qiandra seketika tertegun, dia segera bangun dan dia menutup mulutnya dengan tangannya, “Astaga, Love, kamu benar, astaga, bagaimana aku bisa melupakan mereka, ya ampun” seru Qiandra. Respon Qiandra membuat Dean sedikit terkejut karena sang istri tiba tiba saja bergerak bangun dan langsung berdiri.
“Honey, berhati hatilah” seru Dean dengan nada khawatir serta segera menahan tubuh Qiandra yang terlihat sedikit limbung.
“Ahhhh, ma maafkan aku, Love” ucap Qiandra sambil memegang kepalanYya yang sedikit pening karena dia tiba tiba bangun. Dean dengan sigap membantu sang istri untuk kembali duduk dan menyandarkannya di kursi
khusus ibu hamil.
“Apa kamu baik baik saja, hmmmm” tanya Dean dengan rasa khawatir saat melihat sang istri masih memejamkan matanya. Qiandra hanya menggangguk sekilas, lalu perlahan membuka matanya.
“Aku baik baik saja, Love, sepertinya aku memang harus selalu bergerak perlahan, gerakan refleks tadi membuatku sedikit pusing. Tapi sekarang, aku sudah baik baik saja” ucap Qiandra berusaha meyakinkan sang suami.
“Baiklah, usia kandunganmu sudah cukup besar, Honey, jadi ku mohon berhati hatilah” ucap Dean dengan suara lembut, walaupun Qiandra tahu kalau sang suami merasa kesal dengan kecerobohannya.
__ADS_1
“Iya, Love, maafkan aku” cicit wanita hamil itu.
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, kalau begitu sebaiknya sekarang kamu beristirahat saja, jangan memaksakan dirimu untuk memikirkan berbagai hal” Dean kemudian membantu Qiandra berdiri dan menuntunnya menuju ke pembaringan mereka.
Sebagai raja, Dean bisa saja memanggil pelayan dan menyuruh untuk mengurus istrinya, seperti yang dilakukan raja lainnya. Namun, rasa cinta yang begitu besar membuatnya tidak membiarkan sembarangan orang mengurus
sang istri. Sedapatnya, Dean akan melakukan segala sesuatu untuk melayani Qiandra. Qiandra yang melihat ketulusan sang suami,
tersenyum bahagia, walaupun sebenarnya dia masih belum ingin beristirahat. Namun, karena Dean yang langsung membimbingnya, maka Qiandra pun tidak menolak.
“Terima kasih, Love” ucap Qiandra saat sang suami menyelimuti dirinya dan memperbaiki posisi selimut itu.
Dean tersenyum, lalu mengecup lembut dahi sang istri, “Sudah kukatakan jangan terus menerus berterima kasih, Honey, kamu adalah ratuku, maka sudah menjadi kewajibanku
untuk selalu manjaga dan membahagiakan dirimu. Sekarang, pejamkanlah matamu, dan tidurlah, aku akan menemanimu disini hingga kamu terlelap” bisiknya dengan penuh kelembutan, membuat Qiandra merasa benar benar sangat dicintai.
Perlakuan penuh kasih dari sang suami yang teru membelai pucuk kepala Qiandra, membuat wanita hamil yang awalnya merasa tidak ingin beristirahat, perlahan terlelap dan masuk dalam dunia mimpi. Dean yang menyadari kalau Qiandra sudah terlelap, tersenyum hangat, “Entah apa lagi bagian masa lalumu yang akan terkuak kelak, Honey, tapi apapun itu, aku tidak akan membiarkan kamu menghadapinya sendiri. Jika mungkin, maka aku sendirilah yang akan menghalau semua masalah itu dari jalanmu. Kamu cukup mengetahui saja, tanpa harus membebani pikiranmu” desis Dean dalam hati.
meninggalkan ruangan mewah itu. Di depan
pintu kamar, empat orang pelayan dan beberapa orang bodyguard berdiri dengan
siaga. Mereka serentak membungkukkan
badan saat melihat pintu kamar terbuka.
“Jangan pernah lengah” ucap Dean saat melangkah melewati para pelayan dan bodyguard itu.
“Baik Yang Mulia” sahut mereka dengan serempak.
__ADS_1
Dean melanjutkan langkahnya menuju ke ruang kerja yang terletak berdampingan dengan kamar utama. Walaupun bersebelahan, namun jarak kedua kamar itu cukup jauh, karena masing masing memiliki ukuran yang sangat luas.
Sementara Qiandra segera terjaga sesaat setelah sang suami meninggalkan kamar utama. Qiandra yang pada dasarnya memang belum mengantuk, hanya terlelap sesaat karena kehangatan cinta sang suami. Saat Dean meninggalkannya, seolah alarm yang segera membuat wanita cantik itu terjaga. Namun, Qiandra tidak segera membuka matanya, dia tahu kalau sang suami mengawasi dirinya.
Qiandra perlahan membalik tubuhnya dan membelakangi posisi CCTV yang ada di ruangan itu. Tidak juga merasa yakin, Qiandra sengaja tidak membuka matanya. Otak wanita itu mulai berkelana, dan berusaha mencerna semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya.
“Kak Charles, maafkan aku yang sempat melupakan keluargamu, maafkan aku yang telah lama mengabaikan mereka, maafkan aku, karena aku semua ini terjadi” desis hati Qiandra. Ada rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang teramat besar dalam hatinya saat kembali mengingat almarhum suaminya.
Qiandra berusaha menahan isakannya, karena dia tahu kalau Dean melihat dia menangis, maka laki laki itu akan segera menghampiri dirinya. “Aku sungguh tidak pernah menyangka kalau akulah yang menjadi alasan semua kejadian tragis yang menimpamu dan anak kita, Kak, ku mohon maafkan aku” desis Qiandra dengan air mata berlinang.
Qiandra begitu larut dalam pikirannya dan kesedihannya hingga dia tidak menyadari kehadiran sang suami yang ternyat telah bersimpuh di hadapannya. Dean mengulurkan tangannya dan perlahan
menghapus air mata yang mengalir di wajah Qiandra. Seketika Qiandra membuka matanya saat merasakan sentuhan lembut di pipinya.
“Love, .....” desis Qiandra yang sedikit terkejut dengan keberadaan sang suami.
Dean tersenyum menatap wajah sang istri, “Ada apa, Honey, apakah kamu sedang bermimpi” tanya Dean dengan lembut.
“Maukah kamu memelukku, Love” pinta Qiandra yang memang merasakan sangat memerlukan tempat untuk bersandar. Dean yang mendengar permintaan istrinya, segera naik ke tempat tidur mewah itu dan mengulurkan tangannya pada sang istri. Qiandra langsung masuk dalam pelukan hangat sang suami, dan tanpa ragu lagi dia terisak di dada bidang laki laki itu.
Dean membiarkan sang istri melepaskan semua rasa yang menyesakkan dadanya. Dean sudah menduga kalau wanita itu pasti
akan merasakan kesedihan saat dia ditinggal sendiri. Perasaan Qiandra yang sangat lembut, sudah pasti akan didera rasa bersalah saat mengetahui dialah yang menjadi penyebab kematian suami dan anaknnya dulu.
Setelah beberapa saat, Qiandra terlihat mulai tenang, “Lepaskan saja semuanya, Honey, jangan ditahan, menangislah, hingga kamu merasa lega, karena ini untuk terakhir
kalinya aku mengijinkan kamu menangis karena masalah yang berhubungan dengan
semua laki laki di masa lalumu” ucap Dean. “Menangislah untuk masa lalumu itu sesaat, dan setelah itu tersenyumlah untuk sepanjang umurmu untuk masa depan bahagia yang akan kita gapai bersama” lanjutnya lagi.
__ADS_1
Qiandra tersentak mendengar kata kata sang suami, seketika dia tersadar kalau ada lecemburaan yang terselip dalam kata kata Dean. Qiandra baru menyadari bahwa suaminya sedang meredam rasa cemburunya, yang pasti membuat sang raja itu merasa kesal. Namun, dengan penuh cinta Dean tetap menyediakan dadanya untuk sang
istri.