
Tiga hari kemudian, Jossie sudah diperbolehkan untuk pulang, “Tapi Anda harus tetap rutin melakukan kontrol, Nona” ucap dokter Jimmy yang masih memeriksa keadaan Jossie dengan telaten.
“Aku akan melakukannya di rumah sakit di sana nanti, Dok” ucap Jossie dengan sopan.
“JIka Anda mau, saya siap mengunjungi Anda dan memeriksa keadaan Anda sekaligus melihat kapan Anda siap untuk menjalani theraphy” dokter Jimmy menawarkan diri, tak bisa dipungkiri jika dia memang jatuh hati pada
gadis mungil ini.
Jossie menatap dokter Jimmy dengan heran, “Tapi, Dok, kota kita sangat jauh, bagaimana bisa Anda merawat saya” tanya Jossie dengan kebingungan.
“Bukan masalah, Nona, Anda pasien saya, dan aya siap bertanggung jawab sampai Anda benar-benar pulih” sahut dokter Jimmy masih berusaha mencari alasan.
“Tapi, saya, saya tidak akan mampu harus membayar biaya Anda untuk bolak balik ke kota kami, Dok, belum lagi biaya pengobatannya” ucap Jossie dengan menunduk malu.
“Jangan pikirkan itu, Nona, saya akan sangat senang merawat Anda, masalah biaya, jangan dipikirkan, asal saya dikasih makan saja, sudah cukup” ucap dokter Jimmy masih berusaha membujuk Jossie.
“Ah, Dok, suatu kehormatan bagi kami, jika Anda berkenan merawat Jossie, aku akan meminta ijin pada rumah sakit ini untuk meminta Anda selama beberapa waktu menemani Jossie untuk merawatnya” Qiandra yang memahami niat dokter Jimmy, seolah memberikan lampu hijau untuk dokter muda itu.
“Tapi Nona….” Jossie ingin mengajukan protes, dia sungguh tidak ingin membuat Qiandra mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi untuk perawatan dirinya.
“Kurasa itu sangat bagus sekali, jangan khawatir Nona Muda, jangan khawatir bosmu ini akan memotong gajimu, karena aku sendiri yang akan mengurus semuanya” Dean menyela ucapan Jossie, membuat kedua wanita cantik itu serentak menoleh ke arah presidir tampan itu.
“Love, kamu tak perlu….” Qiandra tidak setuju dengan rencana Dean, dia merasa sudah sangat banyak berhutang budi dengan laki-laki itu. Walaupun laki-laki itu telah menjadi kekasihnya, tapi Qiandra sama sekali tidak mau dianggap memanfaatkan Dean.
Dean merengkuh pinggang kekasihnya dengan lembut, “Honey, semuanya sudah dibereskan oleh Albert, kamu tidak perlu memikirkannya lagi” ucapnya dengan lembut. “Dokter Jimmy, kurasa Anda bisa berkemas sekarang, surat ijin Anda sedang diproses” lanjutnya lagi seraya menatap dokter Jimmy.
“Baik, Tuan, terima kasih, saya akan berkemas sebentar, dalam satu jam saya sudah siap” ucap dokter Jimmy dengan wajah sumringah.
“Tuan, Nona, aku rasa ini tidak perlu dilakukan, bukankah kita bisa menggunakan dokter yang ada di kota kita saja, tanpa harus membawa dokter dari sini, biayanya jauh akan lebih murah” ucap Jossie masih berusaha bernegosiasi dengan kedua orang yang berdiri di hadapannya saat ini. Jossie sungguh merasa tidak nyaman karena sudah begitu banyak merepotkan kedua orang itu.
“Joss, aku akan merasa sangat tenang jika ada yang bisa merawatmu di rumah, jadi aku bisa fokus pada pekerjaan, apalagi sekarang kamu tidak ada di sampingku, kamu pasti bisa membayangkan kesulitanku” ucap Qiandra berusaha menenangkan Jossie.
__ADS_1
“Tapi, Nona, ibu, paman Lev dan Bi Ona saja sudah cukup untuk merawat aku, lagi pula aku bukan anak kecil lagi” Jossie tetap berusaha membujuk Qiandra.
“Mereka hanya bisa merawatmu seadanya, Joss, berbeda kalau dokter langsung yang menanganimu, dia tentu tahu apa yang harus dilakukan pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat” Dean menengahi perdebatan kedua wanita itu.
Jossie akhirnya terdiam tak berdaya, apa yang dikatakan oleh Dean memang tak bisa dipungkiri. Dokter tentu saja lebih ahli merawat dirinya dibanding orang-orang yang ada di rumahnya. Jossie juga menyadari kalau tidak ada yang merawat dirinya secara khusus, Qiandra pasti akan selalu mencemaskan dirinya.
“Baiklah, kalau begitu Tuan, Nona, terima kasih banyak atas perhatian kalian berdua” ucap Jossie setelah cukup lama terdiam. Qiandra memeluk tubuh wanita mungil itu dengan penuh kasih.
“Kamu sudah seperti adik buat aku Joss, jangan pernah merasa sungkan, kamu tahu seberapa besar aku menyayangimu” Qiandra membelai lembut rambut Jossie dengan penuh kasih.
“Nah, ini semua sudah selesai dikemas, Nak, apa kita akan berangkat sekarang” Bik Sum yang baru selesai mengemas barang-barang mereka, bertanya pada Qiandra.
“Ibu, kenapa ibu harus repot-repot sich, aku kan bisa mengemas semuanya” ucap Qiandra seraya mengambil beberapa barang yang memenuhi tangan Bik Sum, namun semua barang itu segera diambil oleh Dean.
“Jangan sibuk-sibuk, Honey, nanti ada orang yang akan mengangkat semua barang-barang ini” ucap Dean, saat itu juga Bryan masuk ke dalam ruangan itu.
“Maaf, saya terlambat Tuan, Nona, mana barang-barang yang akan dibawa, saya akan membawanya ke mobil” ucap laki-laki muda itu dengan penuh hormat.
“Honey, ayo lihat keadaan Jossie, apa dia sudah bersiap-siap” ucap Dean dengan sedikit menarik tangan Qiandra, membuat wanita itu sedikit terkejut. Qiandra awalnya ingin protes, karena Dean menyuruhnya melihat keadaan Jossie yang jelas-jelas terlihat sudah siap untuk pulang. Namun, saat dia melihat raut wajah laki-laki tampan itu, Qiandra akhirnya berdiam diri, dia mengerti pada sikap posesif sang kekasih.
Tak berapa lama dokter Jimmy datang dengan perlengkapannya, “Saya siap, Tuan, Nona” ucapnya dengan nafas yang terlihat sedikit terengah.
“Astaga, Dok, Anda yakin semuanya sudah siap, Anda cepat sekali” tanya Qiandra yang sedikit heran melihat dokter muda itu sudah siap dalam waktu tak sampai empat puluh lima menit.
“Sudah Nona, aku hanya mempersiapkan peralatan dan obat-obatan yang akan diperlukan untuk merawat Nona Jossie, sementara keperluan pribadi lainnya, aku tidak membawa terlalu banyak” ucap dokter Jimmy.
“Ah, baiklah, kurasa itu cukup, nanti jika ada yang kamu pelukan, kamu bisa mencarinya di sana” ucap Dean menengahi, dia selalu merasa tidak tenang saat melihat keramahan Qiandra pada laki-laki muda lainnya.
“Iya, Tuan” ucap dokter Jimmy dengan penuh hormat.
“Baiklah, jika semuanya sudah siap, kita bisa berangkat sekarang” ucap Dean, dia segera menggandeng tangan Qiandra dengan posesif.
__ADS_1
“Love, jangan lupakan ini” Qiandra menyerahkan topi dan masker untuk Dean, dia sungguh tidak ingin bertemu dengan paparazzi yang sepertinya masih terus memperhatikan rumah sakit itu. Dean mengambil perlengkapan yang diberikan oleh Qiandra, lalu mengenakannya.
“Bryan, dimana mobil untuk kami” tanya Dean pada Bryan yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
“Saya sendiri yang akan membawa Tuan dan Nona, sementara yang lainnya nanti bisa ikut mobil yang satunya, semua sudah siap di depan Tuan” sahut Bryan.
“Love, kenapa harus pakai mobil yang terpisah” desis Qiandra saat mereka mulai melangkah keluar dari rumah sakit itu.
“Dimanapun dan kapanpun, aku hanya ingin berdua denganmu, Honey, aku tidak ingin diganggu oleh siapapun” ucap Dean, tangannya menggenggam erat tangan Qiandra, seakan takut wanita itu akan pergi darinya.
Qiandra yang mendengar jawaban Dean, hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sungguh tak menyangka kalau laki-laki muda ini begitu posesif menjaga dirinya. Walaupun bahagia, karena dicintai sebesar ini, namun, dalam hati kecil Qiandra, dia juga merasa khawatir pada sikap posesif Dean. Qiandra yakin ini akan jadi masalah, saat Dean bertemu dengan lingkugan kerja Qiandra yang memang rata-rata berteman dengan laki-laki. Dan diantara para lelaki itu, tak sedikit yang menjadi penggemar berat Qiandra.
Di dalam mobil, Dean benar-benar tidak membiarkan ada jarak sedikitpun diantara mereka berdua. Laki-laki tampan itu terus merengkuh pinggang sang kekasih, dia bahkan menarik kepala Qiandra agar bersandar di dadanya. Rasa bahagia dalam hati Dean, tak bisa ditutupi sama sekali, senyum manis di wajah tampannya mewakili suasana bahagia dalam hatinya.
Sesampainya di bandara, mereka langsung diantar ke pesawat jet yang sudah siap untuk berangkat. Pilot dan pramugari menyambut kedatangan Dean dan rombongannya dengan membungkukkan badan, “Selamat bertemu kembali Tuan, apa kita akan langsung berangkat atau masih ada yang ditunggu” tanya pilot pesawat itu.
“Mana Albert” tanya Dean.
“Tuan Albert sudah menunggu didalam, Tuan” jawab pilot itu.
“Baiklah, kalau begitu, kita berangkat sekarang” sahut Dean, lalu melangkah masuk ke dalam pesawatnya, tangannya terus menggenggam tangan Qiandra dengan erat.
Didalam pesawat, Dean melihat dokter Albert yang sedang asyik berbicara di phonselnya, “Disini kamu rupanya” ucap Dean saat melewati dokter Albert.
“Maaf aku tidak sempat menjemput kalian di rumah sakit, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dulu” ucap dokter Albert setelah menutup phonselnya.
“Apa kamu akan langsung pulang” tanya Dean, dia duduk di salah satu kursi utama yang ada di pesawat itu, tak lupa dia menarik Qiandra agar duduk di sampingnya.
“Ya, aku sudah menghubungi Vian, untuk menyiapkan segala sesuatunya, aku hanya akan membereskan beberapa pekerjaan di rumah sakit, untuk persiapan rencana selanjutnya” ucap dokter Albert.
“Baguslah, jangan terlalu lama, kamu harus melakukan semuanya dengan cepat, aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi” sahut Dean.
__ADS_1
“Baiklah” sahut dokter Albert, walaupun dalam hatinya mengomel, “Memang dikira kaya pesan makanan apa, haish, bagaimana bisa dia menjadi tidak sabaran begini” keluh dokter Albert dalam hati.