
“Tuan, Nona Qiandra sekarang ada di butik,
sementara laki-laki itu pergi ke perusahaan” seoranglaki-laki muda datang menghampiri presidir tampan yang sedang menatap ke luar jendela kantornya.
Sepasang bola mata biru milik presidir tampan itu segera beralih dan menatap laki-laki muda yang berbicara, “Siapa yang ada bersamanya saat ini” tanya sang presidir itu dengan suara dingin.
“Hanya para karyawan biasa dan beberapa
orang penjaga keamanan standar yang berjaga di luar butik” sahut laki-laki lainnya yang masih berdiri di hadapan presidir tampan itu.
“Dika, apa kamu yakin, aku masih belum ingin bentrok dengan bajingan itu, belum saatnya, sebelum aku berhasil mendapatkan Qiandra” tanya presidir tampan itu pada laki-laki lainnya yang tak lain dari asisten Dika.
Asisten Dika menganggukkan kepalanya dengan yakin, “Benar Tuan Daniel, laki-laki itu harus menghadiri rapat penting di kantornya, jadi dia tidak akan bisa mengawasi Nona Qiandra saat ini” sahut asisten Dika pada presidir tampan yang tak lain dari Daniel. Laki-laki yang dimaksud oleh asisten Dika tak lain dari Dean, dia memang tidak bisa menyebut namanya karena Daniel tidak suka.
Hanya dengan mendengar orang lain menyebut
nama Dean, sudah mampu memancing kemarahan seoang Daniel Putra Mahardika. Presidir PT.Mahardika yang terkenal dingin,
angkuh dan kejam ini sangat membenci rival utamanya Dean Walt Zacharias.
“Kita berangkat sekarang, dan tetap pastikan tidak ada orang yang bisa menghalangiku, ah, Qiandra” desah Daniel diakhir kalimatnya. Sekilas matanya melirik foto Qiandra yang terpajang dalam ukuran super besar di kamarnya, senyum tiba-tiba muncul di bibirnya. Senyum yang selama dua tahun ini tidak pernah lagi menghias wajah tampannya, sejak dia kehilangan Qiandra.
Asisten Dika melirik wajah bos besarnya yang tiba-tiba saja berbinar penuh kebahagiaan. Ditambah senyum yang terukir di wajah tampan itu, membuat asisten Dika menghela nafas pelan. Bagaimana bisa hanya akan bertemu saja dengan Qiandra sudah mampu mengubah presidir tampan ini menjadi bahagia.
Mereka masuk dalam salah satu mobil mewah
milik Daniel dan segera meluncur menuju butik tempat Qiandra saat ini berada. Sepanjang perjalanan, bibir tipis Daniel tak henti-hentinya tersenyum, membuat asisten Dika sedikit bergidik. Selama dua tahun ini, asisten Dika sudah terbiasa melihat wajah sang atasannya itu tanpa senyum, tapi kali ini, senyum seakan menempel di wajah tampan laki-laki bermata biru itu.
Mereka sampai di sebuah bangunan yang
terlihat sangat mewah, walaupun butik itu masih terlihat kosong. Mobil mereka dihadang oleh penjaga keamanan yang berjaga di gebang masuk butik itu. “Selamat pagi, Tuan-Tuan, mohon maaf, butik ini masih belum di buka,
semuanya masih dalam proses persiapan” sapa penjaga keamanan itu dengan ramah.
Asisten Dika membuka kaca mobil, “Selamat
pagi, kami tahu butik ini belum buka, tapi kami sudah membuat janji dengan Nona Qiandra, dan dialah yang meminta kami untuk menemuinya disini” sahut asisten Dika pada penjaga keamanan itu.
Penjaga keamanan itu terdiam sejenak, dalam
hati dia berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh asisten Dika itu masuk akal. Karena sepengetahuannya tidak ada yang mengetahui kepemilikan butik itu selain Dean dan kedua sahabatnya, termasuk Qiandra sendiri.
“Baiklah, Tuan, mohon tunggu sebentar, saya
akan memberitahukan pada Nyonya Qiandra, karena beliau sedang rapat dengan staffnya saat ini” penjaga keamanan itu akhirnya mengalah, dia lalu berbalik meninggalkan mobil mewah itu, namun langkahnya tertahan saat sebuah suara menegurnya.
“Tidak perlu memberitahu Qiandra, aku sendiri yang akan langsung menemuinya” asisten Dika dan penjaga keamanan sama-sama terkejut mendengar suara itu, karena ternyata Daniel sudah keluar dari mobil.
“Tapi Tuan…..” penjaga keamanan cukup
terkejut melihat ketampanan tamunya, namun dia tetap berusaha mencegah langkah laki-laki itu. Sayangnya, ucapan penjaga keamanan ini sama sekali tidak dihiraukan oleh Daniel. Presidir tampan ini malah semakin mempercepat langkahnya dan bahkan sedikit berlari masuk ke dalam butik.
Di dalam butik, Daniel tidak melihat ada siapapun, dia segera melihat tangga menuju ke lantai dua. Daniel bergegas menuju ke tangga dan segera naik dengan cepat. Langkah lebarnya bahkan mampu melewati dua anak tangga sekaligus. Daniel mendengar suara yang sangat familiar dan sangat dirindukannya dari salah satu ruangan yang terlihat memiliki pintu paling besar dari ruangan lainnya.
Daniel membuka pintu ruangan itu yang
memang tidak tertutup rapat, dan saat dia berdiri di pintu ruangan itu, semua orang menoleh ke arahnya. “Semuanya keluar sekarang juga, aku harus berbicara dengan Qiandra” ucapnya dengan suara dingin.
__ADS_1
Para karyawan yang memang sedang mengadakan rapat bersama dengan Qiandra, segera berdiri, namun mereka tidak mengikuti
perintah Daniel. Para karyawan yang berjumlah sepuluh orang itu malah melangkah mendekati Qiandra dan melindungi wanita itu.
“Anda siap, dan ada urusan apa Anda datang
kesini, tidak ada yang bisa menjauhkan kami dari Nyonya Dean, kecuali atas perintah Tuan Dean” salah satu dari karyawan itu berbicara dengan lantang pada Daniel.
Mendengar sebutan Nyonya Dean yang
disematkan pada Qiandra, membuat darah Daniel mendidih. Wajah tampan dengan mata biru itu seketika berubah menjadi merah, “Jangan memaksaku untuk bertindak kasar pada kalian” desisnya berusaha menahan emosinya.
“Tuan Daniel yang terhormat, saya kira tidak ada hal yang harus kita bicarakan, dan saya rasa tidak ada juga alasan yang membuat Anda harus mengusir karyawan saya” suara lembut nan merdu yang begitu dirindukan oleh Daniel, terdengar diantara para karyawan yang melindungi tubuh wanita itu. Suara iitu membuat wajah Daniel seketika menjadi sendu, suara itu bagaikan suara malaikat di telinga presidir ini.
“Qiandra, tolong beri aku kesempatan, aku
hanya ingin bertemu denganmu, aku merindukanmu, sangat merindukanmu” suara
Daniel berubah drastis saat mendengar suara lembut itu. Walaupun Daniel tidak melihat Qiandra, namun suara wanita itu sangat dikenalnya.
“Pergilah, Tuan, Nyonya Dean tidak ingin
bertemu dengan Anda” karyawan tadi kembali berbicara dengan suara tegas. Sayangnya, sebutan Nyonya Dean kembali memancing kemarahan Daniel yang tadi sempat mereda setelah mendengar suara Qiandra.
Daniel sudah tidak mampu lagi menahan
emosinya, dia segera melangkah dan tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menerjang karyawan yang sedang berbicara itu. Karyawan itu sangat terkejut, dia tidak sempat mengelak lagi, sehingga sebuah pukulan keras telak mengenai wajahnya, dan membuatnya tersungkur dengan darah mengucur dari hidungnya.
Daniel tidak menghentikan serangannya, dia
langsung menyerang siapa saja yang berusaha melindungi Qiandra. Dalam waktu singkat, para karyawan yang memang mayoritas perempuan itu, semuanya tersungkur. Hanya tersisa Qiandra yang masih berdiri dengan tubuh bergetar hebat, air mata mengalir di pipinya dan mulut wanita ini seketika terkunci.
tubuhnya lunglai tak berdaya, walaupun dia masih dalam keadaan sadar. Namun, ketakutan yang sangat besar terlihat jelas di wajah cantiknya, dia tidak mengeluarkan kata-kata, tapi bibirnya bergetar dengan air mata yang mengalir di pipinya.
“Qiandra, tenanglah, Sayang, aku tidak akan
menyakitimu, aku hanya begitu merindukanmu, kemarilah, Sayang” ucap Daniel dengan lembut. Laki-laki itu cukup terkejut melihat reaksi Qiandra, dia tidak menyangka kalau wanita itu menjadi sangat ketakutan. Daniel melangkah dengan perlahan mendekati Qiandra, tangannya menyentuh bahu Qiandra dengan lembut.
Namun, sentuhan Daniel seperti listrik yang
menyengat Qiandra, membuat wanita itu langsung terduduk dan tidak sadarkan
diri. Daniel sangat panik melihat keadaan Qiandra, dia segera meraih tubuh wanita itu dan mengangkatnya dengan cepat.
“Qi, bangun, Sayang, bangunlah, mengapa
kamu begini, kamu tahu aku tidak akan menyakitimu, ku mohon buka matamu, Sayang, berbicaralah padaku” seru Daniel dengan panik. Daniel membawa tubuh Qiandra keluar dari ruangan itu, sambil terus memanggil nama wanita itu.
Saat Daniel sudah berada di lantai dasar,
sebuah suara menggelegar terdengar menggema, “Lepaskan istriku, apa yang sudah
kamu lakukan padanya” seru Dean dengan berlari menghadang langkah Daniel. Dean begitu terkejut melihat Qiandra terkulai tidak sadarkan diri dalam pelukan Daniel.
“Hah, istrimu kamu bilang, jangan harap aku
akan mengalah kali ini, Qiandra milikku dan hanya milikku” seru Daniel tak kalah nyaringnya.
__ADS_1
“Lepaskan Qiandra, atau peluru ini akan
bersarang di kepalamu” desis Dean, dia menodongkan sebuah pistol kecil ke kepala Daniel. Tidak berapa lama, ruangan itu sudah dipenuhi dengan orang-orang yang semuanya menodongkan senjata ke arah Daniel.
“Tuan…..” Daniel begitu terkejut saat melihat keadaan asisten Dika yang sudah babak belur. Dean segera mengambil tubuh Qiandra dari
tangan Daniel, walaupun Daniel berusaha menahannya, tapi pada akhirnya dia terpaksa melepaskan tubuh Qiandra.
“Vian, urus mereka, aku tidak ingin lagi melihat wajah mereka di sekitar istriku” seru Dean dengan kemarahan bercampur khawatir. Dia pergi dengan setengah berlari membawa Qiandra menuju ke mobil mewahnya.
“Kamu boleh merasa menang kali ini, tapi
ingatlah, aku tidak akan pernah membiarkanmu menikmati kebahagiaan bersama Qiandra, sebelum salah satu diantara kita kehilangan nyawanya, camkan itu, ba*ingan” seru Daniel.
Dean tidak memperdulikan kata-kata Daniel,
dia hanya fokus pada keadaan Qiandra yang terlihat sangat lemah. “Segera ke rumah sakit, kode Red” perintahnya pada salah satu bodyguard yang sudah duduk di kursi pengemudi.
“Baik, Tuan” sahut bodyguard itu, dia meraih alat komunikasi, “Kode Red” ucapnya dengan singkat saat mendengar suara di seberang sana. Setelah itu, mobil mewah itu segera melesat menuju ke rumah sakit terbesar di kota itu. Mobil mewah itu melesat dan bergerak dengan lincah diantara kepadatan lalu lintas, karena waktu memang sudah memasuki jam
istirahat.
Di butik Qiandra, asisten Vian mendorong
tubuh asisten Dika hingga tersungkur di kaki Daniel. Wajah asisten Dika benar-benar dipenuhi dengan lebam bahkan hidungnya masih mengeluarkan darah segar. Pakaian asisten tampan itu sudah tidak berbentuk lagi, walaupun berada dalam kondisi yang begitu mengenaskan, asisten Dika tetap berusaha untuk berdiri di samping Daniel.
“Pergilah, jangan sampai aku membuat Anda
mengalami nasib yang sama dengan asistenmu, dan ingat jangan pernah kembali
menemui Nyonya Muda lagi, atau aku tidak akan mengampuni nyawa kalian lagi” seru asisten Vian dengan suara tegas dan penuh dengan kemarahan.
“Cih, camkan ini, ancamanmu tidak akan
mempan buatku, ingat, Qiandra milikku dan hanya milikku, aku akan merebutnya kembali dari baj*ngan itu. Kalian tidak akan bisa menghalangi aku, jika aku menginginkannya maka aku akan mendapatkannya” ucap Daniel dengan wajah gusar, dia meludahi asisten Vian dan melangkah meninggalkan butik itu.
Asisten Dika mengikuti langkah Daniel dengan tertatih-tatih, dia tahu Daniel pasti sedang marah besar. “Aku yang akan membawa mobil” seru Daniel saat asisten Dika akan masuk dan duduk di kursi pengemudi. Asisten Dika segera menyerahkan kunci mobil pada Daniel, dia tidak berani membantah ataupun bertanya.
Saat asisten Dika telah duduk di sampingnya, Daniel segera membawa mobil mewah itu keluar dari area parkir butik Qiandra. Daniel bisa melihat para anak buah Dean yang terus memperhatikannya. “Kita ke dokter, luka-lukamu harus segera diobati, para bajingan itu,
tunggu saja pembalasanku” ucap Daniel dengan gigi bergemeletuk menahan marah.
Asisten Dika sebenarnya ingin menolak, tapi
saat ini dia sangat tahu, kalau Daniel tidak akan terima jika ada penolakan. Hal itu akan memancing kemarahan Daniel, oleh sebab itu, asisten Dika hanya berdiam diri dan mengikuti
semua perintah Daniel.
Asisten Dika telah bertahun-tahun mendampingi Daniel, dan dia sangat hapal dengan watak Daniel. Karena itu, saat ini dalam hati kecilnya, asisten Dika sungguh mengkhawatirkan Qiandra. Asisten Dika tahu, jika dalam keadaan seperti ini, dimana keinginannya tidak tercapai dan bahkan dia dikalahkan, Daniel pasti akan melakukan
pembalasan berkali kali lipat.
Walaupun asisten Dika tahu, Daniel tidak akan
menyakiti fisik Qiandra karena dia begitu mencintai wanita itu. Tapi, asisten Dika takut kalau Daniel akan merenggut kebahagiaan Qiandra, dan itu pasti akan menjatuhkan mental wanita itu. Tapi asisten Dika juga tidak bisa
berbuat apapun, dia tidak mungkin menentang Daniel, apalagi mengkhianati Daniel.
__ADS_1
Dalam hati, asisten Dika hanya bisa berharap agar Qiandra bisa tetap bahagia. Walaupun itu berarti, asisten Dika harus menghadapi wajah muram sang atasannya.