
Hari pernikahan yang sudah dirancang oleh Dean, terasa sangat lambat tiba, bagi laki-laki tampan itu. Namun bagi Qiandra, waktu bejalan sangat cepat, wanita cantik itu bahkan belum sempat melakukan apapun, karena semua persiapan sudah di lakukan oleh Dean bersama kedua sahabatnya dengan petunjuk dari Jossie.
Pernikahan itu dilaksanakan di salah satu tempat wisata terbaik yang ada di kota kecil itu. Tempat wisata yang berada di tepi pantai, dengan sebuah villa mewah yang memang dirancang untuk sebuah acara pesta besar. Tempat itu adalah tempat favorit Qiandra, dan dia pernah berkata pada Jossie, jika suatu saat dia akan menikah, dia ingin menikah di tempat itu.
Hal inilah yang diberitahukan oleh Jossie kepada Dean, demikian pula semua dekorasi yang diimpikan oleh Qiandra. Semuanya disesuaikan dengan impian Qiandra, yang sudah diceritakannya pada Jossie. Oleh sebab itulah, Dean sama sekali tidak ragu mempersiapkan pesta pernikahan itu walau tanpa diketahui oleh Qiandra.
Seorang laki-laki tampan berdiri dengan gagahnya di depan altar, bersama dengan seorang pendeta yang berdiri disampingnya. Wajah bahagia sekaligus tegang terlihat sangat jelas di wajah laki-laki tampan itu. Matanya tak lepas sedetikpun dari pintu masuk ruangan itu, hingga dia melihat apa yang dinantikannya masuk ke dalam ruangan itu.
Jossie yang masih duduk dikursi rodanya didorong oleh dokter Jimmy, terlihat sangat cantik dalam gaun putihnya. Tangan wanita cantik itu menggenggam erat tangan seorang wanita lainnya, yang wajahnya tertutup oleh cadar tipis. Wanita itu melangkah dengan anggun, aura kecantikannya membuat semua mata tak berkedip menatap ke arahnya.
Dean Walt Zacharias, laki-laki tampan yang sedari tadi telah menunggu dengan tidak sabar, tersenyum bahagia, saat dia mengulurkan tangannya dan meraih jemari wanita cantik itu. Mata elang presidir tampan itu tak berkedip menatap sosok mempelai perempuan yang wajahnya masih tertutup cadar tipis.
Prosesi pernikahan berlangsung dengan khidmat, para pemburu berita yang memang sengaja diundang, menanti dengan sabar di luar gereja itu. Para bodyguard tidak mengijinkan satu orang wartawan pun masuk ke dalam, karena Dean menginginkan prosesi pemberkatan pernikahan berlangsung dengan aman dan khidmat.
Dengan tanga gemetar, Dean membuka cadar tipis yang menutupi wajah mempelai wanita, setelah pendeta mempersilahkannya. Sesaat laki-laki tampan itu terpaku, ketika melihat kecantikan sang mempelai wanita, dan saat pendeta mempersilahkannya memberikan ciuman kudus, Dean meraih dagu Qiandra dan mencium lembut bibir seksi wanita itu.
Tepuk sorak yang membahana di dalam ruangan itu, diabaikan oleh Dean, laki-laki itu seakan tak mau melepaskan ciuman dari bibir seksi wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu. Hingga Qiandra menyadarkannya dengan mendorong lembut dada pria tampan itu, walaupun hampir tak mau, namun akhirnya Dean melepaskan juga ciumannya.
“Jangan harap malam ini aku membiarkanmu tidur, Honey, kamu milikku sekarang, dan hanya milikku” desis Dean di telinga Qiandra, membuat wanita itu membulatkan matanya menatap laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya.
Saat kedua mempelai itu melangkah keluar dari gedung gereja, ratusan kamera telah menunggu kehadiran mereka. Dean dengan bangga dan posesif, merengkuh pinggang istrinya. “Ini adalah Qiandra Zwetta Aldrich, istri dari Dean Walt Zacharias, wanita yang selama dua tahun ini sudah aku cari. Dan karena kejadian tak terduga, aku berhasil menemukannya bersembunyi di kota kecil ini” Dean mulai membuka sesi wawancara dengan memperkenalkan istrinya.
Dean menatap wajah sang istri dan mengecup tangan Qiandra dengan lembut, lalu Dean kembali melanjutkan wawancara itu, “Dua tahun aku kehilangan wanita ini karena kesalahanku, dan dua tahun bukanlah masa yang sebentar, karena itu, aku tidak ingin kehilangan dia lagi, sehingga aku memutuskan untuk segera mempersunting wanita ini” lanjutnya dengan senyum bahagia.
Dean sangat tahu kalau berbagai pertanyaan akan muncul karena pernikahannya yang cukup mengejutkan. Semua orang tidak pernah tahu kalau Dean delat dengan seorang wanita, namun tiba-tiba dia mengumumkan pernikahannya. Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya besar bagi semua orang.
__ADS_1
Apalagi wanita yang dipersunting Dean memang bukanlah seorang public figure yang terkenal. Bahkan wanita ini hanya tinggal disebuah kota kecil yang sangat jauh letaknya dari tempat Dean berada.
Qiandra menatap wajah suaminya, dia hanya berdiam diri dan membiarkan Dean yang berbicara, “ Wanita ini memang seorang janda, tapi dia adalah satu-satunya janda bermartabat yang pernah aku temui, dengan segala kelebihannya, dia mampu tetap berdiri menghadapi badai hidupnya. dan aku sangat bangga dapat mempersunting wanita hebat ini, dan hanya Qiandra lah, satu-satunya wanita yang paling aku cintai setelah almarhumah ibuku” Dean dengan panjang lebar menjelaskan kepada para pemburu berita itu.
Qiandra hanya bisa tersenyum bahagia mendengar kata-kata Dean, dan tanpa diduga, Dean tiba-tiba mengangkat tubuh Qiandra dan menggendongnya ala bridal style. Qiandra benar-benar terkejut, "Love, apa yang kamu lakukan" desis Qiandra namun diabaikan oleh laki-laki tampan itu.
Hal ini semua terekam dengan jelas oleh kamera, bahkan beberapa kamera menyiarkan momen istimewa itu secara langsung. Tepuk sorak semua tamu undangan kembali membahana saat melihat keromantisan kedua mempelai ini.
Sebuah mobil mewah yang sudah dihias dengan sangat cantik dan dipenuhi dengan bunga mawar putih, menanti raja dan ratu sehari itu. Dean menggendong wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu, masuk ke dalam mobil mewah yang dibawa oleh asisten Vian.
“Apakah kita langsung menuju ke tempat resepsi” tanya asisten Vian pada kedua mempelai itu.
“Bisakah kita tidak menghadiri resepsi itu” desis Dean, tangannya merengkuh tubuh Qiandra dengan erat.
“Nyonya Dean, tahukah kamu, kalau saat ini yang aku inginkan hanyalah mengurungmu di dalam kamar, dan tidak membiarkanmu lepas dariku” bisik Dean dengan seksi di telinga Qiandra, membuat bulu kuduk wanita cantik itu
merinding.
“Tuan, Nyonya, bagaimana?” kembali asisten Vian bertanya, walau dalam hati pemuda tampan itu benar-benar menyesali telah bersedia menjadi sopir kedua mempelai itu. Jiwa jomblo asisten Vian meronta-ronta saat melihat kemesraan kedua mempelai melalui kaca spion.
“Kita ke tempat resepsi, Tuan Vian, saya juga harus berganti baju dulu sebelum tiba waktunya untuk menjamu para tamu undangan kita” sahut Qiandra. Wanita cantik itu bersandar dengan manja di dada bidang sang suami yang merenggkuhnya dengan erat.
“Berarti kita masih punya waktu kan Honey” desis Dean lagi di telinga Qiandra.
“Love, aku harus berganti gaun, dan kembali di hias lagi, tidak ada waktu untuk melakukan ide-ide dalam otakmu itu” kekeh Qiandra yang sangat memahami apa yang sedang direncanakan oleh suaminya.
__ADS_1
“Honey, kamu tak perlu berdandan lagi, kecuali kalau kamu mengijinkan aku sedikit merusak kecantikanmu saat ini” bisik Dean yang secara tiba-tiba menarik wajah sang istri dan langsung mel*mat bibir seksi wanita itu.
Asisten Vian yang sempat melihat adegan mesra itu, segera menaikkan dinding pembatas antara mereka. Dalam hati, asisten tampan ini benar-benar merutuki nasibnya saat ini, “Kamu pasti sedang bersenang-senang saat ini, Al, sementara aku harus menyaksikan adegan yang benar-benar membuatku menderita” keluhnya dalam hati.
Mobil mewah itu segera meluncur menuju ke salah satu objek wisata terbaik dan termewah di kota kecil itu. Di villa mewah yang sudah di dekorasi dengan ribuan bunga mawar putih, terlihat sudah mulai banyak undangan yang berdatangan. Demikian pula para pemburu berita yang memang diberi akses untuk meliput resepsi ini. Semua orang menanti kehadiran mempelai yang fenomenal ini, mereka semua penasaran dengan wanita yang mampu menaklukkan hati seorang Dean Walt Zacharias.
Saat mobil mewah itu memasuki areal parkir villa, semua orang bersiap menyambut kehadiran kedua mempelai. “Love,, mengapa disini juga ada banyak kamera” Qiandra mengerutkan keningnya saat melihat rombongan wartawan yang menanti mereka.
Dean tersenyum, lalu dia meraih pinggang sang istri, “Aku memang ingin mengumumkan pada seluruh dunia, bahwa di hatiku sudah betahta seorang bidadari, Honey” ucapnya dengan lembut seraya membersihkan sisa ciuman panas mereka di bibir sang istri.
Qiandra hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebenarnya dia tidak menyukai pemberitaan yang seperti ini. Qiandra menginginkan sebuah pernikahan yang private, namun dia juga menghargai keinginan sang suami. Wanita
ini sangat menyadari kalau sang suami adalah laki-laki yang menjadi public figure, yang setiap kejadian dalam hidupnya akan selalu dikejar oleh pemberitaan.
Mereka berdua keluar dari mobil pengantin dengan tangan Dean menggenggam erat tangan Qiandra. Kedua mempelai ini melangkah dengan wajah yang dihiasi dengan senyum penuh kebahagiaan. Mereka langsung menuju ke lift yang membawa mereka langsung menuju ke ruang dimana para MUA sudah bersiap untuk mendandani mereka.
“Aku benar-benar tidak sabar untuk mengakhiri hari ini, Honey” ucap Dean, dia memeluk dan mengukung tubuh sang istri di dalam lift itu.
Qiandra mendorong dada bidang itu dengan lembut, “Love, bersabarlah, kita nikmati hari ini, yang menjadi hari paling bersejarah dalam kisah cinta kita” ucapnya seraya mengecup lembut bibir suaminya.
Dean meraih pinggang Qiandra, namun belum sempat dia melakukan aksinya pada wanita itu, pintu lift sudah terbuka. “Hei hei, Bro, bersabarlah, masih ada beberapa jam ke depan sebelum kamu mengunci istrimu di kamar” sebuah suara mengejutkan keduanya.
Qiandra dan Dean menatap ke arah pintu lift, dimana seorang laki-laki tampan telah menanti kehadiran mereka. Dean menatap laki-laki itu dengan wajah kesal, namun yang ditatapnya tetap tersenyum bahagia.
Dokter Albert menyambut kedua mempelai itu di pintu lift dengan senyum bahagia. Dokter tampan itu benar-benar bahagia, karena Dean telah menemukan pasangan hidupnya, yang artinya dia terlepas dari sumpahnya bersama dengan asisten Vian.
__ADS_1