
“Love….” Qiandra perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat, “Jam berapa sekarang” tanyanya pada Dean yang terlihat sedang menatap wajahnya.
“Ada apa, Honey, hmmm” Dean membelai wajah istrinya dengan lembut menggunakan jari telunjuknya. Qiandra menarik tangan Dean dan mengecupnya, lalu dengan tangan itu dia
menutup wajahnya.
“Aku lapar” rengek Qiandra dengan malu-malu, makanya dia menutup wajahnya dengan telapak tangan suaminya. Dean tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah wanita yang telah resmi menjadi istrinya namun masih terlihat malu-malu itu.
“Mengapa kamu menutup wajahmu, Honey, masa kamu malu mengatakan kalau kamu lapar, hmmm” Dean mengacak rambut istrinya dengan penuh kasih, kemudian dia membuka selimut yang menutupi tubuh wanita itu. “Sekarang, ayo kita mandi dulu, baru kamu bisa menikmati makan malam” ucapnya seraya mengangkat tubuh Qiandra dan membuat wanita itu menjerit tertahan.
“Love, aku bisa mandi sendiri” protes Qiandra, namun tak dihiraukan oleh suaminya.
“Aku menunggumu tidur sedari tadi, sampai-sampai aku pun belum mandi. Kalau harus bergantian mandinya, bukankah akan memakan waktu yang lebih lama” sahut Dean sambil meletakkan tubuh polos istrinya dalam bathup.
“Ish, awas saja kalau justru mandi bersama ini malah lebih lama” desis Qiandra, dia sangat hapal pada kebiasaan Dean jika sudah membawanya mandi bersama.
“Boleh juga, jika kamu menginginkannya, maka aku dengan sukacita dan sukarela memenuhi keinginanmu, Honey” bisik Dean ditelinga Qiandra yang membuat wanita itu bergidik. Apalagi saat dia merasakan kalau Dean yang duduk di belakang punggungnya juga tidak memakai sehelai benang pun. “Aku tidak akan keberatan, dan kurasa ‘dia’ pun sudah sangat siap” lanjut Dean seraya mengarahkan ‘senjata’nya ke bagian belakang Qiandra.
Qiandra terpekik saat merasakan tusukan “senjata” sang suami yang memang terasa sudah siap tempur. “Love….” rengek Qiandra dengan wajah memelas, “Aku lapar” rengeknya lagi, dia tahu kalau sang suami sudah menuntut haknya, itu tidak akan berlangsung sebentar.
“Ha ha ha, wajahmu itu, Nyonya, selalu saja begitu jika sudah memohon, kemarilah, aku akan menggosok seluruh tubuhmu agar kamu merasa segar kembali” kekeh Dean melihat
wajah memelas Qiandra. Dean memang tidak
ada niat untuk melakukan lebih dari mandi bersama, walaupun gejolak gairah dalam dirinya begitu besar, namun dia juga merasa iba pada kondisi istrinya saat ini.
Dean menggosok seluruh bagian tubuh istrinya, dia juga memberikan beberapa pijatan lembut pada bahu dan punggung Qiandra. Perlakuan suaminya benar-benar membuat tubuh Qiandra terasa lebih rileks, ditambah lagi aroma theraphy yang memenuhi bak mandi itu membuat Qiandra merasa segar kembali.
Selesai menggosok dan memijit tubuh istrinya, barulah Dean membersihkan dirinya. Setelah itu, dia kembali mengangkat tubuh Qiandra dan membersihkan busa sabun di tubuh wanita
itu dengan air shower. Qiandra tersenyum
melihat ketulusan suaminya memperlakukan dirinya, dan kemudian dia juga membantu membersihkan busa sabun di tubuh suaminya.
Mereka berdua menyelesaikan proses mandi dengan cepat dan tubuh mereka menjadi lebih segar. Keduanya bersama-sama keluar dai kamar mandi dengan saling bergandengan
tangan. Qiandra segera mengambil pakaian
suminya dan membantu Dean memasang pakaiannya. Setelah itu, baru Qiandra memakai gaunnya sendiri dan dengan sedikit berdandan,
barulah keduanya turun ke lantai bawah.
Di ruang makan, Qiandra terkejut melihat meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai jenis makanan. Disana juga sudah ada asisten Vian dan dokter Albert yang sedang asyik
mempersiapkan peralatan makan.
“Wow, ini luar biasa, astaga maafkan aku Kak Vian, Kak Albert, harusnya aku yang mempersiapkan semua ini, tapi sekarang justru kalian yang jadi repot” seru Qiandra melihat aktifitas kedua pemuda tampan itu, dia
merasa bersalah membiarkan kedua pemuda itu bekerja mempersiapkan makan malam
mereka.
“Jangan terlalu memuji mereka, Honey, nanti mereka besar kepala” rungut Dean dengan wajah kesal karena istrinya memuji kedua sahabatnya.
__ADS_1
“Astaga, lihat suamimu itu, aku bahkan merasa makin lapar saat melihat wajahnya seperti itu” seru dokter Albert pada Qiandra. Alhasil, wajah dokter tampan itu mendapatkan lemparan sarbet dari Dean, namun bukannya marah, dokter Albert malah tertawa melihat tingkah Dean.
“ish, sudahlah, Love, kapan kita makan kalau kalian berdua terus menerus beradu mulut” lerai Qiandra, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah para lelaki itu. Dean segera menarik kursi untuk Qiandra, dan akhirnya mereka bisa
menikmati makan malam itu dengan tenang.
Setelah makan malam, asisten Vian dan dokter Albert langsung pamit untuk kembali ke kamar mereka di lantai bawah. Sementara Dean mengantar kedua sahabatnya menuju ke pintu depan, Qiandra membersihkan tempat mereka makan. Wanita itu tidak menyadari kalau ketiga pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
“Qiqi terlihat tenang sekali, seperti tidak ada masalah apapun” desis Dean yang didengar jelas oleh kedua sahabatnya.
“Justru itu yang lebih berat, dia menyembunyikan semuanya di alam bawah sadarnya, saat dia sadar, dia justru tidak menyadari semuanya. Tapi semua itu akan selalu bersembunyi disana jika tidak dikeluarkan, dan akan sangat berbahaya untuk kesehatan mentalnya” sahut dokter Albert.
“Hah, semoga saja kita bisa membantunya mengatasi semua ini” ucap asisten Vian.
“Buatlah dia lelah tapi bahagia malam ini, Bro, agar dia bisa beristirahat dan semoga dia tidak mendapatkan mimpi itu lagi. Jangan sama sekali membicarakan kejadian hari ini dengannya, besok pagi saja kamu bicara dengannya, sehingga dia tidak terkejut saat aku membawa psikiater nanti” dokter Albert menepuk bahu Dean. “Ingat, lakukan dengan lembut, ada babymu didalam sana yang harus kamu jaga tanpa harus menyebutkannya pada
istrimu” lanjutnya lagi.
Dean hanya berdiam diri mendengar kata-kata sahabatnya itu, “Hei apa kamu paham dengan maksudku, atau apa aku perlu menjelaskannya lebih detil” dokter Albert bertanya pada Dean dengan senyum smirknya.
Dean menatap sahabatnya dengan tajam, “Apa aku harus melemparmu sekarang agar segera bisa menghilang” desisnya yang disambut dengan gelak tawa dokter Albert. Asisten Vian
segera menarik dokter Albert masuk ke dalam lift, sebelum dokter Albert menggoda Dean lagi.
“Jangan lupa pesanku, Bro” seru dokter Albert sesaat sebelum pintu lift tertutup, membuat Dean tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kekonyolan sahabatnya itu. Sekalipun
begitu, Dean tahu bahwa dokter Albert selalu bersungguh-sungguh dengan saran-sarannya. Dan, baik Dean maupun asisten Vian tidak
pernah mengabaikan saran dokter Albert, karena saran-sarannya memang selalu ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan. Walaupun seringkali saran-saran itu disampaikan seperti sedang bercanda.
dengan sukacita akan dilakukannya. Dean
mengunci pintu dengan menggunakan sidik jari, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa masuk. Kemudian, laki-laki tampan itu segera melangkah menuju dapur, dimana tadi dia meninggalkan istrinya yang sedang membersihkan bekas mereka makan malam.
Saat tiba di dapur, Dean tidak menemukan keberadaan Qiandra, dia menatap ke sekeliling dapur yang sudah terlihat rapi dan bersih. Dean segera meninggalkan dapur, dan dengan
berlari kecil dia menaiki tangga menuju lantai dua pentha house mewah itu. Dean langsung menuju ke kamar utama, saat dia masuk ke dalam kamar, Dean bisa langsung melihat pintu balkon yang terbuka sedikit.
Dean melangkah dengan perlahan, kemudian dia membuka pintu itu tanpa mengeluarkan suara. Dean sungguh terkejut melihat keadaan balkon yang gelap, hanya ada sedikit cahaya temaram yang memperlihatkan sosok yang
terpuruk di lantai pojok balkon itu. Dean memperhatikan dengan seksama pada sosok yang diyakininya sebagai Qiandra.
Dean akhirnya bisa mendengar isak tangis dari sosok itu yang terdengar begitu pilu. Dean berusaha menajamkan pendengarannya saat mendengar ada gumaman yang diucapkannya. “Kak, Kak, aku takut, Kakak dimana, mengapa
sampai saat ini kakak tidak menemuiku lagi, kumohon beri aku kekuatan, apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau merasakan kehilangan lagi, aku tidak mampu” isaknya.
Dean tidak bisa lagi menahan hatinya, dia segera melangkah dan merengkuh tubuh yang terlihat sangat rapuh itu. “Love…..” desis suara yang tak lain memang Qiandra, dia sangat terkejut saat merasakan rengkuhan suaminya.
“Honey, ada apa hmmmm, mengapa kamu menangis dalam kegelapan ini, apa kamu tidak mau lagi menangis di dadaku” bisik Dean, hatinya terasa remuk melihat keadaan Qiandra saat itu.
“Love, tidak, bukan begitu, aku….. entahlah, tadi aku menunggumu disini, namun setelah kamu belum datang juga, tiba-tiba aku merasa
sangat kesepian dan aku…. aku takut kehilanganmu, aku takut harus hidup sendiri
__ADS_1
lagi, aku……” Qiandra menutup bibirnya saat jari telunjuk Dean menyentuhnya.
“Ssstttt, aku disini, Honey,kamu tahu aku tidak akan pernah meninggalkanmu, maafkan aku jika terlalu lama membiarkanmu sendirian. Tapi, kamu tahu aku akan selalu ada bersamamu, aku yang akan selalu menjagamu, tolong, percayalah padaku” bisik Dean dengan lembut di telinga Qiandra.
Dean mengangkat tubuh istrinya dan membawanya untuk duduk di kursi yang ada di balkon itu. Dean memangku Qiandra, lalu dia membelai wajah cantik yang masih basah karena air mata. “Honey, maukah kamu berbagi cerita denganku, maukah kamu mengatakan mengapa kamu sangat ketakutan” ucap Dean
dengan perlahan.
Qiandra menatap mata lelaki itu, “Aku tidak tahu, Love, sungguh, aku hanya tiba-tiba merasa sangat takut kehilangan kamu, kehilangan sesuatu yang sangat berharga buat kita, sesuatu yang….. entahlah, aku hanya
merasa sangat takut, seperti ada bayang-bayang yang ingin merenggutmu atau….
ah, entahlah” Qiandra memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat.
“Sssttt, tenanglah, Honey, kita akan mencari tahu penyebabnya, apakah kamu mau, Honey” tanya Dean dengan mata menatap langsung
wajah Qiandra. Dean ingin melihat reaksi
wajah Qiandra saat dia menyampaikan rencananya itu.
Qiandra tiba-tiba terdiam, dia membuka matanya dan menatap suaminya, “Apa maksudmu, Love” tanya Qiandra, matanya menatap Dean dengan tajam. Dean cukup terkejut melihat perubahan drastis dimata Qiandra, namun dia berusaha tetap tenang dan tersenyum pada Qiandra.
“Besok pagi, Al akan membawa seorang temannya yang bisa membantumu untuk keluar dari ketakutanmu. Kamu harus bisa mengeluarkan ketakutanmu, Honey, agar kamu bisa menjalani hidupmu dengan tenang” ucap Dean dengan lembut.
“Maksdumu, aku mengalami gangguan mental” desis Qiandra, dia melepaskan tubuhnya dari pangkuan Dean dan segera berdiri menjauh dari
Dean. Dean terkejut melihat reaksi Qiandra, tapi dia tahu kalau dia harus tetap tenang demi kesembuhan Qiandra.
“Honey, ada sesuatu dalam dirimu yang tersembunyi sangat dalam di alam bawah sadarmu, sesuatu yang pada saat-saat tertentu bisa muncul dan membuatmu merasa ketakutan yang luar biasa tanpa alasan yang jelas. Sekarang, aku menyerahkan pilihan padamu, kamu sendiri baru merasakan bukan ketakutan tadi, padahal kamu tahu aku tidak
akan kemana-mana. Aku tidak akan memaksamu, kamu tahu, aku selalu menerima dirimu apa adanya, tapi jika ada jalan untuk kesembuhanmu, mengapa tidak dicoba. Tapi kalau kamu merasa baik-baik saja dengan keadaan ini, aku juga tidak masalah, yang aku bisa hanya seperti ini, berusaha menenangkanmu semampuku” ucap Dean.
Dean berusaha menggunakan kata-kata yang tidak membuat Qiandra salah paham dan berbalik membencinya. Qiandra terdiam mendengar kata-kata suaminya, tiba-tiba tubuhnya ambruk dan dia duduk kembali di lantai dengan terisak. Dean segera berdiri dan kembali merengkuh tubuh Qiandra dengan penuh kasih.
Dean tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya memeluk erat tubuh Qiandra, seolah berusaha mengalirkan kehangatan pada wanita
itu. Qiandra terisak, dia menyembunyikan
wajahnya di dada suminya, “Tolong aku, Love, hanya kamu yang aku punya, kumohon jangan tinggalkan aku” isaknya dengan pedih.
Dean membelai punggung Qiandra dengan penuh kasih, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Honey, aku akan melakukan apapun yang terbaik untukmu, satu hal kumohon padamu, tolong percaya padaku, walau kepercayaanmu itu tak sebesar kamu mempercayai dia” bisiknya dengan sendu.
Qiandra mengangkat wajahnya, dia menatap wajah tampan sang suami di tengah temaram yang hanya diterangi cahaya bulan. “Love, maafkan aku, aku masih terbiasa mengadu padanya, bukan karena aku tidak mempercayaimu” ucapnya, ada rasa bersalah merasuk dalam hati wanita itu saat mendengar ucapan suaminya.
Dean tersenyum, “Aku mengerti, Honey, mulai sekarang belajarlah untuk mengadu padaku, kamu tahu, dada ini selalu siap melindungimu”
Dean kembali merengkuh tubuh Qiandra. Berkali-kali dia mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih.
Qiandra tenggelam dalam pelukan sang suami, dan saat dia mengangkat kepalanya, Dean langsung menyambar bibir seksi istrinya. Dean
******* bibir wanita itu dengan lembut, dan seolah mendapatkan peluang emas, Dean bisa merasakan kalau wanita itu membalas ciumannya. Ciuman hangat yang semakin lama semakin panas membuat keduanya akhirnya pasrah pada gairah yang membuat mereka tenggelam dalam hasrat yang menuntut untuk dipuaskan.
Dean kembali mengangkat tubuh wanita yang saat ini terasa benar-benar pasrah dalam dekapan hangat sang suami. Namun, kali ini Dean tidak membawa Qiandra untuk duduk, melainkan langsung membawanya masuk ke dalam kamar mereka dan membaringkannya di tempat tidur king size. Dan, malam itu dilalui oleh mereka berdua bersama dengan bergelut meraih kenikmatan tiada tara walau harus
__ADS_1
bersimbah peluh dan rasa lelah.