PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

Qiandra terbangun  saat merasakan perutnya perih dan mulai bernyanyi, “Astaga, entah jam berapa sekarang, sampai perut ini mulai menagih” bisiknya dalam hati.  Perlahan wanita


cantik itu membuka matanya dan menyesuaikan pandangannya dengan keadaan di sekelilingnya.  Suasana kamar yang jauh


berbeda dengan kamarnya, membuat Qiandra mengernyitkan keningnya.


Sesaat Qiandra tertegun, “Dimana aku?” desisnya, namun beberapa saat kemudian, wanita cantik itu tersenyum saat merasakan beban yang melingkar di atas perutnya yang masih pol*s.  “Ya, ampun, bagaimana bisa aku lupa kalau sekarang aku sudah bersuami


dan berada di apartemen Dean” kekehnya dalam hati.


Qiandra berbalik perlahan dan menatap wajah tampan laki-laki yang memeluknya dengan erat, “Kamu pasti sangat lelah, Love, sepanjang perjalanan aku yakin kamu tidak tidur dengan


nyenyak, kamu selalu menjaga aku sejak aku bermimpi buruk.  Baiklah, aku akan membiarkanmu beristirahat” bisiknya lagi masih dalam hatinya.


Qiandra mengangkat tangan kekar sang suami dengan perlahan sekali agar tidak membangunkan laki-laki itu.  Kemudian dia turun dari atas tempat tidur, matanya memandang ke sekeliling kamar untuk mencari letak kamar mandi.  Masih dengan tubuh pol*snya, wanita ini berjinjit melangkah menuju sebuah pintu yang diyakininya sebagai kamar mandi.


Qiandra membersihkan dirinya dengan cepat, walaupun sebenarnya dia sangat tergoda untuk merendam tubuhnya dalam bathub dengan air hangat.  Namun, lagu merdu dari dalam perutnya membuat wanita cantik itu harus bergegas membersihkan diri.  Qiandra keluar dari kamar mandi hanya dengan tubuh berbalut handuk putih.


Qiandra kembali menepuk keningnya sendiri, “Ya ampun, aku harus memakai apa, semua  barangku pasti masih ada pada asisten Vian, atau….. astaga” desisnya dalm hati dan dia tiba-tiba menyadari sesuatu.  Dia masuk ke dalam walk in closet dan mengambil salah satu kemeja Dean dengan sembarangan.  Lalu dia berlari dengan berjinjit keluar dari kamar itu.


Qiandra hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat jejak mereka berdua, pakaian mereka yang berhamburan dimana-mana  benar-benar menunjukkan betapa liarnya mereka berdua.  Qiandra segera mengumpulkan semua  pakaian yang berserakan dan tidak bisa digunakan lagi, kemudian dia memasukkannya dalam sebuah tas kresek yang ditemukannya lalu membuangnya di tempat sampah.


“Haish, untung saja asisten Vian dan dokter Albert tidak datang, aku sangat yakin mereka pasti punya akses masuk ke dalam apartemen


ini.  Kalau sampai mereka melihat semua


pakaian itu tadi, aku akan sangat malu” gumam Qiandra, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak bisa membayangkan kalau kedua sahabat suaminya itu melihat keadaan apartemen tadi.


Setelah itu, Qiandra melangkah menuju dapur yang ada di apartemen mewah itu, dia menatap lemari pendingin besar yang ada di dapur mewah sang suami.  “Hmm, semoga saja lemari es besar ini menyimpan sesuatu yang bisa dimasak” gumamnya.  Kemudian dia mulai membuka lemari es dan menemukan berbagai bahan makanan yang masih segar.  “Pasti asisten Vian dan dokter Albert yang telah menyiapkan semua ini” gumamnya lagi, lalu Qiandra segera mengambil beberapa bahan makanan dan meletakkannya di atas meja.


Qiandra harus membuka semua lemari untuk menemukan peralatan masak yang diperlukannya.  “Ish, ternyata dapur semewah ini cukup merepotkan juga, aku benar-benar harus berkelana mengumpulkan semua yang aku perlukan” gumam wanita cantik ini.


Qiandra memakai celemek, kemudian dia menggulung rambutnya dengan asal, menyisakan beberapa helai jatuh di leher jenjangnya, setelah itu, Qiandra mulai mengolah beberapa jenis masakan.  Tangannya dengan cekatan mengolah berbagai hidangan lezat dan


nikmat.  Qiandra begitu menikmati kegiatannya, hingga dia tidak menyadari kehadiran seseorang yang melihat semua kegiatan wanita cantik itu dengan tersenyum.


“Aaaaa…” Qiandra terpekik saat merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, dan sebuah ciuman yang mendarat di leher jenjangnya.  “Astaga, Love, kamu mengejutkan aku, minggirlah dulu, biarkan aku menyelesaikan ini agar kita bisa segera makan”


ucapnya saat menyadari kalau sang suamilah yang sudah memeluk dirinya.  Namun perkataan Qiandra sama sekali tidak


diperdulikan oleh Dean, gairahnya terbakar seketika saat melihat penampilan istrinya.


“Aku tidak memerlukan makanan itu, dan aku tidak merasa lapar. yang aku inginkan saat ini hanya ingin memakanmu saja, Honey, kamu


sangat seksi dan begitu menggoda dengan pakaian dan tampilanmu seperti ini”  desah Dean dengan lembut di telinga Qiandra.  Hembusan nafas laki-laki itu di tengkuk Qiandra yang memang terbuka, membuat wanita itu bergidik merasakan geli.


“Ish, sudah, sudah, awas  sana Love, aku mau mengangkat ini” ucap Qiandra setelah melihat masakannya sudah matang.  Namun, Dean sama sekali tidak memperdulikan ucapan istrinya, laki-laki itu malah mematikan kompor listrik dan membalikkan tubuh wanita cantik itu agar menghadap ke arahnya.

__ADS_1


Qiandra benar-benar terkejut, namun sebelum dia protes, Dean sudah menyambar bibir seksi sang istri dam ********** dengan lembut.  “Honey, aku mau sekali lagi, kita bisa mencoba sensasi  yang berbeda dengan melakukannya di dapur” bisik Dean dengan nafas yang menderu, berusaha menahan gejolak dalam


dadanya.


Qiandra perlahan mendorong dada bidang sang suami, “Boleh saja, tapi setelah itu akan ada berita besar di berbagai media dengan judul  ISTRI SEORANG  PRESIDIR DILARIKAN KE RUMAH SAKIT KARENA HAMPIR MATI KELAPARAN” ucap Qiandra dengan menekankan suaranya dan mata membulat, membuat Dean segera melepaskan pelukannya, tapi dia tetap mengukung tubuh istrinya.


“Oke, oke, aku mengalah sekarang, awas saja nanti, aku tidak akan membiarkanmu lepas, Honey” desis Dean di telinga Qiandra, laki-laki ini  terpaksa menahan gairahnya mendengar ucapan istrinya.  Qiandra hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat  tingkah laki-laki itu.


“Sekarang, silahkan duduk, Tuan, aku akan menyiapkan makanan kita” ucap Qiandra seraya melepaskan diri dari kukungan suaminya.  Dean hanya bisa pasrah mengikuti perintah istrinya, namun dalam hati dia merasa sangat  bahagia.   Tak pernah terbayangkan


olehnya akan melihat wanita yang sangat dicintainya itu akan berdiri di dapurnya dan memasak makanan untuknya.


“Kalau kamu sangat lapar, mengapa kamu tidak membangunkan aku, aku bisa menyuruh Vian mengantar makanan untuk kita” ujar Dean sambil matanya terus menikmati kesibukan sang istri.


“Aku justru takut kalau mereka masuk ke dalam apartemen ini dalam keadaan seperti tadi”  ucap Qiandra.  Dia meletakkan beberapa


peralatan makan di hadapan Dean, kemudian dia juga menuangkan makanan ke dalam


piring suaminya.


“Memangnya mengapa dengan keadaan apartemen tadi?” tanya Dean mengerutkan keningnya.


“Jangan bilang kamu lupa, bagaimana keadaan pakaian kita saat kita masuk tadi, Love, haish, pasti akan sangat memalukan jika mereka


melihatnya” ucap Qiandra, pipinya bahkan terlihat merona mengingat  semua kejadian itu.


tubuhnya.


Pipi Qiandra kembali merah merona, membuatnya terlihat semakin cantik di mata suaminya, “Love, aku benar-benar lapar, sekarang ijinkan aku untuk makan” ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan mesum sang suami, dia berusaha turun dari pangkuan Dean.


“Tetaplah disini, Honey, aku akan menyuapimu” ucap Dean yang masih tidak ingin melepaskan istrinya.


“Love, please, aku benar-benar ingin makan sendiri sekarang, ya, aku sangat lapar”  Qiandra


menangkupkan tangannya di depan dada dan memasang wajah sendu di hadapan sang


suami.


“Hah, kamu benar-benar tahu cara meminta padaku, Honey, baiklah, sekarang aku akan memenuhi kemauanmu” Dean mendesah, karena dia memang tidak bisa menolak permintaan sang istri apalagi dengan wajah sendu seperti itu.


“Terima kasih, Love” ucap Qiandra, dia bergegas turun dari pangkuan Dean, lalu segera duduk di kursi yang ada di samping  kanan Dean.  “Makanlah, Love, maaf kalau tidak sesuai seleramu, aku hanya membuat apa


yang terlintas di pikiranku saja” ucap Qiandra, dia mulai mengambi beberapa makanan dan meletakkannya di piringnya.


Dean tersenyum melihat istrinya mulai melahap makanan dengan cepat, “Pelan-pelan, Honey, tidak ada yang akan merebut makananmu, kamu sepertinya kelaparan sekali” ucapnya.


“Maafkan aku, Love, aku memang selalu menghindari terlambat makan sejak aku pernah harus meringkuk di rumah sakit hanya karena terlalu asyik bekerja dan mengabaikan jam makanku.  Sejak saat itu, perutku benar-benar tidak bisa bertoleransi untuk urusan

__ADS_1


makan.  Jika terlambat  makan maka perutku akan langsung melilit dan kadang membuatku lemas” sahut Qiandra yang masih asyik dengan makanannya.


Dean menatap wajah istrinya itu dengan sendu, “Kamu telah berjuang sangat keras, Honey, hidupmu selalu kamu lalui dengan berat, tapi


yakinlah, mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu bekerja keras lagi” ucapnya.


“Terima kasih, Love” ucap Qiandra di sela-sela keasyikannya menyantap hidangan yang sudah dimasaknya.


Dean yang melihat istrinya makan dengan lahap, akhirnya ikut juga menyantap masakan sang istri.  Dan laki-laki tampan itu berdecak, saat merasakan nikmatnya masakan Qiandra.  Hingga presidir tampan itu tanpa sadar telah


menambah makanan ke dalam piringnya lagi.  Dia juga tidak menyadari kalau istrinya menatapnya dengan senyum di kulum.


Akhirnya, Dean mengambil air putih yang sudah disiapkan oleh Qiandra, “Masakanmu benar-benar lezat, Honey, kamu akan membuat perutku tidak berbentuk jika selalu menyediakan makanan selezat ini, terima kasih, Honey” ucapnya sambil menggenggam tangan istrinya.


“Syukurlah kalau kamu menikmatinya, Love” Qiandra tersenyum bahagia melihat sang suami bisa menikmati masakannya.  “Oh ya, maafkan aku, karena memakai kemejamu tanpa ijin dulu, aku tadi benar-benar panik saat menyadari kondisi apartemen ini, karena aku yakin asisten Vian dan dokter Albert pasti punya akses untuk masuk ke sini, selain itu barang-barangku juga pasti masih ada di mobil”


lanjutnya lagi.


Dean tersenyum memandang istrinya, “Apartemen ini dilengkapi dengan dua kunci, Honey, password dan sidik jari, kalau password


memang Vian dan Albert tahu, tapi kalau sidik jari, hanya sidik jariku saja yang bisa membukanya.  Dan kalau aku sudah menguncinya dengan sidik jari, maka password tidak akan bisa digunakan.  Tadi, aku secara tidak sengaja menggunakan sidik jari, karena aku sedikit kesulitan menekan passwordnya sambil mengendongmu” Dean menjelaskan pada Qiandra dengan santai.


Namun, pekataan sang suami membuat pipi Qiandra kembali merona, dia kembali teringat aktifitas mereka sejak berada dalam lift saat tiba di apartemen mewah ini.  “Hei, hei mengapa pipimu merona, Honey, apa kamu mengingat semua yang kita lakukan tadi,


atau kamu ingin mengulanginya lagi, hmmm, aku dengan senang hati akan melakukannya


saat ini juga” ucap Dean, membuat Qiandra terdiam dan hanya menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan wajahnya dari  tatapa mata sang suami.


Qiandra terkejut, karena dalam sekejap, laki-laki itu sudah berdiri di belakang kursinya.  Dan jari


laki-laki itu mulai menelusuri leher jenjang sang istri dan terus turun ke bahunya yang terbuka.  Jari itu membentuk pola abstrak yang membuat Qiandra mendongak dan tanpa sadar mendesah manja.


Dean tersenyum saat dia melihat respon tubuh wanita yang sangat dicintainya itu, dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang ada.  Dia segera meraih tubuh wanita itu, dan


mendudukkannya di atas meja makan, dengan terlebih dulu menyingkirkan beberapa


peralatan makan disana.


Dean langsung menyerang dan mengulum bibir seksi istrinya dengan lembut.  Tangannya mulai membelai kaki Qiandra yang memang terbuka dan mengapit tubuh suaminya.  Qiandra benar-benar kembali tenggelam dalam keindahan dan kelembutan sentuhan suaminya.


Dean memang tidak pernah memperlakukan Qiandra dengan kasar, sekalipun gairahnya menggelora dan ingin segera dilepaskan.  Namun, dia sangat menyayangi Qiandra, dia


tidak ingin menyakiti wanita itu.  Dia selalu memperlakukan Qiandra dengan kelembutan yang diselimuti dengan cinta kasih, sehingga Qiandra selalu terbuai olehnya.


Saat keduanya semakin tenggelam dalam gairah yang membara, tiba-tiba mereka mendengar bel pintu berbunyi.  Qiandra yang terkejut, segera mendorong pelan tubuh suaminya, “Ada orang di depan, Love” bisiknya pada sang suami.


“Abaikan saja, Honey, itu pasti Vian dan Albert, mereka memang aku suruh mengantar barang-barangmu tadi, biar mereka kembali lagi

__ADS_1


nanti”  sahut  Dean, dia sungguh tidak rela melepaskan istrinya itu lagi.


__ADS_2