PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

Asisten Vian yang terlihat mengernyitkan kening dengan dalam mendengar penjelasan Bik Sum.  Asisten Vian sangat mengetahui tentang kehidupan Qiandra, termasuk orang orang yang selalu berada di sekeliling wanita itu.  Dan sepengetahuan asiten Vian, Bik Sum adalah salah satu sukarelawan di panti asuhan tempat Qiandra tinggal dulu.


Bik Sum juga satu satunya orang yang selalu bersama dengan Qiandra sejak Qiandra masih berada di panti asuhan.  Bik Sum seolah selalu menempel pada Qiandra sebagai pelayan wanita itu, hingga akhirnya Qiandra mengangkat wanita itu menjadi ibunya.


Jadi, jika sekarang Bik Sum mengatakan kalau dia adalah pengasuh Dika saat masih kecil, hal itu menjadi sangat aneh.  Apalagi saat Bik Sum bisa menyebutkan dengan jelas kebisaan masa kecil Dika yang artinya dia memang sangat mengenal Dika.  Sementara seharusnya pada masa itu Bik Sum masih sebagai pengurus panti asuhan tempat Qiandra tinggal.  Apakah ini suatu kebetulan atau …..


“Ah, baiklah Bik Sum, boleh aku meminta nomor phonselmu agar aku nanti bisa menghubungimu kapan kapan jika ada waktu luang” tanya Dika memecahkan lamunan asisten Vian.


“Tentu saja, Tuan Dika, saya juga sangat rindu ingin mengetahui khabar Anda selama ini” sahut Bik Sum seraya menyerahkan phonselnya pada Dika.  Dika mengambil phonsel Bik Sum dan dia sempat terkejut saat melihat screen saver layar phonsel wanita tua itu yang menampilkan wajah Bik Sum dan Qiandra yang sedang tersenyum bahagia.


Ada sesuatu yang mengusik lubuk hati Dika saat melihat foto kedua wanita beda usia itu.  Keningnya mengernyit dalam, namun teguran dari Bik Sum segera menyadarkan asisten Dika.  “Apakah sudah, Tuan” tanya Bik Sum.


“Oh, sebentar Bik, maaf aku sempat terkagum melihat foto di layar phonselmu” ucap Dika, lalu dia segera memasukkan nomornya di phonsel Bik Sum.  Kemudian Dika menekan nomor itu dan langsung terhubung ke phonsel pribadi Dika.  “Baiklah, ini sudah selesai, Bik, saya sudah menyimpan nomor Bik Sum juga” ucap Dika seraya menyerahkan phonsel Bik Sum kembali.


“Baiklah, Tuan Dika, kalau begitu kami permisi dulu, kebetulan anakku yang satu ini sepertinya sudah tidak sabar ingin segera berjalan jalan” sahut Bik Sum sambil melirik ke arah Jossie yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh tanda tanya.


“Ah, tentu saja, jika ada yang kalian perlukan, kalian bisa langsung menghubungi aku” sahut Dika seraya kembali mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Bik Sum dan disambut wanita tua itu dengan senyum hangat.  Mata tua wanita itu terlihat mulai berkaca kaca, bahkan tangannya yang mulai keriput terulur untuk menyentuh wajah Dika.  “Aku akan segera menemuimu” bisik Dika pada Bik Sum dan dijawab wanita itu dengan anggukan kepala samar.


Akhirnya, Bik Sum yang diikuti dengan Jossie dan dokter Jimmy berlalu dari ruangan itu.  Mata Dika mengikuti kepergian wanita tua itu, sebenarnya dia sangat ingin segera mengikuti Bik Sum.  Namun, Dika berusaha menahan keinginan hatinya untuk menghindari kecurigaan dari dokter Albert dan asisten Vian yang masih terlihat penuh tanya.


“Jadi, apa sekarang saya boleh mengunjungi Nyonya Qiandra” tanya Dika mengalihkan perhatian dokter Albert dan asisten Vian.


“Ah, tentu saja, Tuan Dika, silahkan” ucap dokter Albert seraya membuka pintu ruangan rawat Qiandra.  “Tapi maafkan saya sebelumnya, Tuan Dika, karena saya terpaksa membatasi waktu berkunjung Anda karena waktu berkunjung sudah hampir habis.  Selain itu, Nyonya Muda juga harus banyak beristirahat” lanjut dokter Albert lagi.


“Tidak masalah, saya janji saya tidak akan lama” sahut Dika yang memang sebenarnya tidal ingin berlama lama menjenguk Qiandra. Dika sangat ingin segera meninggalkan tempat itu dan langsung menyusul Bik Sum.


Dokter Albert mengangguk lalu melangkah mendahului Dika memasuki ruang rawat VVIP itu.  Saat mereka masuk, pemandangan romantis kembali tersuguh dihadapan mereka.  Dean terlihat menggenggam tangan Qiandra dan sesekali mengecupnya.  Sementara satu tangannya yang lain membelai rambut sang istri dengan penuh kelembutan..


“Selamat siang, Tuan Dean, Nyonya Qiandra, maaf jika kedatangan saya mengganggu” sapa Dika dengan penuh hormat.  Hatinya tiba tiba bergetar saat melihat Qiandra yang masih terbaring dengan lemah.  Ada rasa bersalah yang menderanya tanpa dia tahu apa sebabnya, dia ingin sekali merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya untuk memberikan kekuatan bagi wanita itu.


Namun, Dika sadar kalau dia tidak boleh melakukan hal itu.  Jangankan memeluk Qiandra, untuk diijinkan bisa datang dan masuk ke dalam ruangan ini saja sudah lebih dari cukup baginya.  Karena Dika sangat tahu bahwa dia adalah orang terdekat dari orang yang menyebabkan penderitaan Qiandra saat ini.

__ADS_1


Dean memalingkan tubuhnya dan cukup terkejut saat melihat keberadaan Dika di ruangan itu.  Demikian juga dengan Qiandra, saking terkejutnya, tanpa sadar Qiandra mempererat genggamannya di jemari Dean.  Qiandra tiba tiba merasa sedikit cemas saat melihat keberadaan Dika, dia khawatir tidak lama lagi Daniel akan muncul mengikuti Dika seperti biasanya.


“Apa yang kamu inginkan, Tuan Dika” desis Dean, Dean menyadari kalau Qiandra sedang diliputi kecemasan.  Dean juga membalas genggaman Qiandra, dia bahkan menangkup jemari lentik sang istri dengan kedua tangannya seolah meyakinkan wanita itu bahwa tidak ada yang harus ditakutkan.


“Sekali lagi maafkan saya, Tuan Dean, saya hanya ingin mengetahui keadaan Nyonya Qiandra saja, siapa tahu ada yang bisa saya lakukan” sahut Dika masih dengan suara ramah.


“Aku rasa tidak ada yang kami perlukan darimu, Tuan Dika, lebih baik kamu segera mengurus baj*ngan itu saja” sahut Dean dengan suara dingin.  Sementara Qiandra mengernyitkan keningnya saat mendengar Dean menyebut Tuan pada Dika.  Padahal setahunya Dean selalu menyebut Dika dengan sebutan asisten Dika.  Lebih heran lagi karena Dean tidak langsung mengusir Dika, walaupun kata katanya cukup dingin.


“Ah, tentu, tentu, Tuan Dean, setelah ini saya juga akan langsung menuju ke lapas.  Saya hanya merasa perlu memastikan kalau Nyonya Qiandra baik baik saja sebelum saya menemui Daniel” sahut Dika masih dengan suara ramah.


“Terima kasih, asisten Dika, terima kasih karena sudah peduli” ucap Qiandra yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.  Qiandra merasa heran saat melihat mata semua orang menatap ke arahnya, namun dia tetap tersenyum.


“Dengan senang hati Nyonya, baiklah, sekali lagi mohon maafkan saya karena sudah mengganggu istirahat Anda, Nyonya Qiandra.  Kalau begitu saya mohon pamit sekarang, semoga Anda bisa segera pulih, Nyonya Qiandra” sahut Dika seraya sedikit menundukkan kepalanya pada Dean dan Qiandra.


Qiandra tersenyum kepada Dika, berbeda dengan Dean yang tidak memperdulikan Dika.  Dean bahkan segera berbalik kembali menghadap Qiandra dan menghalangi pandangan wanita itu.  “Jangan suka menebar pesonamu, Honey” desis Dean yang masih bisa melihat senyum Qiandra untuk Dika.


“Astaga, Love …..” desis Qiandra dengan mata membulat saat mendengar teguran dari sang suami.  “Hanya kamu yang terpesona dengan wanita buluk, hamil dan kumal seperti diriku saat ini, Love” lanjutnya lagi dengan senyum manis di bibirnya.


“Siapa bilang kamu buluk dan kumal, tidak tahukah kamu, kalau pesonamu saat ini bahkan terasa semakin kuat.  Dan lihatlah si Dika itu, aku yakin dia sangat ingin memeluk dirimu jika aku tidak ada disini.  Dia bahkan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya, bahkan mungkin air liurnya hampir menetes saat melihat dirimu” desis Dean.


“Dan dia bukan lagi asisten, tapi sekarang presidir Dika, dia yang sekarang menjadi presidir di PT.Mahardika, jadi sekarang dia juga sama seperti aku seorang presidir” ucap Dean masih dengan suara kesal.


“What!!!!, apa benar asisten Dika sekarang menjadi presidir, Love, lalu bagaimana dengan Daniel” tanya Qiandra tanpa sadar menyebut nama laki laki yang seketika membuat emosi Dean meningkat.


“Jangan pernah menyebut nama itu di hadapanku, Qi, kamu tahu bagaimana aku membenci dia teramat sangat” desis Dean dengan nada suara dingin yang mengejutkan Qiandra.


“A aku, ma maafkan aku, Love, aku hanya terkejut mendengar asisten Dika menjabat jadi presidir menggantikan …..” Qiandra tidak melanjutkan kata katanya karena melihat mata Dean yang menatapnya dengan tajam.  “Ba baiklah, aku mohon maafkan aku, mungkin sekarang aku ingin beristirahat dulu” lanjut Qiandra lagi.


Setelah itu, Qiandra menarik selimutnya dan segera menutup dirinya hingga batas leher.  Qiandra bahkan langsung menutup matanya, dan melipat tangannya di atas dada seakan tidak mau di sentuh oleh Dean.  Entah mengapa, mendengar Dean berkata dengan dingin juga tatapan tajam Dean membuat Qiandra merasa kesal sekaligus sedih.


Dean terkejut melihat reaksi Qiandra yang tiba tiba berubah drastis seperti itu.  Dia yang kesal dan marah, tapi mengapa sekarang malah Qiandra yang mendiaminya.  Dean tahu kalau wanita itu sedang marah dan kesal padanya, tapi dia tidak tahu mengapa Qiandra marah.

__ADS_1


“Qi, Honey, …..” desis Dean seraya berusaha meraih tangan Qiandra untuk menggenggamnya, namun wanita itu tidak mau membuka tautan jemarinya.   Dia bahkan lebih memperat genggaman diatas dadanya itu.


“Tolong, aku benar benar mau istirahat” desis Qiandra yang kembali mengejutkan Dean.  Qiandra sendiri tidak mengerti mengapa hatinya terasa begitu sakit dan kesal terhadap suaminya itu.


Dean mendesah berat, dia berusaha menyingkirkan egonya lalu tangannya mengelus jemari Qiandra dengan lembut.  Dia menangkup jemari Qiandra yang masih tertaut itu dengan jemarinya, sementara tangannya yang lain membelai wajah wanita cantik itu.


“Baiklah, Honey, istirahatlah jika kamu memang merasa lelah” desah Dean yang masih kebingungan dengan perubahan sikap Qiandra.  Tapi, dia tetap menjaga Qiandra hingga Dean melihat wanita itu benar benar terlelap dengan nafasnya yang sudah teratur.


Dean berdiri dengan perlahan, lalu melangkah menuju pintu ruang rawat inap Qiandra.  Saat dia membuka pintu, terlihat asisten Vian yang sedang berkutat dengan note book di hadapannya.  “Vian, aku ke ruangan Albert sebentar, ada yang ingin aku tanyakan kepadanya.  Masuklah ke dalam dan segera hubungi aku jika Qiandra terjaga” ucap Dean seraya melangkah melewati asisten Vian.


Asisten Vian sempat terkejut, karena dia tidak menyangka kalau Dean akan keluar dari ruangan itu.  “Baik, Tuan” sahutnya setelah rasa terkejutnya menghilang.  Sementara Dean sudah berlalu dari hadapannya menuju ke ruangan dokter Albert yang memang tidak jauh dari ruang rawat Qiandra dan daddy Walt.  Asisten Vian segera masuk ke dalam ruangan dimana Qiandra masih terlelap.


Sementara Dean langsung masuk ke dalam ruangan dokter Albert saat sang dokter tampan itu sedang asyik dengan beberapa berkas pasien di tangannya.  “Hei,  apapun jabatanmu tetaplah ingat kamu di daerahku, setidaknya ketuk pintu dulu” seru dokter Albert yang terkejut dengan kehadiran Dean.  Namun Dean tidak memperdulikan ucapan sahabatnya itu, dia justru langsung duduk di sofa tamu yang tersedia dalam ruang kerja mewah dokter tampan itu.


“Hei, ada apa Bro, kenapa wajahmu kusut seperti itu” tanya dokter Albert saat menyadari wajah Dean yang terlihat tidak baik baik saja.  Dokter Albert segera merapikan berkas berkas yang sedang dipelajarinya, lalu melangkah mendekati Dean.


“Aku tidak mengerti dengan Qiqi, seandainya dia tidak seperti ini, aku sunguh sungguh ingin marah padanya” desis Dean dengan wajah kesal.


“Hei, ada apa lagi, bukankah sudah kubilang agar jangan membuat hatinya kacau dan bersedih.  Lalu, mengapa baru sebentar saja aku tinggal, kamu sudah ingin memarahi Qiqi” tanya dokter Albert.


“Ini semua gara gara kedatangan Dika tadi” desis Dean yang membuat dokter Albert mengernyitkan keningnya.  Lalu, Dean mulai menceritakan semuanya, hingga Qiandra yang tiba tiba mendiamkan dirinya.


Dokter Albert yang mendengar cerita Dean hanya bisa menepuk keningnya sambil menggelengkan kepalanya dengan mata menatap Dean.  “Astaga, aku baru tahu kalau hatimu ini sebenarnya terbuat dari batu dan otakmu, ya ampun, Tuan Dean Walt Zacharias yang terhormat, ada apa dengan otakmu cerdasmu itu” seru dokter Albert.


“Hei, jaga kata katamu, aku bisa memecatmu langsung jika kamu mengata ngatai aku seperti itu lagi” seru Dean dengan kesal pada sahabatnya itu.  Bukannya memberi penjelasan, malah mengata ngatai dirinya.


“Astaga, Dean, apa kamu lupa kalau istrimu sedang hamil muda” seru dokter Albert lagi.


“Aku tahu dia sedang hamil muda, tapi apa hubungannya itu dengan sikapnya seperti itu.  Aku curiga, jangan jangan dia sudah jatuh cinta pada laki laki baj*ngan itu” desis Dean lagi.


Dokter Albert melempar sebuah bantalan kursi pada Dean saking kesalnya dia mendengar kata kata laki laki itu.  “Hei, Tuan Dean yang terhormat, jangan sampai istrimu mendengar dugaan gilamu itu, atau kamu tidak akan bisa bertemu dengannya lagi.  Jangan pernah meragukan kesetiaan Qiandra, justru tanyakan pada dirimu sendiri seberapa besar kamu menyayangi dirinya” seru dokter Albert.

__ADS_1


“Apa maksudmu, tentu saja aku sangat mencintai Qiqi, tidak ada yang perlu dipertanyakan tentang hal itu” seru Dean.


“Dean, istrimu sedang hamil muda, dan di saat seperti ini, hatinya menjadi sangat sensitif.  Dia bisa menjadi sosok yang sangat berbeda dengan kesehariannya, bahkan nanti dia mungkin akan punya keinginan keinginan yang tidak rasional.  Itulah yang dinamakan hormon ibu hamil” jelas dokter Albert kepada Dean.


__ADS_2