PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
LIMA PULUH DUA


__ADS_3

“Bu, sudah berapa kali aku katakan, ibu adalah ibuku, jangan pernah berpikir macam-macam lagi” ucap Qiandra dengan tegas.  Bik Sum hanya bisa menghembuskan nafas dengan  berat, wanita tua itu memang bersedia menjadi ibu bagi Qiandra, namun jika harus mendampingi Qiandra menghadapi orang-orang besar seperti ini, Bik Sum merasa sangat tak pantas.


Tapi pada akhirnya, Bik Sum mengalah, dia mengangguk dengan lemah, lalu berdiri dan mendekati Qiandra, “Mudah-mudahan aku tidak membuatmu malu, Nak” ucapnya dengan sendu.


“Jangan khawatir, Bu, semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang bisa membuatku malu, justru aku bangga mempunyai keluarga hebat seperti kalian.  Sekarang ayo kita  menemui mereka, Jossie, dokter Jimmy, kuharap kalian berdua juga mau menemani aku dan ibu” ucap Qiandra.


“Baiklah, jika Nona Andra mau, kami siap, ayo Kak Immy” ucap Jossie, membuat kening Qiandra berkerut saat mendengar panggilan Jossie pada dokter Jimmy.  Namun, Qiandra sadar sekarang bukan saatnya untuk menanyakan hal tersebut.  Mereka segera melangkah bersama-sama menuju ke ruang keluarga, dimana semua tamu Qiandra dan juga Dean sudah menunggu mereka.


“Qiqi, saat ini di hadapan seluruh keluargamu dan juga Daddy Waltz, aku Dean Walt Zacharias, memintamu untuk menjadi pendamping hidupku, Qiandra Zwetta Aldrich Will you marry me” ucap Dean bersimpuh dengan satu lututnya di hadapan Qiandra.  Tangan laki-laki tampan itu terulur dengan  sebuah kotak merah yang berisi sebuah cincin berlian mungil dan cantik.


Qiandra benar-benar terkejut melihat hal itu, dia baru saja masuk ke dalam ruang keluarga, dan secara tiba-tiba, Dean berlutut di hadapannya.  Qiandra hanya bisa menutup mulutnya, dia masih sulit percaya kalau Dean sungguh-sungguh akan melamarnya.


“Honey…..” tanya Dean menyentakkan Qiandra dari lamunannya.


“Love, apa ini tidak terlalu cepat, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu ini” tanya Qiandra sambil menatap laki-laki tampan  itu.


“Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, Honey, itu sudah cukup untuk membuktikan  bahwa keputusanku tidak akan tergoyahkan” ucap Dean dengan sungguh-sungguh.  “Sekarang, maukah kamu menerimaku menjadi bagian dari hidupmu, Honey” tanya Dean lagi.


Qiandra tidak mampu berkata-kata, air mata perlahan mengalir di pipinya, wanita cantik itu hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan senyum di bibirnya.  Anggukan kepala Qiandra membuat Dean bernafas lega, demikian pula semua orang yang ada dalam ruang keluarga itu.


Dean meraih tangan kiri Qiandra dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis wanita cantik itu.  “Terima kasih, Honey, aku akan segera menyematkan cincin lainnya di jari manis tangan kananmu” ucapnya dengan  penuh kebahagiaan.  Dean menarik tubuh  Qiandra dan memeluknya dengan erat, dia bahkan tidak segan mengecup kening Qiandra dihadapan semua orang.


Qiandra menatap wajah Dean, laki-laki itu dengan lembut menghapus air mata yang mengalir dipipi Qiandra.  “Love, …..” Qiandra tak mampu berkata-kata, dia merasakan bahagia dan tak percaya dengan apa yang dialaminya ini.


Dean tersenyum pada wanita yang begitu dipujanya itu, “Aku tidak akan membiarkan ada air mata lagi yang mengalir di pipimu, Honey, mulai saat ini, aku akan mengukir hanya senyuman di wajahmu” ucap Dean dengan sungguh-sungguh.  Dia membawa Qiandra untuk kembali duduk di sebuah kursi tunggal, dan Dean duduk di lengan kursi itu sambil tetap merengkuh bahu Qiandra.


“Akhirnya, Dean menemukan tempat untuk mengakhiri masa lajangnya, daddy yakin, kamu pasti pilihan terbaik dan paling tepat untuknya,  Dean bukanlah laki-laki yang mudah untuk jatuh cinta, aku sempat khawatir dia akan melajang seumur hidupnya” Daddy Walt terkekeh melihat mata sang putra yang melotot kearahnya.


“Dad, maafkan aku, sebenarnya aku merasa sangat tak pantas untuk putramu, dia terlalu sempurna untuk wanita sepertiku.  Dan aku sungguh-sungguh khawatir jika dia bersamaku, karena aku….” Qiandra tidak sempat menyelesaikan kata-katanya saat Daddy Walt telah memotongnya.


“Karena kamu janda dan pembawa sial?, apakah itu yang ingin kamu katakan, Nak” tanya Daddy Walt, membuat Qiandra dan Dean terkejut.


“Jadi, Daddy sudah tahu?” tanya Qiandra.

__ADS_1


“Perjalanan berpuluh-puluh jam menuju ke kota kecil ini tidak akan daddy sia-siakan, Nak, apalagi dengan sebuah rencana besar yang  sudah dirancang oleh putra tunggalku ini.  Aku mengenal almarhum suamimu, juga mertuamu, mereka bukanlah orang asing bagiku.  Jadi, kamu tidak perlu mengkhawatirkan masa lalumu, karena daddy sudah mengetahui semuanya” ucap Daddy Walt dengan senyum bijaknya.


“Dad…..” ucap Qiandra dengan mata tak percaya.


“Justru kamulah yang harus mempersiapkan dirimu untuk menghadapi kehidupan Dean, Nak, ini tidak akan mudah, jika kamu kurang kuat,  maka segalanya tidak akan berjalan dengan baik-baik saja.   Daddy hanya berharap Dean telah menceritakan semuanya padamu dan telah menjelaskan situasi yang akan kamu hadapi nanti” lanjut Daddy Walt dengan wajah sendu.


Semua orang dalam ruangan itu terdiam mendengar kata-kata Daddy Walt, apalagi saat mereka melihat wajah sendu laki-laki tua itu.  Terutama Qiandra,  dokter Albert dan asisten Vian yang sangat mengerti maksud dari ucapan daddy Walt.


“Dad, aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan berusaha dengan segenap kemampuanku untuk tetap berdiri tegak disamping putramu, restu dan dukungan dari Daddy akan sangat berharga untukku” sahut Qiandra berusaha menghibur daddy Walt.


“Aku sangat berharap pada kalian berdua, Nak, kalianlah penentu masa depan Zacharias, pesan daddy tetaplah teguh dengan cinta kalian, dan pertahankan kepercayaan diantara kalian, itu adalah pondasi yang kokoh untuk hubungan kalian” nasehat daddy Walt dengan senyum tulusnya.


“Terima kasih, Dad, untuk nasehatmu, akan selalu kami ingat” ucap Dean, dia menggenggam tangan Qiandra dengan erat.


“Baiklah, jadi akan berapa lama kamu menahan daddy disini, Dean” tanya Daddy Walt mengubah suasana sendu itu.


“Dalam tiga hari kedepan, kami akan melangsungkan pernikahan kami, Dad” sahut Dean dengan yakin.


“Love, jangan bercanda, masa kita akan menikah secepat itu” protes Qiandra yang cukup terkejut dengan rencana Dean.


“Maafkan aku, Honey, jika aku mempersiapkan segala sesuatunya tanpa berunding denganmu, karena aku tahu pasti akan panjang negosiasinya jika aku meminta persetujuanmu” ucap Dean dengan senyum smirknya.


“Love….” Qiandra tak mampu meneruskan kata-katanya, dia hanya menatap wajah lelaki tampan itu dengan senyum bahagia.  Qiandra sungguh tidak menyangka kalau Dean benar-benar akan melamarnya dan bahkan telah


mempersiapkan pernikahannya.


“Aku tidak melakukannya sendiri, Honey, Jossie sangat banyak membantuku, sehingga aku bisa melakukan semuanya dengan lebih mudah” ucap Dean.


“Jossie…” mata Qiandra membesar menatap gadis mungil yang masih duduk di kursi rodanya itu.


“Maafkan saya, Nona, saya tidak bisa melawan Tuan Dean” Jossie menangkunp kedua telapak tangannya di depan dada.


“Tapi, setidaknya kamu bisa memberitahukan padaku” protes Qiandra.

__ADS_1


“Aku melarangnya, Honey, kalau kamu sudah tahu berarti bukan kejutan lagi kan” Dean menjawab protes Qiandra, dia malah mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih.


“Ha ha ha, sudahlah, Nak, kamu harus maklum, anakku ini sudah terlalu tua, wajarlah kalau dia sangat tidak sabaran” kekeh Daddy Walt.


“Dad….” Dean menatap sang daddy dengan mata tidak terima pada ucapan pria paruh baya itu.


Daddy Walt kembali tertawa melihat tatapan putra tunggalnya itu, "Hei, apakah ada yang salah dalam kata-kata daddy tadi, setidaknya daddy berharap calon menantu daddy tidak terkejut dengan segala sesuatu yang akan terjadi sangat cepat.  Tentunya semua itu ada alasannya bukan" kekeh laki-laki paruh baya itu tanpa memperdulikan tatapan putranya.


Dean hanya bisa menghembuskan nafas dengan sedikit kesal karena sang daddy yang terus mentertawainya.  Sementara, Qiandra tersenyum simpul mendengar kata-kata calon ayah metuanya itu, dia malah menatap Dean dengan menaikkan sebelah alisnya.  "Honey.....ah, bukan itu alasannya" protes Dean pada Qiandra.


“Ah, sudahlah, kurasa besok kalian akan semakin sibuk, dan maafkan orang tua ini, kurasa aku sangat membutuhkan istirahat saat ini” ucap Daddy Walt, dia berdiri dan bersiap akan pergi.


“Dad, mengapa tidak beristirahat disini saja, yah, walaupun hanya seadanya” Qiandra menawarkan pada Daddy Walt.


“Terima kasih, Nak, bukan daddy tak mau, tapi bukanlah hal yang wajar kalau daddy tinggal disini sebelum kamu resmi menjadi menantu daddy, bukankah begitu Bu” sahut Daddy Walt sambil tersenyum ke arah Bik Sum.


“Eh, i-iya Tuan” sahut Bik Sum dengan ragu-ragu.


“Kita akan menjadi besan, Bu, janganlah memanggilku Tuan lagi” sahut Daddy Walt.


Bik Sum benar-benar tidak tahu harus berkata apa, walaupun dia sudah lama menjadi ibu angkat dari Qiandra, tapi saat harus menempatkan dirinya sejajar dengan keluarga Dean, membuat wanita tua itu menjadi sangat


canggung.


“Tidak mengapa, Bu, perlahan saja, kita akan menjadi keluarga, semuanya harus mulai dibiasakan.  Nah, sekarang kami akan permisi dulu untuk kembali ke hotel” lanjut Daddy Walt, dia sangat paham kalau Bik Sum merasa sangat canggung.


“Baiklah, Dad, terima kasih untuk malam ini” ucap Dean seraya berdiri dengan wajah bahagia.


“Dan bagaimana denganmu, hmmm” tanya Daddy Walt menatap Dean dengan wajah serius.


“Aku tidak akan meninggalkan calon istriku, Dad” sahut Dean dengan mantap tanpa ragu sedikitpun, membuat Qiandra hanya mampu mendesah dan menggelengkan kepalanya tak berdaya.


“Ha ha ha, sudah kuduga, baiklah, kalau begitu kami permisi dulu” ucap Daddy Walt dengan tawa renyahnya, lalu dia melangkah keluar dari rumah itu diikuti oleh asisten Vian dan dokter Albert.

__ADS_1


Qiandra dan Dean mengantar tamu-tamunya itu hingga ke pintu keluar rumah, sebuah mobil mewah sudah menunggu ketiga pria itu.  Qiandra membungkukkan badannya pada Daddy Walt saat mobil itu pergi meninggalkan rumah Qiandra.


__ADS_2