PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS SEMBILAN


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya, di atas panggung utama saat Qiandra berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Daniel, laki laki itu malah merapatkan tubuhnya dan Qiandra. 


“Ikuti aku, atau ketiga senjata itu memecahkan kepala Dean saat ini juga” bisik Daniel membuat Qiandra serta merta menjadi lemah dan tidak lagi melakukan perlawanan.  Daniel berbisik di telinga Qiandra dengan


senyum manis, seolah mengucapkan kata- kata yang manis pada wanita itu.


Qiandra dengan berat hati terpaksa mengikuti langkah Daniel, ada pedih dalam hati wanita ini.  Namun, Qiandra sudah bertekad, dia tidak akan membiarkan orang yang dicintainya berkorban lagi untuk dirinya.  Jika ada yang harus dikorbankan, maka Qiandra siap mengorbankan dirinya.


Qiandra berharap asisten Vian dan orang orang Daniel bisa segera menyadari bahaya yang mengancam Daniel.  Dan mereka bisa


menangkap semua orang orang jahat itu termasuk otak dibalik semua rencana jahat


ini.  Qiandra melangkah dengan tenang


mengikuti Daniel, dia sangat yakin kalau orang orang Dean tidak akan membiarkan


Daniel membawanya keluar dari gedung ini.


Yah, Qiandra hanya bisa berharap pada dokter Albert dan asisten Vian saat ini, sementara


dirinya memang sudah tidak punya pilihan lain lagi selain mengikuti keinginan Daniel demi keselamatan Dean.  Qiandra bahkan tidak sempat menatap wajah sang suami yang diyakini oleh wanita itu pasti sangat bingung dan tak percaya.  “Aku harap semuanya akan baik baik saja, Love” desah hati Qiandra.


Qiandra melangkah tertatih mengikuti derap langkah Daniel yang terus merengkuh pundaknya seakan takut wanita yang sangat dicintainya ini menghilang begitu saja.  Qiandra berharap anak buah asisten Vian menghadang langkah mereka saat mereka turun dari panggung utama dan memasuki


sebuah lorong.


Namun, harapan Qiandra ternyata sia-sia belaka, karena ternyata di lorong itu sudah


terlihat beberapa orang yang terbaring tidak berdaya.  “Apa semuanya bersih” tanya Daniel pada seseorang yang masih berdiri di lorong itu.


“Bersih, Tuan, tinggal tunggu langkah selanjutnya” jawab orang itu.


Qiandra benar benar terkejut melihat kenyataan itu, wanita itu menyadari bahwa bahaya benar-benar sudah mengancamnya juga Daniel.  Saat Qiandra merasa rengkuhan di bahunya sedikit longgar, dia segera


melepaskan diri dan berusaha lari.


Namun, gaun panjangnya benar-benar menyulitkan Qiandra, Daniel hanya menginjak gaun dengan ekor panjang itu dan Qiandra benar benar tidak bisa bergerak lagi.  “To……..” jeritan Qiandra yang ingin berteriak minta tolong langsung terputus saat telapak tangan Daniel membekap mulutnya.


Qiandra kembali terkejut saat menyadari Daniel membekapnya dengan sapu tangan, Qiandra sadar dia akan dibius.  Perlahan kesdaran Qiandra benar benar mulai hilang, hingga sesaat sebelum dia benar benar menutup matanya, Qiandra mendengar tiga buah tembakan.


Dor ….. dor ….. dor ….


“Dean, tidak, tidak, maafkan aku, Love” desah Qiandra dan setelah itu tubuhnya langsung terkulai tak berdaya.


Daniel segera menyangga tubuh wanita itu, dengan wajah sendu di tatapnya wajah


Qiandra, “Maafkan aku, Qiandra, aku terlalu mencintaimu dan terlalu tergila-gila padamu, aku berharap kamu bisa menerimaku” bisiknya.


Daniel mengangkat tubuh wanita itu, “Apa helikopter sudah siap” serunya melalui alat komonikasi di telinganya.


“Siap, Tuan, tinggal tunggu jalannya di buka” ucap seseorang di seberang sana.


“Pasang perlengkapanku” seru Daniel lagi pada anak buahnya yang ada di dekatnya saat itu.


Beberapa anak buah Daniel segera memasang beberapa perlengkapan di tubuh Daniel yang masih menggendong tubuh Qiandra dengan erat.  “Pasangkan di tubuh kami berdua, aku tidak mau ada kesalahan sedikitpun” seru Daniel mengalahkan suara hiruk pikuk di luar lorong itu.


Dan saat anak buah Daniel telah selesai memasang perlengkapan di tubuh Daniel dan juga Qiandra, mereka mendengar suara helikopter yang bergerak seiring dengan


terbukanya kubah ballroom mewah itu.  Sebuah tali segera terulur dan langsung diambil oleh anak buah Daniel dengan cepat.  Mereka segera mengaitkan tali itu dengan perlengkapan di tubuh Daniel dan Qiandra.


“Tarik” seru Daniel melalui alat komonikasi di telinganya saat anak buahnya sudah


mengacungkan jempol padanya yang menunjukkan kalau tali itu sudah terkait


dengan aman.  Tubuh Daniel dan Qiandra


perlahan tertarik ke atas bersamaan dengan asap tebal yang keluar dari ballroom mewah itu.


Sesaat Daniel melihat kejadian di atas panggung, dimana Dean sedang memangku seseorang dan Daniel sangat yakin kalau itu adalah ayah Dean.  “Shit, kenapa mereka bisa meleset, seharusnya mereka membunuh Dean” umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Namun, Daniel tidak mau terlalu memikirkan hal itu, dia lebih fokus pada tubuh Qiandra


yang saat ini di rengkuhnya dengan erat, seperti sebuah permata yang teramat sangat berharga.  “Berangkat” seru Daniel saat tubuh keduanya sudah mendekati helikopter dan bahkan belum masuk ke dalam helikopter itu.


Mendengar hal itu anak buahnya yang membawa helikopter itu segera bergerak menjauhi lokasi pesta yang berubah menjadi lebih kacau.  Di bawah sana mereka bisa melihat berpuluh puluh mobil polisi sudah


datang dan mengepung gedung itu.


“Segera keluar dari gedung, dan jika ada yang tertangkap silahkan pilih kalian yang


mati atau keluarga kalian” seru Daniel melalui alat komonikasi di telinganya.  Laki laki itu memberikan perintah yang begitu kejam, karena dia tidak ingin ada yang membuka mulut tentang dirinya.


“Tuan, di tubuh Nona ini pasti sudah di tempatkan banyak pelacak, mereka pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya.  Saya khawatir mereka bisa menemukan tempat persembunyian tuan jika tidak segera


dilepaskan” ucap salah satu anak buah Daniel.


“Ya sudah, kamu pindai saja dan buang semuanya” ucap Daniel yang tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya sedang memangku tubuh Qiandra.


“Tapi, Tuan, jika kita memindainya maka akan perlu banyak waktu, secara gaun ini sangat


mewah dengan berbagai bagian yang bisa saja menyimpan pelacak di dalamnya,


sementara itu mereka bisa saja segera menemukan tempat tujuan kita” sahut anak


buahnya lagi.


“Haish, kamu ini ribet betul, lalu bagaimana, cepat katakan saja maumu” ucap Daniel


dengan kesal kepada anak buahnya itu.


“Ma-maaf tuan, maaf jika saya lancang, tapi cara tercepat adalah membuka gaun nona ini


dan membuangnya” sahut anak buah Daniel dengan wajah ketakutan.


“What???.... kamu menyuruh aku menelanjangi wanitaku di hadapan kalian, apa kamu sudah bosan hidup, aku bisa dengan cepat membuangmu dari sini” seru Daniel yang tidak percaya dengan ide gila anak buahnya itu.


menyerahkan selembar selimut, kemudian dia menurunkan tirai yang membatasi Daniel dan orang lain di sekitarnya.  Anak buah Daniel melakukan semuanya dengan cepat agar tidak terlalu banyak tanya jawab lagi dengan bosnya itu.


Daniel ingin marah namun dia mengerti semua itu memang dipersiapkan untuk keselamatan dan keamanan mereka.  Tanpa menjawab lagi Daniel segera membuka baju Qiandra, namun karena hanya dengan satu tangan Daniel cukup kerepotan.  Belum lagi dia harus menjaga agar mereka berdua tetap tersembunyi dibalik tirai kain itu.


“Tarik gaun itu, dan langsung buang” seru Dean saat gaun Qiandra sudah lolos dari tubuh wanita itu.  Namun gaun itu masih


tertahan di kaki jenjang wanita cantik ini yang masih belum sadar setelah dibius tadi.


Anak buah Daniel segera menarik gaun Qiandra dengan cepat, “Awas matamu, jangan berani berani melirik ke atas” sarkas Daniel kepada anak buahnya.


Anak buahnya hanya diam saja, “Haish si bos posesif sekali, lagian siapa juga yang


berani melirik ke atas, aku juga masih ingin melihat anak dan istriku” rungutnya dalam hati.  “Maaf Tuan, jika boleh mohon Tuan juga mencek pakaian yang masih tersisa di tubuh Nona, sipa tahu masih ada yang tersisa” ucapnya lagi.


Walaupun takut dengan kemarahan tuannya, tapi anak buah Daniel tetap saja memperingatkan Daniel demi keselamatan mereka.  Daniel hanya mendengus mendengar ucapan anak buahnya itu, “Lama lama kamu bisa aku lempar juga dari helikopter ini” seru Daniel.


Sekalipun gusar namun Daniel tetap melakukan apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu.  Daniel perlahan memperhatikan tubuh wanita yang sudah ditutupnya dengan selimut itu.  Perlahan ia menyibak selimut itu, lalu jarinya mulai menelusuri bagian tubuh Qiandra yang masih tertutup kain pengaman.


Nafas laki laki itu mulai memanas dan wajahnya semakin memerah saat jemarinya mulai menelusuri bagian bawah tubuh Qiandra.  Hampir tidak mampu dia melakukannya, namun saat Daniel hampir menyerah, tangannya meraba sesuatu yang agak berbeda di balik segitiga pengaman


Qiandra.  Daniel segera memperjelas apa


yang di rabanya dan saat dia melihat itu adalah sebuah chip kecil yang bahkan


dilengkapi penyadap suara.


Daniel tersenyum miring, dia mengambil alat itu dan sebelum membuangnya dia berseru,


“Lihatlah, aku sudah berhasil membuka seluruh penutup tubuh Qiandra, tubuh yang


benar-benar menggoda dan akan menjadi milikku seutuhnya, ha ha ha” seru Daniel


dengan tawa membahana lalu dia melempar alat itu keluar dari helikopter.

__ADS_1


Daniel sengaja melakukan hal itu, karena dia tahu semua ucapannya pasti didengar oleh


Dean melalui alat pelacak itu.  Setelah itu, Daniel tanpa ragu lagi melepas semua kain yang melekat di tubuh Qiandra dan membuangnya.  Hingga tubuh wanita itu


benar benar polos tanpa sehelai benangpun yang menutupinya.


Saat Daniel melihat tubuh Qiandra menggigil dia segera mengambil selimut dan menutupi tubuh wanita itu.  Bahkan tanpa ragu, Daniel memeluk tubuh Qiandra untuk memberikan kehangatan untuk wanita itu.  “Kamu milikku sekarang, Qiandra sayangku, aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dariku.  Aku, dan hanya aku yang boleh memiliki dirimu, kamu hanya terlahir untuk hidup bersamaku hingga maut saja yang bisa memisahkan kita” desis Daniel sambil menatap wajah wanita yang masih tertutup matanya itu.


Daniel menatap wajah cantik yang terlihat sedikit memucat dengan bibir yang agak


membiru, Daniel tahu wanita itu kedinginan.   Dia segera memeluk tubuh Qiandra yang sudah dibungkusnya dengan selimut


itu.  Daniel berusaha memberikan kehangatan dari tubuhnya dan mentransfernya ke tubuh


Qiandra.


Wajah laki-laki itu bahkan menempel di dahi


Qiandra, Daniel berharap bisa memberikan kehangatn di wajah wanita yang sangat


dicintainya itu.  Walaupun tanpa sadar


perbuatannya itu membuat tubuhnya sendiri perlahan namun pasti teraliri oleh darah yang mengalir dengan cepat menuju ke otaknya.  Sehingga tidak berapa lama, nafas laki-laki


itu mulai memburu berusaha menahan hasrat yang mulai bergelora dalam tubuhnya.


Daniel tidak bisa menolak semua rasa gairah


yang perlahan semakin membakar seluruh bagian tubuhnya.  Daniel sadari kalau dirinya adalah laki laki normal, dan saat ini wanita yang sangat dicintai dan dirindukannya itu


tergeletak pasrah dalam pangkuannya. Tubuh yang terkulai lemah dengan hanya dibalut kain selimut yang tidak begitu tebal itu, benar benar merusak otak seorang Daniel Putra Mahardika.


Daniel kembali mendesah kasar seolah


berusaha melepaskan semua rasa yang membakar dalam dirinya.  Daniel semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita itu, laki laki itu membiarkan segenap rasa yang ada dalam drinya mengalir seiring dengan semakin derasnya aliran gairah dalam tubuhnya.  “Aku mencintaimu, Qiandra, aku janji aku tidak akan menyakti dirimu lagi, akan aku lakukan apapun juga agar kamu bisa


bahagia dan menerima kehadiranku dalam hatimu.  Semoga kamu mau memaafkan semua yang aku lakukan hari ini” desah Daniel dalam hati kecilnya.


Walaupun Daniel menyadari bahwa apa yang


dilakukannya hari ini pasti akan mengecewakan Qiandra.  Namun, dia masih berharap wanita itu mau memaafkan dirinya karena semua itu dilakukannya atas dasar cinta yang begitu besar terhadap Qiandra.  Daniel memang sudah tidak perduli lagi apakah tindakannya benar atau salah, yang terpenting baginya saat ni adalah Qiandra ada bersama dengannya.


Helikopter itu terus bergerak menjauh dari ballroom mewah dimana semua kekacauan masih terjadi.  Memecah keheningan malam yang sepi dan dingin dengan gelap dan pekat menyelimuti alam di luar helikopter itu.   Di dalam helikopter terlihat Daniel masih mendekap erat tubuh wanita yang hanya terbalut selimut itu.  Tiga orang anak buahnya yang juga menyertai dalam helikopter itu juga membisu, jangankan berbicara dengan sang bos, untuk melirik saja mereka tidak berani.


Hingga enam puluh menit berlalu dalam suasanan tenang, dan tiba tiba pilot memberitahukan bahwa mereka akan sampa di tujuan.  “Maaf tuan Daniel, sebentar lagi kita akan mendarat di villa pulau x” ucap sang pilot melalui alat komonikasi yang ada di telinganya.


Daniel mengangkat wajahnya dari wajah Qiandra, lalu dia melihat kegelapan di


sekelilingnya.  “Pastikan semuanya aman


sebelum kita mendarat” ucap Daniel saat dia melihat titik terang di tengah kegelapan yang melingkupi sebuah pulau.


“Baik, Tuan Daniel” sahut sang pilot, lalu dia melanjutkan dengan berkomonikasi dengan


rekannya yang ada di pulau itu.  “Semuanya aman, Tuan, apa kita langsung mendarat” lanjutnya melaporkan pada Daniel.


“Ya, lanjutkan” sahut Daniel.  Daniel merengkuh erat tubuh Qiandra seakan takut tubuh itu akan terjatuh dari tangannya.  “Kita sampai, Qiandra, aku akan terus tinggal


bersamamu di sini hingga kamu mau menerima aku untuk menggantikan lelaki


baji*gan itu” desis Daniel seraya membelai wajah wanita yang masih setia


memejamkan matanya itu.


Helikopter semakin mendekat ke pulau x, lampu yang ada di pulau itu semakin terlihat jelas menunjukkan sebuah bangunan villa yang kecil namun memliki arsitektur mewah.  Lampu sorot dari helikopter semakin


memperjelas penampakan villa yang ternyata sangat indah itu walaupun terlatak


di sebuah pulau terpencil.

__ADS_1


__ADS_2