
Pesta telah berakhir dengan sukses, segala kemeriahan bahkan acara hiburan yang
dilaksanakan berupa pesta rakyat selama tiga hari pun sudah berlalu. Kini sang raja dan ratu terlihat sedang menikmati waktu bersantai di kamar utama istana megah itu. Kamar dengan fasilitas luar biasa mewah dan
perlengkapan yang sebagian besar didominasi oleh lapisan emas murni.
“Huh, ini seperti bukan kamar saja, Love, ruangan ini bahkan bisa memuat lebih dari lima puluh orang” ucap Qiandra saat memperhatikan ke sekelilingnya. Qiandra dan Dean sedang duduk di sofa mewah yang ada di tengah ruangan itu dengan Qiandra bersandar nyaman di dada bidang sang suami.
Dean tersenyum mendengar kata kata istrinya, tangannya memeluk Qiandra dari belakang dengan tangan mengelus lembut perut buncit wanita itu. “Ini akan menjadi tampat kita berdua hingga suatu saat kelak kita mewariskannya kepada anak dan menantu kita” ucapnya dengan suara lembut.
Qiandra memejamkan mata menikmati saat saat tenang dan syahdu bersama laki laki yang sangat dicintainya itu. “Hmmm, lalu
setelah kita mewariskannya, apakah kita harus berpindah kamar, Love” tanya
Qiandra.
“Jika kamu masih ingin tetap di istana ini, tentu saja kita harus pindah dan menempati mansion lain di sekitar istana ini” sahut Dean.
“Memangnya tidak boleh ya kita tetap berada dalam istana ini, aku pasti akan merasa berat
berpisah dengan anak anakku kelak” keluh Qiandra.
Dean tersenyum mendengar jawaban sang istri, “Semua itu merupakan tradisi, Honey, tentu dengan tujuan yang baik. Karena saat seorang raja dan ratu telah mewariskan tahtanya kepada penerus selanjutnya, hal itu
berarti raja dan ratu telah mempercayakan segala sesuatunya kepada penerus yang
baru. Dengan begitu mereka tidak berhak
lagi mencampuri urusan dan segala keputusan penerus yang baru” Dean menjelaskan pada sang istri.
__ADS_1
“Kok begitu sich, Love, bukannya saran dan pendapat orang tua apalagi orang yang sudah berpengalaman akan sangat diperlukan dalam menjalani segala sesuatu” tanya Qiandra dengan kening berkerut.
“Benar, dan memang tidak ada larangan untuk memberi saran dan nasehat, tetapi bukan untuk ikut campur dalam membuat keputusan, apalagi sampai memutuskan diluar keputusan raja yang sedang berkuasa, semua itu akan dianggap sebagai pemberontakan. Selain itu, juga akan dianggap menjilat ludah sendiri, karena saat memutuskan untuk menyerahkan tahta berarti sudah sangat yakin bahwa yang diserahkan benar benar mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai raja” jelas Dean panjang lebar.
Qiandra hanya mengangguk paham dengan penjelasan sang suami. Memang sudah seharusnya hanya ada satu kepala dalam suatu rumah, sebab jika ada banyak kepala yang tentu punya berbagai pemikiran dan masing masing membuat keputusan sendiri, sudah pasti akan terjadi kekacauan. Qiandra bisa mengerti hal itu, tapi tetap berat rasanya kalau harus meninggalkan anak anaknya kelak.
“Jangan khawatir, Honey, kamu akan terbiasa kelak seiring berjalannya waktu” ucap Dean yang mengerti kegelisahan sang istri. Dean
sangat tahu bukan masalah kemewahan istana yang membuat Qiandra berat
meninggalkan istana, tapi berpisah dengan orang orang yang disayanginya, apalagi anak anaknya sendiri.
“Bagaimana perkembangan kasus itu, Love” tanya Qiandra ketika teringat apa yang sudah
diumumkan oleh Dean saat upacara penobatan mereka.
“Semua sedang berjalan, Honey, ternyata masih ada keluarga korban seperti kamu dan Kak Dika, dan mereka semua baru berani keluar sekarang dengan membawa pengacara masing masing. Aku juga sudah menawarkan untuk membayar biaya pengacara mereka. Namun, mereka sepertinya cukup mampu sehingga tidak ada yang bersedia menerima bantuan kita” sahut Dean.
“Apa kamu mempertanyakan kemampuan Kak Dika, Honey” tanya Dean sambil menyunggingkan sedikit senyumannya.
“Bukan begitu, Love, aku hanya ingin tahu sejauh mana penyelidikan Kak Dika” desis Qiandra.
Dean kembali tersenyum dan mengecup kening sang istri dengan lembut, “Apa Kak Dika tidak pernah menghubungimu, hmmm” tanyanya dengan lembut.
Qiandra menggeleng lamat, “Kalaupun Kak Dika menghubungiku, dia tidak pernah
menceritakan masalah itu, dia hanya menanyakan khabarku saja” keluhnya.
“Itu berarti Kak Dika tidak ingin membebanimu, Honey, jadi jangan terlalu memikirkannya lagi. Kami hanya ingin kamu fokus pada kehamilanmu, jangan sampai kamu stress dan berakibat buruk pada kesehatanmu dan buah hati kita” ucap Dean.
__ADS_1
“Tap Love, ......” kata kata Qiandra langsung terhenti saat Dean meletakkan jari di
bibirnya.
“Aku akan memperkenalkan kamu pada beberapa orang yang bisa kamu angkat menjadi asistenmu, namun sebelum itu kamu bisa memeplajari beberapa kitab untuk
memahami tugas apa saja yang biasa dilakukan oleh seorang ratu” ucap Dean lagi.
Qiandra hanya bisa menarik nafas perlahan, dia tidak bisa menolak keinginan Dean, karena dia sadar itu memang tugasnya. Selain itu, Qiandra sangat mengerti kalau sang suami ingin mengalihkan perhatiannya dari kasus yang saat ini sedang menyita perhatian banyak pihak. Oleh sebab itu, Qiandra akhirnya mengangguk pasrah dan menerima keputusan sang suami.
“Terima kasih, Honey, sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu, nanti aku akan membangunkanmu saat tiba waktu makan malam” ucap Dean seraya menuntun sang istri menuju ke pembaringan mewah yang ada di tengah kamar mereka.
Dean membantu Qiandra berbaring lalu merapikan selimut yang membungkus tubuh sang istri, dia juga ikut bgerbaring di samping wanita itu hingga wanita itu terlelap. Saat melihat nafas teratur Qiandra, Dean tersenyum sejenak lalu mengecup kening sang istri, “Tidurlah, Honey, aku keluar sebentar” bisiknya.
Dean keluar dari kamar utama dan melangkah menuju ke ruang kerja yang ada di lantai di bawah kamar utama berada. Dean tidak
menggunakan lift melainkan sengaja menggunakan tangga sehingga dia bisa melihat suasana di ruang tamu istana megah itu. Dean hanya melihat beberapa pelayan dan para bodyguard yang bersiaga di
sana. Namun, saat dia sudah berada di
dekat ruang kerjanya, Dean bisa melihat pengacara kerajaan dan asisten Vian
juga dokter Albert sedang menunggunya di ruang tamu.
Ketiga orang itu segera berdiri saat melihat kehadiran Dean dan langsung membunggkukkan badan ke arah Dean. “Masuklah” ucap Dean kepada ketiganya, seorang pelayan yang berjaga di depan ruang kerja Dean segera membungkukkan badan dan membuka pintu ruangan itu untuk Dean.
Setelah Dean masuk, pengacara kerajaan, asisten Vian dan dokter Albert segera mengikuti langkahnya. Mereka masuk ke dalam ruang kerja mewah yang menjadi ruang kerja Dean sekarang ini. Setelah penobatan dirinya, Daddy Walt memang
segera mengalihkan segala hal termasuk semua ruangan yang seharusnya digunakan
__ADS_1
oleh sang raja. Oleh sebab itu, Dean tidak lagi menempati ruang kerjanya yang berada di dekat kamarnya dulu.
Dean langsung duduk di kursi kerja yang hampir menyerupai takhta kerajaan, di hadapannya tersedia seperangkat sofa mewah. Ruangan itu juga dilengkapi dengan seperangkat meja rapat yang mampu menampung lebih dari dua puluh orang. Setelah Dean duduk, barulah ketiga orang itu mengambil tempat duduk masing masing di meja rapat yang tersedia.