
Hai...hai readers kesayangan author, terima kasih banyak ya kalian tetap setia di dunia halunya author.
Maafkan kalau author belum bisa rutin update, soalnya author enggak sesultan babang Dean, jd harus tetap usaha juga buat cari cuan 😁😁
Tapi author tetap usahakan setidaknya dua hari sekali buat update, semoga readers tidak bosan ya menanti updatenya author.
Jangan lupa tetap dukung author ya dan tinggalkan jejak readers dengan memberikan
Like
Koment
Vote
Terima kasih 🙏🙏
...--------------------#########--------------------...
“Selamat pagi, istriku, Nyonya Dean Walt Zacharias, I love you” bisikan lembut di telinga Qiandra membuat wanita itu perlahan membuka matanya. Dan sepasang mata elang yang tajam namun memancarkan kelembutan terlihat begitu sempurna dengan wajah tampan sang pemilik mata elang itu.
Qiandra tersenyum dan membelai wajah tampan laki-laki itu, “Pagi, suamiku, I love you too, more and more” sahutnya dengan senyum bahagia.
Dean kembali menyambar bibir seksi sang istri, “Love, aku lelah sekali, kamu benar-benar membuatku tak mampu bangun sekarang” keluh Qiandra seraya mendorong pelan tubuh sang suami yang kembali mengukung tubuhnya.
“Jadi, aku tidak mendapat jatah siang ini” tanya Dean dengan mata memelas.
“Hah, siang?, maksudmu ini sudah siang, Love, pantes saja perutku terasa mulai bernyanyi” keluh Qiandra yang benar-benar terkejut karena baru menyadari kalau dia sudah tertidur cukup lama.
Dean tersenyum melihat keterkejutan istrinya, dia meraih tubuh polos sang istri dan segera mengangkatnya membuat Qiandra kembali menjerit kecil, “Love, mau apa kamu” serunya.
“Kalau kamu mau makan, kamu tentunya harus membersihkan diri dulu, Honey, sekarang apa kamu mau aku memandikanmu” tanya Dean saat meletakkan Qiandra di dalam bathup yang ternyata sudah diisi dengan air hangat dan aroma theraphy.
Qiandra membelalakkan matanya, “Pergilah, Love, aku bisa mandi sendiri” sahutnya dengan wajah memerah menahan malu.
Dean tertawa bahagia melihat raut wajah sang istri, “Ada apa, Honey, jangan bilang kamu merasa malu padaku, sementara aku sudah menghapal seluruh jengkal tubuhmu” ucapnya dengan wajah polos.
__ADS_1
“Loveee!!!” seru Qiandra dengan wajah dibuat sekesal mungkin.
“Oke, oke, ratuku, mandilah yang bersih, walaupun sebenarnya aku sangat berharap bisa memandikanmu, agar aku bisa mendapat…..” belum sempat Dean menyelesaikan kata-katanya, Qiandra sudah memercikkan air ke
wajahnya. Dean malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Qiandra, “Aku menunggumu di luar, Honey” serunya seraya melangkah meninggalkan Qiandra.
Walaupun Dean sangat ingin terus bercanda dan menggoda Qiandra, namun dia juga menyadari kalau istrinya itu pasti sangat lapar. Karena itu, Dean lebih memilih mengalah dan membiarkan Qiandra membersihkan diri tanpa menggodanya lagi.
Qiandra menggelengkan kepalanya dengan hati penuh dengan kebahagiaan, “Ku harap bahagia ini bisa aku miliki untuk seterusnya, semoga saja tidak ada lagi aral yang akan menghalangi cinta kita, Love” bisiknya dalam hati.
Qiandra menenggelamkan kepalanya dalam bathup sejenak, saat dia keluar, dia merasa sangat rileks. “Haish, rasanya aku ingin berlama-lama merendam tubuhku, semua bagian tubuhku benar-benar terasa remuk. Dean benar-benar…..” Qiandra tidak mampu melanjutkan desahannya. Wajahnya bersemu merah saat teringat semua yang sudah terjadi sepanjang sisa malam tadi.
Qiandra sangat ingat saat sang suami tak membiarkannya beristirahat barang sekejap. Walaupun merasa sangat lelah, namun Qiandra berusaha tetap melayani sang suami. Qiandra sangat menghargai perlakuan lembut pada dirinya yang diberikan oleh Dean. Karena Qiandra sangat tahu kalau suaminya itu begitu bergairah, namun Dean tetap berusaha menahan dirinya, sehingga tidak membuat Qiandra merasa kesakitan.
Ada bahagia sekaligus rasa syukur yang memenuhi hati Qiandra, bisa memiliki seorang suami seperti Dean Walt Zacharias. Tak pernah terbayangkan hal ini bisa menjadi kenyataan, bahkan untuk memimpikannya saja Qiandra tidak berani. Qiandra sangat sadar siapa dirinya dan statusnya, belum lagi sebutan sebagai pembawa sial yang selalu mengikutinya, membuat Qiandra benar-benar tidak berani berharap lebih.
Bahkan saat Dean meminta untuk menjadi kekasihnya, Qiandra tidak berani menerimanya. Qiandra tidak berani berharap pada sesuatu yang sangat tak mungkin menurutnya saat itu. Qiandra bahkan berpikir Dean hanya sekedar ingin bermain-main dengannya, mungkin karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun, setelah dua tahun Qiandra pergi dan meninggalkan laki-laki itu, bahkan tanpa khabar dan berita, Dean tiba-tiba datang. Dan presidir itu datang, tetap dengan tawaran yang sama bahkan berani langsung melamar Qiandra dalam waktu singkat. Hal inilah yang membuat Qiandra tidak ragu untuk menerima Dean dan memulai hidup baru dengannya.
Ketukan di pintu kamar mandi menyadarkan Qiandra dari lamunannya, “Honey, apa kamu baik-baik saja” seru suara bariton yang sangat dikenali oleh Qiandra.
“Aku baik-baik saja, Love, sebentar aku akan keluar segera” sahut Qiandra, dia segera keluar dari bak mandi besar itu dan membersihkan sisa busa sabun di bawah guyuran shower. Qiandra meraih jubah mandi yang sudah tersedia dan membungkus rambut panjangnya dengan handuk, lalu melangkah keluar dari kamar mandi mewah itu.
Qiandra mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian kamar mewah itu, namun dia tidak menemukan keberadaan Dean. Qiandra segera mencari tas pakaiannya dan betapa terkejutnya dia saat melihat tas pakaiannya sudah dibuka.
“Aku memintamu memakai gaun ini, apakah boleh, Honey” tanya Dean yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Qiandra. Qiandra membalik badannya dan melihat suaminya itu berdiri dengan sebuah gaun berwarna biru muda.
“Apapun yang kamu inginkan untuk aku lakukan, suamiku, sepanjang aku bisa aku akan melakukannya” sahut Qiandra. Ada bahagia merayap di relung hatinya saat melihat perhatian sang suami padanya.
“Terima kasih, Honey, apa kamu mau aku membantumu berpakaian?” tanya Dean dengan mata berbinar.
“Ish, aku yakin perutku tidak akan bisa terisi cepat jika kamu yang membantuku berpakaian” kekeh Qiandra, dia sangat yakin akan maksud Dean.
“Hei, justru aku akan menjamin perutmu akan segera terisi, Honey, jika kamu memberiku kesempatan untuk selalu membantumu berpakaian, perutmu pasti akan segera terisi” sahut Dean ambigu.
__ADS_1
“Aku tak percaya, pastilah kamu akan…..” Qiandra tidak melanjutkan kata-katanya, wajahnya malah merona merah.
Dean merengkuh tubuh istrinya dengan erat, “Percayalah, Honey, aku akan membuat perutmu segera terisi, terisi keturunanku, keturunan kita” desahnya lembut di telinga Qiandra.
“Astaga, Love, yang aku maksud terisi makanan, kamu ini…..” Qiandra segera melepaskan diri dari pelukan suaminya, “Sekarang, tolong biarkan aku berpakaian dulu, atau kamu benar-benar akan puasa selama beberapa hari ke depan karena telah membuat istrimu kelaparan, Love” lanjutnya lagi.
“Oke, oke, aku menyerah, jangan lagi mengancamku dengan ancaman itu, kamu tahu aku tidak akan mampu, Honey” kekeh Dean, dia segera melangkah meninggalkan sang istri dengan tawa renyahnya.
Qiandra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya itu, dalam hati Qiandra merasa sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang laki-laki seperti Dean Walt Zacharias untuk menjadi suaminya.
Setelah berpakaian, Qiandra segera menyusul suaminya yang sudah menunggunya di balkon kamar mereka. Pemandangan pantai yang ditimpa cahaya matahari terlihat sangat indah, langsung menyapa mata Qiandra. Hembusan angin pantai yang menyejukkan memberi kesegaran bagi setiap orang yang menikmatinya, ditengah teriknya cahaya matahari di siang hari itu.
“Kemarilah, Honey, aku sudah memesan beberapa makanan favoritemu” Dean melambaikan tangannya pada Qiandra. Wanita itu segera melangkah menghampiri sang suami, dia duduk di samping Dean yang sedang menikmati secangkir kopi dengan sebuah tablet di tangan kanannya. Laki-laki itu terlihat semakin tampan dengan celana santai dan kemeja yang dibiarkan terbuka beberapa kancingnya, memperlihatkan bulu-bulu halus yang memenuhi dada bidangnya.
Qiandra terpesona dengan ketampanan sang suami yang terlihat sangat macho, Qiandra yakin setiap wanita yang melihatnya pasti akan tergoda. Qiandra segera mengalihkan pandangannya sebelum sempat dilihat oleh sang suami, dia menatap semua makanan yang tersedia di atas meja, “Astaga, Love, makanan sebanyak ini siapa yang akan memakannya” ucap Qiandra.
“Ya, kitalah, Honey, kamu dan aku, bukankah kita memang memerlukan energi lebih untuk melanjutkan permainan tadi” Dean meletakkan tabletnya dan menatap istrinya dengan senyum smirknya.
Qiandra membulatkan matanya mendengar kata-kata Dean, “Jangan macam-macam, Love, sekarang saja aku merasa tubuhku masih remuk redam, masa kamu menginginkannya lagi, apa kamu belum puas” desis Qiandra, walaupun dalam hatinya, Qiandra yakin dia tidak akan mampu menolak pesona laki-laki itu.
“Aku tidak akan pernah puas menikmati dirimu, Honey, kamu sudah menjadi candu bagiku” sahut Dean, “Dan kalau kamu merasa letih aku siap memberikan pijatan plus-plus untukmu” lanjutnya lagi.
“Ish, itu sich memang maunya kamu, Love” sahut Qiandra, dia mengambil piring Dean, “Kamu mau yang mana, Love, aku akan mengambilnya untukmu” lanjutnya berusaha mengalihkan pembicaraan mesum sang suami.
Dean tersenyum bahagia melihat sang istri mulai melayani dirinya, “Apapun yang kamu sediakan untukku, Honey, aku akan menikmatinya” sahut Dean. Qiandra segera mengambil beberapa menu makanan untuk Dean dan meletakkannya di hadapan laki-laki itu.
“Silahkan makan, Love, semoga kamu tidak kecewa dengan menu pilihanku” Qiandra kembali merasa bersalah karena dia baru menyadari kalau dia juga tidak tahu menu favorite Dean. Sementara laki-laki itu, mengetahui semua menu favorite Qiandra, sehingga dia bisa memesan semua menu sesuai selera Qiandra.
“Jangan merasa canggung, Honey, kamu punya banyak waktu untuk mengetahui segalanya tentang aku, aku sama sekali tidak menyalahkanmu, karena aku yang tidak memberimu kesempatan untuk mengetahui segalanya tentang aku. Aku sudah teramat sangat bahagia bisa menemukan dirimu dan bahkan bisa memilikimu seutuhnya” ucap Dean dengan lembut membelai punggung sang istri yang sedikit terbuka.
Dean menyadari kalau Qiandra pasti merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa tentang Dean, dan laki-laki itu tidak ingin Qiandra berada pada posisi itu. Bagi Dean, bisa duduk bersama dan menikmati makanan bersama dengan Qiandra yang sudah resmi menjadi istrinya sudah lebih dari cukup. Dean sama sekali tidak menuntut Qiandra harus mengetahui dan melayani dirinya dengan sempurna.
“Terima kasih atas pengetianmu, Love, aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untukmu, sekali lagi maafkan aku” sahut Qiandra, wanita ini merasa cukup bersyukur karena suaminya mau mengerti dirinya. Qiandra menyadari bahwa dia harus berusaha mengenal sang suami lebih banyak lagi, agar dia dapat melayani dan mendampingi sang suami dengan baik.
Dean tersenyum, dia mengecup kening sang istri, “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, ayo kita makan, bukannya tadi kamu bilang kamu sangat lapar” ucapnya sambil mengacak lembut kepala Qiandra. Wanita itu menganggukkan kepala, dan mereka berdua mulai menikmati makan pagi yang sudah berada di waktu siang hari. Bahagia terpancar di wajah sepasng sejoli ini, beberapa kali mereka berdua saling menyuapi pasangannya, diiringi dengan canda tawa.
__ADS_1