PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA PULUH LIMA


__ADS_3

“LEPASKAN QIANDRA” sarkas sebuah suara menggelegar mengejutkan Qiandra dan Dean.  Suara itu sangat familiar ditelinga Qiandra, dan saat dia menoleh ke arah pintu toilet, wajah Qiandra seketika pias.


“Tu-Tuan Daniel” desis Qiandra dengan suara bergetar.  Daniel melangkah mendekati Qiandra dan Dean,  dimatanya terpancar kilat kemarahan yang sangat besar.


“Jangan harap aku akan melepaskan Qiandra untuk baj*ngan sepertimu, laki-laki yang sanggup melakukan cara kotor untuk merebut hati seorang wanita” ucap Dean dengan sinis.  Dia malah menarik Qiandra ke belakang punggungnya dan dia menghadap Daniel secara langsung.


“Cih, siapa kamu, jangan harap aku akan melepaskan Qiandra untukmu, kamu hanyalah pengecut yang selalu merebut milikku dengan cara licik” seru Daniel.  Qiandra yang mendengar  kata-kata Daniel mengerutkan keningnya.


“Merebut miliknya, bukannya Daniel dan Dean tidak pernah akur, atau ini yang menjadi alasan mereka selalu bertengkar” bisik hati Qiandra.


“Aku tidak pernah merebut apapun darimu” seru Dean tak kalah kerasnya, “Pergilah, biarkan Qiandra hidup bahagia, kamu hanya bisa membuatnya semakin menderita” lanjutnya lagi.


“Aku akan membiarkan Qiandra hidup bahagia, tapi tidak denganmu” seru Daniel lagi, dia meraih kerah kemeja Dean, dan saat keduanya akan melepaskan pukulan ke wajah masing-masing, mereka terkejut mendengar sebuah


suara yang kecil namun cukup menyentak keduanya.


“Maaf, Tuan-Tuan yang terhormat, apa Anda berdua lupa dimana Anda berada saat ini, tapi jika Anda tetap ingin melanjutkannya silahkan saja, saya permisi” ucap Qiandra seraya melangkah keluar dari toilet itu.


Diluar toilet, Qiandra lebih terkejut lagi melihat asisten Dika dan asisten Vian yang sama-sama babak belur.  Qiandra hanya menggelengkan kepalanya dengan kesal, dia berlalu dari tempat itu dengan cepat.  Saat Qiandra keluar dari restoran ada sebuah taksi yang menurunkan penumpangnya, dan Qiandra langsung masuk menggantikan orang itu.


Awalnya Qiandra ingin kembali ke kantor pusat PT. Mahardika, namun dia sadar akan menghadapi banyak perdebatan lagi nantinya.  “Hmmm, mumpung mereka tidak bisa mengejarku, lebih baik aku langsung pulang saja dulu, biarlah kulepas jadual lemburku malam ini.  Untungnya map berkas rumah ini sempat kubawa tadi, jadi aku bisa segera  menjalankan rencanaku” bisik Qiandra dalam hati.


Qiandra meminta taksi itu mengantarnya ke alamat Mang Ijal, “Pak, antar aku ke alamat ini, tapi bisakah kita sedikit berputar-putar dulu,  aku khawatir ada yang mengikuti kita” ucap Qiandra dengan wajah dibuat secemas  mungkin.


“Bisa, Nona” sahut sopir taksi itu, dia tahu pasti ada yang sedang mengejar wanita cantik yang menjadi penumpangnya ini.  Karena sopir taksi itu sempat melihat Qiandra yang berlari kecil saat keluar dari restoran tadi.


Taksi itu langsung meluncur dengan kecepatan diatas rata-rata, “Nona, bagaimana kalau kita berganti mobil, saya khawatir mereka sempat melihat pelat mobil ini, tapi Nona harus membayar dua kali lipat karena mobil yang ini tetap akan dibawa berputar oleh temanku” sopir taksi itu menawarkan solusi untuk Qiandra.

__ADS_1


“Baiklah, Pak, saya setuju” sahut Qiandra.


Disebuah pusat keramaian dimana ada banyak taksi yang sedang parkir, Qiandra dan sopir taksinya itu berpindah ke taksi lainnya, dan secara bersamaan kedua mobil itu bergerak ke arah yang berlawanan.  “Saya rasa sekarang kita sudah aman, Nona” ucap sopir taksi itu, setelah dia memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.


“Hmmm, baiklah, Pak, sekarang antar aku ke alamat tadi” ucap Qiandra.


“Baik, Nona” ucap sopir taksi itu lagi.


Saat memasuki komplek perumahan Mang Ijal, Qiandra membayar taksi itu dua kali lipat, bahkan Qiandra juga memberikan sedikit tips untuk sopir itu.  “Pak, tolong jangan balik ya, Bapak terus aja lewat jalan ini” ucap Qiandra.


“Baik, Nona, terima kasih banyak” ucap sopir itu.  Dia menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Mang Ijal.  Qiandra langsung berlari masuk kedalam rumah yang sudah di buka oleh Bik Sum.


“Cepat tutup, Bu” seru Qiandra, “Dan ibu jangan keluar dulu” ucapnya lagi.  Mereka berdua melihat kearah jalan melalui jendela kaca yang gelap.


Tak berselang lama, dua buah mobil mewah terlihat melewati depan rumah Mang Ijal.  Qiandra dan Bik Sum menahan nafas saat melihat kedua mobil itu mengurangi kecepatannya saat melewati rumah Mang Ijal.  Namun, mereka tidak sempat berhenti, karena sesaat kemudian mereka kembali melaju lagi.


“Haish, hampir saja” desah Qiandra menghembuskan nafas lega.


“Tidak ada apa-apa, Bu, aku hanya tidak ingin merekamengetahui rumah Paman ini, aku tidak mau mereka membuat keributan lagi disini” sahut Qiandra seraya menyandarkan tubuhnya di sofa sederhana di ruang tamu Mang Ijal.


“Mereka siapa, Nak” tanya Bik Sum yang tidak mengerti siapa yang dimaksud Qiandra.


“Daniel dan Dean, Bu, aku baru saja kabur dari restoran, karena mereka berdua hampir saja berkelahi didalam toilet wanita” jelas Qiandra lagi.


“Toilet wanita?, aduh Nak, kamu membuat ibu semakin bingung saja” ucap Bik Sum.


Qiandra tersenyum pada wanita tua itu, lalu dia berbaring di pangkuan Bik Sum.  Qiandra kemudian menceritakan kejadian di restoran tadi dengan detil kepada Bik Sum, agar wanita tua itu mengerti.

__ADS_1


“Oh, begitu rupanya, ya sudah, sekarang lebih baik kamu segera membersihkan diri, dan beristirahatlah” ucap Bik Sum.


“Baiklah, Bu, tapi ngomong-ngomong kemana Paman dan Bibi, aku ingin bicara dengan Paman” ucap Qiandra.


“Kalau Bibimu sedang pergi ke acara kondangan, sedang Pamanmu, hari ini dia terkena giliran jaga, nanti sore dia pasti sudah pulang, pergilah beristirahat dulu, nanti Ibu akan membangunkanmu kalau Pamanmu datang” ucap Bik Sum dengan lembut.


Qiandra hanya mengangguk, “Bu, bisakah ibu memijatku nanti, aku merasa seluruh tubuhku pegal” ucap Qiandra pada Bik Sum yang memang sudah biasa memijat tubuh Qiandra.


“Tentu saja, Nak” sahut Bik Sum, Qiandra segera melangkah ke kamarnya dan membersihkan diri.  Setelah selesai dia segera membaringkan tubuhnya diatas kasur sederhana di dalam kamar itu.  Bik Sum masuk kedalam kamar dengan membawa ramuan khusus yang biasa dia gunakan untuk memijat Qiandra.


Qiandra segera membalik badannya dan mengambil posisi tengkurap, agar Bik Sum dapa memijat seluruh tubuhnya.  Baru sebentar Bik Sum memijat Qiandra, wanita cantik itu sudah terlelap menikmati pijatan Bik Sum dan juga melepas lelahnya selama lima hari ini.


Bik Sum hanya tersenyum melihat majikannya itu terlelap, dalam hati wanita tua itu berharap kebahagiaan segera merengkuh Qiandra.  Bik Sum sudah melihat betapa beratnya jalan hidup yang harus dilalui oleh Qiandra.  Bik Sum juga tidak bisa menyalahkan Qiandra jika wanita itu sering ingin mengakhiri hidupnya.


Menurut Bik Sum jalan hidup Qiandra memang sangat berat, setelah kehilangan kedua orang tuanya saat dia kecil.  Qiandra kembali harus kehilangan suami dan juga anaknya dalam waktu yang bersamaan.  Setelah itu, Qiandra harus menghadapi kekejaman keluarga mertuanya yang selalu memanfaatkan rasa bersalah Qiandra atas kematian Charles.


Setelah selesai memijat bagian punggung Qiandra, Bik Sum membalik tubuh wanita cantik itu dengan perlahan.  Wanita tua itu menutup tubuh Qiandra yang memang tidak memakai pakaian itu, dia menyelimuti tubuh Qiandra.  Bik Sum kembali memijat kaki dan tangan Qiandra, sementara wanita itu sama sekali tidak terusik dari tidurnya.


Bik Sum mendengar kalau ada orang yang datang di depan rumah itu, dia segera melangkah pelan dan mengintip lewat celah jendela.  Bik Sum terkejut melihat beberapa orang dengan pakaian rapi sedang mengetuk pintu rumah Mang Ijal.  Bik Sum juga melihat rumah tetangga lainnya juga didatangi oleh orang-orang itu juga.  Bik Sum tahu mereka pasti bodyguard atau orang suruhan entah Daniel ataupun Dean.


Bik Sum perlahan kembali masuk kedalam kamar Qiandra, lalu dia menarik selimut Qiandra hingga menutupi kepalanya.  Setelah itu, Bik Sum berjaga di depan pintu kamar Qiandra.  Tak berselang lama, Bik Sum mendengar, istri Mang Ijal sedang berbicara dengan orang-orang itu.  Bik Sum kembali mengintip dari celah jendela dan memperhatikan istri Mang Ijal meyakinkan orang-orang itu kalau dia tidak mengenal orang yang sedang dicari oleh para bodyguard itu.


Akhirnya, para bodyguard itu pergi meninggalkan rumah Mang Ijal, demikian pula teman-teman mereka yang lain.  Beberapa mobil mewah berhenti dan menjemput mereka semua, lalu pergi meninggalkan perumahan itu.


Istri Mang Ijal masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci serep yang dimilikinya.  Setelah masuk, dia kembali mengunci pintu rumahnya.  Bik Sum segera menghampiri istri Mang Ijal, “Siapa yang mereka cari, Nak” tanya Bik Sum.


“Apa dia sudah pulang, Bu” istri Mang Ijal malah balik bertanya pada Bik Sum.  Bik Sum hanya mengangguk samar lalu melirik kedalam kamar dimana Qiandra sedang beristirahat.  “Kurasa, sebaiknya dia tidak keluar rumah, Bu, orang-orang itu berani menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang bisa memberitahukan alamatnya” ucap istri Mang Ijal.

__ADS_1


“Siapa yang menyuruh mereka, Nak, apa mereka menyebut sebuah nama” tanya Bik Sum lagi.


“Tidak, Bu, mereka hanya memberikan nomor ini yang bisa dihubungi, jika ada melihatnya” jawab istri Mang Ijal seraya menyerahkan sebuah kartu nama.


__ADS_2