
“Tuan, tolong hargai saya, saya tidak jatuh dalam pelukannya, lagipula kalaupun saya jatuh dalam pelukannya, bukankah itu hak saya. Dan masalah saya dengan Tuan, bukankah sudah berulang kali saya menjawabnya, saya menghormati Anda sebagai atasan saya, tanpa ada niat lain” sahut Qiandra berusaha menahan kemarahannya. Qiandra merasa sedikit tersinggung mendengar tuduhan Daniel kepadanya.
Daniel berjalan mendekati Qiandra, “Lalu apa arti semua yang telah aku lakukan padamu, Qiandra, kamu tahu aku sangat mencintaimu, tapi kamu bilang kamu masih belum siap. Dan sekarang, jangan bilang kamu akan membuka hatimu untuknya, Qiandra” desah Daniel pelan, dia mengukung tubuh Qiandra di sofa tempat duduk Qiandra.
“Tu-Tuan…” Qiandra terkejut melihat sikap Daniel.
“Jangan memanggilku tuan, Qi, berapa kali aku sudah mengatakannya padamu, bagaimana bisa kamu memanggilnya dengan nama, sementara kamu tetap memanggilku tuan” sentak Daniel, dia menatap tajam kedua bola mata Qiandra.
“Tu…Daniel, kumohon jangan seperti ini” desis Qiandra dengan sedikit gugup.
“Kenapa Qiandra, bukankah dia bisa menyentuhmu jauh lebih intim dari ini lagi” desis Daniel dengan wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajah Qiandra. “Apa aku kurang berjasa bagimu, Qi, apa kurangnya aku darinya” lanjutnya lagi.
“Daniel, kumohon kita bicarakan ini dengan baik-baik” Qiandra mencoba menenangkan Daniel.
“Berapa banyak kita sudah berbicara, Qi, dengan baik-baik, apa kurang baik aku selama ini padamu” Daniel masih terus mengukung Qiandra.
“Baik, baik, maafkan aku, sekarang katakan apa yang kamu inginkan, Dan” ucap Qiandra berusaha mengalah, dia sadar percuma menentang Daniel saat ini.
“Yang aku mau hanya kamu, Qiandra, kamu menjadi milikku, hanya milikku, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Berikan hatimu untukku, dan saat ini juga aku akan menikahimu, hanya itu yang aku mau, Qiandra” ucap Daniel dengan sedikit nada frustasi.
“Tapi, itu masalah hati, Dan, bukanlah hal yang bisa disepakati apalagi dipaksakan” sahut Qiandra dengan nada pelan.
“Aku tidak ingin memaksamu, Qiandra, aku meminta, memohon padamu, tak bisakah kamu belajar menerima aku, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, Qiandra” sendu suara Daniel membuat Qiandra hampir tak tega. Namun, Qiandra tidak bisa membohongi hatinya kalau dia tidak merasakan apapun pada Daniel.
“Dan, kumohon beri aku wak…..” ucapa Qiandra terpotong oleh sentakan Daniel.
“Sudah cukup banyak waktu yang kuberikan untukmu, Qiandra, jangan lagi meminta waktu padaku, bertahun-tahun waktu yang kuberikan padamu, apakah waktu selama itu masih belum cukup untukmu” sentak Daniel.
“Ma-maafkan aku, Daniel” desis Qiandra, Daniel mendengus kasar dia mengerti maksud Qiandra.
__ADS_1
“Minumlah, Qi, setelah ini kita akan pulang” ucap Daniel pelan, “Aku terpaksa melakukan ini, Qiandra, kuharap dengan cara ini, kamu tidak akan pernah lagi berpikir untuk meninggalkan aku” desis Daniel dalam hati.
Tanpa rasa curiga, Qiandra langsung mengambil air minum yang tersedia diatas meja, dan dengan sakali angkat, Qiandra menghabiskan minuman itu. Baru saja Qiandra meletakkan gelasnya, dia melihat Daniel melangkah kedalam kamar mandi.
“Tunggulah sebentar, Qiandra, aku ingin ke kamar mandi dulu” ucap Daniel lembut. Qiandra hanya mengangguk, dalam hati dia cukup lega dan berharap mereka dapat segera kembali pulang.
Saat Daniel berada di kamar mandi, Qiandra tiba-tiba merasa ada hawa panas yang menjalar ditubuhnya, dia berusaha mengipas badannya. Qiandra berjalan meraih remote ac untuk menurunkan suhu udara dalam kamar itu, namun dia tetap merasa kepanasan.
Qiandra benar-benar gelisah, dia bahkan membuka beberapa kancing gaunnya yang kebetulan terletak di bagian depan. Masih belum puas dan masih merasa kepanasan, akhirnya Qiandra membuka seluruh kancing bajunya, namun dia tidak melepaskannya.
Rasa panas itu semakin menguasai Qiandra, membuatnya bergerak-gerak dengan gelisah, berkali kali dia melirik ke arah pintu kamar mandi. Qiandra merasa begitu ingin disentuh saat ini, hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi padanya, namun otaknya sudah tak mampu lagi berpikir jernih. Qiandra akhirnya membuka gaunnya sehingga hanya menyisakan pakaian dalamnya saja.
Saat Daniel keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, Qiandra menatapnya dengan mata penuh gairah. “Nona Qiandra apa yang Anda lakukan” seru Daniel yang seolah terkejut dengan penampilan Qiandra yang sudah setengah bu*il.
Qiandra tidak memperdulikan pertanyaan Daniel, gairah sudah menguasai alam sadarnya. Qiandra justru melangkah mendekati Daniel, “Daniel, maukah kamu melakukannya denganku, kumohon, aku sangat membutuhkannya” desis Qiandra di telinga Daniel.
Qiandra tidak memperdulikan kata-kata Daniel, dia malah menyambar mulut Daniel dan me*umatnya dengan sangat rakus. Qiandra seperti wanita yang sangat haus akan belaian dan sentuhan laki-laki.
Daniel tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mulai membalas semua perlakuan Qiandra, bahkan Daniel mulai mendominasi permainan mereka. Perlahan Daniel membawa Qiandra menuju ke tempat tidur big size yang ada di tengah kamar itu, Qiandra mengangkat kakinya dan menggapit pinggang Daniel tanpa melepaskan ci*mannya.
Daniel membaringkan Qiandra diatas tempat tidur, dan dia mulai menyentuh semua bagian sensitif ditubuh wanita cantik itu. Qiandra benar-benar lupa diri, dia mendesah dan bahkan menuntut lebih dari Daniel. “Kuharap kamu tidak akan menyesali ini, Qi, dan kamu akan jadi milikku seutuhnya dan selamanya” desis Daniel ditelinga Qiandra, sebelum dia menyatukan tubuh mereka berdua.
Qiandra bangun dengan tubuh yang terasa remuk redam, dia ingin langsung bangun, namun Qiandra terkejut saat ada tangan yang melingkar diatas perutnya. Dan Qiandra semakin terkejut saat menyadari tangan itu menyentuh kulitnya langsung.
Perlahan Qiandra melihat kedalam selimut itu, dan betapa terkejutnya saat menyadari dia sudah tidak memakai sehelai benang pun. Qiandra menoleh kesampingnya untuk mengetahui siapa orang yang sedang berbaring bersamanya.
“Dan-Daniel….” desis Qiandra, perlahan air matanya jatuh di pipinya, Qiandra terisak saat menyadari apa yang sudah terjadi padanya.
Daniel membuka matanya perlahan, saat merasakan tubuh wanita yang dipeluknya itu terguncang. “Qiandra….” desisnya perlahan, lalu dia bangun dan menatap wajah wanita itu.
__ADS_1
“Ke-kenapa kamu melakukan ini padaku, kenapa kamu sejahat ini” desis Qiandra.
“Qiandra, aku sudah kehabisan cara untuk menaklukkan kamu, maafkan aku, aku benar-benar khilaf, apalagi saat melihat kebersamaanmu dengan pria itu, maafkan aku, Qi, aku janji akan segera menikahimu, aku janji, Qi” ucap Daniel dengan mata sendu.
Sungguh hati Daniel terasa perih saat melihat Qiandra menangis tersedu-sedu, dia sama sekali tidak ingin melukai hati wanita itu, tapi cintanya yang begitu besar membuatnya sangat takut kehilangan Qiandra. “Qi, kumohon maafkan aku” desis Daniel dengan penuh permohonan.
Daniel memeluk tubuh wanita itu yang benar-benar terguncang karena isak tangisnya. Qiandra hanya diam, dia larut dalam tangisannya, dia tidak membalas ataupun menolak pelukan Daniel. Hingga akhirnya, Qiandra bisa
lebih tenang, Daniel perlahan mengurai pelukannya, Daniel menatap mata Qiandra dengan intens.
Qiandra memalingkan wajahnya, lalu perlahan dia turun dari atas tempat tidur king size itu. “Qiandra….” seru Daniel dengan suara tertahan, namun tak dihiraukan oleh wanita itu.
Qiandra memungut semua pakaiannya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Daniel
segera memasang pakaiannya dan duduk di sofa menunggu Qiandra keluar dari kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Qiandra keluar dengan pakaian lengkap, wajahnya terlihat pucat, namun dia tidak menangis lagi. Qiandra terus melangkah seperti tanpa nyawa, dia tidak menghiraukan Daniel yang sudah berdiri dan ingin menghampirinya. Qiandra melangkah keluar dari kamar itu dan melewati Daniel tanpa menoleh ataupun melirik pada laki-laki itu.
“Qiandra….” seru Daniel, “Tunggu, mau kemana kamu, ini sudah larut malam” Daniel berusaha menahan langkah Qiandra. Dan saat dia sudah berdiri di hadapan Qiandra, Daniel terkejut melihat tatapan mata Qiandra yang sangat tajam.
Daniel perlahan menepi dan memberi jalan untuk Qiandra, “Qiandra, kumohon, bicaralah” desah Daniel sambil terus berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Qiandra.
Namun, Qiandra seolah tidak mendengar ucapan Daniel, dia terus melangkah keluar dari villa mewah itu. Qiandra bahkan terus melangkah menuju pintu gerbang villa mewah itu di tengah pekatnya malam.
“Qiandra, tunggu” seru Daniel, dia menelepon sopirnya, “Cepat keluarkan mobil dan susul kami” serunya sambil terus mengejar langkah Qiandra. Tidak berselang lama, saat Qiandra dan Daniel berada di gerbang villa mewah itu, sebuah mobil mewah menyusul dibelakan mereka berdua.
“Ayo, Qiandra, kita pulang sama-sama” ucap Daniel dengan lembut, dia berusaha menggenggam tangan Qiandra, namun dengan cepat ditepis oleh wanita itu. Qiandra bahkan tetap terus melangkah dan tidak memperdulikan Daniel.
Daniel yang merasa panik, segera menangkap tubuh Qiandra dan menggendongnya untuk masuk ke dalam mobil. Qiandra meronta, namun keadaan fisiknya yang memang masih lemah, membuat perlawanannya sama sekali tidak ada artinya untuk badan tegap Daniel.
__ADS_1