
Tanpa disadari oleh Qiandra dan Dean, semua aktifitas mereka dipantai itu diperhatikan oleh seseorang. Bahkan orang itu beberapa kali mengambil foto keduanya, dari jarak yang tidak terlalu jauh. Orang itu segera mengirimkan hasil pengamatannya kepada orang yang mengutusnya.
Daniel yang menerima laporan itu, benar-benar meradang, dia merasa marah kecewa dan sangat kesal. Daniel benar-benar tidak bisa menerima jika Qiandra lebih memilih Dean daripada dirinya, yang sudah bertahun-tahun menantikan kepastian dari Qiandra.
“Qiandra, apa arti semua ini, kamu benar-benar harus memberiku penjelasan. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke tangan laki-laki manapun. Kamu hanya milikku, Qiandra, hanya milikku, aku tidak akan membiarkan seorangpun merebutmu dariku” desis Daniel dengan penuh kemarahan.
Asisten Dika hanya bisa berdiam diri, dia tahu bagaimana Daniel selalu menjaga Qiandra dan dengan sabar menantikan Qiandra menerima cintanya. Daniel bahkan mau bekerja sungguh-sungguh di perusahaan PT. Mahardika, selama sebelum dia mengenal Qiandra, Daniel tidak pernah mau mengurus perusahaan warisan keluarganya itu.
Hanya Qiandra yang membuat seorang Daniel Putra Mahardika mau kembali dan mengurus perusahaan besar itu. Dan selama Daniel mau berkonsentrasi, perusahaan itu maju dengan pesat, bahkan saat ini perusahaan ini sudah hampir mengalahkan perusahaan nomor satu, PT. Zacharias, yang tak lain dari perusahaan milik Dean Walt Zacharias.
Dan jika kedua presidir tampan dan kaya raya ini harus berseteru dan bersaing tidak hanya dalam urusan bisnis bahkan sampai urusan wanita. Maka asisten Dika yakin, keduanya akan menggunakan segenap sumber daya yang mereka miliki, untuk memenangkan persaingan ini. Dan asisten Dika sangat tahu, bahwa Daniel tidak akan segan-segan menurunkan anggota mafianya untuk menyelesaikan masalah ini.
“Hubungi Qiandra, katakan padanya dia harus ke kantor besok, ada pertemuan penting dimana hanya dia yang bisa mendampingi aku” ucap Daniel dengan suara dingin.
“Baik, Tuan” sahut asisten Dika, dia segera meraih phonselnya dan menghubungi Qiandra.
“Speaker” seru Daniel, asisten Dika segera memposisikan phonselnya dalam mode loud speaker. Pada dering yang kelima, barulah sambungan telepon itu diangkat.
“Hallo, selamat malam asisten Dika” sapa Qiandra di seberang sana.
“Selamat malam sekertaris Qiandra, maaf mengganggu istirahatmu” ucap asisten Dika berbasa basi.
“Tidak mengapa, Tuan, ada apa Tuan, apa ada yang bisa aku bantu” ucap Qiandra dengan ramah.
“Maaf, Nona, bagaimana keadaan Anda sekarang, apakah Anda sudah merasa lebih baik” tanya asisten Dika lagi.
“Ah, aku sudah jauh lebih baik, Tuan, mungkin besok aku sudah bisa kembali turun ke kantor seperti biasa” sahut Qiandra.
“Oh, syukurlah kalau begitu, Nona, karena besok ada pertemuan penting, dan hanya Anda yang bisa mendampingi presidir” ucap asisten Dika, meyakinkan Qiandra bahwa kehadirannya tidak bisa digantikan oleh siapapun.
“Pertemuan penting?, rasanya besok tidak ada jadwal rapat penting, Tuan, hanya ada janji temu dengan klien saja” sahut Qiandra yang memang memegang semua jadual kegiatan Daniel.
“Ini pertemuan mendadak, Nona, karena itu hanya Anda yang mampu mendampingi presidir, karena aku yang akan berangkat untuk bertemu dengan klien” asisten Dika kembalai menegaskan pada Qiandra.
__ADS_1
“Oh, begitu ya, baiklah, besok aku akan ke kantor, Tuan, terima kasih sudah menghubungiku” ucap Qiandra dengan ramah.
“Okey, terima kasih juga Nona, dan selamat malam” sahut asisten Dika mengakhiri pembicaraannya. Asisten Dika menutup sambungan teleponnya, lalu dia menatap kearah Daniel, terlihat laki-laki tampan itu tersenyum puas.
“Persiapkan semuanya untuk besok, Dik, jika aku tidak bisa mendapatkan Qiandra dengan cara baik-baik, maka terpaksa aku mendapatkannya dengan pemaksaan” desis Daniel, membuat asisten Dika sedikit tersentak, namun dia tahu keinginan Daniel tidak akan bisa dibantah.
“Baik, Tuan, apakan villa di luar kota bisa menjadi alternative” tanya asisten Dika yang memahami maksud Daniel.
“Boleh juga, persiapkan segala sesuatunya” ucap Daniel dengan senyum smirknya.
Dalam hati asisten Dika sebenarnya tidak tega membiarkan hal buruk terjadi pada Qiandra. Asisten Dika sangat mengagumi sosok Qiandra yang selalu ramah dan sangat teguh menjaga dirinya dalam statusnya sebagai seorang janda. Tapi apalah daya asisten Dika, dia tidak mungkin menentang Daniel, tapi asisten Dika juga percaya, Daniel tidak akan menyakiti Qiandra, karena dia tahu bagaimana besar cinta Daniel pada Qiandra.
“Haish, semoga saja tidak terjadi hal yang buruk pada Nona Qiandra, aku yakin hanya Nona Qiandra yang bisa menenangkan hati Tuan Daniel” bisik asisten Dika dalam hati.
Pagi hari, Qiandra telah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya, dia memakai dress kerja yang sudah dipersiapkan oleh Dean dalam lemarinya, juga dipadukan dengan heels dan tas brended. Penampilan Qiandra benar-benar memukau, Dean yang sudah menunggunya, hanya bisa terpaku menatap wanita itu.
“Qi, semakin hari kamu terlihat semakin cantik, membuatku semakin tergila-gila padamu” desis Dean di telinga Qiandra.
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Qi, hei, Qi, ngomong-ngomong gimana kalau kamu resign aja dari pekerjaanmu yang sekarang dan pindah ke perusahaanku, jadi sekertarisku di kantor dan di hatiku” tawar Dean dengan penuh harap.
“Ha ha ha, mana ada pekerjaan double seperti itu, bisa-bisa aku mendadak kaya karena penghasilannya pasti double juga” tawa Qiandra terdengar sangat merdu di telinga Dean.
“Aku siap menggajimu, berapapun yang kamu mau, Qi” ucap Dean dengan mantap dan tegas.
“Bagaimana kalau aku mau gajiku sebesar gaji presidir” tanya Qiandra menggoda Dean.
“Akan aku berikan, bahkan seluruh gaji presidir pun akan aku serahkan saat kamu jadi istriku” sahut Dean tanpa ragu.
“Ha ha ha, berarti aku tetap boleh bekerja kalau jadi istrimu” tanya Qiandra dengan mata mengerling manja pada Dean.
“Apa pun yang kamu mau, Qi, asal tidak melupakan pekerjaan utamamu” sahut Dean.
“Pekerjaan utamaku, apa itu” tanya Qiandra dengan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Melayani suamimu, aku, tentu saja” sahut Dean.
“Ish, aku kira pekerjaan apa tadi” rungut Qiandra dengan wajah sedikit cemberut.
“Hei, memang pekerjaan apa yang menjadi pekerjaan utamamu saat sudah menjadi seorang istri, Qi, pasti melayani suami kan” ucap Dean dengan menaik turunkan alisnya.
“Ya, ya, sudah ah, membahas masalah kaya gitu, belum tentu juga aku jadi istrimu, Dean” kekeh Qiandra.
“Kamu akan dan harus menjadi istriku, Qi, hanya milikku” tegas Dean seraya membuka pintu mobil untuk Qiandra, membuat Qiandra terkejut sesaat, tapi kemudian segera masuk ke dalam mobil mewah Dean.
Dean membawa mobilnya sendiri, dia sudah menyuruh asisten Vian menggunakan mobil yang lain untuk menuju ke kantornya. Dean ingin mengantar Qiandra sekaligus menikmati waktu berduaan saja dengan wanita yang semakin menarik hatinya itu.
Dean dan Qiandra menikmati perjalanan mereka dengan bahagia, seringkali keduanya tertawa terbahak-bahak dengan candaan-candaan mereka. Dean dan Qiandra sama-sama baru merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, dan mereka menikmati semua itu. Tanpa terasa mereka berdua telah memasuki kawasan perusahaan PT. Mahardika.
“Kenapa bisa secepat ini kita sampai” keluh Dean yang masih belum puas berduaan dengan Qiandra.
“Astaga, Dean, ini aja kita sudah lama banget, aku hampir terlambat lho” kekeh Qiandra sambil menggelengkan kepalanya tak mengerti mengapa Dean menganggap perjalanan mereka terlalu cepat.
Mobil mewah itu berhenti tepat di loby kantor pusat PT.Mahardika, saat Dean akan keluar untuk membuka pintu untuk Qiandra, Qiandra melarangnya, “Jangan, Dean, kamu jangan keluar dari mobil, akan banyak gossip yang tidak baik nanti jika orang melihat seorang presidir PT. Zacharias mengantar sekertaris PT Mahardika” ucapnya lembut.
Dean sebenarnya tidak perduli dengan semua itu, namun dia menghargai keinginan Qiandra, sehingga dia hanya mengangguk sekilas, “Baiklah, nanti siang aku akan menjemputmu untuk makan siang” ucapnya lembut.
“Tidak usah, Dean, aku mungkin akan keluar dengan presidir hari ini, kata asistennya, kami akan menghadiri sebuah pertemuan penting” sahut Qiandra.
“Hmmm, baiklah, tapi setidaknya biarkan aku menjemputmu saat pulang nanti, kalau kamu tidak mengijinkan maka aku tidak akan membiarkanmu keluar dari mobil ini” Dean tetap bersikukuh dengan senyum smirknya.
“Okey, okey, nanti kuhubungi saat aku sudah bersiap untuk pulang” sahut Qiandra pasrah.
Qiandra turun dari mobil mewah itu, lalu dia membungkukkan badannya sesaat pada Dean, “Terima kasih banyak atas tumpangannya” ucapnya lembut.
“Sampai jumpa nanti sore, Qi” sahut Dean lalu dia segera mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan itu. Baru saja Dean berlalu, sebuah mobil mewah lainnya berhenti di loby itu.
“Nona Qiandra” sebuah suara menghentikan langkah Qiandra yang baru saja mulai menapaki tangga untuk naik ke lobby kantor pusat PT. Mahardika.
__ADS_1