PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TIGA PULUH DUA


__ADS_3

"Maaf, Tuan, asisten William tidak menyampaikan apapun tentang hal yang harus dipersiapkan. Dia hanya minta tolong saya tentang bagaimana caranya agar bisa menjadi asisten yang baik" sahut Risha membuat Dika mendesah sesaat.


"Astaga, mana dia sekarang" tanya Dika lagi dengan nada sedikit kesal.


"Tadi katanya mau mempersiapkan beberapa berkas, maaf, Tuan saya juga tidak bertanya tadi berkas apa yang mau di persiapkan asisten William" sahut Risha dengan sedikit ragu karena melihat kekesalan sang presidir itu.


"Ya, sudah, Risha, bantu William ya, bagaimana caranya agar dia bisa memahami tugas tugasnya. Atau kamu cari dari bagian HRD siapa yang bisa membantu dia agar dia bisa segera memahami tugas yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Aku mau siang ini dia sudah bisa mendampingi aku tanpa membuat hal yang memalukan" ucap Dika dengan suara tegas.


"Tapi, Tuan ....." Risha terkejut karena waktu yang diberikan oleh Dika begitu singkat.


"Jangan membantah, Ris, aku tahu kamu bisa, lakukan mana yang harus dan urgent, nanti siang kalian berdua harus bersiap mendampingi aku untuk konfrensi pers" ucap Dika tidak ingin dibantah.


"Baik, Tuan, kalau demikian saya permisi dulu" sahut Risha, dia tahu dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keinginan sang presidir.


"Haish, bagaimana caranya melatih si William, secara dia benar benar tidak tahu apa apa. William kan terbiasa selalu memberikan pendapat, apa mungkin dia bisa berdiam diri saja jika ada hal yang dirasa tidak sesuai" desis Risha dalam hati.


Saat Risha melangkah keluar dari ruangan Dika dia melihat asisten William sedang berdiri di samping mejanya. "Nona Risha, apa kata bos padamu" tanya asisten William dengan senyum yang dirasanya sangat manis untuk menyapa wanita yang begitu dikaguminya itu.


"Ah, untungnya Anda sudah berada disini Tuan William, baiklah, karena kita diburu waktu saya akan memberikan training kilat untuk Anda" seru Risha saat melihat asisten William sudah ada di mejanya.


"Maksud Nona Risha apa, diburu waktu untuk apa?" tanya asisten William dengan kebingungan.


"Hah, intinya Anda harus bersiap untuk konfrensi pers nanti siang mendampingi Tuan Dika tentunya sebagai asisten beliau" sahut Risha seraya melangkah ke tempat duduknya.


Risha mengambil buku catatannya, lalu membuka beberapa lembar, "Gotcha, ini dia untung aku sempat mencatat semua yang harus dilakukan. Duduklah, Tuan William, maaf kalau saya terpaksa harus sedikit mengajari Anda" ucap Risha lagi.


Asisten William mengikuti permintaan Risha, yah, dia memang bersedia melakukan apapun yang diinginkan oleh wanita itu. Apalagi jika bisa selalu bersama dengan wanita itu, ah, tentu saja asisten William tidak akan menolaknya. Dia tidak perduli apapun yang diinginkan oleh Risha, baginya asal bisa bersama dengan wanita itu sudah cukup menyenangkan hatinya.


"Baiklah, aku siap, untuk menjadi murid yang baik, Nona Risha, apalagi jika gurunya secantik Nona Risha, maka aku siap diajari apapun juga" ucap asisten William sedikit melancarkan rayuannya.


Sekertaris Risha mendelik menatap ke arah asisten William, tak habis pikir dengan kelakuan absurb asisten baru ini. Bagaimana bisa dia masih bersikap santai saat semua orang kini sedang panik memikirkan nasib perusahaan. "Tolong Anda fokus, Tuan William, ada banyak yang harus Anda pelajari agar Anda bisa mendampingi presidr dengan baik. Apalagi ini adalah penampilan pertama Tuan Dika di hadapan public sebagai presidir dari PT.Mahardika. Saya harap Anda tidak membuat kekacauan dan mempermalukan Tuan Dika" ucap Risha dengan nada sedikit kesal.


"Astaga, jangan kesal seperti itu, Nona Risha, aku hanya bercanda, agar suasana tidak terlalu tegang. Jangan terlalu serius, nanti bisa cepat tua lho, apa Anda mau wajah cantik Anda menjadi cepat keriput sementara Anda belum menemukan pasangan" sahut asisten William masih berusaha menggoda Risha.

__ADS_1


"Cukup, Tuan William, sebaiknya Anda segera membaca ini dan mempelajarinya. Maaf, Anda bisa melakukannya di kursi tamu disana, jika ada yang ingin Anda tanyakan, bisa Anda tanyakan langsung pada saya" sahut Risha dengan sedikit ketus berusaha meredam kekesalannya.


Risha memang punya penampilan yang menarik, tubuh seksinya selalu terbalut dengan pakaian brended yang membuat semua mata pria selalu tergoda untuk berlama lama menatap ke arahnya. Cantik dan seksi adalah dua kata yang pas untuk menggambarkan seorang sekertaris Risha. Tapi, sekertaris Risha selalu professional dalam pekerjaannya dan sangat tidak menyukai laki laki yang menggodanya pada jam kerja seperti saat ini.


Mungkin karena terbiasa bersama dengan Dika dan Daniel yang memang terkenal dingin dengan wanita. Jadi sekertaris Risha juga sangat terkenal dengan sikap dinginnya terhadap laki laki yang berusaha mendekati dirinya. Apalagi jika laki laki itu sudah mulai menggoda dirinya, maka dia akan langsung memasang tembok penghalang, sehingga tidak ada yang bisa mendekati dirinya.


Banyak gossip miring yang menerpanya, namun tidak sedikit pula yang memuji seorang sekertaris Risha. Namun, wanita tangguh ini tidak pernah menghiraukan apa kata orang. Risha tetap fokus pada tugas dan tanggung jawabnya sebagai sekertaris Dika. Karena kemampuannya inilah, maka Daniel langsung meminta dirinya menggantikan Qiandra sebagai sekertaris Daniel.


Sekertaris Risha punya tanggung jawab yang semakin berat, karena Dika juga tidak berniat mencari sekertaris lain untuk mengganti dirinya. Jadilah Risha sebagai sekertaris tunggal untuk kedua laki laki tampan nan menawan itu. Banyak karyawan yang merasa iri pada Risha, bagaimana tidak, wanita itu selalu berada di sisi kedua laki laki yang menjadi idaman banyak wanita.


Walaupun pada awalnya, Risha sempat merasa kesulitan melaksanakan tugasnya. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya Risha bisa menyesuaikan diri dan bekerja dengan sangat baik. Risha memang tidak bisa begitu dekat dengan Daniel, karena laki laki itu sangat dingin kepadanya. Namun, Risha tidak memperdulikan hal itu, dia sangat tahu bagaimana bosnya itu begitu tergila gila pada Qiandra.


Sekertaris Risha tidak habis pikir sebenarnya, bagaimana bisa seorang Qiandra menolak cinta yang begitu besar dari Daniel. Sementara, Risha sangat tahu bagaimana kesempurnaan seorang Daniel sebagai laki laki yang tampan, dengan tubuh atletis dan kaya raya. Tapi, saat Risha melihat sosok Dean Zacharias, dia hanya bisa berdecak melihat betapa sempurnanya lagi laki laki yang menjadi suami Qiandra itu.


Dibalik semuanya itu, sekertaris Risha sebenarnya sangat merasa kagum pada kemampuan seorang Qiandra. Dia sadar, jika dibandingkan dengan Qiandra, kemampuannya masih jauh dibawah wanita itu. Karena itulah, sekertaris Risha merasa cukup bersyukur atas kedudukannya saat ini yang bisa menggantikan Qiandra.


Sekertaris Risha tidak menjadi jumawa saat dia dipilih untuk menggantikan Qiandra. Dia hanya berpikir semua itu dilakukan karena para bosnya itu enggan mencari orang baru lagi. Padahal, sekertaris Risha tidak menyadari, kalau karena kapasitas dan kemampuannyalah maka dia dipilih.


"Apa aku tdak boleh tetap duduk disini, Nona Risha, aku ingin mempelajarinya disini saja, agar aku bisa langsung bertanya jika ada yang tidak aku pahami" sahut asisten William.


"Baiklah, baiklah, Nona Risha, jangan khawatir, aku akan mempelajarinya dengan teliti, pasti aku akan bisa apalagi mentorku adalah seorang wanita cantik" sahut asisten William lagi.


Sekertaris Risha hanya mendesah, dia tidak mau membalas ucapan asisten William. Dia segera menggeser posisi kursinya dan beralih pada layar komputer di hadapannya. Sekertaris Risha mengabaikan keberadaan asisten William dan mulai fokus pada pekerjaannya sendiri. Sebenarnya sekertaris Risha merasa enggan dengan keberadaan asisten William di hadapannya, dia khawatir laki laki itu tidak bisa konsen.


Ternyata kekhawatiran Risha tidak beralasan, karena asisten William bisa sangat serius mempelajari catatan panjang yang diberikan oleh sekertaris Risha. Beberapa kali Risha melirik ke arah asisten William, dan dia menyadari kalau laki laki itu benar benar serius. Jadi, sekertaris Risha pun tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dia juga mulai fokus pada pekerjaannya sendiri.


Mereka berdua begitu tenggelam dalam pekerjaan masing masing, hingga alarm di phonsel sekertaris Risha berbunyi menandakan waktu makan siang. Risha segera meraih phonselnya dan menonaktifkan alarm itu.


"Sudah waktu makan siang, Tuan William, saya masuk ke dalam dulu untuk menanyakan menu makan siang Tuan Dika" ucap sekertaris Risha seraya berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan Dika.


Namun, tidak berselang lama sekertaris Risha kembali keluar dan menghampiri asisten William, "Maaf Tuan William, Tuan Dika meminta kita untuk makan siang bersama di ruangannya, silahkan Anda masuk terlebih dulu, saya akan memesan makanan dulu. Maaf, apa ada yang ingin Anda pesan untuk menu makan siang Anda" tanya sekertaris Risha dengan sopan pada asisten William.


"Aku ingin menu special, Nona Risha, tapi aku yakin sekarang belum saatnya. Jadi, aku akan mengikuti pesananmu dan bos saja" sahut asisten William dengan santai membuat Risha mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Memangnya Tuan William mau makan apa, saya bisa pesankan langsung" sahut Risha masih kebingungan.


"Tidak usah dipesan, Nona Risha, karena pesnan saya sudah ada di sini" lagi asisten William menjawab dengan jawaban ambigu.


"Maksud Anda, Tuan?" tanya Risha semakin tidak mengerti. Asisten William berdiri dan berjalan mendekati sekertaris Risha, saat dia akan melewati wanita cantik itu, dia berhenti sejenak dan membisikkan kata kata yang membuat sekertaris Risha seketika tertegun.


"Karena yang aku mau cuma kamu, Nona Risha" bisik asisten William begitu dekat di telinga Risha, bahkan nafas asisten William pun terasa menyentuh leher jenjang wanita itu, membuat Risha tercekat seketika.


Sementara asisten William meneruskan langkahnya masuk ke dalam ruangan Dika.


"Jangan terlalu lama, Nona Risha, aku menunggu" celetuknya sesaat sebelum menutup pintu ruangan Dika.


Sekertaris Risha seketika terkejut saat mendengar bunyi pintu yang tertutup. Lalu dia segera mengembalikan kesdarannya dan memesan makanan seperti yang diperintahkan Dika. Risha berusaha mengabaikan ucapan asisten William yang dianggapnya memang sangat senang menggoda dirinya.


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan keluar dari lift dengan mendorong sebuah troli yang berisi makanan. Risha segera berdiri dan mengetuk pintu ruangan Dika, setelah mendengar perintah untuk masuk, Risha segera membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan pelayan membawa troli makan siang mereka.


Mereka bertiga mulai menikmati makan siang itu dengan tenang, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Baru setelah selesai makan siang dan semuanya sudah dibersihkan lagi oleh pelayan, Dika mulai membuka percakapan.


"Bagaimana Risha, William, apa kalian sudah siap?, aku harap kalian tahu tugas kalian masing masing nantinya. Jangan sampai kita melakukan kesalahan, karena sekecil apapun kesalahan kita akan selalu menjadi topic pembahasan dari seluruh awak media" ucap Dika kepada kedua orang yang duduk dihadapannya.


"Saya sudah siap, Tuan" sahut Risha dengan tenang.


"Dan bagaimana dengan kamu Will, aku juga akan memperkenalkan kamu kepada awak media nantinya. Kuharap kamu sudah cukup belajar, walaupun waktu yang aku beri terlalu singkat. Tapi aku yakin kamu punya otak yang cerdas, jadi tidak akan begitu sulit untukmu menyesuaikan diri" ucap Dika terarah pada asisten William.


"Terima kasih atas pujian dan kepercayaan, Anda, Tuan, saya akan berusaha dengan sebaik mungkin, semoga tidak mengecewakan Anda" sahut asisten William.


"Aku percaya padamu, Will, kalian berdua saat ini adalah harapanku untuk dapat membantuku mengatasi krisis ini. Ada banyak hal yang harus kita persiapkan agar kita dapat bertahan menghadapi gempuran Zacharias. Aku tidak berpikir untuk melawan mereka, karena aku sangat menyadari kekuatan mereka. Selain itu, kita juga berada di pihak yang salah dan fakta itu tidak bisa dibantah lagi. Jadi, sekarang yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk memperkecil kerugian yang akan dialami perusahaan saat Zacharias mulai bertindak" ucap Dika dengan serius kepada sekertaris Risha dan asisten William.


"Saya akan selalu siap, Tuan, apapun perintah Anda saya siap melakukannya demi perusahaan ini" ucap Risha dengan yakin.


"Walaupun saya tidak punya banyak pengalaman, tapi saya akan berusaha sebisa mungkin membantu dengan keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, Tuan" sahut asisten William dengan yakin pula.


"Baiklah, itu sudah lebih dari cukup bagiku, semoga kita bisa bertahan dan aku harap tidak ada yang akan mengambil keuntungan dari konflik ini. Karena nasib ribuan karyawan PT. Mahardika akan menjadi taruhannya, hal itulah yang menjadi salah satu alasan aku bersedia berada di posisi ini. Dan aku harap kalian berdua juga bisa berpikir hal yang sama, sebab tidak menutup kemungkinan akan ada tawaran menggiurkan untuk kalian berdua agar meninggalkan Mahardika" ucap Dika lagi dengan bersungguh sungguh.

__ADS_1


"Anda tahu loyalitas saya pada perusahaan ini, Tuan, Anda yang sudah mengangkat saya hingga bisa berada di titik ini. Jadi, hal yang mustahil bagi saya jika sampai tergiur apapun itu untuk mengkhianati Mahardika" sahut sekertaris Risha dengan mantap.


"Saya tidak bisa menjanjikan apapun, Tuan, karena saya tidak bisa memberi bukti kesetiaan saya, Tuan. Tapi saya yakin, kalau Anda mengenal saya dan track record saya, Anda sendiri bisa menilai saya" sahut asisten William juga.


__ADS_2