
Setelah tiba waktunya, Dika bersama dengan asisten William dan sekertaris Risha melangkah menuju ke ruang aula utama dimana para awak media sudah menunggu kehadiran mereka. Para bodyguard segera memberikan pengamanan sejak mereka keluar dari dalam lift. Hal ini untuk menghindari terjadinya hal hal yang tidak diinginkan.
Dika ternyata tidak sendiri, karena salah satu perwakilan dari dewan komisaris yang senior juga ikut serta mendampinginya. Asisten William segera membuka konfrensi pers itu,
"Terima kasih atas kehadiran kawan kawan media pada siang hari ini. Kami dari pihak PT.Mahardika akan segera menyampaikan beberapa hal penting, kami harap kawan kawan semua mendengar terlebih dahulu, nanti akan kami berikan kesempatan untuk bertanya. Selanjutnya kami akan menayangkan terlebih dahulu berita terbaru di perusahaan kami, silahkan kawan kawan menyimak, file asli bisa diminta pada pihak humas kami setelah acara ini nanti" ucap asisten William dengan suara tegas.
Setelah itu, di layar besar di tayangkan beberapa foto serah terima jabatan presidir dari daddy Putra kepada Dika. Dilanjutkan pidato singkat Dika saat rapat tadi, yang tentunya sudah di sesuaikan untuk konsumsi public. Gumaman dari para awak media terdengar memenuhi ruangan aula itu saat menyaksikan hal tersebut.
"Baiklah, selanjutnya kawan kawan akan mendengar pernyataan langsung dari presidir kami, Tuan Dika" ucap asisten William seraya membungkuk hormat kepada Dika.
Dika hanya memberikan sedikit senyum pada asisten William, "Baiklah, seperti yang kalian lihat tadi, dewan komisaris telah bersepakat mengalihkan kepemimpinan PT.Mahardika, dari Tuan Daniel Putra Mahardika kepada saya, dengan suara bulat. Semua ini dilakukan karena Tuan Daniel sekarang sedang terlibat dalam masalah pribadi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan PT.Mahardika. Jadi, apapun yang telah dilakukan Tuan Daniel, itu semua terlepas dari jabatan beliau sebagai presidir di PT. Mahardika" ucap Dika dengan tegas dan raut wajah dingin.
"Dan kami dari pihak perusahaan sudah memutuskan hubungan dengan Tuan Daniel Putra Mahardika, dengan kata lain kami tidak akan melibatkan diri dengan masalah pribadi yang sedang dihadapi Tuan Daniel saat ini. Jadi, kami tidak akan memberikan bantuan dalam bentuk apapun kepada Tuan Daniel dalam penyelesaian masalah beliau. Karena sekali lagi, semua yang Tuan Daniel lakukan murni untuk kepentingan dan keinginan pribadi beliau tanpa ada kaitannya dengan perusahaan" lanjut Dika lagi.
"Dan hari ini juga saya memperkenalkan asisten pribadi saya yang tadi sudah membuka acara ini, Asisten William dan sekertaris pribadi saya sekertaris Risha. Jadi jika ada yang ingin menghubungi saya bisa menghubungi kedua orang ini terlebih dulu, terima kasih" ucap Dika menutup pengumumannya kepada awak media.
"Baik, sekarang kami buka kesempatan untuk tanya jawab" ucap asisten William. Beberapa wartawan berebut untuk mengangkat tangan, namun asisten William menunjuk tiga orang secara acak.
"Setahu saya Tuan Dika adalah asisten pribadi Tuan Daniel, apakah penunjukan Tuan Dika ini adalah berdasarkan surat yang sudah dipersiapkan oleh Tuan Daniel, seperti berita yang tersebar selama ini" tanya wartawan pertama.
"Sama sekali tidak, tidak ada surat atau semacamnya yang berasal dari Tuan Daniel yang menujuk saya sebagai pengganti beliau. Penunjukkan saya sepenuhnya atas keputusan dewan komisaris, dan jika Anda semua tidak percaya, ini Tuan Handoko, salah satu dewan komisaris senior yang turut hadi dalam rapat tadi" sahut Dika.
"Benar yang dikatakan presidir Dika, penunjukan beliau sesuai dengan aturan dan prosedur yang berlaku di PT.Mahardika. Kita semua sudah mengadakan rapat lengkap yang bahkan dihadiri oleh Tuan Putra Mahardika. Dan penunjukkan presidir Dika sepenuhnya berdasarkan hasil pemilihan dengan suara bulat pada rapat tadi pagi. Jadi, berita yang mengatakan tentang surat, pesan atau apapun itu yang berasal dari Daniel yang menunjuk presidir Dika, itu adalah berita hoax" lanjut Handoko membenarkan jawaban Dika.
"Lalu apa benar PT.Mahardika akan membiarkan Tuan Daniel dan tidak memberikan bantuan hukum untuknya, secara Tuan Dika adalah sahabat karib Tuan Daniel, dan perusahaan ini milik Tuan Daniel. Bukankah tidak menutup kemungkinan justru pihak Mahardika menyembunyikan Tuan Daniel" tanya wartawan lainnya.
"Harap berhati hati dengan pertanyaan Anda, bisa saja kami menuntut Anda dengan tuntutan pencemaran nama baik. Tapi, karena hari ini kami memang akan melakukan klarifikasi, maka saya tegaskan sekali lagi, semua yang dilakukan oleh Tuan Daniel tidak ada kaitannya dengan PT. Mahardika. Jadi pihak perusahaan tidak akan memberikan bantuan termasuk bantuan hukum untuk Tuan Daniel. Dan benar saya memang sahabat Tuan Daniel, namun saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Saya malah sedang berada jauh di luar negara ini saat kejadian ini, dan sampai saat ini tidak ada satu pun dari kami mengetahui keberadaan Tuan Daniel, termasuk kedua orang tua beliau" ucap Dika dengan panjang lebar.
__ADS_1
"Jadi maksud Tuan Dika, perusahaan akan lepas tanggung jawab terhadap semua yang menjadi korban kejadian kemarin" tanya wartawan lainnya lagi.
"Bukan lepas tanggung jawab, tapi kami memang tidak harus bertanggung jawab, karena memang semua itu adalah ranah pribadi Tuan Daniel yang benar benar terlepas dari perusahaan. Tetapi, jika ada korban yang menuntut ganti rugi, kami akan tetap layani dan bantu, bukan sebagai tanggung jawab kami, tapi sebagai bentuk bakti sosial perusahaan. Sama seperti kami akan membantu korban bencana alam lainnya yang tidak berarti kami bertanggung jawab atas bencana alam itu, begitu pula kami akan membantu korban kejadian kemarin" sahut Dika lagi dengan tegas.
"Bagaimana jika pihak Zacharias melayangkan tuntutan kepada pihak Mahardika, seperti yang kita ketahui kedua kubu ini selalu bersaing di berbagai bidang" tanya wartawan lain lagi.
"Benar sekali kalau kami dan pihak Zacharias selalu bersaing dalam berbagai bidang, tetapi tidak hanya dengan Zacharias, Mahardika juga bersaing dengan banyak perusahaan besar lainnya. Jadi, jangan menggiring pemikiran kalau kami hanya bersaing dengan Zacharias saja, hanya saja memang seringkali kami berhadapan berdua saja dalam beberapa tender besar, tentunya setelah kami, Mahardika maupun Zacharias, berhasil mengalahkan perusahaan lainnya. Dan untuk tuntutan dari pihak Zacharias, saya rasa tidak akan mungkin terjadi, Zacharias adalah perusahaan besar dan saya yakin mereka bisa berpikir bijaksana" sahut Dika lagi.
"Lalu jika pihak Zacharias melayangkan tuntutan kepada Mahardika, apa yang akan Anda lakukan" tanya wartawan lainnya lagi.
"Saya tidak tahu kalau mereka akan melayangkan tuntutan ke keluarga Mahardika, tapi kalau tuntutan ke perusahaan, dalam hal ini PT.Mahardika, saya rasa tidak mungkin, karena sekali lagi saya tekankan bahwa semua yang dilakukan oleh Tuan Daniel, murni kepentingan pribadi beliau tanpa ada sangkut pautnya dengan perusahaan" sahut Dika.
"Jadi, Anda juga tidak akan membantu Tuan Daniel, padahal sepengetahuan kami Anda juga saudara angkat Tuan Daniel" tanya wartawan lagi.
"Anda benar, saya saudara angkat Tuan Daniel, dan sebagai saudara angkat saya akan membantu dia jika Tuan Putra Mahardika sebagai ayah Tuan Daniel dan ayah angkat saya menginginkannya. Dan kalaupun saya memberikan bantuan, saya tidak akan melakukannya dengan melibatkan perusahaan, semuanya murni karena kekeluargaan dan terlepas dari perusahaan" sahut Dika.
"Tapi, apa Anda akan tetap menggunakan tim kuasa hukum PT.Mahardika" tanya wartawan lainnya.
"Baiklah, saya rasa semuanya sudah terjawab, jika masih ada yang mengganjal silahkan menghubungi kami secara langsung untuk konfirmasi. Kami harap tidak ada lagi berita berita yang tidak jelas sumbernya dan dapat memperkeruh keadaan. Kami juga berharap masalah yang dihadapi oleh Zacharias dan Tuan Daniel bisa segera menemukan jalan keluarnya, terima kasih dan selamat siang" asisten William menutup pertemuan itu setelah dia melihat kode dari Dika.
Dika segera berdiri diikuti oleh Handoko dan sekertaris Risha dan terakhir asisten William. Barisan itu dijaga dengan ketat oleh bodyguard hingga mencapai lift khusus presidir. "Semoga saja semua ini bisa menenangkan para investor sehingga perusahaan tetap bisa berjalan dengan baik" desah Handoko dengan wajah gelisah.
Dika hanya menarik nafas berat, "Dampaknya tidak akan terlalu besar, hanya akan menahan investor yang tidak berhubungan dengan Zacharias saja. Tapi untuk investor yang berhubungan dengan Zacharias, saya rasa pihak Zacharias pasti akan menekan semua perusahaan yang berada dalam kerja sama dengan mereka. Dan kita juga tidak bisa membahayakan perusahaan lain untuk kepentingan kita, karena saya sangat yakin mereka pasti memaksa agar semua perusahaan itu memilih antara kita atau mereka" sahut Dika.
"Memangnya berapa banyak perusahaan yang terlibat dengan Zacharias dan terlibat juga dengan kita" tanya Handoko dengan wajah serius.
"Cukup banyak, Tuan, hampir tujuh puluh lima persen investor kita juga melakukan kerjasama dengan Zacharias" sahut asisten William yang telah mendapat kode dari Dika untuk berbicara.
__ADS_1
"Astaga, sebanyak itu, lalu apa kemungkinan mereka semua akan menarik diri dari kita" tanya Handoko lagi.
"Tergantung pada perusahaannya sendiri, jika nilai kerja sama mereka lebih besar dengan Zacharias sudah pasti mereka akan memilih Zacharias, tetapi jika nilai kerjasamanya lebih besar dengan kita, mereka juga harus mempertimbangkan lagi. Posisi kita benar benar ada pada posisi bersalah sekarang ini, dan sangat sulit berharap keberpihakan mereka" pada kita sahut Dika.
"Tapi bukankah mereka akan terkena finalty jika membatalkan kontrak kerja sama dengan kita, apa itu tidak menjadi bahan pertimbangan mereka juga" tanya Handoko lagi.
"Yah, itu juga pasti akan menjadi pertimbangan bagi mereka, namun bila mereka harus memilih, saya rasa peluang kita cukup sulit" desah Dika lagi. Pintu lift terbuka di lantai tempat ruangan Dika dan asisten William dan mereka langsung melangkah keluar menuju ke ruangan Dika. Disana mereka kembali membahas beragai peluang yang mungkin untuk menyelamatkan PT.Mahardika dari amukan keluarga Zacharias.
Dika merasakan getaran pada phonselnya, saat dia membukanya dia melihat ada notifikasi email yang masuk ke emailnya. Segera dia membukanya, dan wajahnya tercenung beberapa saat saat melihat pesan yang masuk ke emailnya itu, walau tanpa nama tapi dia tahu siapa yang mengirimkan pesan itu.
"Terima kasih, Bro, please help me" hanya itu saja, tapi Dika sangat tahu siapa pengirim pesan itu.
"Where are you" tanya Dika membalas pesan itu, namun pesannya tidak terkirim karena alamat email itu sudah diblokir dan tidak bisa menerima pesan lagi.
"Hah ......" Dika mendesahkan nafasnya dengan berat membuat semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya dengan heran.
"Ada apa, Tuan" tanya asisten William.
"Tidak apa apa, sepertinya sudah jam makan siang, silahkan jika kalian ingin makan siang, saya masih harus membereskan beberapa pekerjaan dulu" ucap Dika lagi. Semua orang yang ada di ruangan itu segera mengerti dan satu per satu mereka permisi untuk meninggalkan ruangan itu.
Setelah semua orang keluar, Dika segera berdiri dan menghadap ke arah jendela kaca besar yang ada di belakang tempat duduknya. Dengan kedua tangan yang diselipkan ke dalam saku celana kain yang digunakan, laki laki muda itu menatap jauh ke batas cakrawala. Wajah tampannya terlihat sedikit mengernyit seperti sedang memikirkan suatu masalah yang berat.
"Dimana kamu, aku harap kamu tidak melakukan hal yang lebih gila lagi, kasihan Qiandra. Harusnya semua kelebihan yang dimiliki oleh Qiandra bisa membuatnya menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi justru hal itu menjadi boomerang baginya, membuat dua presidir itu tergila gila padanya dan bahkan mampu melakukan hal senekat ini. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana, aku tahu Daniel sangat mencintai Qiandra, tapi harusnya dia bisa menerima saat Qiandra sudah menentukan pilihan" desah Dika dalam hati.
Walaupun dia sangat tahu sebesar apa rasa cinta Daniel pada Qiandra, tapi dia juga tidak bisa membenarkan tindakan Daniel. Dika bahkan merasakan sangat kasihan pada Qiandra yang harus menjadi korban besarnya rasa cinta dua presidir itu.
Sementara itu, nun jauh di sebuah villa yang terletak di pulau yang sangat terpencil, Daniel tersenyum sendu menatap layar phonselnya. Daniel memang mengikuti siaran langsung yang dilakukan oleh Dika. "Sejak awal aku tahu bahwa aku bisa mengandalkanmu, maaf jika membuatmu harus berada dalam posisi yang sangat sulit. Tapi aku percaya, kamu pasti mampu menyelesaikan dan mengatasi semua masalah ini. Maafkan aku, sahabat, semoga suatu saat aku bisa mengatakan semua yang aku ketahui kepadamu dan kamu bisa memaafkan aku" desah Daniel dalam hati.
__ADS_1
Daniel tahu kalau Dika akan selalu mendukung dirinya, apapun yang dilakukannya. Dika tidak pernah menolak semua keinginan Daniel, bahkan dia sanggup mengorbankan dirinya untuk memenuhi keinginan Daniel. Namun, untuk rahasia besar yang Daniel simpan hingga saat ini, Daniel tidak yakin Dika akan bisa memaafkan dirinya. Jangankan memaafkan dirinya, bahkan tetap menganggapnya sebagai sahabat pun Daniel masih ragu.
Dika satu satunya orang yang selalu ada di sisi Daniel dalam berbagai keadaan yang di hadapi Daniel. Sahabat yang bahkan terasa melebihi dari saudara bagi Daniel. Hal yang sangat Daniel khawatirkan adalah Dika meninggalkan dirinya jika mengetahui hal yang selama ini disembunyikan oleh Daniel. Tetapi Daniel juga tidak sanggup untuk berkata jujur pada Dika, karena dia tahu hal itu akan membuat Qiandra semakin menjauh darinya.